.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Coba ingat kembali pertama kali pasangan kelahiran Jakarta dan Surakarta ini menjabat sebagai penguasa Indonesia. Banyak sekali hal-hal positif yang dijanjikan. Dia sudah dipercaya 58,6% rakyat untuk menahkodai Nusantara dengan gemilang. Tidak lama kemudian, aksi kontroversi yang pertama kali dilakukan adalah mengembalikan Dwifungsi Militer yang semula sempat dibubarkan oleh Presiden ke-3, tidak lain untuk menjamin loyalitas militer untuk menang Pilpres 2029 nanti. Selang beberapa bulan, ada revisi UU Polri yang substansinya sama, Dwifungsi. Tujuannya sama. 

Belum lagi salah satu program andalan yang disebut mengatasi stunting anak dan mengambil APBN dari Pendidikan, meski Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah jauh-jauh menyarankan jika mengobati stunting seharusnya dimulai dari bumil.

Tulisan ini ditulis bertepatan dengan ultah sang presiden dan bukan cuma ucapan selamat, banyak sekali kecaman dan sindiran dari pelbagai pihak dan semua tertuju kepada anak dari almarhum Soemitro Djojohadikoesoemo ini. Mulai dari kasus keracunan anak, isu represi terhadap pers, jutaan lapangan pekerjaan yang dijanjikan menjelma gaib, dan banyak lagi. 

Padahal dulu bisa dibilang, Ayahnya ini bapak ekonom negara. Almarhum bahkan sangat menekankan desentralisasi, sempat mengusulkan pencopotan Haris Nasution dan kembalinya Bung Hatta dalam struktur pemerintahan pada 1957. Tetapi sayang, jika ada pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bisa jadi yang terjadi sekarang buahnya kecebur ke got dan terhanyut sampai TPS.

Oktober 2026, seorang streamer mengajak para penontonnya untuk coup d'etat. Meski para penontonnya didominasi bocil kematian, perkataannya tetap membahayakan. Usulan streamer asal Manado ini hanya akan mendatangkan ketidakstabilan ekonomi dari yang semula harga saham anjlok, bakal semakin bobrok, infrastruktur yang tidak teratur, pola kepemimpinan yang kehilangan majikan, dan banyak lagi. Beberapa orang mengecam, tetapi tidak banyak yang mengamini perkataan streamer tersebut, apalagi netizen sudah memiliki Kabinet Bayangan. 

Tetapi, tunggu dulu.

Masyarakat Indonesia adalah orang-orang pintar. Para akademisinya tidak buta. Mereka paham dinamika, paham sosialita dan bosan digombali. Meski katakan pemimpin yang terpilih dari Pemilu 2024 ini adalah hasil kesadaran komunal yang terbangun atas kepercayaan kolektif, bukan rekayasa prajurit kampanye (jika itu benar), saya ingin mengajak Anda menjawab pertanyaan ini, jika pemimpin mendzalimi rakyat, itu salah pemimpin atau yang dipimpin? Kan rakyat sendiri yang memilih pemimpin? Mereka yang terpilih untuk memimpin juga tidak mungkin menjadi pemimpin jika bukan karena suara rakyat, bukan?

Jika kepemerintahannya sudah benar, pastinya jejeran di bawahnya turut mengekor, meski tidak menafikan ada pengecualian dalam beberapa kasus. Tatanan sebuah kepemerintahan dan pemerintah itu sendiri disebut baik dan sukses, jika melalui proses pengawasan yang benar-benar matang. 

T. Hani Handoko dalam puluhan karyanya yang berkaitan dengan manajemen, menjelaskan, salah satu pengawasan berbentuk pengawasan formal atau informal, entah dengan pengawasan pendahuluan seperti perlunya partisipasi publik dalam pengesahan RUU untuk mengantisipasi permasalahan atau penyimpangan dari standar atau tujuan yang dietapkan, atau pengawasan umpan balik untuk memberikan penilaian setelah berlangsungnya suatu kegiatan. Pemerintah adalah pengelola negara, dan rakyat sangatlah berhak untuk mengawasi kinerjanya. Pengawasan ini bisa diwakili oleh pers atau bahkan dengan ketersediaan berbagai platform sosial media, netizen melakukan aktivitas jurnalisme sendiri - jurnalisme warga. 

Dalam Tata Negara, proses pengawasan ini penting sekali. Sekelas perusahaan saja memiliki standar operasi prosedural dan pengawasan menempati sektor utama di sana, tentunya pengelolaan negara membutuhkan standar yang lebih tinggi. Jika ada kesalahan dalam manajemen, masukan dan kritikan yang diberikan dari pengawasan baik dari internal atau  eksternal, tentu harus didengarkan sebagai evaluasi dini agar manajemen bisa menjadi lebih baik. Para ulama, dalam artian ulama di sini adalah ilmuwan yang mumpuni dalam bidangnya, sudah menjelaskan perkara ini dari berabad-abad lalu.

Pertama, terpilihnya seorang pemerintah (selanjutnya, kata pemimpin akan selalu merujuk ke pemerintah). Mawardi dalam bukunya al-Ahkam al-Sulthaniyyah menyatakan bahwa terpilihnya seorang pemimpin merupakan hasil kesepakatan antara Ahl al-Hilli wa al-‘Aqdi atau Ahl al-Ikhtiar dengan calon pemimpin terpilih, berasaskan sebuah kontrak sukarela yang melahirkan kewajiban dan hak bagi kedua belah pihak. Tentunya kontrak ini juga berdasarkan asas timbal-balik. Jadi, pemimpin berhak untuk ditaati oleh rakyat dan menuntut loyalitas penuh dari mereka, tetapi pemimpin juga berkewajiban untuk melindungi dan mengelola kepentingan rakyat dengan baik dan bertanggung jawab. Sedikit berbeda dengan teori kontrak sosial milik Hobbes, Locke maupun Rosseau. Tapi satu hal yang perlu dicatat, Mawardi lebih dulu mengungkapkan teori ini pada abad XI, sedangkan yang berkembang di Eropa baru muncul pada abad XVI.

Credit: ExistentialComics

Di karya fenomenal Two Treaties of Government, Locke juga menyatakan hal senada. Ada konsekuensi yang tercipta dari kontrak rakyat dengan pemerintah, bahwa pemerintahan adalah suatu trust (amanah), sedangkan rakyat berfungsi sebagai pemberi amanah sekaligus beneficiary (yang diamanahkan) dan pemerintah di sini adalah trustee (penerima amanat). Jadi, pemerintahan adalah amanah yang diberikan oleh rakyat kepada pemimpin terpilih yang mengindikasikan bahwa rakyat ikhlas terpimpin dan mengakui kredibilitas ‘yang terpilih’ sebagai pemerintah mereka. Di sini, Locke lebih menekankan bahwa kewajiban yang ditampuk pemerintah lebih krusial dibandingkan hak yang diperoleh. Rakyat pun berhak untuk menarik amanah yang telah mereka berikan kepada pihak penerima amanah, jika dia mengabaikan kewajiban-kewajibannya. Maka, pemimpin tidak boleh semena-mena menjalankan tugas. Kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan secara penuh, karena apa yang ia pegang tidaklah kekal, sekedar semu dan bisa dilepas kapan saja.

Di sini ada benang merah yang bisa ditarik terkait mandat, tanggung jawab, atau amanah (trust) yang dikutip dari Ibnu Taimiyah dalam bukunya, Siyasah Syar’iyyah fii Islahi al-Ro’i wa al-Ro’iyyah, meminjam istilah dari surat an-Nisa ayat 58. 

Amanah adalah hasil dari kontrak antara pemimpin dengan rakyat, dan amanah ini langsung diprakarsai dan dijaga oleh Empunya Segala. Jadi, menurut Ibnu Taimiyah, terpilihnya seorang pemimpin tidak lain karena kehendak Allah SWT dan pemimpin adalah wali-Nya. Dia juga mengatakan bahwa pemimpin negara wajib menyampaikan amanah kepada pihak yang berhak dan berlaku adil.

Oleh karena itu, hal kedua yang perlu diperhatikan untuk seorang pemimpin adalah penyampaian amanah dan berlaku adil. Ibnu Taimiyah menjelaskan konsep tersebut dengan realita yang ia alami, ketika dia hidup pada masa dunia Islam sedang dalam puncak disintegrasi politik, dislokasi sosial dan dekadensi moral. Bagi Ibnu Taimiyah, amanah yang terkandung dalam surat an-Nisa ayat 58 mempunyai dua arti.

Pertama, amanah merupakan segala kepentingan rakyat yang wajib dikelola oleh pemerintah. Pengelolaan tersebut hanya berjalan baik dan sempurna jika pemerintah terpilih benar-benar cakap dan mampu. Sedikit berbeda dengan pengertian Mawardi yang menyatakan amanah adalah produk dari kontrak sosial antara kedua pihak, tetapi intinya sama, kontrak tidak akan terjalin jika tidak ada mutual trust di situ. 

Arti kedua, amanah adalah kewenangan memerintah yang dimiliki oleh pemimpin dan jika dalam pelaksanakannya membutuhkan bantuan wakil seperti menteri, dll, maka dalam pengangkatannya tidak boleh ada unsur subjektivitas dan nepotisme. Tapi jika memang tidak ditemui seseorang yang bukan ahlinya, maka boleh mengangkat siapa saja yang dianggap pantas dengan memperhatikan dua faktor: kekuatan karakter yang sesuai dengan bidang tempat ia bekerja nanti, serta integritas yang dinilai dari ketakwaannya kepada Allah secara utuh dan kesetiaan kepada hukum Islam dengan mendalam.

Maka, terpilihnya pemimpin adalah tanggung jawab rakyat, karena secara tak langsung, rakyat yang memilih pemimpin mereka. Ada kontrak yang tercipta dan rakyat harus siap dengan konsekuensinya. 

Rakyat rela dipimpin, siap dikomandoi, harus loyal, tetapi perlu dicatat dengan garis tebal, pemimpin juga harus siap bertanggung jawab, siap berlaku adil dan siap mengelola urusan rakyat. Ketika pemimpin sudah tidak lagi mengindahkan urusan kepemimpinannya, mengabaikan masukan dari pengawasan rakyatnya misalkan, maka tidak ada salahnya bagi rakyat untuk memintanya mundur. Teorinya sederhana, aplikasinya tidak. 

Kepatuhan mutlak pada pemimpin hanya terjadi ketika pemimpin dan rakyat sama-sama melaksanakan amanah masing-masing. Kasus yang acapkali terjadi, kesalahan terletak pada pemimpin yang terlena janji, terbuai fasilitas dan tidak mendengar keluhan rakyat. Jika sudah seperti ini, pemimpin yang salah karena melanggar amanah yang sudah disepakati. Maka jika pemimpin lalim berkuasa dan sistem yang berlaku telah termonopoli, meski tidak harus, kudeta selalu bisa menjadi opsi.


TOPENG

Waktu itu sudah jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri. Dia berjalan dengan muka merengut, sambil wajah ditekuk-tekuk, kedua tangannya berkibas kasar dan kakinya berderap tegas, ketus, mantap. Tapi mulutnya bersungut-sungut.

Selang beberapa menit kemudian, saya bertemu dengannya di tempat perkumpulan, sambil bertanya:

"Dari mana, bro? Tumben telat, biasanya cepet."

"Oh, gak, tadi ada perlu aja," dia menjawab sambil sedikit tertawa.

Padahal saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau tadi dia seperti anak hilang, ngedumel gak jelas sambil lihat kiri-kanan.

Langsung saja saya buka kartu.

"Kayaknya barusan pas motoran aku lihat kamu lagi jalan ke mana gitu…" tanyaku polos. Temanku malah tergelak.

"Hehe, iya sih, tadi agak kesasar sedikit. Lagian tempat kumpulnya juga gak jelas sih."

Nah, terbuka sudah topengnya. Sewaktu di jalan tadi, jelas emosi jengkel dan rasa tak sabar yang terlihat, refleksi dari emosi yang dia alami. Baru ketika akan memasuki tempat perkumpulan, dengan aduhai dia berganti muka dengan topeng cerianya kembali.

Dunia ini penuh topeng. Baik itu manusia di dalamnya, atau malah dunia itu sendiri menutupi kebusukan yang tertutupi dengan topeng arif dan kebijakannya. Kita bisa memilih mau ikut Hobbes atau Roeassau. Apakah kita sebenarnya iblis atau malaikat yang mengenakan topeng manusia, atau malah sebaliknya?

Ada sebuah anime seputar dunia politik, intrik dan diplomasi berjudul Code Geass. Di salah satu episodenya ada kisah menarik yang menceritakan mengenai pembunuhan Tuhan. Tuhan digambarkan sebagai sebuah sistem atau galeri raksasa yang merekap seluruh kejadian di muka bumi ini mulai dari awal berdirinya sejarah hingga detik terakhir yang baru saja lewat. Tuhan itu akan dibunuh oleh sistem lain juga yang bernama Sword of Akasha. Akasha berasal dari bahasa Sansekerta yang mempunyai nama lain ether, unsur dasar universal awal mula dari semua yang ada.

Saya ingin mengupas satu sisi sebagai dampak dari terbunuhnya 'Tuhan' di sini, yaitu penghapusan topeng dan penetralan karakter.

Apa selanjutnya yang akan terjadi jika lembaran sejarah dihapus total dan bagaikan kertas putih tanpa noda, kembali ditulis dengan tinta emas seraya menyingkirkan tinta hitam dan merah? Itulah sepenggal inti dari kisah di atas. Penetralan karakter, persamaan pola pikir, dengan menghapuskan kata 'satir' dan 'sindir' dari muka bumi dan semua yang ditulis adalah veritas – kejujuran, kejujuran, kejujuran.

Kira-kira jika anda tinggal di dunia seperti itu, akankah hidup ini terasa lebih baik?

Mungkin ada yang mengamini, ada yang mengingkari. Hemat saya pribadi, dunia yang seperti ini bukan saja seperti sayur tanpa garam, burung tanpa sayap, siang tanpa malam, atau kata-kata tanpa koma, tapi juga menciptakan manusia-manusia yang terdiri dari gumpalan daging dan darah tanpa emosi. Manusia-manusia plastik. Robot. Tidak ada diplomasi. Semuanya serba jujur.

Jika ada pencopetan di bus, lalu kita berteriak, "Siapa yang barusan nyopet?" Si pelaku langsung angkat tangan. Tidak ada lagi kriminalitas tak berbatas. Semuanya serba terbuka, blak-blakan, dan kita tidak perlu khawatir lagi atas adanya kasus penanaman sawit, korupsi, karhutla, pencarian ijazah, cari nama, dan lain sebagainya. Lalu organisasi semacam BIN, KPK, dan bagian penyidik lain bakal mulai mengambil sapu, pel dan mulai beberes mengepel lantai kantor mereka. Para diplomat tinggal nonton TV, lengkap dengan koleksi film-film terbaru, makan, kenyang, tidur, buang air. Begitu terus siklus berputar. Ouroboros.

Dunia boleh damai. Konflik mungkin tidak lagi tercapai. Tapi apa hanya berhenti sampai di sana dan tidak berpengaruh kepada kasus sosial, yang merupakan ujung pondasi kemasyarakatan yang apik? Boleh jadi yang muncul nantinya polemik yang berkelanjutan dan gak habis-habis.

Bayangkan saja, seorang suami pulang larut, lalu ditanya oleh istrinya, "Habis dari mana bang?". Kemudian sang suami dengan santainya menjawab. "Biasa, habis main serong sama sekretaris di kantor. Tahu gak? Ternyata warna CD-nya pink juga loh, sama persis kaya punya mama." Sang suami tidak bisa menutupi perselingkuhannya dengan topeng 'letih-sehabis-kerja' yang biasa ia pakai, karena veritas sudah melucuti satu persatu topeng-topeng yang ada, baik hitam atau putih, semuanya. Lengkap, rata, tidak ada sisa.

Begitu pula dengan seorang pekerja wanita di kawasan lokalisasi saat ditanyai oleh wartawan menyangkut dari golongan konsumen mana yang paling sering berkunjung ke sana? Jika wanita tersebut berkata, "Jelas, dari TNI!" maka apa yang dikatannya adalah benar. Tidak ada lagi topeng yang menyembunyikan lidah berkelu. Kemudian jika ditanyakan balik kepada para tentara sendiri, maka mereka akan berkata lantang, "Ya! Kami yang paling sering ke sana! Terus kenapa?". Dan hancurlah topeng mereka sebagai pelindung negara yang konon penuh kesopanan, selalu taat dan patuh kepada negara, yang katanya selalu berusaha menegakkan keadilan negara.[1]

Dan jika topeng TNI hancur, lantas mau dikemanakan negara yang berdiri tanpa senjata dan perisai ini? Jika saja gara-gara masalah di atas masyarakat sudah tidak lagi menaruh kepercayaan kepada TNI gara-gara topeng keadilan dan patriotisme mereka yang telah hancur, siapa lagi yang akan menjaga agar nama hukum tetap teguh tak tergoyahkan?

Sekarang bayangkan hal yang sama berlaku kepada para praktisi hukum seperti advokat, jaksa, atau para hakim. Terkadang, menantang hukum yang berwajah kaku itu perlu sedikit kreatif. Hukum telah mendefinisikan apa itu keadilan, tetapi untuk mencapai hasil adil itu sendiri susah untuk menjauhkan dari subjektivitas. Kesalahan logika, kurangnya barang bukti, itu saja sudah sudah cukup untuk menjauhkan keadilan dari definisi aslinya.

Terkadang kita butuh topeng. Bukan untuk menutupi sifat kemunafikan, dusta, pura-pura atau apa. Bukan juga untuk menipu diri dan menyumbat simfoni yang mengalun dari hati nurani, nggak. Topeng yang kita perlukan adalah topeng hasil sintesa makhluk bernama manusia dengan kemampuan 'cara-membaca-sekitar,' bagaimana menyampaikan maksud hati nurani, tetapi dengan sikap layak yang tidak mengundang masalah, itu saja. 

Contohnya ketika anda sedang dilanda gundah gulana, lantas apa anda ingin menunjukkan kepada dunia dan selalu bertemu dan menyapa setiap orang dengan wajah sedang berduka? Rasulullah justru mengajarkan jika sedang sedih, jangan berlarut-larut. Biarkan orang lain tidak mengetahui permasalahan anda. Banyak sekali kisah Sahabat yang sedih tetapi justru mengenakan topeng terbaik mereka karena mereka tidak mau dikasihani. Tentu sikap welas asih kepada sesama itu harus ditunjukkan, tapi secara aktif, bukan reaktif. Empati para Sahabat itu tinggi tanpa perlu melihat keluh-kesah yang terpampang bagai poster di wajah seseorang. Mereka mudah iba tetapi tidak dengan cara mengemis simpati. 

Misal lain, anda sebagai seorang sahabat. Kawan anda sedang bersedih, pun sebenarnya begitu pula dengan anda. Apakah lantas anda menghiburnya dengan wajah penuh tekuk sedang berduka juga? Mungkin, beberapa orang melakukannya seperti itu. Tetapi alangkah lebih baiknya jika kala itu anda memasang topeng tegar dan baru menghiburnya.         

Sekarang, seandainya kita berprofesi sebagai dokter atau psikiater. Seorang klien datang kepada anda, mengadu dan menyampaikan permasalahannya. Padahal di balik rongga dada anda sendiri ada badai yang berkecamuk hebat. Apakah saat klien anda mengadu, anda menjawab dengan muka sendu? Dalam beberapa kasus, mungkin cara ini benar, tetapi alangkah lebih pantasnya jika saat itu anda menggunakan topeng profesionalisme. Mungkin agak sedikit susah didapat, karena topeng ini bukan dibayar dengan uang tetapi dari hasil jerih payah dan konsistensi yang terus berjalan karena saat topeng itu terlepas, anda jadi gugup atau mungkin turut bersedih dan menipislah kepercayaan klien kepada anda. Seorang pengacara, dokter, psikiater atau apapun itu yang membutuhkan soft-skill dan hubungan emosional dengan klien, harus selalu tersenyum dan sabar, apapun yang terjadi. Hingga terselesaikan problem yang saat itu dihadapi, baru topeng itu bisa dilepas.

Sungguh, saya sedikit iri setiap melihat anak-anak kecil. Mereka bisa langsung mengetahui orang-orang yang sedang mengenakan topeng senyum dan ingin mendekati mereka. Coba saja, anda baru bertemu dengan seorang anak kecil yang masih asing dengan anda. Setampan atau secantik apapun anda, dengan senyum yang anda paksakan saat ingin mendekati atau merangkul mereka, anak kecil bakal langsung tahu. Lain jika senyum yang muncul bukan sebuah topeng tapi asli dari hati. Si anak akan tersenyum balik dan merangkul anda lebih hangat.[2]

Naasnya, riset dari seorang ahli psikologi mengatakan bahwa bakat ini semakin terkikis seiring berjalannya waktu, terlebih lansia.[3]  Makanya wajar jika banyak scammers yang menargetkan lansia. Semakin senja umur seseorang, mereka bakal ditempa banyak pengalaman yang kemudian dideduksikan dan berkembang menjadi pola pikir atau bahkan idealisme. Tergantung apakah mereka bakal semakin mudah mengenali senyum dan tabiat palsu seseorang atau malah mudah semakin hanyut dengan fatamorgana yang muncul dari kebaikan yang direkayasa.

Hanya segelintir orang yang bisa langsung melucuti topeng-topeng ini tanpa bantuan alat maupun pendekatan sosial. Tetapi jujur, kalau saja saya bertemu dengan orang seperti itu, saya akan mengenakan topeng terbaik yang saya miliki dan melakukan oplas biar topeng yang saya kenakan merekat erat dan menyatu jadi wajah. Hanya saja, persediaan topeng terbatas. Di dunia ini apakah ada toko yang buka 24 jam dan menjual topeng sesuai kebutuhan? Pastinya bukan Toko Madura.



[1] https://regional.kompas.com/read/2014/06/18/0750172/Dolly.dan.Pesanan.Para.Pejabat.

[2] https://www.eva.mpg.de/documents/Elsevier/Song_Young_EvolHumBeh_2016_2286942.pdf

Kalut

Yang berbisik, yang terusik

Ada sarjana kejar bayangan

Mulutnya bungkam

Dipangkunya tanda tanya

yang mendesak di balik jeruji


Pena tergores, darah yang tampak

Banyak perih tersamar kepak

sayap malaikat bertopeng anak-anak


Yang berbisik, yang mengusik

Sarjana pandang itu satu persatu,

lalu dipasungnya!

Manusia-manusia plastik


Tehmina Durrani dalam autobiografinya menulis, seumur hidup ia merasa sebagai itik buruk rupa meski telah menjadi istri seorang Musthafa Khar, orang kedua dan tangan kanan PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, hanya karena dari kecil ia dikucilkan ibunya karena tidak berkulit putih. 

Bahkan neneknya mati-matian melumuri tubuh dan wajah Tehmina dengan segala macam ramuan. Niatannya supaya cucunya bisa jadi putih. Si nenek gagal. Tehmina tetap dibenci ibunya karena berkulit hitam. Padahal suaminya justru tidak melihat istrinya dari sekadar warna kulit.

Sayangnya, kulit putih, hidung mancung, tubuh langsing, sudah melekat menjadi simbol kecantikan di era posmo, terlebih di Asia. Sepertinya kebanyakan nonton drama korea (drakor) dan iklan kosmetik bikin tambah insecure.

Credit: pxfuel

Mitos Cantik 

Di zaman kolonial, di kalangan etnik Maori, cantik itu besar dan gemuk. Perempuan Jawa dikagumi lantaran bagian belakang-bawahnya yang besar dan bulat, menandakan mudah melahirkan dan banyak anak. Bahkan di Lembah Baliem, maaf, dada wanita yang turun, jadi idaman perempuan dan impian pria.

Tahun 50-an, kecantikan perempuan dilihat dari bentuk gitar Spanyo: dada padat berisi, pinggang sekecil mungkin dan membesar lagi di bagian pinggul. Lantas di era 60-an muncul kualitas cantik ala twiggy yang super ramping dari atas ke bawah.

Kini kecantikan perempuan terutama di Asia, khususnya Indonesia, selalu diidentikkan dengan kulit putih, rambut lurus hitam legam, hidung mancung dan berbadan langsing.

Label jelek secara semena-mena diberikan pada perempuan yang secara kebetulan pula tidak memenuhi kriteria di atas. Demikian tulis Kathy Saelan bernada protes, sosok jurnalis yang memang tidak dianugerahi fisik cantik, dalam artikelnya, CANTIK. Eka Kurniawan juga mengupas tuntas dengan satir dalam novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka.

Tidak ada perempuan yang mau mendapat predikat jelek, kurang manis, atau biasa-biasa saja. Predikat jelek bisa membuat seorang perempuan merasa rendah diri, tidak berharga, malu akan diri-nya sendiri, dan na'udzubillah bahkan bisa membuat seorang perempuan bunuh diri saking sedihnya. Psikolog Jacinta F Rini, di bukunya Mencemaskan Penampilan menyatakan, stigma masyarakat dan media sangat berperan dalam mendorong seseorang untuk terlalu peduli pada penampilan dan imej tubuhnya. Media telah melumatkan kepribadian dan jati diri kaum perempuan dan laki-laki, seolah-olah harus menelan mentah-mentah definisi jati diri dan citra diri ala media massa, jika tidak, monggo minder.

Melalui media, produsen kosmetik juga menggembar-gemborkan imej kulit putih lebih cantik daripada kulit gelap, rambut panjang lurus lebih cantik daripada keriting, badan langsing dijamin lebih disukai pria.

Media, tidak bisa dipungkiri, semakin mendorong orang-orang untuk meletakkan standar ideal dirinya seperti yang dikehendaki oleh masyarakat korban iklan.

Kecantikan dan kesempurnaan fisik, menjadi ukuran ideal sehingga banyak yang berusaha mengejar kecantikan dan kesempurnaan dengan bantuan kosmetik, senam, ataupun fashion yang up-to-date. Bahkan tidak sedikit yang ke salon habis ratusan ribu tiap hari hanya untuk menata rambut sampai melakukan koreksi wajah dan tubuh di sana-sini.

Padahal kecantikan bukanlah segalanya. Dan tentu saja, tidak cantik bukanlah kiamat. Tidak ganteng bukannnya tanda dunia akan berputar lebih cepat dua kali lipat juga. Tapi bagaimana cara menyadarkan manusia untuk mensyukuri apapun yang ia miliki, baik itu rambut, warna kulit, dan seterusnya?

Dysmorphobia 

Kita kembali dulu ke beberapa abad silam, di tahun 1891, seorang psikopatologis dari Italia, Enrique Morselli, memunculkan istilah dysmorphobia untuk menerangkan kondisi patologis seseorang karena terus menerus memikirkan kecacatan, entah ada maupun tidak. Sebutan lainnya, merasa buruk rupa.

Istilah Body Dysmorphic Disorder (BDD), secara formal juga tercantum dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder, untuk menerangkan kondisi seseorang yang terus menerus memikirkan kekurangan fisik minor. Akibatnya, individu itu merasa tertekan, bahkan kondisi tersebut melemahkan taraf berfungsinya individu dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau bidang kehidupan lainnya (e.g.: kehidupan keluarga dan perkawinan).

Padahal pada umumnya, penderita BDD tidaklah buruk rupa seperti apa yang mereka pikirkan. Mereka tetap tampak seperti orang kebanyakan. 

Namun, penderita BDD biasanya menunjukkan sikap pemalu, sulit menjalin kontak mata, komunikasi dan memiliki self-esteem yang rendah. Mereka seringkali bertingkah ekstrim untuk menyembunyikan atau menutupi apa yang mereka anggap kurang dan memalukan. 

Misalnya, berulang kali bercermin dan berdandan yang sangat overtime. Penampilan harus sempurna tanpa cela. Memang fitrah terutama wanita untuk berdandan, tetapi perlu hati-hati, jangan sampai berlama-lama dandan yang ternyata malah membangkitkan kecemasan karena takut terlihat ‘kurang’.

Kecantikan itu Ilusi

Salah satu strategi efektif untuk membantu mengendalikan dan mengatasi BDD di atas adalah dengan psikoterapi. Para ahli mengatakan bahwa cognitive-behavioral therapy dan cognitive-rational therapy, sangat tepat membantu pasien.

Pasien dilatih untuk membangun alternatif strategi dan jalan keluar dalam mengatasi pikiran obsesif yang mengganggu konsentrasi dan meningkatkan pengendalian diri terhadap tindakan kompulsif. Sederhananya, semakin sering si pasien sering melihat cermin, jika tidak ada pemahaman kalau bercermin hanya sekedar untuk mematut diri biar pantas, bercermin akan selalu menjadi kegiatan dalam mencari kesalahan diri. 

Ya, meski lebih baik mencari kesalahan diri daripada kesalahan orang lain dengan tujuan muhasabah. Tapi perlu diingat, sesuatu yang berlebihan (ghuluw) tidak pernah berujung baik, terlebih dalam hal fisik dan membandingkan diri dengan orang lain. 

Yang tidak kalah penting lagi, dukungan keluarga. Menurut psikolog medis Jacinta F Rinin, sebaiknya anggota keluarga membantu penderita membicarakan emosi-emosi yang dirasakan, misal: stres, depresi, ketakutan, kekhawatiran. Dengan terbukanya pintu hati, kita pasti akan lebih terbuka terhadap penawaran treatment yang bisa membantu keluar dari masalah.

Islam Sudah Memberikan Solusi

Sebenarnya tak ada terapi terbaik menyehatkan kembali citra diri, selain kembali pada ajaran agama. Rangkaian ibadah, seperti puasa Ramadhan dan tahajudan adalah beberapa dari sekian banyak terapi penyadaran guna menyingkirkan nafsu yang OD ini. Bukan dengan memperbanyak nonton oppa atau unnie dari drakor yang tidak ada pesan moral berarti lantas lupa untuk menghargai jasad yang fana dan pentingnya mengembalikan jiwa yang fitri. 

Jiwa yang suci dan hati yang bersih adalah buah dari takwa. Allah SWT tidak pernah mengukur dan menghargai hambaNya dari keelokan wajah, keindahan fisik atau kemewahan busana, rumah, dan kendaraan. "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS.Al-Hujurat : 13).

Credit: freepik

Tampil menarik bukan saja perlu, tapi juga sunnah Kanjeng Nabi. Namun jangan sampai kita menjadikan penampilan fisik segala-galanya, seolah penampilan itulah yang menentukan derajat kita dan kita akan melakukan apa saja untuk mencapainya. Apa pun yang melekat pada diri kita, harus disyukuri sebagai anugerah-Nya. "Bukankah kami telah menciptakan manusia dalam sebagus-bagusnya penciptaan?" (QS. At-Tiin: 4).

Kesadaran terhadap jati diri ini nanti akan mengantarkan seseorang terbebas dari BDD. "Kesadaran pada hakikat jati diri akan menimbulkan hal-hal positif seperti dapat menerima kenyataan dan menempatkan diri sebagai manusia yang bernilai dan dibutuhkan orang lain. Mampu menikmati kesuksesan serta kelebihan dan kekurangan dirinya, terlebih dengan rasa syukur kepada Allah SWT," kata psikolog Kartini Kartono.

Dua orang santri Krapyak babak belur. Pelaku pengeroyokan terdiri dari tujuh orang dengan rentang umur yang beragam, mulai dari remaja tua sampai penggangguran berkepala empat. Mereka sedang minum-minum di kafe. Setelah minum-minum, mereka lanjut menganiaya dua orang santri yang kebetulan makan sate ayam dekat sana. Naas, bukan kenyang yang didapat, malah penganiayaan. Salah satu santri sampai kena tusuk di perut. Rupanya para pelaku juga bukan warga lokal. Mereka berasal dari luar pulau.

Gara-gara peristiwa itu, ribuan santri yang terdiri dari gabungan berbagai ponpes menggeruduk Mapolda DIY. Mereka menuntut toko-toko penjual minuman ilegal segera ditutup. Ada juga tuntutan lain, revisi Perda tantang minuman beralkohol, terutama peredaran minuman beralkohol yang dijual ilegal di pasaran.

Peredaran minuman beralkohol (minol) di Indonesia tidak dilarang total. Perpres No. 74 Tahun 2013 yang mengangkat Keppres No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol sudah menjelaskan dampak negatif minuman beralkohol kepada masyarakat seperti apa. 

Tapi di Perpres yang sama juga, ketersediaan dan peredaran minuman beralkohol terjamin secara hukum.

Di Pasal 8 dijelaskan, penjualan terbatas di beberapa tempat khusus seperti hotel berbintang tiga ke atas, restoran atau gerai khusus yang memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB). Pasal setelahnya menjelaskan, penjualan minol di sekitar sekolah, tempat ibadah, fasilitas umum yang tidak memiliki SIUP-MB dan di pinggir jalan, bisa terkena sanksi hukum. Peraturan yang sama tertulis di dalam Pasal 14 Permendag No. 20/M-Dag/Per/4/2014.

Tujuh orang pelaku yang menyerang dua santri Krapyak tadi mendapatkan miras dengan sistem Delivery Order (DO) yang diantar ke sebuah kafe. Mereka beli minol secara daring kemudian minum sampai mabuk. Apa boleh mabuk-mabukan di kafe? Boleh, jika mau dibui. Kecuali jika kafe tersebut merupakan bagian dari hotel berbintang atau restoran yang punya SIUP-MB seperti tertulis di Perda Kabupaten Selman No 8 Tahun 2019, sesuai dengan tempat terjadinya kasus di atas. Sedangkan di Malang, peraturan serupa tertulis di Perda No 5 Tahun 2016.

Kasus ini sampai memaksa Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turun tangan. Sultan menekankan adanya regulasi yang lebih jelas terkait penjualan dan peredaran minol, terlebih secara daring. Kapolres Bantul juga koar-koar. Bekerjasama dengan Satpol PP, mereka menyatakan untuk bakal lebih aktif patrol dan melakukan razia.

Sayang sekali aksi tersebut baru dilakukan setelah berita penyerangan kepada santri ini viral. Saya tidak bisa membayangkan seandainya santri atau kyai juga tidak ikut bergerak. Seharusnya jika aksi petugas hukum ini dilakukan secara masif dan berkala, tidak bakal ada kasus seperti di atas. Mengapa tidak dari dulu saja pemerintah atau aparat penegak hukum sudah awas dengan hal-hal seperti ini? Bisa saja beragumen, tidak ada salahnya terlambat, jika saja setelah itu timbul sebuah sikap kritis nan preventif untuk mencegah terulangnya hal yang sama kedua kali. Nyatanya, kasus pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang di bawah pengaruh minol tidak hanya terjadi dalam hitungan jari.

Investasi minuman beralkohol sudah dilarang dalam Perpres No 49 Tahun 2021 tentang perubahan atas Perpres No 10 Tahun 2021 terkait Bidang Usaha Penanaman Modal. Di dalam Pasal 2, investasi miras yang mengandung alkohol, alkohol anggur dan minuman yang mengadung malt sudah dihapus. Ini merupakan permulaan yang bagus untuk menuju Indonesia Bebas Miras. Sayangnya, sepertinya peraturan tersebut sebatas tinta di atas kertas.

Dulu beberapa anggota fraksi PPP, PKS dan Gerindra sempat mengusulkan RUU Minuman Beralkohol yang mengatur sanksi pidana bagi peminum alkohol. Tidak main-main, isi Pasal 7 dari RUU Minol tersebut menyatakan larangan minum minol jenis apapun, seperti yang tertuang di Pasal 4. Kemudian di Pasal 20 disebutkan, sanksinya berupa pidana penjara maksimal dua tahun atau denda maksimal 50 Juta. Tapi RUU tersebut ditentang Asosiasi Pengusaha Minuman Beralkohol Indonesia (APMBI). Menurut ketuanya, jika RUU itu disahkan, sama saja seperti membunuh pariwisata Indonesia.

Penolakan senada datang dari Felippa Amanta, salah satu peneliti dari lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Menurutnya, merujuk data WHO, Indonesia adalah salah satu negara pengonsumsi alkohol terendah di dunia. Tetapi menurutnya juga, kebanyakan konsumsi alkohol di Indonesia itu memang tidak tercatat.

Jika saja Indonesia yang didominasi penduduk Muslim ini mau belajar dari negeri tetangga yang juga mayoritas masyarakatnya Muslim, sepantasnya negeri ini memiliki lembaga atau badan khusus yang dengan tegas melarang peredaran dan konsumsi minol. Alih-alih seperti itu, kiblat Indonesia dalam regulasi minol adalah Amerika, Inggris atau Jerman. Semuanya adalah negara maju, kita belum. Tiga negara tadi membolehkan minum minol bagi orang dewasa dan puluhan pasal lainnya yang lebih konsen dalam mengatur perizinan, distribusi dan yang semacam tetapi tidak ada larangan total untuk minum minol.

Berbeda dengan kebanyakan negara di Timur Tengah. Mayoritas negara tersebut memiliki Lembaga Fatwa Nasional yang secara resmi menegaskan larangan mengonsumsi minimal beralkohol yang kemudian diadopsi oleh pemerintah negara sebagai hukum yang mengikat. Sebut saja UAE, Iran, Kuwait, Qatar dan Yordania. Begitu juga Bangladesh, Pakistan dan Maldives.

Negeri tetangga, Brunei Darussalam, juga memilik badan khusus negara yang melarang produksi, impor, penjualan serta konsumsi minol. Badan Pengawas Minuman Beralkohol ini disebut Alcohol Beverages Control Authority (ABCA) dan dibentuk berdasarkan Undang Undang Minuman Beralkohol Bab 70 yang disahkan pada Tahun 1961.

Semua regulasi terkait minuman beralkohol baik diatur oleh ABCA. Bahkan ABCA memiliki wewenang khusus seperti penggeledahan dan penindakan pelanggaran bagi pelaku peminum minol.

Apakah lantas ABCA membunuh pariwisata asing yang berkunjung ke Brunei? Tidak, karena ABCA membolehkan warga non-Muslim, termasuk wisatawan asing, untuk minum minuman beralkohol di tempat yang berlisensi. Tempat yang dimaksud adalah hotel bintang empat ke atas dan beberapa restoran tertentu, tentunya dengan pembatasan jam dan beberapa persyaratan lain yang mengikat.

Mungkin sudah saatnya DPR untuk meninjau ulang RUU Minuman Beralkohol yang sudah tertumpuk debu tebal dari sekian tahun lalu. Jika saja keluhan yang disampaikan dari larangan meminum minol adalah berkurangnya turis, kebijakan ABCA di atas bisa diadopsi. Jika dibilang penerimaan cukai negara terbesar salah satunya dari minuman beralkohol seperti yang disampaikan Kemenkeu, bandingkan dengan jumlah korban akibat miras oplosan atau korban dari pelaku yang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.

Direktori putusan MA mencatat ada 953 kasus pidana terkait miras, apalagi yang tidak tercatat. Norma agama mengajarkan, minuman beralkohol hanya mendatangkan mudarat. Studi atau riset yang mengatakan minuman beralkohol baik bagi kesehatan kebanyakan tidak melalui uji klinis atau terbatas pada minuman tertentu, bukan semuanya, itupun jika dikonsumsi sewajarnya. Yang ada, malah kecanduan. Kita semua tahu akibat dari miras yang bisa memunculkan sisi jahat manusia. Kita tidak perlu meminjam teori Thomas Aquinas atau Dante Alighieri dalam Purgatory miliknya, yang percaya kalau kejahatan itulah sifat dasar manusia. Pemerintah tinggal mengambil langkah tegas untuk melindungi akal SDM-nya. SDM yang sehat akan menciptakan pemerintahan yang sehat. Pemerintahan yang sehat tidak bisa dilakukan kecuali salah satunya dengan Indonesia Bebas Miras.

*tulisan ini pernah diterbitkan di Linggau Pos dengan beberapa gubahan.

 

Banyak permainan virtual di mana kita bisa membuat sebuah karakter sampai mengubah bentuk tubuh, wajah dan lain sebagainya. Karakter tersebut kemudian kita mainkan dalam sebuah cerita.

Lantas bagaimana hukum membuat sebuah karakter dalam permainan virtual dan mengendalikan karakter tersebut dalam sebuah cerita? Apakah haram hukumnya karena seolah-olah kita menjema menjadi Tuhan yang bisa mengendalikan sosok manusia tersebut?

Seperti dilansir dari Masrawy, Syeikh Ahmad Mamduh, Sekretaris Fatwa di Darul Ifta Mesir, menjelaskan bahwa animasi itu sendiri tidak dilarang.

Perkembangan teknologi di permainan virtual sudah mencapai tahapan pengenalan fitur menciptakan karakter sesuai keinginan. Kita bisa memodifikasi hampir semua fitur baik wajah, rambut, tinggi tubuh dan lain sebagainya. Pemain bahkan diberi keleluasan untuk mengubah bentuk mata, alis, bibir, bahkan rahang sekali pun.

Syeikh menekankan meski animasi tidak dilarang tetapi jika digunakan untuk sesuatu yang vulgar, rasis atau berbau pornografi, haram hukumnya.

Memang animasi tidak dilarang, tetapi Syeikh Mamduh menegaskan apabila permainan virtual menampilkan cerita yang tidak senonoh atau hal-hal yang mengedepankan asusila, haram hukumnya.

Begitu juga jika permainan tersebut mengandung unsur atau konsep yang bertentangan dengan adat dan khususnya, syariat. Bukan animasinya yang dilarang, tetapi karena tujuan, pesan serta dampak negatif yang dianimasikan dalam permainan virtual tersebut.

Syeikh Mamduh juga menekankan bahwa menggambar diperbolehkan menurut mazhab Maliki, dan pendapat itulah yang dirajihkan oleh Darul Ifta Mesir.

Adapun berbagai hadits terkait larangan menggambar seperti,

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ، يقالُ لَهم: أحيوا ما خلقتُمْ

“Orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Atau hadits berikut,

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ، وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan ada gereja yang mereka lihat di Habasyah, di dalamnya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa). Mereka berdua menceritakan hal tersebut pada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalllam. Beliau lalu bersabda: “Gambar-gambar tersebut adalah gambar orang-orang yang dahulunya merupakan orang shalih lalu meninggal. Kemudian dibangunkan tempat ibadah di atas kuburan mereka, dan digambarlah gambar-gambar tersebut. Orang-orang yang menggambar itu adalah orang-orang yang paling bejat di sisi Allah di hari kiamat”” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Dilansir dari lama resmi Darul Ifta, hadits-hadits di atas dan banyak hadits lain yang serupa tidak mengindikasikan larangan menggambar. Alasan diturunkannya hadits tersebut karena masyarakat Arab masih dekat dengan budaya Jahiliah yang masyhur dengan animisme dan dinamismenya.

Tujuan turunnya hadits tersebut agar masyarakat tidak lantas menyembah gambar atau patung yang telah mereka buat. Menggambar tetap diperbolehkan, tetapi haram menggambar dengan tujuan agar gambar tersebut dikultuskan dan yang semacamnya. Begitu juga dengan beberapa alasan yang sudah disebut di atas.

Grand Syeikh Ahmad Thayyib juga telah mengeluarkan fatwa yang serupa. Syeikh menekankan jika menggambar atau melukis adalah satu satu bentuk seni rupa.

Seni memiliki pengaruh positif untuk kenyamanan dan rileksasi hati selama tidak mengandung atau bertujuan ke hal-hal yang dilarang syariat.

Di akhir penjelasannya, Syeikh Mamduh menerangkan, “Boleh menggambar dengan tangan, komputer atau gawai elektronik lainnya. Asalkan gambar atau animasi tersebut terlepas dari unsur-unsur yang tidak syar’i.”

Beliau juga menjelaskan bahwa pelaku yang menggambar atau membuat animasi dengan tujuan merangsang syahwat akan mendapat hukuman yang setimpal. Begitu juga dengan gambar atau animasi yang menistakan agama, moral atau yang merusak akal sehat. Wallahu a’lam bis shawab.

Membaca Qunut dalam shalat Subuh sudah disepakati oleh banyak ulama salaf salih baik dari golongan Sahabat, Tabi’in bahkan ulama-ulama kontemporer. Tersebut dalam sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra,

"أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو عليهم ثم تركه، وأما في الصبح فلم يزل يقنت حتي فارق الدنيا"

“Sesungguhnya nabi SAW telah membaca Qunut selama sebulan penuh kemudian meninggalkannya, sedangkan dalam qunut Subuh, beliau tetap membacanya sampai akhir hayatnya.”

Hadits di atas telah disepakati oleh para ahli hadits dan dibenarkan, termasuk salah satunya oleh Imam Nawawi ra. dan banyak lagi. Madzhab Syafi’i dan Maliki juga secara tegas mengamini dan mengamalkan bahkan menganggap membaca Qunut dalam setiap shalat Subuh sebagai sunnah muakkadah. Mereka juga menganggap bahwa hukum nasakh atas membaca Qunut hanya berlaku untuk beberapa keadaan tertentu, tetapi tidak berlaku dalam pembacaan Qunut ketika shalat Subuh.

Imam al-Hafidz Abu Bakr al-Hazimi dalam kitabnya, Al-I’tibar fii Bayani an-Nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar (cetakan III, hal. 90-91) menyatakan, “Generasi salafus salih dan para ulama kontemporer berselisih pendapat dalam membaca Qunut ketika shalat Subuh. Tetapi hampir mayoritas dari seluruh kalangan sahabat, tabi’in dan generasi-generasi setelahnya menyatakan kebolehan membaca Qunut."

Lebih lanjut, beliau merinci setiap sahabat yang membaca Qunut dalam shalat Subuh seperti: para khulafa ar-rasyidin, ‘Ammar bin Yasir ra, Ubay bin Ka’b ra, Abdurrahman bin Abu Bakr Ash-Shidiq ra, Abu Musa al-Asy’ari ra, Abdullah bin Abbas ra, Abu Hurairah ra, al-Barra’ bin ‘Azib ra, Anas bin Malik ra,Abu Halimah Mu’adz bin al-Harits al-Ansori ra, Ahban bin Saifi ra, Sahl bin Sa’d as-Sa’idi ra, Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra dan Aisyah ra.

Sedangkan dari para tabi’in yang sekaligus mengamini, terdapat: Sa’id bin Musib ra, al-Hasan bin Abi al-Hasan ra, Muhammad bin Sirin ra, Abban bin Utsman ra, Qatadah ra, Thawus ra, ‘Ubaid bin Amir ra, ar-Rabi’ bin Hutsaim ra, ‘Ubaidah as-Salmani ra, ‘Urwah bin Zubair ra, Ziyad bin Utsman ra, Abdurrahman bin Abi Layla ra dan tak kalah lupa khalifah Umar bin Abdul Aziz ra.

Begitu juga dari para ahli Fiqh, seperti: Abu Ishaq, Abu Bakr bin Muhammad, Ibn ‘Utaibah, Malik bin Anas, Imam Auza’i, mayoritas dari Ahl Syam, Imam Syafi’I dan para pengikutnya, Imam ats-Tsauri, dan banyak lagi.

Terlepas dari itu, masih banyak segelintir orang yang menyalah-nyalahkan, bahkan melarang untuk membaca Qunut dalam shalat Subuh. Bahkan ada juga yang mengira, pada awalnya memang disyariatkan, tetapi kemudian ternasakh, dan mereka memercayai pendapat tersebut. Padahal pendapat tersebut sangat tidak tepat.

Beberapa ulama berkeyakinan bahwa membaca Qunut dalam shalat Subuh hanya berlaku pada masa pandemi atau saat berlangsungnya bencana alam. Jika tidak ada, maka tidak perlu membaca Qunut. Pendapat di atas diamini oleh mazhab Hanafi dan Hanbali.

Dalam kondisi pandemi, terjadinya suatu wabah atau adanya bencana alam, hampir semua mazhab sepakat menyarankan membaca Qunut ketika shalat Subuh. Terkait di luar shalat Subuh, ada perbedaan pendapat. Mazhab Maliki menyatakan cukup membacanya ketika shalat Subuh, mazhab Hanafi menyunahkan untuk boleh membaca Qunut dalam setiap shalat Subuh, Maghrib atau Isya. Sedangkan mazhab Syafi’i menyatakan untuk boleh membaca Qunut dalam setiap sholat lima waktu, dan pendapat ini yang diamini oleh mufti Republik Mesir, Syeikh Syauqi Alam.

Maka bisa disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pendapat alam membaca Qunut dalam shalat Subuh di luar masa wabah atau era pandemi, tetapi hampir semua ulama sepakat membolehkan membaca Qunut saat sebuah wabah berlangsung.

Syeikh Syauqi Alam di majalah al-Azhar edisi Oktober/November tahun 2013 M, pernah menulis juga tentang hal ini. Bagi umat Islam yang meyakini bahwa membaca Qunut hanya dibolehkan hanya di era pandemi atau pada saat sebuah wabah berlangsung, seyogyanya untuk tidak membid’ah-bid’ahkan sesama saudaranya yang membaca Qunut meski tidak dalam era pandemi.

Salah seorang ulama dari mazhab Hanbali, seperti yang dikutip dalam buku Zadu al-Mu’ad fi Hadyi Khairi al-‘Ibad, Ibn al-Qayyim al-Jauzi juga menyatakan bahwa dia tidak pernah mengingkari atau mencela sesama saudara semuslim yang membaca Qunut dalam setiap shalat Subuh baik saat sebuah wabah atau pandemi berlangsung atau di hari-hari biasa.

Pendapat dua syeikh besar di atas sekaligus mengingatkan kita untuk tidak berkoar-koar berkomentar dan selalu mendahulukan bertanya kepada pakar, dalam hal apapun. Semisal dalam membaca Qunut dalah shalat lima waktu, karena objek tersebut termasuk dalam pembahasan Fikih, maka wajib bagi kita untuk bertanya kepada para ahli Fikih dan mencari tahu segala muasal munculnya suatu pendapat atau fatwa, baik perseorangan atau dari mazhab.

Allah SWT berfirman,

"فَسْئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ"

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”(QS. An-Nahl: 43)

Makna dari ayat tersebut adalah dengan menggunakan pengertian umum, karena dalam hal ini para ulama sepakat menggunakan kaedah 

العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

Ibarat dari firman Allah SWT di atas ditujukan untuk konteks umum karena tidak ada mukhassis (pengkhusus) yang menjelaskan tentang ahlu adz-dzikri di atas, maka sepantasnya untuk tidak elok seorang Muslim berkata, menjawab atau menjelaskan sesuatu yang tidak dia kuasai. Pun tidak elok untuk bertanya kepada yang bukan pakar.

Begitu juga untuk para pengikut seorang ulama atau suatu mazhab untuk tidak menyalahkan madzhab lain dalam suatu permasalahan, karena seharusnya laa yanqudlu al-ijtihad bi al-ijtihad, tidaklah suatu ijtihad membatalkan suatu ijtihad lain dalam permasalahan. Wallahu jalla wa 'alaa a'lam bis shawab.

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software