.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


 

Ketika melihat story WA seorang adik kelas, spontan saya iseng tanya, kenapa kok tidak mengajak mabar Among Us padahal saya juga doyan main? Dia menjawab, mereka main larut malam. Oh pantas, tentu saja saya tidak bisa ikutan. Untuk apa menyiksa diri begadang padahal paham jika tidur larut itu merusak kesehatan? 

Obrolan merembet ke perbincangan betapa mudah sebuah klub atau komunitas yang tidak terdiri dari para profesional menerbitkan sebuah sertifikat padahal hanya untuk acara biasa, dengan muatan materi yang biasa juga dan dengan pemateri yang malah kelewat terlalu biasa. Sialnya, manusia hanya bisa melihat yang zahir. Bahkan kebanyakan bukan hanya bisa, tapi hanya mau. Jadi mereka berpikir semakin banyak sertifikat di tangan, terlepas sertifikat tersebut bergengsi atau tidak, diterbitkan oleh sebuah instansi masyhur atau tidak, maka semakin mudah bergaya dalam menampilkan atribut kekerenan diri entah dalam medsos atau dalam hal lain. Yang jelas dalam melamar pekerjaan atau perkuliahan, mereka mengacuhkan sertifikat kecuali yang diterbitkan berlisensi.

Kembali ke perbincangan tadi, saya iseng lagi meminta seorang adik kelas untuk bertanya kepada orang-orang yang dengan sembarangan menerbitkan sertifikat abal-abal tersebut. Dia menolak halus, katanya malu karena itu temannya. Justru saya tegur, teman yang baik harusnya saling mengingatkan, bukan malu atau risih untuk menegur jika ada salah. Dia cengengesan.

Saya jadi teringat perkataan Imam Ghazali r.a. dalam bukunya Bidayatul Hidayah, persaudaraan itu ada tiga: persaudaraan untuk akhirat dan pertimbangan agama yang selalu jadi prioritas, saudara untuk dunia dan bisa mengingatkan dalam hal adab dan etika, dan terakhir adalah persaudaraan yang dibangun hanya untuk berleha-leha, yang kita harus dengan cerdas menghindar dari siasat dan makarnya. 

Memang perkawanan antar muslim itu pantas disebut sebagai persaudaraan. Persaudaraan seagama. Seperti dalam dunia persilatan juga ada saudara seperguruan. Jika sesama perguruan saja saling melindungi, apalagi dalam ikatan keagamaan. Makanya banyak sekali hadits yang mengajarkan untuk tidak saling menebarkan aib sesama saudara misalkan, atau bagaimana sebuah perbedaan itu adalah rahmat dan kita harus menyikapinya dengan bijak, meski dalam kaedah Fikih disebutkan pula bahwa menjaga persatuan yang ada kepada awam lebih baik daripada mengajarkan perbedaan. Tentu karena sikap dan reaksi orang berbeda-beda dan dalam mengajari orang awam lebih baik kita selalu menekankan persatuan atau yang sudah masyhur agar tidak menjadi bahan perselisihan.

Sebenarnya adik kelas saya ini cerdas dan bisa saja menjelaskan kepada kawan-kawannya yang tamak gelar itu agar selalu ingat, di atas langit masih ada langit dan untuk tidak menjadi katak dalam tempurung. 

Saya sengaja menulis tamak gelar, karena untuk manusia berkepala dua ke atas yang masih salah mengambil keputusan, saya kira bukan julukan naif saja yang cocok disematkan. Nah adik kelas saya ini rupanya lebih memilih untuk menahan diri, dan dia menyebutkan sebuah alasan yang saya hormati. Dia tidak mau juga dipanggil orang yang suka ikut campur urusan orang lain, disebut sok alim atau merasa ilmunya terlalu tinggi sehingga hobinya jadi suka menyalahkan. Saya hormati jawaban tersebut, meski dalam hati saya bertanya-tanya: seberapa jauh batasan menasehati, menegur atau mengingatkan sehingga disebut ikut campur?

Paham demokrasi mengajarkan kebebasan berpendapat, yang jika dilihat dari satu sisi memiliki nilai positif dalam kesamarataan hak dan keadilan, tapi di sisi lain kita bisa santai berpendapat dengan dalih hak asasi dan menyerang sana-sini kecuali untuk beberapa kasus yang sudah diikat hukum. Meski apalah arti hukum positif di tangan pelaku hukum berlidah ular. 

Maka jika berkaca ke demokrasi, tidak ada salahnya mengkritik selama masih dalam ranah toleransi. Kita juga pasti sering sekali dalam sholat fardlu atau nafilah membaca surat al-Ikhlas, dan tentu makna saling menasehati dalam hak dan kesabaran itu seharusnya sudah melekat dalam otak, hanya meresap dalam jiwa dan terlaku dalam amal atau belum, itu pertanyaan. Apalagi saat berhadapan dengan dilema, kita mengerti ada yang salah. Seseorang bersalah, menurut kita, tetapi kita ragu ingin menegurnya. Tentu karena kita banyak belajar dari kisah para sufi dan ulama terdahulu, sering sekali mereka menyimpan sebuah amalan dan menampilkan yang lain. Sering sekali orang-orang salah kaprah kepada mereka dan kadung menyematkan label pendosa atau semacamnya kepada mereka, padahal segala yang tersimpan di dalam hati, siapa yang tahu?

Manusia hanya bisa menilai dari sesuatu yang dzahir, perkara hati urusan Tuhan. Biasanya kita menemukan kutipan ayat dan tafsir dari surat al-Ahzab ayat 51 sebagai dalil, naas maknanya terlalu disempitkan dalam urusan cinta sehingga kebanyakan artikel atau video-video 'ustadz muda' yang bersliweran di dunia maya cuma menggunakan ayat tersebut untuk menghibur hati yang gundah gulana atau sebagai dalil untuk cepat nikah muda untuk mereka yang sering dikecewakan cinta. 

Ini jelas-jelas jual agama, memahamkan orang lain dengan pemahaman yang kurang dalam juga. Jika kita akrab dengan dunia turats, kandungan ayat tersebut tidak lagi menyoroti cinta, tapi sangat erat sekali dengan dunia tashawwuf. Perkara hati memang seyogyanya urusan kita dengan Sang Pencipta, bukan unjuk atau minta pengakuan eksistensi sesama makhluk. Caranya juga macam-macam, misal Sunan Bonang dengan tembung Tombo Ati, Abu Nuwas dengan syi'ir I'tirafnya, dan banyak lagi. Mengolah hati bukan semata memperbanyak ibadah, tapi juga bagaimana menemukan mediasi yang tepat dalam setiap laku untuk mengamalkan apa sesungguhnya yang sudah kita pelajari dalam Islam. Agama bukan simbol. Intisari Islam bukan celana harus cingkrang, harus jenggotan dan mudah menyalahkan.

Makanya para ulama kita juga selalu menjelaskan bagaimana adab dalam menegur dan mengingatkan dengan sangat apik, seperti yang dikutip dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, Ibn Rajab r.a. menjelaskan, nasehat yang baik utamanya dilakukan dalam ranah privat, bertemu empat mata, bukan publik. 

Beda menasehati dengan menyalahkan. Menasehati selalu diiringi dengan niat baik, dibalut dengan kalimat yang santun, bermaksud mengklarifikasi bukan menuduh dan tentunya mengedepankan tata krama, tentunya akan mengenai hati orang yang ingin mendengar. 

Jika orang yang dinasehati terlalu bebal atau tertutup hatinya, tidak ada salahnya mengingatkan kembali suatu saat dengan mencari sikon yang tepat. Sedangkan menyalahkan, itu jika ternyata kita masih berburuk sangka setelah menegur, apakah dia akan bertaubat atau tidak, padahal itu urusan dia dengan Yang Maha Mengetahui Isi Hati. Menyalahkan juga bisa dalam bentuk merasa alim sendiri, merasa menang sendiri, begitu melihat adanya suatu kebathilan atau kemungkan, lupa seharusnya yang dinasehati duluan adalah diri sendiri, lantas langsung menghakimi orang yang bersalah tersebut tanpa tedeng aling-aling.

Menegur juga berbeda dengan diskusi, Syeikh Asy-Syanqithi panjang lebar menjelaskan dalam Adab al-Bahts wa al-Munadzarah, ranah diskusi agar banyak orang bisa turut menyimak dan turut nimbrung agar bisa mencapai kebenaran dalam suatu hal yang sedang dibahas. 

Sayangnya, masih banyak yang tertukar antara adab munadzarah ini dengan menasehati, atau bahkan menyalahkan. Seperti kasus kawan di atas, karena ini kesalahan pemula, maka etika yang patut diambil adalah mengingatkan dengan apik. Apa yang diutarakan dari hati pasti bisa diterima hati, apalagi sebenarnya ini bukan kesalahan yang teramat fatal, hanya saja untuk mencegah terciptanya mindset gila gelar dan terhindarkan dari ‘ujub atau riya’ lebih baik dicegah sejak dini. Kalau sudah kebablasan, takut kepala mereka bakal semakin bebal. 

Persis seperti bapak-bapak yang kerjanya ongkang-ongkang kaki dapat gaji dari keringat rakyat tapi tidak mengindahkan atau bahkan jadi aspirasi rakyat sama sekali. Dinasehati tidak bisa, diajak diskusi mencari forumnya juga susah, malahan sampai harus ngajak ngobrol dengan kursi kosong misalkan. Kasus seperti ini, bicara hati ke hati jadi tidak bernilai sama sekali. 


*Tulisan ini juga pernah tayang di situs lain dengan gubahan seperlunya. Monggo mampir ke https://sanadmedia.com/seni-menasehati-agar-bisa-didengar-hati/ 

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software