.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Cheshire

Credit: artconnect

“Kalau kamu mati, aku akan mengenakan kostum Cheshire di pemakamanmu.”

Rani menyengir. “Jangan bercanda dengan hal-hal seperti itu. Kamu mau aku mati duluan?” Pria di sampingnya garuk-garuk kepala.

“Tentu aku hanya bercanda, Ran.”

Mereka berdua berhenti di sebuah toko kecil dengan tulisan Pet Stop besar terpasang di papan.

“Pet Stop?”

Lelaki di sampingnya tertawa kecil. “Mungkin yang nulis lagi tidak pakai kacamata,” selorohnya. Dari dulu kamu sering sekali bercanda, Rani membatin. Tapi itu salah satu yang dia suka dari diri lelaki itu.
Suara berbagai macam hewan peliharaan langsung menyapa telinga mereka berdua setelah memasuki toko.

“Kamu mau membelikan aku kucing?”

Lelaki di sampingnya tidak segera menjawab, dia sedang berbincang-bincang dengan pemilik toko. Baru setelah dia memberikan secarik kertas kepada pemilik toko, lelaki itu menoleh ke Rani.

“Kali ini ada dua kejutan untukmu. Tapi tahu sendiri, setelah ini aku harus pergi meliput Pak Karmo. Jadi aku harap meski minggu depan aku tidak di rumah, masih ada yang menemanimu. Anggaplah dia sebagai penggantiku untuk sementara waktu.” Pemilik toko sudah kembali sambil membawakan sebuah kandang kecil di tangan dan menyerahkannya ke Rani. Di dalamnya, seekor kucing anggora berwarna biru gelap berkalungkan nama Cheshire, menatap Rani dengan mata bulat yang sangat menggemaskan.
“Warna bulu dan matanya benar-benar persis seperti di novel. Ya sudah, aku beri dia nama yang sama.”

Mata si wanita berkaca-kaca. Rani sebenarnya sudah bisa menebak apa hadiah yang akan diberikan untuknya sejak pertama kali mereka berhenti di depan toko. Tapi untuk seekor kucing yang persis seperti tokoh kucing dari buku favorit mereka, tentu suaminya sudah mencari ke mana-mana. Kucing seperti ini tidak bisa sembarang ditemukan di jalanan, atau di toko-toko hewan biasa. Sambil memeluk erat kandang kucing di tangannya, Rani mencium pipi suaminya.

Pipi Ardy bersemu merah. “Jangan di depan umum dong. Malu dilihatin orang. Eh, aku masih punya satu kado lagi untukmu.”

“Apa itu?”

Ardy cengar-cengir. “Aku bawakan minggu depan, janji. Tapi sekarang, aku harus segera pergi. Pak Karmo, orang kedua di negara kita terduga korupsi. Padahal kota ini semakin bagus saat dia memimpin.”

Itu satu-satunya janji Ardy yang tidak pernah ia tepati. 

Dua hari menjelang peringatan hari pernikahan mereka, Rani sedang sibuk menyiapkan bahan sebagai pembaca acara dalam talk show miliknya. Cheshire sudah terdengkur pulas di pangkuan, saat tiba-tiba hapenya berbunyi dan Mamat, rekan setim Ardy yang sama-sama bertugas meliput berita tentang Karmo, mengabarkan peristiwa atas kecelakaan sebuah sedan Toyota berwarna hitam. Mulut Rani tercekat. Dia berjingkat berdiri dan Cheshire yang terjatuh dari pangkuannya mengeong kesal. Rani tahu, tanpa Mamat menjelaskan, dari sekian juta mobil yang sama, hanya satu mobil di dunia ini yang dia maksud. Mobil Ardy. Wajah Rani basah oleh air mata.

Beberapa hari berselang. Malam demi malam wanita malang itu lalui dengan memandangi foto-foto mesra saat mereka berdua dan membuka-buka buku catatan suaminya. Setiap kali ia melakukannya, air matanya selalu menetes. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dalam kematian suaminya, tapi otaknya tidak bisa mengajak hati untuk bekerjasama. Cheshire, bukannya prihatin, malah semakin sering mengeong-ngeong minta makan. Tapi seakan paham majikannya sedang bersedih, si kucing mendengkur pelan sambil mengelus-eluskan kepalanya ke tubuh Rani.

Pihak televisi masih terus meminta kembali Rani untuk mengisi talk show. Ratusan surat masuk memenuhi email dan hampir di setiap akun sosmed miliknya berisikan ucapan bela sungkawa dari para penggemar dan penonton setia yang selalu menanti hadirnya kembali sosok Rani di televisi. Puluhan ikatan bunga di ruang tamu tergeletak tak beraturan seperti rerimbun daun yang terserak di taman kota pada musim gugur. 

Sesekali Mamat mengunjunginya untuk sekedar membawakan makanan, ataupun mengajaknya jalan-jalan semata-mata hanya untuk menghiburnya. Berulang kali juga dia menawarkan untuk membantu membereskan rumah Rani, tapi selalu ditolak. Dari kunjungan yang semula hanya seminggu sekali, beralih hampir setiap hari. Cheshire selalu mendesis dan mengeong keras setiap Mamat berkunjung, tapi Rani memilih untuk tidak mengacuhkannya. Dia tahu Mamat adalah teman baik suaminya, jadi setiap kali Mamat datang, Rani menerima apa saja yang dia bawakan dan meletakkannya di atas meja. Sebenarnya dia tidak suka cara tiap kali Mamat mencuri pandang ke arahnya ketika suaminya mengajaknya ke rumah, atau saat berpapasan dengannya di kantor suaminya. Caranya memandang Rani seperti seekor serigala yang siap menerkam mangsa. Tapi kali ini, Rani tidak mau ambil pusing. Mamat teman suami yang satu-satunya pernah ia bawa ke rumah, tentu Ardy mempercayainya dengan tulus. Mau tidak mau, Rani juga harus berlaku sama untuk menghormati mendiang suaminya.

Cheshire mendesis dan mengambil jarak dengan Mamat setiap kali dia datang. Kelakuannya baru berhenti saat Rani menggendong dan meletakkan kucing biru itu di pangkuannya. Hanya sesekali Rani menimpali percakapan basa-basi dari Mamat, lantas Mamat pamit pulang. Begitu seterusnya. Makanan yang dibawakan oleh Mamat tidak pernah ia santap, semuanya ia taruh di mangkok makanan si kucing. Cheshire juga seoertinya tidak mau menyentuh makanan yang dibawa Mamat, walhasil makanan-makanan itu pun dibuang. 

Sampai pada suatu pagi, bel rumah berbunyi. Cheshire mengeong-ngeong dengan keras sambil mencakar-cakar pintu. Tidak pernah Cheshire bertingkah seperti ini sebelumnya. Rani yang keheranan mencoba membawa masuk Cheshire ke kandang. Kucing itu berhasil kabur dan dengan gesitnya berlari ke dalam kamar. Sambil bergumam kesal, Rani membuka pintu.

“Selamat pagi, dik Rani. Adik tentu tahu siapa saya. Boleh saya masuk?”

Tentu saja Rani sangat mengenali wajah lelaki separuh baya berkacamata dengan rambut separuh botak itu. Wajahnya yang sering sekali muncul di berbagai media akhir-akhir ini dan namanya berulangkali ia temukan di buku catatan suaminya. Rani langsung menutup pintu, tapi sebuah tangan kekar menahan pintu itu untuk tetap terbuka. Tangan dari seorang lelaki berbadan besar dengan jas hitam yang kini menatapnya tajam. Lelaki tua separuh botak itu memberi isyarat kepada pria berbadan besar untuk mundur.

“Maafkan dia ya, dik Rani. Dia Dodon, pengawal saya. Orangnya cepat sekali naik darah.” Rani merasa jijik dengan senyuman lelaki tua itu. “Saya sangat, sangat berduka atas kepergian suami adik dan ingin sekali berbicara dengan dik Rani. Makanya saya langsung menyempatkan diri ke sini begitu ada waktu kosong. Saya hanya ingin mengobrol sebentar saja. Boleh?”

Rani ragu sejenak, dan akhirnya mempersilakan masuk. Lelaki tua itu langsung masuk, diikuti dengan si pengawal. Tanpa menunggu dipersilahkan duduk, dia segera merebahkan dirinya di atas sofa, sedangkan pengawalnya lebih memilih untuk tetap berdiri di dekat pintu. Rani duduk sambil menatap hati-hati dua lelaki di hadapannya.

“Ada angin apa, orang besar seperti Pak Karmo tiba-tiba datang kemari?”

Lelaki tua itu melipat tangannya dan tersenyum lagi. Rani jijik melihatnya. Senyum palsu yang selalu melekat di wajah lelaki ketika sedang berbohong. Rani tahu, karena sudah puluhan kali dia mengundang bintang tamu di acara talk show miliknya. Mereka semua memiliki senyum yang sama.

“Saya melihat banyak sekali karangan bunga di lantai. Para penggemar dik Rani pasti sangat sayang dengan kalian. Kematian dik Ardy benar-benar sungguh tiba-tiba dan tak terduga. Oh iya,” Pak Karmo mengedarkan kepalanya ke sekeliling. “Adik tidak menyuguhkan minuman ke tamu ya?”

Rani sungguh sangat tidak suka dengan gaya bicara lelaki itu.

“Silahkan bapak sampaikan apa maksud Bapak dengan cepat. Kalau tidak, saya panggil polisi.”
Tawa teramat keras meledak dari mulut Karmo, tapi buru-buru dia tahan dengan tangan. “Aduh, maaf, maaf. Maafkan kelancangan saya, tiba-tiba saja tertawa. Beda ya, saat tampil di tivi dik Rani itu cantik, tapi bisa bersikap sopan dan tegas. Sayang sekali kenyataan di depan saya sekarang ini sungguh bertolak belakang.” Pengawal di belakangnya terkekeh pelan.

Rani meremas lututnya kuat-kuat, berusaha untuk tidak terpancing emosi. “Kalau Bapak hanya ingin berbasa-basi, lebih baik Bapak cepat keluar. Bapak sudah tahu kondisi saya seperti apa, justru kelakuan Anda saat ini tidak lebih baik dari saya!”

“Wah, tenang dik, sabar, sabar. Jangan marah-marah, saya sangat tidak suka melihat seorang wanita cantik seperti dik Rani ini marah-marah.” Karmo mengeluarkan secarik kertas dari kantong bajunya. “Saya tidak punya apa-apa untuk menghibur dik Rani, jadi saya cuma bisa membantu dengan ini. Dik Ardy itu wartawan hebat. Saya sering membaca tulisannya tentang saya. Analisanya bagus, meski ya, kesimpulannya salah. Saya tidak terlibat apa-apa dengan kasus semen itu. Tempo hari dik Ardy mewawancarai saya, dik Rani pasti tahu. Dia semangat sekali waktu itu. Makanya saya sangat menyesalkan kecelakaan itu. Saya selalu menyesali orang-orang yang mati muda seperti dik Ardy ini.”  

Rani sudah tidak mendengar separuh dari apa yang lelaki tua itu katakan. Dia sedang mencermati kertas di hadapannya. Sebuah cek, dengan nominal angka yang bakal membuat mulut setiap orang yang membacanya ternganga. Untuk apa Pak Karmo menyumbangkan uang sedemikian besar untuknya? Orang itu sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan baik dengan suaminya, ataupun dirinya sendiri. Dan sungguh dia benar-benar tidak bisa menampikkan perasaan aneh yang dari tadi terus mengusik hatinya.

“Anggap saja itu hadiah untuk dik Rani, untuk merenovasi rumah, untuk biaya hidup, apa saja! Rumah ini terasa sepi sekali. Saya mengerti betul kondisi dik Rani saat ini. Andai saja ada seorang anak, tentu rumah ini bakal lebih ramai.”

Tiba-tiba entah dari mana, Cheshire melompat dan mencakar wajah Karmo. Lelaki tua itu berusaha keras menjauhkan cakar si kucing yang hampir melukai matanya. “Kucing kurang ajar!” Karmo menarik paksa Cheshire dari mukanya dan mengambil ancang-ancang untuk membantingnya ke lantai. Cheshire terlalu lihai untuknya. Kucing biru itu mencakar dan menggigit tangan lelaki tua hingga cengkeramannya mengendor. Karmo mengaduh. Cheshire yang sudah bebas, langsung kabur ke dapur. Si pengawal hampir menangkapnya, tetapi Cheshire sudah keluar dari jendela dapur yang sedang terbuka.

“Dasar binatang tidak tahu diuntung!” Karmo mengambil saputangan dari balik kemeja dan mengusap lukanya. Rani hanya terdiam menyaksikan kejadian tadi. Dalam hati dia malah bersyukur. Dia juga tidak menawarkan apa-apa untuk membantu Karmo. Si pengawal yang bergegas ingin keluar pintu untuk menangkap Cheshire, ditahan oleh majikannya. Karmo memberi isyarat seraya menggelengkan kepala. Si pengawal mengangguk. Rani menyerahkan kembali cek ke Karmo.

“Silahkan Bapak ambil kembali cek ini. Saya tidak butuh.”

Karmo mengambil paksa cek itu dan menghempaskannya ke lantai. “Terserah mau kamu apakan uang ini! Saya sudah baik-baik datang ke sini, tapi seperti tadi cara kamu memperlakukan saya. Itu tadi kucing kamu? Jangan sampai saya menemukannya di jalan, atau kamu hanya bisa mengelus ekornya. Dodon!” Si pengawal dengan sigap membukakan pintu. Karmo mendengus dan keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rani, disusul oleh pengawalnya.

Rani menutup pintu. Lutut kakinya lemas. Dia segera menjatuhkan diri ke atas sofa sambil menghela nafas panjang. Rani hanya ingin membakar cek dari Karmo secepatnya. 

Saat hampir beranjak menuju dapur, sesuatu yang halus menyentuh kakinya. Rani terlonjak kaget. Cheshire mengeong pelan, Rani heran, dia tidak mendengar suara kucing itu masuk ke rumah. Tangannya bergerak ingin memungut Cheshire dan mengelusnya, hanya dengan cara itu suasana hatinya bisa kembali normal. Cheshire berkelit, malah berjalan perlahan menuju sebelah kiri pintu, seolah-olah menuntun Rani untuk mengikutinya. Rani segera beranjak dari duduknya, matanya tetap melekat ke Cheshire. Cheshire duduk di atas sebuah benda kotak kecil pipih berwarna hitam. Sebuah hape.

Rani mengambil hape itu dan mencoba membukanya. Tidak terkunci. 

Wallpaper di hape menunjukkan gambar Karmo dengan beberapa orang yang tidak ia kenal. Rani kembali duduk di sofa dan mengotak-atik hape di tangannya. Setelah beberapa jam, matanya terbelalak. Dia tidak percaya dengan apa yang ditemukannya. Apalagi dia sudah sangat merasa nyaman dengan salah satu nama di sana yang belakangan ini sering sekali bertandang ke rumah.

Air matanya mengalir deras. Bergegas ia mengambil hapenya dan mengontak Ratih, manajernya di studio. Masih dengan terisak, dia memberitahu Ratih untuk segera mengaktifkan talk show kembali dan meminta maaf karena lama tidak mengabari. Rani menyebutkan nama Karmo sebagai bintang tamu selanjutnya, dan menceritakan alasannya. Rani tidak ingin menyerahkan apa yang sudah ia temukan ke polisi, dia yakin pasti Karmo sudah menjalin hubungan dengan beberapa petinggi di sana. Malahan dia akan membeberkan semua barang bukti yang ada, dibantu dengan catatan-catatan dari mendiang suaminya, untuk menampilkannya langsung di depan seluruh penonton, biar mereka yang menjadi saksi. Usulan Rani terdengar seperti gemerincing uang di telinga Ratih. Ratih berjanji akan mengontaknya kembali sesegera mungkin setelah menyelesaikan beberapa keperluan. Rani menutup hapenya.

Rani memungut Cheshire, memangku dan mengelusnya perlahan, mencoba merasakan setiap jarinya menyusuri helai demi helai bulu biru hewan kesayangannya itu. Dia mengelusnya lagi, memori nostalgik atas suaminya pun berputar di kepala dan dia menangis. Air mata masih berlinang di pipi, Rani memandang dalam-dalam mata Cheshire, menciuminya, dan berkata pelan,
“Aku tidak pernah menanti apa hadiah kedua yang dia janjikan padaku, selama masih ada kamu.” Cheshire mengeong pelan.

Tiba-tiba Cheshire meloncat dari pangkuan Rani, mendesis. Ada orang menggedor pintu.


MEPHISTO*

“Saya cerai sudah lama, tiga tahun lalu. Mungkin lebih tepatnya, istri saya yang meninggalkan rumah.” Pria berjaket abu-abu itu tersenyum miris. Berbagi pengalaman pahit di awal pembicaraan akan mengundang lawan bicara untuk lebih berempati dan semakin banyak berbicara. Taktik yang selalu ia lakukan dari dulu, dan selalu saja berhasil.

Matanya terjatuh pada tape recorder hitam yang ada di tangan. Banyak lecetan di tape recorder itu, mungkin umurnya melebihi pria yang memegangnya. Dia memastikan agar tombol merah pada mesin tua itu tidak tertekan dengan sengaja. “Barangkali saya kurang memperhatikannya. Sama seperti benda di tanganku ini. Ada ribuan kaset yang saya simpan di rumah, sampai-sampai istri saya bilang, ‘Kamu selalu lebih perhatian terhadap kaset-kaset busukmu daripada aku!’ Mungkin hanya itu kata-katanya yang selalu terngiang sampai sekarang…” kali ini tidak ada senyum yang mengukir wajahnya. Pandangannya melekat pada pria dengan tangan terborgol yang sedari tadi menatapnya tanpa ekspresi.

“Dokter, mungkin kau sama tidak warasnya denganku.”

Raut muka pria yang dipanggil dokter tidak berubah. Dia tahu pria berkacamata di depannya berkata seperti itu hanya untuk memancing emosinya, tapi itu tanda berarti siasatnya untuk memaksa lawan berbicara, sukses. Alih-alih menanggapi, matanya malah melekat tajam kepada pria berkacamata bundar itu. Rambutnya panjang dikuncir ke belakang. Dia mengenakan kaos putih yang sedikit kekecilan sehingga membuat perut tambunnya semakin mencuat. Kumis dan jenggotnya tercukur rapi. Tangannya bersidekap. Mata kedua pria itu saling bertemu, dan si dokter tersenyum simpul sebelum menyalakan tape-nya dan berkata pelan.

“Setiap saya menguliti topeng para kriminal sepertimu, saya menyadari kemungkinan saya terpengaruh oleh kalian semain besar. Itu yang dikatakan Nietzsche, kamu senang membaca karya-karyanya bukan?” Si dokter mengeluarkan sebuah map tebal dari dalam kopernya. Sebuah nama ditulis tebal-tebal dengan spidol merah. Peter Gerrard.

Pria berkacamata bundar masih terdiam. Si dokter melanjutkan pertanyaannya, “Saya ingin bertanya tentang Anne korban pertamamu. Kamu sudah menyelidiki kehidupan gadis itu dari rumahnya, keluarganya, sekolahnya, siapa saja teman-temannya, bagaimana rutinitasnya. Kamu terobsesi dengannya. Kamu sangat menginginkan sensasi ketika nanti Anne berada dalam pelukanmu.”

“21 Oktober. Anne pulang dari sebuah pesta. Dia berjalan sendirian. Kamu yang sudah bersembunyi di halaman depan rumahnya, langsung menyergap Anne begitu tahu ia datang, dan menancapkan pisau ke dadanya. Saat itu kamu merasakan ada kenikmatan hebat yang menjalari tubuhmu, apakah saat itu juga libidomu meningkat?”

“Tidak.”

“Tapi kamu orgasme saat itu, benar?”

Peter tidak menjawab.

“Dokter, lebih baik kamu menanyakan kepadaku tentang korban kesebelas.”

Senyum si dokter mengembang lagi. Peter muak akan senyum itu, seperti mengejek dan mengasihaninya sekaligus.

“Hanna Kemp, 62 tahun, seorang janda dari Munich. Dia tinggal di sebuah rumah mewah hasil peninggalan almarhum suaminya. Kamu membunuh janda tua itu di kamarnya. Sebelumnya kamu menerobos masuk rumah dan bersembunyi di gudang bawah tanah. Saat kamu mendengar langkah kaki wanita tua itu memasuki rumah, kamu keluar dari persembunyianmu, membuntutinya, dan ketika dia membuka kamarnya, kamu langsung menusuknya dari belakang. Bukan begitu?”

Peter meringis. “Tepat sekali, dok.”

“Dalam sepuluh pembunuhan sebelumnya targetmu selalu gadis remaja, tapi tidak kali ini. Dan dalam pembunuhan lainnya kamu selalu menusuk para korban di dada, Kemp tidak. Kamu menusuknya dari belakang.”

Peter meringis lagi.

Si dokter mengingat baik-baik seluruh kasus yang pernah ditanganinya. Dia tahu seharusnya kasus pembunuhan kali ini tegolong sebagai pembunuhan berantai berpola. Sepuluh korban pertama adalah remaja wanita dengan kisaran umur antara 16 sampai 18 tahun. Mereka mati dengan luka tusukan di dada, dan selalu ditemukan sedikit bekas sperma di tubuh para korban, tapi korban terakhir Peter adalah seorang janda tua, ini aneh, juga tidak ada bekas sperma di lokasi kejadian. Si dokter berpikir keras. Hanya ada dua alasan mengapa Peter melakukannya. Dia tahu Peter adalah seorang pria yang cerdik. Barangkali dia sengaja melakukannya untuk mengacaukan investigasi polisi, sehingga mereka bakal tidak mengira jika pelaku pembunuhan Kemp ini sama dengan sepuluh korban sebelumnya. Paling besar kemungkinannya hanya itu, kalau bukan, lantas apa?

“Sebenarnya apa alasanmu membunuh Kemp?” nada ucapan si dokter berubah tajam. Senyumnya hilang.

Peter mengangkat bahu, “Monster.”

Si dokter menghela napas panjang. “Kamu benar, ada monster yang hidup dalam hatimu, juga dalam hatiku. Emosi dalam hati seorang manusia dipisahkan oleh sebuah garis yang sangat tipis. Bayangkan kamu berada dalam sebuah kamar gelap gulita. Ketika kamu menyorotkan lampu senter ke salah satu sisi kamar, kamu akan mendapatkan sebuah lingkaran besar yang sangat terang. Tapi kamu tetap tidak bisa mengabaikan bagian tembok yang tidak terkena sinar senter. Seperti itulah hati kita.”

“Kamu salah, dok.”

“Maksudmu?”

“Teorimu. Di dunia ini, benar-benar ada seorang monster berkulit manusia. Dia, dia yang menyuruhku membunuh nenek tua itu!”

Dahi si dokter semakin mengerut. “Jika kamu mau berpura-pura gila atau menuduh orang lain untuk semua perbuatan kejimu, percuma. Saya sudah mempelajarimu, dan saya di sini hanya untuk kepentingan riset, tidak lebih. Kamu bisa berkata seperti itu depan pengacara dan hakim.”

Peter menggebrak meja. Kedua tangannya yang besar mencengkeram leher si dokter, “Schwein!” Si dokter meronta-ronta berusaha melepaskan tangan Peter dari lehernya. Dia heran, meski kedua tangan Peter masih terborgol, tapi dengan mudahnya dia berusaha mencekiknya. Dengan sekuat tenaga, dia mencoba menekan tombol yang tersembunyi di balik meja.

“Kamu takut? Kamu takut, kan?!” Peter menggeram. Muka si dokter semakin pucat.

“Di dunia ini, ada yang lebih menakutkan daripada sekedar orang mencoba membunuhmu,” cengkraman Peter mulai mengendor. Si dokter mencoba bernafas, tapi malah terbatuk-batuk. Tiga orang polisi mendobrak masuk dan segera meringkus Peter. Sebelum para polisi itu membawanya pergi, si dokter mendengar Peter berteriak,

“Ruang bawah tanah Kemp! Ruang bawah tanah Kemp!!!”

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~


Suatu hari aku mencoba mengunjungi seorang dokter, istriku yang mengusulkan. Gara-gara mimpi sialan yang telah menghantuiku belakangan ini.

Aku tidak tahu apakah dia memang dokter, dia tidak mengenakan jas dokter yang warna putih itu. Setelan baju yang dikenakan lebih mirip mahasiswa pengangguran. Ruangan ini juga tidak seperti ruangan dokter pada umumnya. Ruangan ini memang bersih, dindingnya juga dicat putih seperti klinik-klinik dokter pada umumnya, tetapi aku tidak menemukan alat-alat yang seharusnya dimiliki dokter. Yang ada malah lemari besar berisikan buku, sebuah ranjang dan benda-benda lain entah apa fungsinya.

Yang aku tidak suka dari orang ini, senyumnya memang ramah, tetapi aku tahu dia hanya mencoba menggoda istriku. Matanya saat memandang istriku bagai hyena lapar yang sedang memburu mangsa. Aku tahu karena aku juga lelaki. Berulang kali dia mencoba berkelakar sampai istriku terpingkal-pingkal, kemudian istriku membalas candaan si dokter dengan menceritakan beberapa kejadian konyol yang menimpaku, padahal seharusnya itu rahasia kami. Sepertinya mereka berdua tidak melihat tanganku yang terkepal kuat sekarang.

Aku menatap tajam ke arah dokter tersebut. Aku berharap tatapanku mampu menghentikan pembicaraan mereka berdua. Dokter muda itu sepertinya sadar, dia berpura-pura terbatuk sambil membalikkan badan. Istriku masih tertawa riang. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu. Sangat lama. Aku tidak mau berkata aku cemburu karena jika seseorang cemburu, dia akan merasakan sensasi dada yang terbakar, pikirannya hanya dipenuhi rasa amarah dan bahkan dengan kalap dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku tidak seperti itu. Pikiranku tetap jernih. Tanganku memang masih terkepal, tetapi aku tidak memikirkan hal-hal aneh lain. Aku tahu karakter istriku, dia hanya sedang mencoba mencairkan suasana. Tetapi aku tidak suka jika dia menjadikanku sebagai bahan lawakan.

Si dokter muda mengambil beberapa lembar kartu dan memberikannya kepadaku. Dia menjelaskan, di kartu itu tertulis urutan angka dari urutan paling besar ke paling kecil. Aku disuruh untuk membuka dari tumpukan paling atas, menghitung angka yang tertulis di kartu dalam hati, dan meletakkannya kembali ke susunan paling bawah, begitu seterusnya. Katanya, metode ini adalah salah satu dari sekian banyak metode hipnotis dan hipnotis adalah cara paling efektif untuk mengetahui arti mimpi seseorang atau menghilangkan mimpi buruk yang menggangu. Omong kosong, batinku. Dia menyuruhku untuk memulai membuka kartu dan menghitung. Aku tidak yakin apakah terapi ini akan berhasil, tapi aku tetap melakukannya.

Waktu terasa berjalan lambat sekali, dan aku mulai bosan. Istriku melihatku dengan tatapan aneh. Aku tidak pernah melihat tatapannya seperti itu kecuali dulu, saat aku membawa seorang pria ke rumah.

~{Klik judul untuk baca kelanjutannya.}~

Lalat Perusuh

Ilustrasi: etsy.com
Beberapa puntung Gudang Garam berserakan di bawah kaki. Dari tadi matanya tidak lepas dari sebuah masjid megah yang berdiri di samping kanan pertigaan jalan. Tidak jauh, hanya kisaran beberapa belas meter dari tempat ia berdiri. Tapi dia sengaja berdiri di sebuah sudut di mana sinar lampu jalanan tidak akan mengenai tubuhnya. 

Lagi-lagi dia mematikan rokoknya, dibuang begitu saja ke bawah, lantas mengambil sebatang lagi. Ekor matanya melihat tiga orang muncul dari balik kiri pertigaan. Mereka bertiga menggotong cangkul, dua belah papan, dua buah palang dan sebuah bungkusan dibalut sarung. Rokok yang hampir disumat pun kembali dimasukkan ke saku jaket. Tanpa dikomando, empat orang itu pun berjalan menuju masjid. Bungkusan sarung tadi dibuka. Ada satu botol berisikan cairan seperti minyak dan perkakas tukang yang hampir lengkap.  Dengan sigap, mereka melepas papan nama masjid, diganti dengan papan baru. Sebuah lubang digali di sampingnya, dipasangi palang dan papan juga.

“Papan yang lama mau diapakan, Man?”

Lelaki yang ditanya, tanpa menoleh, segera menyulut sebatang Gudang Garam yang dia ambil dari sakunya, “Bakar saja.” 

Setelah dua papan baru terpasang, mereka berempat segera membereskan peralatan, berusaha serapi mungkin untuk tidak meninggalkan jejak. Tiga orang yang tadi datang bersamaan, segera membawa papan lama using bertuliskan nama masjid, berjalan menuju tanah kosong yang tidak jauh dari sana dan membakarnya. Api yang menggelora dari minyak tanah dan bau kayu yang terbakar malah semakin membuat pulas warga di desa Sengkaleng. Setelah papan hanya menyisakan arang, sekonyong-konyong hujan turun mengguyur  desa. Kebetulan atau tidak, bahkan keempat pemuda ini tidak memperhitungkan nasib baik ini.

Masih di bawah guyuran hujan, adzan subuh berkumandang. Jamaah subuh juga cuma sedikit. Yang biasanya sebaris penuh, kini malah cuma lima orang sepuh. Dalam sholat juga acapkali mereka mengusap-usap mata. Para mahasiswa yang mengurus masjid sedang pergi entah ke mana. Papan yang sudah terganti semalam juga belum diperhatikan, masih hujan. Baru ketika matahari sedikit tampak dan pintu-pintu rumah mulai terbuka, Sengkaleng dikejutkan oleh dua papan bertuliskan: ‘Tanah milik Negara’ dan ‘ Masjid milik Tuhan, bukan milik Golongan’ yang berdiri di depan masjid As-Sakinah.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Terminal Wajah


Alam bahkan jelas melihat dua lelaki itu sama sekali tidak mirip. Tapi seorang ibu dengan tampilan kosmetik seperti topeng pantomim sedari tadi tidak henti-hentinya mengoceh dan bersikeras betapa salah seorang penjaga yang berdiri dekat pintu masuk sangatlah mirip dengan suaminya. 

Duduknya perempuan tua itu lumayan jauh, hampir empat baris di belakang dia duduk, Alam sempat menghitung. Tetap saja suara wanita paruh baya tadi mampu mengalahkan suara-suara bising di bandara ini. Sekali lagi, Alam melihat ke belakang, memperhatikan dengan seksama antara suami wanita tadi yang kini entah dengan apa lagi bisa menyembunyikan malunya selain dengan gugup berusaha merapikan kacamatanya. Kemudian perhatiannya beralih ke si penjaga. Alam memicingkan mata. Apanya yang persis? Lelaki berbaju putih rapi itu terlihat tegap, dengan tubuh atletis dan wajah yang mungkin selalu diidamkan oleh para wanita. Matanya yang tajam, hidung mancung, rahang yang terlihat kokoh, serta perbandingan tulang pipi yang tidak terlalu tirus dan gemuk. Ah, si suami hanya memiliki persamaan dari mata dan hidung. Tubuh, tulang pipi, apalagi rahang, jelas-jelas menonjolkan kerja lelaki ini cuma di balik meja. 

Celotehan si ibu tadi menarik minat beberapa wanita sebaya. Akhirnya ada empat orang istri, ramai mengobrol dengan nyaringnya, meninggalkan empat orang lelaki dengan pikirannya masing-masing yang sibuk menjaga barang-barang mereka. Sebelum Alam kembali mengatur duduknya kembali, dia sempat menangkap lelaki berkacamata –yang kata istrinya mirip penjaga di pintu masuk tadi– menunjukkan tangannya ke arah kamar mandi umum. Istrinya tidak menggubris. Si suami tadi berjalan gontai ke sana. Alam melanjutkan bacaannya sebentar sebelum kemudian ikut menyusul ke arah yang sama.

Wajah lelaki tadi sedang menatap cermin di atas wastafel dengan muka bagai jeruk purut. Sedikit-sedikit dia melenguh. Alam pun tidak berani mengganggu. Semua toilet kosong, tetapi kakinya memilih memasuki kamar mandi paling pojok.

“Sial, sial!”

Alam mendengar dari dalam kamar mandi, sesekali si wajah jeruk purut merutuki diri. Dia mengeluhkan istrinya, yang selalu menuntut, yang selalu membanding-bandingkan, yang tidak pernah bisa membiarkan hidupnya tenang. Lama dia berceloteh tentang wanitanya, sampai terdengar sebuah balasan. Lambat laun jadi obrolan. Alam yang masih belum menuntaskan hajatnya, bingung. Bukannya tadi cuma ada dua orang di sini? Perasaan tidak ada orang lain masuk. Tidak ada suara pintu dibuka, kalau iya suara denyitnya pasti kentara.

Alam menangkap si pemilik suara kedua mirip sekali dengan suara si suami, hanya lebih ceria. Keduanya pun mengobrol santai. Dari nadanya, mereka sangat akrab. Mungkin saudara atau kerabat jauh. Alam berusaha tidak acuh karena ada urusan lain.

Selesai menamatkan hajatnya, Alam menemukan si wajah jeruk purut tadi sudah berganti jadi wajah matahari. Senyumnya benar-benar merekah. Mata Alam mengedar ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa lagi di situ. Lantas dengan siapa tadi bapak itu berbicara?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

(revisi dari: Empati)





Jalannya tertatih, ringkih, hembusan nafasnya yang terputus-putus seperti berpacu detik dengan malaikat maut. Mata tua yang mudah meredup dan celana coklat butut yang ia kenakan, mungkin pasangan sejati yang pertama kali ditangkap semua orang yang melewatinya. Tentu dengan tidak melewatkan sebuah kaos putih yang selalu ia pakai.

Dan inilah kami. Lagi-lagi bertemu begitu saja, di Port Said, tanpa sengaja, tanpa janji. Berjalan, berpapasan, tanpa tegur sapa, hanya berbalas senyum. Tubuh tuanya berjalan lambat – walau sedikit tertahan, tapi pasti. Seakan-akan emosi alam sudah bercampur dengan jiwa raganya. Sedangkan aku? Aku hanya berjalan lurus, tidak lebih. Percuma aku memberinya uang, kuduga dia pasti menolaknya. Materi bagi orang tua sepertinya, fana dan tidak kekal. Sedikit saja aku bersimpati, dia juga pasti menolak diri. Kami berdua seperti pemain catur yang sedang saling menerka gerakan lawan. Salah langkah sedikit, label taruhannya. Iblis, atau malaikat?

Tapi singkat saja. Kemudian sang kakek menjulurkan tangan, kami berjabat erat, saling tersenyum. Orang tua itu melanjutkan jalannya, aku berdiri mematung.

Rahmat mengernyitkan dahi. Mungkin kawanku ini kebingungan, antara aku dengan si orang tua, di sini sama berpapasan. Tetapi sama tidak bergeming, saling terdiam. Bukan, ujarku dalam hati. Tolong jangan tatapkan pandangan skeptis itu ke arahku. Kau hanya belum merasakan. Coba saja kau berdiri di atas sepatuku, menatap sosok rentanya dari tempatku sini. Apa yang kau lihat?

Di mataku, dia bagaikan matahari. Dulu pernah aku bercerita ke Rahmat tentang seorang kakek tua berkulit hitam, yang mengenakan baju kumal bergambar lingkaran dengan sebuah segitiga menyembul di tengah. Mungkin gambar itu melambangkan sesuatu. Entah kenapa, imajinasiku memaksa, ini simbol bintang berpijar. "Bukannya itu cuma gambar lingkaran?" kawanku menimpali.

“Tidak, sobat. Keras semangatnya yang telah ia banting habis untuk sisa hidup koleganya. Juga beratus tapak sudah dia injak hanya untuk membuktikan, di dunia tiran ini masih ada simpati. Dan meski ia tidak berharap puja, cintanya kepada mereka yang terus saja mencacinya, begitu luas. Bagaikan luapan sinar surya di atas alam raya,” jawabku. Dan tidak sekali pun sosok renta itu pernah berhendak pamrih. Tidak, tidak sama sekali.

"Sok pujangga kau. Seolah-olah sudah kenal dia bertahun-tahun saja," waktu itu Rahmat membalas, tawanya meledak sembari tangannya menepuk-nepuk punggungku. Bibirku tersenyum simpul.

Ah, kejadian itu. Masa lalu. Kini mataku masih melekat kepada sosoknya yang kini mulai menjauh.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Kopi Gantung


“Si Claudio kenapa senyum-senyum gitu?” tunjuk Sandro ke pojok gang. Kawan-kawannya yang lain langsung menoleh. Benar saja, Claudio yang pendiam, yang senangnya menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri dan jarang bertukar tawa dengan kawanan lainnya, kini malah berlari ke arah mereka. Wajahnya sumringah benar. Gerombolan pengemis itu langsung saling berbisik, ada apa dengan Claudio?

Masih tersengal, Claudio berusaha mengatur nafas. Kawanan pengemis lain masih melongo heran menatap sosok ceking yang berdiri di hadapan mereka. Claudio tersenyum lagi, lebih lebar, seperti menyeringai. Terbata-bata, setengah berteriak dia berkata:
“A-Aku bisa menghipnotis orang!”

Kaget dan bingung. Spontan lima orang berbaju compang-camping yang duduk di atas tumpukan kardus bekas pizza pada sebuah ujung gang paling kotor dan paling tidak terawat di Napoli, celingukan, saling melihat satu sama lain. Mereka tidak berbicara, tapi dalam hati, berpikiran sama. Jadi ini alasan si Claudio sering menyendiri? Dia berlatih… hipnotis?! Tapi Claudio, pengemis ceking yang tadi akunya bisa menghipnotis orang, berlagak bak pesulap yang pernah ia tonton di televisi dulu, mengisyaratkan lima calon penonton di depannya untuk segera berdiri. Semula lima sekawan itu enggan, tetapi Claudio sangat memaksa. “Akan aku buktikan!” begitu ucapnya. Sebagai sobat yang agak sering ngobrol dengan Claudio, Sandro pun mendorong kawanan lainnya untuk mulai berjalan.

Claudio sibuk memacu langkah. Di mukanya, benar-benar terpancar rasa percaya diri dan aura kharismatik. Dalam benaknya, dia sudah menjadi orang yang berbeda. Claudio bukan lagi seorang pengemis yang sehari-harinya mengais sampah, menengadahkan tangan, air liur menetes setiap melihat lelaki berjas rapi dengan mobil-mobil mewah mereka, atau wanita-wanita malam yang berlagak centil tetapi selalu membuang muka setiap lewat di depannya.

Tidak! Sekarang, dia adalah manusia superior. Calon bintang yang bakal melegenda di Itali, lebih dari Carlos, pesepakbola handal dari tim Calcio yang terkenal itu!
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Pareidolia



 Dia tahu bahwa dalam profesinya, sabar adalah kunci segalanya. Maka ia menahan diri untuk memaksa. Bak seorang profesional, posisi duduknya kembali ia atur, lalu masih dengan pena di tangan kanan, ia kembali bertanya.


“Mari saya ulangi lagi ya, pak Malik. Dari tadi percakapan kita masih berputar-putar. Saya mohon partisipasi anda dengan teramat sangat,” kata demi kata ia atur dengan sehalus dan serapi mungkin agar tidak timbul perasaan melawan dari klien yang dihadapi. Sebenarnya dia ingin mengatakan, Yang bermasalah itu anda! Tapi buru-buru dia kubur dalam hati.

“Fokus ya pak. Tadi pak Malik sudah menjelaskan mimpi yang kerap menghantui bapak. Sekarang, saya ingin tahu apa yang bapak lihat dari gambar ini.” Nada tiap kata masih sopan. Masih halus dan tertata. Lantas dia mengeluarkan sepotong kertas bercorak hitam seperti gambar tinta tumpah dari balik meja.

Yang ditanya justru tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali saat pertama kali dia memasuki ruangan ini, kesan minimalis benar-benar sangat terasa. Kecuali satu pelapis dinding bergambar sebuah  ular besar berwarna putih dengan latar belakang hitam gelap yang terpampang dengan jelas di hadapannya sekarang. Ular tersebut membentuk sebuah lingkaran dengan ujung kepala hampir bertemu dengan ujung ekornya, seakan-akan ingin menggigit ekornya sendiri. Aneh, gumam Malik.

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Paranoia


~sebuah cerpen~

Seperti malam-malam yang lain, jalanan itu sepi. Pucat si bulan seperti mau muntah, kuning galaunya tertutup awan kelabu yang cemburu pada banyaknya bintang. Lampu-lampu di pinggir jalan rusak separuh. Beberapa malah kedap-kedip seperti lampu disko. Genangan air dan kumpulan sampah berserak yang tak jelas dari apa, membuat Anna sedikit bergidik. Ia sebenarnya tidak takut gelap. Ia benci kotor. Tidak bersih. Tidak higienis. Sampah-sampah itu jelas membawa banyak penyakit. Beberapa anjing buduk saling berebut sisa makanan. Wanita bertubuh semampai itu segera menyingkir ke sisi lain jalan. Meski sinar lampu tidak terlalu terang, tapi dia masih bisa melihat ke sekitar, hanya dalam radius beberapa meter. Asal jangan dekat-dekat dengan hewan najis itu, batin Anna.

Anna mempercepat langkah. Awalnya dia tidak ingin melewati gang ini. Tapi apa boleh buat, dia sudah terlambat. Baginya pulang diatas jam 12 malam adalah hal yang tabu. Karena dia harus tidur cepat, dengan porsi yang cukup tentunya. Lalu bangun dengan sinar pagi yang membelai lembut, ditemani dengan secangkir teh dan sepotong roti beralaskan selai nanas, dan melanjutkan aktifitasnya yang padat sebagai mahasiswi di Universitas ‘Ainu Syams  dengan rutinitas yang terpogram.

Huh! Ia mengutuk dalam hati. Rencananya harus disusun lagi dari awal.

Beberapa puing terserak sisa pembangunan di gang yang sempit itu. Anna memerhatikan dengan seksama. Di depan tumpukan batu itu, sebuah rumah kecil yang seharusnya akan dijadikan sebuah losmen dengan harga murah, sudah ditelantarkan menjadi rumah hantu. Tidak ada orang yang mau menginap di tempat kumuh dalam gang menjijikkan seperti ini, pikir Anna. Hanya beberapa bulan setelah losmen itu diresmikan dan pemiliknya melarikan diri entah kemana. Losmen itu ditelantarkan begitu saja, karena itu penduduk lokal menyebutnya rumah hantu. Kosong, sepi, tanpa penghuni. Plakat kayu bertuliskan Cairo Inn yang bertengger di atas pintu losmen sudah lapuk digerogoti rayap, samar-samar menyisakan huruf ‘Ir’ dan ‘In’. Hampir beberapa minggu yang lalu polisi lokal sempat menciduk beberapa pengedar narkotika yang menjadikan losmen itu sebaga markas mereka. Kini rumah hantu itu hanya menjadi kandang bagi anjing-anjing dan hewan-hewan lain yang terlantarkan. Anna sedikit mengernyit dan mempercepat langkahnya. Bahkan dari jarak beberapa meter saja sudah tercium bau tidak sedap. Kotoran dari binatang-binatang itukah?Atau bangkai?

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Lorong


Hanya ada satu temaram lampu disitu; kuning, buram dan menyala samar. Vrathdar sedikit menengadah. Di lorong yang sempit, lembap, bau kotoran yang menyengat hidung, ditemani oleh beberapa ekor tikus yang berlarian kesana-kemari, sepertinya hanya dia satu-satunya manusia disana. Dia berjalan sedikit, bunyi PLOP! yang keras menggema di dinding lorong setiap kali sepatu ketsnya menginjak lantai yang becek dan bercampur lumut hijau pekat. Yang di pikirannya kini satu, bagaimana cara keluar dari tempat menjijikkan ini!
Tiba-tiba dia berhenti. Dia tepat berada dibawah lampu sekarang, dan sejauh mata memandang, sama sekali tidak ada penerangan lagi di depan. Remaja bercelana jeans biru dekil itu berpikir, seandainya dia terus berjalan maju, siapa yang akan ia temui nanti? Atau barangkali….apa?
"Bah, di lorong sempit seperti ini, emang ada setan ya?", Vrathdar mengucap dalam hati. Simpul tersinggung di bibir, mungkin hanya itu kini yang dapat menghibur hatinya. Tapi di balik senyumnya, rasa cemas yang amat sangat menjalar di sekujur tubuh. Satu-satunya alat penerangan yang memungkinkan adalah handphone miliknya, tapi alat itupun sudah pecah semenjak ia tersadar tadi.
Wajahnya mengeras. Dia bertekad akan terus berjalan maju, apapun yang akan terjadi nanti. Vrathdar melangkah perlahan. Bunyi PLOP! yang tadi bergema telah tersamarkan menjadi sebuah desis dan kecipak air. Sambil berjalan ia terus berpikir, bagaimana aku bisa berada disini? Tempat apa ini? Mengapa dan apa yang telah aku perbuat? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar bagaikan gasing di kepalanya. Dan sambil terus bejalan, bertanya-tanya….
PLOP! PLOP!
Vrathdar terkejut. Refleks, dia menoleh kebelakang. Hanya sinar lampu yang semakin pudar ia melihat. Tetapi dia tahu, suara barusan adalah suara seseorang berjalan…atau sesuatu. Dan suara itu bukan berasal dari kakinya. Vrathdar terdiam.
PLOP! PLOP! PLOP!
Mukanya berubah pasi. Suara itu berasal dari kegelapan di depannya! Seketika dia langsung berbalik arah, mencoba berlari…tetapi terlambat, suara PLOP! PLOP! PLOP! berada tepat di belakangnya. Sesuatu yang basah, berlendir, dan sedikit kenyal menyentuh pundaknya. Vrathdar menoleh, dan ia tidak percaya apa yang ia lihat!
Teriakan manusia menggema di sebuah lorong gelap nan sempit.
"Aaargh…!!"
~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 recall it back...-x}~

Empati

...Sebuah cerpen konyol yang masih butuh edit sana-sini :P

Jaket hitam yang berkibar usang, rontok uban yang teramat gersang, dua hal yang tertampung dalam satu tonggak tubuh penat berkulit hitam. Ringkih berjalan tertatih, hembusan nafasnya berpacu detik dengan malaikat maut. Mata tua yang mudah meredup dan celana coklat butut yang ia kenakan – adalah pasangan hidup di semakin hari ia bertolak menuju alam azali.
Dan inilah kami. Bertemu begitu saja, di Port Jeremie, tanpa sengaja, tanpa janji. Berjalan, berpapasan, tanpa tegur sapa, hanya berbalas senyum. Tubuh tuanya berjalan lambat – walau sedikit lambat tertahan, tapi pasti. Seakan-akan emosi alam sudah bercampur dengan jiwa raganya. Sedangkan aku? Aku hanya berjalan lurus, tidak lebih. Percuma aku memberinya uang, karena materi itu kini baginya fana dan tidak kekal. Percuma aku bersimpati lebih kepada sang luapan hati, karena pasti ia menolak diri.
Bukan. Tolong jangan tatapkan pandangan skeptis itu ke arahku. Kau hanya belum merasakan. Coba saja kau berdiri disampingku, menatap sosok rentanya dari belakang. Apa yang kau lihat?
~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 recall it back...-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software