.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Kalut

Yang berbisik, yang terusik

Ada sarjana kejar bayangan

Mulutnya bungkam

Dipangkunya tanda tanya

yang mendesak di balik jeruji


Pena tergores, darah yang tampak

Banyak perih tersamar kepak

sayap malaikat bertopeng anak-anak


Yang berbisik, yang mengusik

Sarjana pandang itu satu persatu,

lalu dipasungnya!

Manusia-manusia plastik



Ada untaian nada yang lupa terdendang pada sebuah pagi kala pada cermin sang pria berbagi
Ditatapnya pijaran lilin, dalam pendarnya sebuah senyum
Dari sebuah surya yang disekat pada sebuah tangkai berlapis harap
dan toreh kertas putih bertabur sakura di atas meja berserak
Termenung, dia bersolilokui:

"Lagi, dan ini terakhir kali. Seberapa dalam diperlukan untuk melubangi harga diri dan dengan hati-hati menyembunyikan hati dari sebuah tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam?
Pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan yang manis tutur katanya jelmaan Emily kepada Gilbert?
Dan parasnya, dari matanya tirta amarta penjarakan Sinta di kalbu Rahwana?"

Ada jeda setitik, terpisah kekeh kecil dan guratan otot jantung dari ratusan desah panjang
Wajah di balik cermin adalah badut dalam keramaian paling sepi

"Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif
Ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan."

Bagi sang pria dan semburat fajar yang masih ia selimuti
Lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Biar nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati

Di Perjalanan



*kepada seorang sastrawan

Ada kawanan tanya dan seru yang selalu bertolak
dari terminal awan menuju pemberhentian fajar
Meski beliung sesaat menutup jarak
tapi bara di kepala tak hentinya menggarang

Selalu dalam perempatan, dalam tekuk silang,
dalam lengkung yang menyisakan bentuk menjadi abjad
Ramai manusia bermuka karang satu-persatu masuk
penuh desak
Masinis tidak pernah tahu, dan tidak pernah ingin tahu
Demi nama anggur dan rembulan yang berabad sudah usang,
Siapalah menetap, siapalah turun cepat

Dalam perjalanan, sebelum pemberhentian fajar
Wagon di belakang masih penuh dengan muatan
dari gerusan pahit kopi menjelma nikmat, bentak lapar
dari tumpukan dua-enam, di balik punggung delapan dan sembilan
dari panas hirup simbol beralih dupa penuhi dinding,
bermantrakan:
"Vice, Dios, Gugar, Cleo!"
Kiri dan kanan, talu genderang dan lantunan gitar menggantikan oksigen para penumpang
Di gerbong paling belakang, kawanan tanya dan seru akan bergeming
Tidak beranjak, kursinya karatan

Di akhir perjalanan, setelah pemberhentian fajar
Ketemu pertigaan, para sekawan memilih berlainan
Sesampai ujung, mereka berbalik:
"Kelak kau ke mana?"
"Kelak aku bagaimana?"
"Kelak aku ke sana!"
Tersungging senyum di raga karena mereka mampu menangkap makna
Tanpa pernah menangkap suara, kawanan itu kembali berjalan

25/3


Sepi mengantar kamboja turun ke kawan
hingga berhantu dikoyak malam-malam purnama
Mendengar sebentuk senyap dilantun gitar
mampir dan tersesat, dari sebongkah hati lenyap 

Kalong-kalong dungu bilang itu orang -
gila, baik nasibnya
Tak khawatir separuh wajah dibentuk
atau sepasang mata yang sama lain tak melihat

Bukan sayap ia kepak
tapi sepasang bara yang sempat ia tahan

Ditangkapnya seorang gadis berkejaran dengan bayang
Takut serupa karma menjadi langkah beban 
Ramai di belakangnya puluhan setan menjelma merah
dan kelelawar yang begitu saja tertawa


Mau mati rasanya pekak membingar
Ditutup tawa dan kabut tebal
dikiranya kelimut, membentuk selimut
musuh dibalik itu tak tampak

Mati saja dihadang pasukan hujan
melati melentik putihnya menghitam
Dikira angin membuat lega
Ah, perih menusuk di bawah sana!

Mau mati melihat cahaya itu kembali
Yang datang, mereka sumringah
Siapa teriak?
Surti menangis di bawah pohon Jati

Pemuja Lilin


Muka bertemu, lidahku batu
Padahal mentari sudah menyelip di balik ufuk
belai hangat hati santun
Padahal murai berkicau asyik di beringin
menyapa kilau ratusan embun

Pasti hatiku kejut kala kau
dan tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam
dan pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan
atau manis tutur kata, jelmaan Emily untuk Gilbert
atau hidung yang penjarakan Sinta di kalbu Rahwana

Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif,
ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan

Bagi sang pria, lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Tapi nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati
Kamu tahu?


Kepada kerlip bintang tertahan
untuk sang Bulan
Ada barisan melodi mengikat kata berkalut
Penyanjung hati, penghujung sembilu
Sebuah orkestra

Kepak para merpati membuka pagi
denting dibuka oleh petikan kecapi
Dimaksud beruk membidik kesuma
Juwita itukah? Parasnya tirta
Amboi, dari hulu simfoni bersahut
Lentik klasik pianis berbisik

Tirai ditutup malam
Merona merah sang Bulan
Genit senyumnya seindah sulam
Elok bersahaja 'tuk pelita kelam

Padamu kurajut untaian amarta
di atas pesona dahan cemara
terbalut embun berkilau surya
Kita berlari mengejar bebayang


Yang berbisik, yang terusik
Banyak perih tersamar kepak
sayap-sayap merpati
Dipangkunya tanda tanya
yang mendesak di balik jeruji

Yang berbisik, yang merintih
Berjalan kaki dua-tiga
bertindihan!
Ada sarjana kejar bayangan,
kakinya bungkam

Yang berbisik, yang terusik
Mata dan hati berjalan sama,
berpalingan!
Pena tergores, darah yang tampak

Yang berbisik, yang mengusik
dipandangnya satu-satu, lalu dipasungnya!
Mimpi basi manusia plastik

Butir Pantai

Saat angin melandai daratan
Kuhapus lukisan dalam ingatan

Berikan tanyaku pada pualam!
Pada sampah yang terpinggirkan
Pada buai mulut amis bau ikan
Pada jejak-jejak pasir dihapus pasang

Kepada harapan-harapan yang tidak lekang dari efek ruang
lepas tanpa kendali, sinarnya tanpa bayang
Harapan-harapan itu kupinang, dengan modal sekuntum gebu
lalu kusulam

(revisi dari Komposisi Dua Simfoni: Pudar Harapan Terakhir)


Harapan yang Membujang

Pesona lebat hujan menderas
bagi kita, kobar sahut bertalu yang keras
gemerlap cahaya yang terang bersinar
kepada manusia, untuk apa yang benar

Gerimis itu milik mereka
tercipta dari kenangan
untuk dihening ciptakan

Tak perlu simpati itu, acuh saja pada moral hidup
kepak kupu layangnya tak pernah jauh
serigala penyendiri, lolongnya sayat hati

Wahai Sang Angin, lekas pecah yang menggerah, biar hilang lara batin!
Lagu 'kan selalu hidup, tidak dengan manusia

Ah, lihat si Dungu berpatah tatih mengejar pagi
maafkan si Bebal yang berbantah caci dengan sunyi
berdosa, enggan 'aku pendosa
dan masih berharap agar Dia menyemat selamat!

Apa cantiknya cita yang tak membawa apa?
'tika harapan terhempas dari tangan-tangan Juwara


(dibacakan dalam acara Bincang Sastra dan Malam Penyair di Aula Griya, KSW, Ahad 10/2 '13)

Kembar Dampit

Biar seperti api
lumat habis bakar kesumat
atau berpuruk di rerindang lindap
tertimbun gugur Akasa kusam

Lalu gelap
Angin bertiup sayup melambat
Dua merpati berpagut urat
di tanah sirah sayap tertambat


for the angel who always stays








Kabur



Lelaki itu kembali melempar tatap
dari mata yang semula batu

Diambilnya payung, diajaknya berlari
takut tergores rintik membeku

Dan terus ia mengayuh laju, sampai
yang ia kejar bermalu waktu



Diam

Pucat kemilu yang dulu kau singkap
dibentang hunus, tantang gerhana
Lantas di batin kau diam gertak

Sudah!

Malam terpasung tanpa jala
Di pucuk hitam, guruh bergelayut
Menghujat kiri, sanubari
Membunuh rindu, kau takut

Bulir Patah milik Langsa

Dambanya melati dibentuk baris, lekat-rapat
jadi permadani
dalam hangat tatap Murai kecil
terguyur hujan mutiara pagi

Terhampar kaki-kaki menjejak letih,
bersisa decak dibalik puji
yang menyela manis berkernyit dahi
berpura rindu, ah, alunan klasik

'Tuk berkata satu, pikirannya seribu
dihampirinya permadani kembali
ditemuinya wangi kesturi

*teruntuk Putri di Tanah

Bersiar di Kali Labuh

Untuk Indonesia yang selalu di hati. Untuk Indonesia yang selalu bersemi. Untuk Indonesia yang tergopoh berdiri. Dan Islam sebagai pucuk ikrar Ibu-ku berlari!


Janji Selembar Kain
 
Dia telisik, tiap sudut, tiap ukir
bulir permata menggaris lekuk di pipi
Tiap pasang, saat senja menggerayang
Gesit jarum, gemulai tak terusik

Untuk dua warna titah kahyangan
Satu wujud prisma kehidupan

Bak genang tiram dibalik rindang cendana
pasti ada sejuta pinta
Seuntai geram dalam untaian benang 
dulunya sengsara
simbol aksara murka
Tapi masa depan, ah
Mahaparana
Kunci bangsa gapai nirwana



-Tanah Tanpa Sebuah Nama-

Latah, berpatah-payah,
musim kata
kutuk bajing antek laku damar
Langkah serdadu kurcaci mulai sayup
Hanya kepak merpati usap peluh

Angin membawa kesturi sayat hati
Geranggangmu menggarang, tuan?
Kembali hina, nista

Hadang, tikam
Mati tanpa diam
Pekat merah jerat bumi
Putih lelakon tampil Persada

Kasmaran bangun nisan, tuan?
Angguknya, tanpa tiran


-Rengasdengklok-

Dalam gelap bebayang nanti rapat meringkuk
tanya pada dinding, cuma batu
Tidak ada waktu, raga satu-satu dibalut dungu
wayang wajah tutup hati buruk beruk
"Belenggu lepas?" nanti katanya
Baris bibir rapi-rapi terbelit bungkam

"Kita semut, tapi gundukan. Lawannya gajah,"
lupa di kaki, semut terinjak-injak sudah
Tidak bisa! Songsong matahari biar lebih sigap
biar terbakar bui mimpi para tua
"Bisa saja, kemari, ambilkan tinta"
Kalah! Ronta raga tanpa kata banyak silap
Terkucilkan kisah dimana dua orang
dianak tirikan saudara sepangkuan

Cendrawasih terpancung, kabar dari Timur
"Kabar baru?" Gerit letih yang menjawab
Bebayang kembali memeluk lesu
Yang harapnya pendar, samar pudar
Segenap dinding ramai berpantul bising
"Sakura tumbang! Sakura tumbang!"
Bebayang hilang, diganti bakar
"Apakah benar? Dimana kabar?"
"Sakura tumbang! Sakura tumbang!
Ramai, ribut, hura, pikuk

"Indonesia!"
Yang retak dalam jiwa, sudah satu
Lampiran selembar cita
tinta baru tumpah-tumpah
Diiring sajak, parade lagu
"Tanah tumpah darahku!"


Lidah Lipan

Hina, dina, dusta
Kerap kutemu di mukamu batu
Sedia payung berhujan mawar
Sumpal mulutku

Tak ayal berkelok lari
Tak ayal berbasa-basi
Tak ayal disangka mati
Tapi mati masih mencaci

Buang busuk bopeng senyum itu
manis muka tusuknya ganas
Yang ingin kujejalkan di sempal ketam-mu
Hina, dina, musnah!

Pasang langkahmu getarkan debu jahanam
Ketemu satu jalan semu
Kemana topan menghadang?
Mukamu muka Raja, muka Ratu
kujadikan alas sepatu

Biar diiring kecapi, sama saja
Kunang menari tersulut api
Api padam puntung hanyut
Lalu isak
Yang mana?

Gadis tatap rembulan
di bibirnya, mantan cenduai
"Kusimpan, hingga kujelang malam"
Tanpa mengerti maksud arti

Dia bingung, asanya rabut
Hingga ujung waktu menyisir 'luruh pahara pun
tak kuasa hapus lekat memori
Di hatinya, hanya satu damar kesturi
Gusah puji, suci
Tanpa cela

Wanggara, wara-wara,waranggana
Satu-persatu minum warangan

Waranggi, wira-wiri,warakawuri
Mari diam

Worawari bertaburan

Buta


Merah - ia melihat, kusam terkikis dibalik amarah
rabun terbugkam melhat ranting mendua
dilihat, ujung cemara pucuknya ikat
barisan dusta, disentuh luka
Dikagum fana, akhirnya berppasrah ada angin

Dan dilihatnya pagar itu rendah, rapuh
dibawah - rerimbunan lembut yang dulu dirindu
Serahnya bersatu, demi masa, ia menjadi burung!
Angin terbahak


Jingga

Ada yang lelah
berpacu waktu
Enggan kuncup memekar ragu
Dalam setiap desah,
himpun semu

Ada yang tumbuh
mencitra satu
Jingga, hilang kemana?

Semburat surya silap mata
Kurcaci buta membidik luka
Patah ranting, muncul rimba

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software