.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Habib Ali al-Jifri pernah memuji ketegaran Syeikh Ramadhan al-Bouthy dalam majlis di Sahah Raudlatun Na’im tiga tahun silam: dulu saat pergolakan konflik Timur Tengah belum terlalu banyak menumpahkan darah, para penguasa, ulama dan tokoh kondang lain sering berkumpul di sebuah even internasional seperti muktamar, dan yang semacam.

Habib Ali al-Jifri menyampaikan, pada saat itu hanya Syeikh al-Bouthy yang tidak merendahkan diri dan ilmunya di hadapan penguasa, sedangkan pada saat itu banyak sekali yang menundukkan diri terlampau rendah, seolah menjilat. Lagi-lagi Habib Ali memuji, Syeikh al-Bouthy sama tidak pernah takut untuk kehilangan muka dan menyampaikan kebenaran, bahkan tidak pernah merasa harus mencari muka.

Belum satu dekade usai meninggalnya alim kabir ini, dunia Islam kembali berkabung. Syeikh Muhammad Adnan al-Afyouni, seorang alim yang tidak kalah kabir dan namanya tidak lagi asing di dunia cendekiawan muslim, meninggal dunia dengan modus yang sama. Dibom. Padahal beliau yang mengajukan Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Yahya sebagai pemimpin Forum Ulama Sufi Sedunia atau Al Muntada' Sufi Al 'Alami tempo hari. 

Sebagai mufti Damaskus yang akrab dengan para habaib Ibu Pertiwi, tidak usah ditanya berapa jumlah pengikutnya. Saya pribadi lebih nyaman menggunakan istilah santri, maka tidak terhitung lagi berapa banyak jumlah santrinya. Setelah mengetahui jika almarhum meninggal karena dibunuh, apakah kita dan santrinya yang lain sanggup mengikhlaskan atau malah turut melaknat si pelaku, secara pribadi saya berdoa jika pelakunya tertangkap, bisa mendapat hidayah dan bertaubat.

Memang dari dulu, bahkan di Indonesia sendiri, para ulama sering sekali menjadi sasaran. Banyak bukti lapangan yang menunjuk, bisa saja pelakunya pemerintah atau suruhan, tapi tentu bukti konkrit tidak bakal terungkap sampai pemerintah yang berkuasa, terguling atau turun sendiri dari kursi. Naasnya, jika ternyata pelaku ini bukanlah orang suruhan pemerintah, melainkan korban dari paham ideologi yang salah. Jika benar begitu, apakah istilah kriminal pantas disematkan kepada pelaku? Benarkah seorang kriminal selalu berdarah dingin, tertawa culas dan menyeringai, tatapannya dingin dan selalu menyendiri seperti yang banyak kita lihat di film-film misteri, komik dan yang lainnya?

Motif kriminal seseorang berasal dari pelbagai macam faktor, baik genetik, lingkungan atau tradisi, yang kemudian membentuk pemikiran seseorang untuk melegalkan segala tingkah laku untuk mengakui eksistensinya. Bahkan tidak jarang beralih jadi psikopat tanpa disadari dan membunuh empatinya.

Jika empati seseorang sudah hilang, dia akan susah mengekspresikan emosinya. Dia bisa menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya hanya dengan mengenakan topeng. Senyum, sedih, senang, dia sesuaikan dengan logika, bukan berasal dari hati. Osamu Dazai menjelaskan sifat ini dengan apik, detil dan sangat piawai di karakter utama dalam magnum opusnya, No Longer Human, yang menyabet nobel di tahun 1948.  Relasi yang dibangun oleh seseorang yang kehilangan empati dan mengenakan topeng terus-menerus pasti cepat runtuh, karena dibangun di atas kepalsuan. Jadinya bukan relasi baik yang tercipta tapi relasi yang bagaikan waduk bocor, tinggal tunggu waktu sampai ambrol.

Robert Waldinger menjelaskan salah satu penelitian dari Universitas Harvard di sebuah riset bertajuk The Longest Study on Happiness, jika seseorang tidak lagi mampu menjalin relasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, dia tidak akan merasa bahagia. Seseorang yang kehilangan empati tidak mudah beremosi, entah marah, sedih, apalagi bahagia. Maka dia akan melakukan berbagai cara agar bahagia, terlebih cara yang ekstrim seperti membunuh dan lain sebagainya. Orang yang sering membaca atau menyaksikan berita kriminal, pasti mengerti, mereka menemukan kepuasan dalam membunuh. 

Pernah ada riset, saat mereka diwawancarai, ada gurat samar yang tersirat di bibir setiap pelaku terutama di pertanyaan, “Bagaimana perasaan Anda setelah membunuh korban?” Mereka tidak langsung menjawab, tapi ekspresi mikro yang muncul di bibir mereka mengisyaratkan satu emosi yang sangat diakui dalam psikologi praktis: mereka merasa bersalah.

Saya yakin, pelaku pengeboman almarhum Syeikh Ramadlan al-Bouthy dan Syeikh Adnan al-Afyouni, jika tertangkap dan diinterogasi, tentunya dia akan merasa bersalah. Kita tidak tahu apakah itu ulah pemerintah, penduduk sipil atau malah sesama saudara muslim, tapi jika terbukti opsi ketiga sebagai dalang, sungguh sangat kasihan sekali. Motif yang berangkat dari kesalahpemahaman doktrin, meracuni otak dan akhlak sehingga bisa mencelakai bahkan membunuh sesama Muslim yang lain, akar dari penyakit jiwa ini semua berasal dari hati.

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya ‘Ulumiddin, kesalahan berlogika yang berpengaruh kepada akhlaq dan tingkah laku, semua berasal dari dlomir (nurani). Nurani seseorang berbeda-beda, karenanya tingkatan ihsan dan takwa seorang Muslim juga berbeda antara satu dengan yang lain, bahkan kadar pemahaman al-amr bin la’ruf wa an-nahyu ‘an al-munkar juga bisa berbeda tergantung ilmu, kemampuan nalar, kemampuan berempati dan lingkungannya. 

Seseorang yang salah paham akan suatu bacaan atau wacana tidak akan gegabah bertindak sembrono atau berlaku ekstrim, tetapi jika ternyata didukung oleh kerabatnya, gurunya, keluarganya, nurani yang semula menyangkal untuk berbuat keji lambat laun akan pasrah dan takluk. Dia akan kehilangan empati sehingga susah bertoleransi. Dia juga bakal kebingungan membedakan mana yang baik dan buruk, bahkan perkara qath’i seperti membunuh tetap dilakukan.

Seseorang yang dlomirnya terkikis atau bahkan mati, jiwanya bakal sakit. Jiwa yang sakit akan berpengaruh ke akal dan tingkah laku. Seperti yang dijelaskan di atas, saat nurani sudah mati, seseorang pasti akan berkilah saat melakukan sesuatu, enggan mengakui kesalahan dan berusaha menjustifikasi segala perbuatannya sebagai kebenaran. 

Muhammad Utsman Najati, seorang dosen psikologi di Universitas Kairo dan Universitas Kuwait dalam bukunya al-Qur’an wa ‘Ilm an-Nafs menjelaskan, karena nurani yang rusak menyebabkan jiwa yang sakit, alih-alih berbuat baik dengan menjauhi maksiat, seorang Muslim bisa bertendensi untuk menyerang sana-sini baik verbal atau fisik, kemudian berteriak lantang jika apa yang dia lakukan tujuannya mulia. Padahal detik pertama ketika dia bersikap A, dan itu salah, kemudian menjustifikasi jika itu benar, padahal sudah diingatkan dan tetap ngeyel bukan main, itulah hipokrit. 

Syeikh Imam al-Ghazali r.a. sendiri tidak menyebut mereka sebagai munafik, karena jika munafik berasal dari penyakit hati, bagaimana bisa jiwa seseorang sakit padahal dia tidak tahu dirinya sakit? 

Beliau menjelaskan panjang lebar dalam kitabnya Ma’arij al-Quds fi Madariji Ma’rifati an-Nas, di bab Relevansi Ilmu dengan Hati, hati yang baik menuntut akal untuk selalu bersibuk diri dengan ilmu. Dengan unik, dia menjelaskan, cermin tidak mampu merefleksikan bayangan suatu benda jika pantulan cahaya dari benda ke cermin tidak terang atau bahkan gelap. Jika cermin adalah jasad, maka benda yang akan direfleksikan adalah hati nurani dan cahaya agar hati bisa terefleksikan dalam cermin, itulah ilmu. Maka orang-orang yang masih salah kaprah dalam memahami Islam, mereka bukan munafik, tapi lebih pantas digolongkan sebagai المعتوه alias idiot.

Lantas bagaimana cara menjaga dlomir alias nurani agar senantiasa bersih? Jika tubuh perlu berolahraga untuk menjaga kebugaran, hati nurani juga perlu berolahraga dengan riyadloh-nya. Riyadloh ini macam-macam bentuknya, makanya tidak heran jika ulama-ulama terdahulu atau kyai-kyai kita sering melakukan amalan tertentu, semua itu dilakukan sebagai upaya untuk olahraga hati. Tentunya dengan tidak melupakan ibadah wajib dan menjauhkan diri dari maksiat. 

Ciri seorang alim adalah bukan selalu memperbanyak ibadah, percuma gali lubang tutup lubang jika ibadah yang ada malah tertutup dengan dosa. Ciri seorang alim yang juga bersih nuraninya, yaitu tidak mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, dan selalu berkata benar meski itu pahit. Seorang alim juga tidak boleh cari muka, tetapi seperti harus berani saat dibutuhkan. Sifat-sifat tersebut mampu kita temukan dalam sosok almarhum Syeikh Ramadlan al-Bouthy dan Syeikh Adnan al-Afyouni. Jangan ditanya bagaimana tirakat mereka, para ulama lain dan para santri yang sering ngaji atau membaca beragam kitab karya kedua almarhum pasti turut bersaksi. 

Untuk membersihkan hati dengan banyak mengkaji ilmuNya dengan benar dan tidak sesumbar, serta senantiasa menjaga kesuciannya dari berdosa. Dua cara efektif yang mampu mencegah seorang Muslim agar tidak terjerumus ke lubang kriminal dan mencegah terciptanya teroris-teroris lain, wal ‘iyadz billah.

* - Tulisan berjudul sama pernah tayang di situs SanadMedia dengan gubahan seperlunya.

 

Ketika melihat story WA seorang adik kelas, spontan saya iseng tanya, kenapa kok tidak mengajak mabar Among Us padahal saya juga doyan main? Dia menjawab, mereka main larut malam. Oh pantas, tentu saja saya tidak bisa ikutan. Untuk apa menyiksa diri begadang padahal paham jika tidur larut itu merusak kesehatan? 

Obrolan merembet ke perbincangan betapa mudah sebuah klub atau komunitas yang tidak terdiri dari para profesional menerbitkan sebuah sertifikat padahal hanya untuk acara biasa, dengan muatan materi yang biasa juga dan dengan pemateri yang malah kelewat terlalu biasa. Sialnya, manusia hanya bisa melihat yang zahir. Bahkan kebanyakan bukan hanya bisa, tapi hanya mau. Jadi mereka berpikir semakin banyak sertifikat di tangan, terlepas sertifikat tersebut bergengsi atau tidak, diterbitkan oleh sebuah instansi masyhur atau tidak, maka semakin mudah bergaya dalam menampilkan atribut kekerenan diri entah dalam medsos atau dalam hal lain. Yang jelas dalam melamar pekerjaan atau perkuliahan, mereka mengacuhkan sertifikat kecuali yang diterbitkan berlisensi.

Kembali ke perbincangan tadi, saya iseng lagi meminta seorang adik kelas untuk bertanya kepada orang-orang yang dengan sembarangan menerbitkan sertifikat abal-abal tersebut. Dia menolak halus, katanya malu karena itu temannya. Justru saya tegur, teman yang baik harusnya saling mengingatkan, bukan malu atau risih untuk menegur jika ada salah. Dia cengengesan.

Saya jadi teringat perkataan Imam Ghazali r.a. dalam bukunya Bidayatul Hidayah, persaudaraan itu ada tiga: persaudaraan untuk akhirat dan pertimbangan agama yang selalu jadi prioritas, saudara untuk dunia dan bisa mengingatkan dalam hal adab dan etika, dan terakhir adalah persaudaraan yang dibangun hanya untuk berleha-leha, yang kita harus dengan cerdas menghindar dari siasat dan makarnya. 

Memang perkawanan antar muslim itu pantas disebut sebagai persaudaraan. Persaudaraan seagama. Seperti dalam dunia persilatan juga ada saudara seperguruan. Jika sesama perguruan saja saling melindungi, apalagi dalam ikatan keagamaan. Makanya banyak sekali hadits yang mengajarkan untuk tidak saling menebarkan aib sesama saudara misalkan, atau bagaimana sebuah perbedaan itu adalah rahmat dan kita harus menyikapinya dengan bijak, meski dalam kaedah Fikih disebutkan pula bahwa menjaga persatuan yang ada kepada awam lebih baik daripada mengajarkan perbedaan. Tentu karena sikap dan reaksi orang berbeda-beda dan dalam mengajari orang awam lebih baik kita selalu menekankan persatuan atau yang sudah masyhur agar tidak menjadi bahan perselisihan.

Sebenarnya adik kelas saya ini cerdas dan bisa saja menjelaskan kepada kawan-kawannya yang tamak gelar itu agar selalu ingat, di atas langit masih ada langit dan untuk tidak menjadi katak dalam tempurung. 

Saya sengaja menulis tamak gelar, karena untuk manusia berkepala dua ke atas yang masih salah mengambil keputusan, saya kira bukan julukan naif saja yang cocok disematkan. Nah adik kelas saya ini rupanya lebih memilih untuk menahan diri, dan dia menyebutkan sebuah alasan yang saya hormati. Dia tidak mau juga dipanggil orang yang suka ikut campur urusan orang lain, disebut sok alim atau merasa ilmunya terlalu tinggi sehingga hobinya jadi suka menyalahkan. Saya hormati jawaban tersebut, meski dalam hati saya bertanya-tanya: seberapa jauh batasan menasehati, menegur atau mengingatkan sehingga disebut ikut campur?

Paham demokrasi mengajarkan kebebasan berpendapat, yang jika dilihat dari satu sisi memiliki nilai positif dalam kesamarataan hak dan keadilan, tapi di sisi lain kita bisa santai berpendapat dengan dalih hak asasi dan menyerang sana-sini kecuali untuk beberapa kasus yang sudah diikat hukum. Meski apalah arti hukum positif di tangan pelaku hukum berlidah ular. 

Maka jika berkaca ke demokrasi, tidak ada salahnya mengkritik selama masih dalam ranah toleransi. Kita juga pasti sering sekali dalam sholat fardlu atau nafilah membaca surat al-Ikhlas, dan tentu makna saling menasehati dalam hak dan kesabaran itu seharusnya sudah melekat dalam otak, hanya meresap dalam jiwa dan terlaku dalam amal atau belum, itu pertanyaan. Apalagi saat berhadapan dengan dilema, kita mengerti ada yang salah. Seseorang bersalah, menurut kita, tetapi kita ragu ingin menegurnya. Tentu karena kita banyak belajar dari kisah para sufi dan ulama terdahulu, sering sekali mereka menyimpan sebuah amalan dan menampilkan yang lain. Sering sekali orang-orang salah kaprah kepada mereka dan kadung menyematkan label pendosa atau semacamnya kepada mereka, padahal segala yang tersimpan di dalam hati, siapa yang tahu?

Manusia hanya bisa menilai dari sesuatu yang dzahir, perkara hati urusan Tuhan. Biasanya kita menemukan kutipan ayat dan tafsir dari surat al-Ahzab ayat 51 sebagai dalil, naas maknanya terlalu disempitkan dalam urusan cinta sehingga kebanyakan artikel atau video-video 'ustadz muda' yang bersliweran di dunia maya cuma menggunakan ayat tersebut untuk menghibur hati yang gundah gulana atau sebagai dalil untuk cepat nikah muda untuk mereka yang sering dikecewakan cinta. 

Ini jelas-jelas jual agama, memahamkan orang lain dengan pemahaman yang kurang dalam juga. Jika kita akrab dengan dunia turats, kandungan ayat tersebut tidak lagi menyoroti cinta, tapi sangat erat sekali dengan dunia tashawwuf. Perkara hati memang seyogyanya urusan kita dengan Sang Pencipta, bukan unjuk atau minta pengakuan eksistensi sesama makhluk. Caranya juga macam-macam, misal Sunan Bonang dengan tembung Tombo Ati, Abu Nuwas dengan syi'ir I'tirafnya, dan banyak lagi. Mengolah hati bukan semata memperbanyak ibadah, tapi juga bagaimana menemukan mediasi yang tepat dalam setiap laku untuk mengamalkan apa sesungguhnya yang sudah kita pelajari dalam Islam. Agama bukan simbol. Intisari Islam bukan celana harus cingkrang, harus jenggotan dan mudah menyalahkan.

Makanya para ulama kita juga selalu menjelaskan bagaimana adab dalam menegur dan mengingatkan dengan sangat apik, seperti yang dikutip dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, Ibn Rajab r.a. menjelaskan, nasehat yang baik utamanya dilakukan dalam ranah privat, bertemu empat mata, bukan publik. 

Beda menasehati dengan menyalahkan. Menasehati selalu diiringi dengan niat baik, dibalut dengan kalimat yang santun, bermaksud mengklarifikasi bukan menuduh dan tentunya mengedepankan tata krama, tentunya akan mengenai hati orang yang ingin mendengar. 

Jika orang yang dinasehati terlalu bebal atau tertutup hatinya, tidak ada salahnya mengingatkan kembali suatu saat dengan mencari sikon yang tepat. Sedangkan menyalahkan, itu jika ternyata kita masih berburuk sangka setelah menegur, apakah dia akan bertaubat atau tidak, padahal itu urusan dia dengan Yang Maha Mengetahui Isi Hati. Menyalahkan juga bisa dalam bentuk merasa alim sendiri, merasa menang sendiri, begitu melihat adanya suatu kebathilan atau kemungkan, lupa seharusnya yang dinasehati duluan adalah diri sendiri, lantas langsung menghakimi orang yang bersalah tersebut tanpa tedeng aling-aling.

Menegur juga berbeda dengan diskusi, Syeikh Asy-Syanqithi panjang lebar menjelaskan dalam Adab al-Bahts wa al-Munadzarah, ranah diskusi agar banyak orang bisa turut menyimak dan turut nimbrung agar bisa mencapai kebenaran dalam suatu hal yang sedang dibahas. 

Sayangnya, masih banyak yang tertukar antara adab munadzarah ini dengan menasehati, atau bahkan menyalahkan. Seperti kasus kawan di atas, karena ini kesalahan pemula, maka etika yang patut diambil adalah mengingatkan dengan apik. Apa yang diutarakan dari hati pasti bisa diterima hati, apalagi sebenarnya ini bukan kesalahan yang teramat fatal, hanya saja untuk mencegah terciptanya mindset gila gelar dan terhindarkan dari ‘ujub atau riya’ lebih baik dicegah sejak dini. Kalau sudah kebablasan, takut kepala mereka bakal semakin bebal. 

Persis seperti bapak-bapak yang kerjanya ongkang-ongkang kaki dapat gaji dari keringat rakyat tapi tidak mengindahkan atau bahkan jadi aspirasi rakyat sama sekali. Dinasehati tidak bisa, diajak diskusi mencari forumnya juga susah, malahan sampai harus ngajak ngobrol dengan kursi kosong misalkan. Kasus seperti ini, bicara hati ke hati jadi tidak bernilai sama sekali. 


*Tulisan ini juga pernah tayang di situs lain dengan gubahan seperlunya. Monggo mampir ke https://sanadmedia.com/seni-menasehati-agar-bisa-didengar-hati/ 

Dalam urusan memasak kita pasti akan memilih bahan terbaik untuk menghasilkan makanan yang enak pula. Sayangnya, tidak begitu dengan hal memilih pasangan.

Saya menyadarinya sedikit terlambat. Ada seseorang yang sangat mencintai saya, saya pun demikian. Dia seorang yang alim, tapi sengaja menyembunyikannya. Semakin jauh saya mengenalnya, semakin kagum saya dibuatnya. Sebuah hubungan yang serius selalu mampu memaksa dua insan untuk saling berdiskusi terutama terkait masa depan, tentu karena hubungan yang benar berasal dari hati akan menargetkan sesuatu sampai selesai. Dia terbuka untuk bercerita apa adanya, sampai suatu ketika dia pernah bercerita suatu hal yang sangat menyentakkan hati. Saya terperanjat. Tidak ada seseorang yang tidak memiliki cacat. Dengan angkuhnya, saya memutuskan hubungan tersebut. Umur masih muda, tapi tak terhitung reputasi dan prestasi yang saya raih. Wawasan agama saya cukup luas, tidak mungkin seorang bidadari yang rupanya jelmaan beruk menyamar disandingkan dengan calon seorang raja. Sesumbar sekali saya berpikir dalam hati. Begitu pongah saya berpikiran, dan dengan teramat menyesal saya menyadari pilihan itu salah setelah lewat ratusan purnama. Tidak usah saya jelaskan bagaimana, tetapi kelak wanita tersebut beruntung telah menemukan pasangan yang mampu menerima segala kebaikan dan keburukannya, bertahan dan terus saling berusaha menjaga dan memperbaiki diri.

Dalam urusan mencintai, kita tentu mengharapkan yang terbaik dari pasangan kita kelak. Manusia selalu berpengharapan lebih, selalu mengharapkan sosok yang sempurna untuk menggenapi separuh jiwanya. Saya menyebutnya sebagai racun budaya yang kerap dipopulerkan oleh serial drama Korea dan serial drama Barat jauh sebelum itu yang kerap menggabungkan budaya hedon dan menampilkan bahwa kebaikan selalu sebanding dengan penampilan, meski mungkin pemikiran saya terlalu dangkal dan picik karena terlalu menggeneralisir, nyatanya banyak pemuda-pemudi yang tanpa disadari melakukan hal ini.

Saya menyadarinya terlambat, sekali lagi menegaskan, karena sekian banyak buku yang dilahap, saya melupakan sebuah esensi yang sangat fatal. Esensi yang seharusnya diajarkan oleh para sesepuh, guru dan banyak hal lain dalam mengajarkan suatu ilmu: keikhlasan.

Makna ikhlas di sini bukan berarti melepas dan merelakan, banyak yang salah kaprah dalam hal itu. Manusia selalu ingin mengubah sesuatu menjadi lebih baik, contoh dalam hal pasangan, mereka pasti ingin pasangan mereka berubah sesuai dengan imej yang ada dalam benak mereka. Disuruhnya ini, itu, mereka harus begini, mereka harus begitu. Saya pernah bercerita kepada Ibu, sangat manusiawi sekali jika kita beranggapan begitu dan melakukannya. Ingin mengubah dan berubah. Kelak lupa, setiap harinya manusia selalu berubah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita tidak tahu kapal ajal kan menjelang, maka seorang muslim yang cerdas senantiasa harus mempersiapkan dirinya unutk kemungkinan yang terburuk yakni kematiannya dan muslim yang lemah akal selalu hanya ingin memperturuti hawa nafsunya. Begitu ucap sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah.

Apa kaitannya dengan keikhlasan? Dari dulu saya selalu tertarik memperdalami psikologi, mungkin karena sedari kecil selalu dicecoki bacaan-bacaan detektif, sehingga lambat-laun sering bertanya-tanya, apa motif seorang kriminal melakukan kejahatan? Banyak teori yang diulas oleh para pakar Kriminologi, penjelasan mereka tidak selalu sama. Saya masih belum puas. Kemudian saya pernah menulis sebuah makalah dan diterbitkan di sebuah jurnal yang berkaitan dengan krisis moral dan humanisme dalam pandangan Islam. Tulisan itu menuai banyak puji, tapi juga kritik. Para senior kajian yang terlebih dahulu malang-melintang dalam dunia akademisi menganggap tulisan saya terlalu kering. "Kamu perlu lebih banyak lagi membaca karya-karya tashawwuf, karena ilmu psikologi Barat hanya bisa mengupas kulit. Dalam Islam, karena epistemologi kita meyakini adanya ilmu yang bisa diraih dari selain deduksi dan empirik, maka hati dan kematangan jiwa juga mempunyai dampak yang sangat besar dalam mengembangkan suatu karakter seseorang."

Saya menemukan jawaban tersebut setelah berulang kali menyimak pelbagai pelajaran yang diasuh oleh para guru di Bumi Kinanah dan mengalami suatu kejadian yang selalu terkenang. Hati adalah sesuatu yang sangat amat goyah, dan manusia harus terus mengasahnya agar posisi hati tidak terus tenggelam dalam kubangan sampah. Dengan beberapa sahabat, kami sepakat berusaha memanifestasikannya dalam banyak hal. Kita tidak usah menampilkan topeng kebaikan di muka umum, dan senantiasa mengamalkannya dalam karya yang lain. Kawan lain ada yang mengamalkannya dalam praktik berdagang, dengan anggapan untung dan rugi semua dalam kuasa Tuhan. Bagaimana sikap kita saat diuji dengan kebahagiaan dan kesedihan, itulah esensi keikhlasan. Ada lagi yang mengamalkan dengan mengajar. Dia melihat bagaimana reaksi diri saat dikritik murid, dia juga ingin menguji murid dari segi kejujuran dan ketekunan. Saya sendiri berjanji kepada diri, untuk mampu menghasilkan karya dan seni yang nampak tidak dibalut dengan aksesoris Islami tetapi ruh dan praktiknya adalah manifestasi dari ajaran-ajaran Islami. Semua itu adalah olah batin yang berusaha diperoleh oleh seorang manusia yang ingin mencapai tingkatan jiwa tertinggi: an-nafs al-muthmainnah. Penjelasan lebih hangat dan jelas bisa disimak dalam seluruh majelis ilmu Syeikh Sya'rawi atau dalam bukunya yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, Psikologi Sufi.

Tetapi lagi-lagi, ilmu keikhlasan ini sungguh sangat berat. Saya menemukannya dari sosok wanita lain. Sudah belajar dari pengalaman masa lalu, dan dia dengan masa lalunya, kami dipertemukan dalam sebuah garis takdir yang sangat rumit. Dia mengetahui apa kekurangan saya, tetapi berusaha menambalnya dalam hal itu, saya juga berjanji untuk mengubahnya. Saya juga tahu bagaimana kekurangannya, tetapi saya juga mencoba bersabar dan menasehati diri pelan-pelan. Semula keluarganya menentang, karena tentu, siapa pula yang orang tua yang mau anaknya dijodohkan dengan lelaki yang lebih, lebih bau kencur daripada putrinya? Tetapi usaha wanita tersebut selalu saya kagumi bahkan sampai sekarang. Dia rela melawan semua keputusan keluarga yang menentang kami. Lambat laun, mereka pun luluh dan berhasil menerima saya. Tentu juga setelah mereka berdiskusi panjang lebar dengan saya dan banyak hal lain yang kami lakukan bersama. Manusia hanya bisa saling memahami ketika mereka dihadapkan sebuah permasalahan dan mereka bekerja sama dalam memecahkan hal tersebut.

Naasnya, meski keluarganya telah menerima saya dengan baik, lain halnya dengan keluarga saya. Ibu menolak habis-habisan, tentunya dengan pelbagai alasan. Cukup logis memang, karena faktor usia yang diperhitungkan. Tetapi alasan kedua sungguh sangat tidak masuk akal, karena menurutnya latar belakang keluarga si mempelai bukan berasal dari keluarga yang cukup agamis. Saya membantah, keluarga kami juga tidak agamis. Satu-satunya orang yang masuk pesantren dan kuliah di Timur Tengah hanya saya, yang lain tidak. Kemudian Ibu membantah lagi, dan sekaligus mengancam: kalau masih bersikeras, tidak usah pulang. Kalau masih dilanjutkan, beliau tidak akan pernah ridla sama sekali. Ucapan tersebut sanggup mengubah kehidupan kami kelak. Saya menjelaskan kepada keluarga wanita dengan baik-baik, mereka tentu tidak terima dengan kenyataan tersebut. Mereka menganggap saya lelaki yang tidak bertanggung jawab, tidak menyelesaikan urusan yang sudah dimulai. Saya gelagapan tidak tahu harus menjawab apa. Saya sudah kehilagan sosok yang benar-benar saya anggap ideal untuk dijadikan pasangan hidup, juga kehilangan muka, kehilangan semangat, kehilangan banyak hal. Mungkin kawan-kawan yang membaca ini menyatakan: "Kamu terlalu berlebihan!" tapi saya yakin mereka yang pernah mengalami pasti mengamini.

Kejadian tersebut menorehkan luka yang teramat dalam. Saya meminta bantuan beberapa ustadzah yang kebetulan alumni dari kampus saya kuliah dan pihak keluarga untuk mendekati Ibu saya dan membantunya mengajari terus bagaimana Islam yang sesungguhnya, karena saya yakin seseorang hanya bisa dipahamkan dengan orang lain yang mereka hormati atau percayai. Jika kehormatan atau kepercayaan itu hilang, apa saja yang kita katakan tidak akan pernah menyentuh hati. Saya sendiri karena takut berbuat hal yang sanggup dicap sebagai anak durhaka, melarikan diri kembali ke negeri yang saya anggap bisa mengajarkan saya menjadi lebih baik. 

Sebenarnya itu adalah bentuk pelarian diri untuk menghapus kesedihan yang tidak bisa diutarakan. Sekembalinya saya ke negeri itu, saya kerap membunuh waktu dengan belajar banyak hal, sembunyi-sembunyi belajar dari apa pun, bergabung dalam majlis dan kegiatan apapun yang saya yakini bisa membuat saya lebih baik, dengan kerap tidak menampilkan diri atau menyamar. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas r.a. terkait seorang muslim harus mampu memetik hikmah dari segala hal dan dalam kondisi apapun selalu saya tanam baik-baik dalam sanubari. Saya tidak akan memposting bahkan melarang kawan-kawan yang mengerti saya terlibat dalam suatu kelompok yang baik, karena cukup bagi saya tidak perlu kelihaian, kepandaian atau kemampuan seseorang diketahui banyak orang. Cukup bagi mereka yang bisa mengapresiasi kita. Maka jangan heran kenapa saya bisa memiliki banyak masker dan kacamata bahkan sejak pandemi Covid 19 ini muncul. Saya juga sengaja membiarkan imej yang melekat dalam diri memang jauh dari kata sempurna, biar hanya mereka yang akrab dan benar-benar ingin mengenal saya yang bisa memahami. Manifestasi ini sudah sering saya tuangkan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, di Ikon atau buah pikir singkat di sini. Hasil dari pengembaraan tersebut menyimpulkan sebuah janji untuk saya sendiri: saya ingin berubah lebih baik, tetapi tidak ingin banyak orang yang tahu. Biar hanya segelintir orang yang mengerti, dan saya tidak akan pernah mau menilai sesuatu dari kulitnya. Jika saya melanggar janji, biar Allah SWT yang menegur.

Rupanya ujian datang dalam berbagai bentuk. Seunggul-unggulnya manusia, kita bukan nabi. Posisi hati juga bisa naik dan turun, tidak bisa diprediksi. Saya lalai, pernah bergabung di sebuah wadah keilmuan yang sungguh sangat apik dan karena iming-iming harta kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi. Kekhilafan ini berbuah simalakama.

Saya menemukan seorang wanita yang saya anggap merupakan cerminan ideal dari wanita yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak, tapi memang karma nyata adanya. Apa yang terjadi di akhir sungguh seperti kisah yang pernah saya alami. Kekhilafan saya yang melahirkan pelbagai kekecewaan di dirinya walhasil mampu membuatnya mengambil keputusan drastis. Saya tentu memakluminya. Pertama, itu karma, dan saya pernah berlaku serupa, yaitu kisah yang saya ceritakan di awal. Wa jazau sayyiatin sayyiatun mitsluha. Dengan gelap mata saya memandang bahwa sebuah diri tidak aka pernah terjerembap dalam lubang, padahal kita hanya manusia tempatnya salah dan lupa. Kedua, seseorang diuji dengan seberapa mampu dia bertahan dan dengan kepercayaan. Saya yakin sudah tidak ada kepercayaan dalam dirinya dan menyalahkan, padahal dulu dia yang meminta bertahan, rupanya kalam itu diingkari sendiri, meski saya tidak menyalahkan sepenuhnya. Saya juga punya andil dalam membuatnya kehilangan kepercayaan tersebut. Ketiga, jika benar faktor keluarga turut memegang peran, maka keluarganya benar-benar cerminan keluarga saya dulu. Meski di suatu hal, saya sangat menyesalkan kegagalan menikah bukan karena faktor ekternal melainkan dari keluarga saya sendiri seperti yang saya ulas di kisah kedua di atas, rupanya mata keluarga seakan tersingkap setelahnya. Mereka semua benar-benar berubah, entah dari mana, tentu dengan kehendakNya. Maka saya tidak mungkin menyalahkan keluarga wanita kali ini, tapi saya berharap dan berdoa agar kelak dia yang mampu membawa perubahan yang lebih baik di keluarganya. Keempat, meski dia menyangkal, saya kenal karakternya. Dia akan dengan mudah mendapatkan pengganti baru yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya. Memang saya juga salah menilai, alasan ketertarikan dia di awal dengan saya karena gelar, bukan karakter. Saya mencintainya karena banyak hal yang tidak bisa diuraikan satu per satu, dan tak acuh dengan segala status, usia atau apapun yang dia sandang. Rupanya dia tidak. Gelar dan harta bisa dikejar. Seharusnya saat bertanya mengenai cinta sejati, kita akan kelimpungan menjawabnya. Beberapa mungkin menjawab dari mata, beberapa lain menjawab karena hal lain. Tapi cinta sejati letaknya di hati. Saya mempelajarinya dari dua wanita, yang satu Ibu Kandung, satu lagi tidak usah saya jelaskan, kawan-kawan mungkin bisa menyimpulkan. Saat diri tidak puas dengan sesuatu yang ada dan dengan serta merta meninggalkan tanpa berusaha, berarti memang dari awal dia tidak ikhlas menerima. Fungsi ikhlas dalam segala sesuatu sangat dalam jika kita mampu melihatnya.

Baik, curhatan ini saya cukupkan. Bagi kawan-kawan yang tidak sengaja tersasar ke blog saya, semoga bisa mengambil hikmah dari tulisan sampah ini. Bagi kalian yang sedang diuji, sebelum tali pernikahan telah terikat, jika kamu masih bisa melihat kebaikan dalam diri pasanganmu, cobalah bertahan. Jika kalian sudah menikah dan kelak menghadapi permasalahan yang sama, ingatlah anak kalian. Jika kalian masih dalam pencarian dan terus mengharapkan sosok yang sempurna, percayalah bahwa hasil yang baik hanya bisa diperjuangkan bersama-sama, bukan sebelah pihak. Jangan gegabah mengambil keputusan, terutama di saat sedih atau senang sedang dalam puncaknya. Satu hal yang perlu dicamkan, bahwa ketika kamu sudah berjanji untuk mengubah diri menjadi lebih baik, biarkan pasanganmu menilai. Jika dia tidak mampu, pasrahkan ke Penciptamu.

Ketika kita memiliki perasaan atau sebuah memori yang teramat menyakitkan, kesadaran akan menekan memori tersebut ke dalam alam bawah sadar sebagai bentuk pertahanan diri. Kenangan tersebut lambat laun akan terlupakan meski tidak hilang seutuhnya. Begitu juga kenangan indah, ia mampu memaksa otak untuk memimpikannya berulang-ulang. Menariknya, jika memori mampu tenggelam ke alam bawah sadar, apakah mungkin alam bawah sadar memunculkan sebuah ide atau gagasan yang tidak berasal dari kesadaran?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kembali pada tahun 1961. Pada penghujung hidupnya, Carl Gustav Jung menulis artikel pada bunga rampai bertajuk, Man and His Symbols. Ia mengukuhkan krusialnya fungsi mimpi seorang manusia dalam menentukan jati diri. Selama ini mimpi selalu memproyeksikan beberapa simbol, lantas apakah simbol tersebut bisa dianalisis hanya dengan mengacu kepada sebuah buku dan mencari kemiripan simbol yang muncul dalam mimpi di buku tersebut? Tentu tidak bisa, dan tidak akan bisa.
Dalam dunia simbol, kita mengenal simbol kolektif dan simbol individual (sudah saya bahas dalam Bagaimana Ikon Menelanjangi Jati Diri). Simbol kolektif tentunya representasi dari kesadaran majemuk dan menyatakan bahwa simbol tersebut memiliki makna umum yang bisa diketahui bersama, seperti: tengkorak sebagai simbol kematian, matahari sebagai simbol kehidupan, dan pelbagai simbol lainnya terutama dari pelbagai mitologi kuno. Sedangkan simbol individual ditampilkan sebagai corak khusus manifestasi diri untuk menunjukkan ego. Contoh paling lugas dan simple: sebuah perusahaan membutuhkan logo yang unik untuk merepresentasikan ‘wajah’ mereka kepada masyarakat, tiap orang memiliki tanda tangan yang berbeda antara si A dengan B dan seterusnya (grafologi) ataupun pelbagai atribut yang melekat pada tubuh yang menandakan bahwa inilah trademark mereka.
Maka mimpi, sekali lagi, adalah proyeksi simbolik yang ingin ditunjukkan alam bawah sadar kepada kesadaran. Dalam dua mimpi atau lebih biasanya terdapat kesamaan simbol dan untuk menginterpretasikannya musti merujuk ke personalia masing-masing. Setiap individu memiliki pengalaman, kenangan, pembelajaran, idealisme dan religiuitas berbeda, maka tidak mungkin kita menafsirkan semua simbol kunci dan lubang kunci dengan hasrat seksual seperti yang dikemukakan Freud. Jung mengembalikan mimpi kepada si empunya. Ada titik tolak yang berbeda untuk setiap personalia. Bisa jadi lambang lubang kunci menunjukkan satu hasrat seksual untuk mereka yang berlibido tinggi, lalu bermakna harapan, kesejahteraan dan kesahajaan untuk lainnya, seperti yang dituangkan Campin dalam lukisannya pada sebuah altar di abad ke-15.
Terkadang mimpi juga beralih menjadi sebuah pengingat. Lihat kasus pasien yang mengalami gangguan neurotik, disosiatif amnesia, misalnya. Mereka mengalami gangguan ingatan jangka panjang karena trauma atau musibah yang pernah dialaminya, sehingga otak akan melakukan mekanisme defensif diri untuk menutup akses ke memori tersebut dengan sangat kuat: menguburnya dengan beragam memori yang indah atau semacamnya. Tetapi ketika dia berada dalam sikon yang sama sesuai dengan pemicu awal amnesianya (kejadian buruk tersebut), kesadaran akan tetap memblokir utuh akses ke memori buruk tersebut, tetapi alam bawah sadar akan menuntun si pasien untuk menyelamatkan diri agar tidak terjerembap di situasi yang sama. Bisa dengan mimpi, ataupun secara sadar, ketika dia tidak tahu harus melakukan apa tapi secara intuitif tergerak secara spontan.
Dalam keadaan sadar, peristiwa ketika seseorang mampu merepresi memori secara alamiah, disebut dengan ‘lupa yang disengaja’. Freud mendeskripsikannya sebagai kumpulan memori yang benar-benar siap untuk ditanggalkan. Nietzsche menggambarkan dengan lugas, “Where pride is insistent enough, memory prefers to give away.” Para psikolog modern menyebutnya sebagai a repressed contents; terkuburnya sebuah ide yang dinilai buruk oleh diri ke dalam alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan diri.
Contoh paling mudahnya seperti seorang sekretaris yang sedikit iri kepada koleganya. Dalam setiap pesta atau rapat, sekretaris ini seringkali lupa untuk mengundang ‘si kolega’. Bahkan ketika ditegur atau dilabrak, sekretaris ini dengan simpelnya berkata lupa atau “maaf, saya banyak pikiran.” Dia hanya enggan atau memang secara tidak sadar tidak ingin mengakui faktor dasar kelupaannya adalah karena iri hati karena si kolega tersebut adalah anak emas bos.
Begitu pula dalam mimpi. Simbol kolektif mengenal pelbagai simbol dari mitologi kuno, memiliki kemiripan peristiwa-peristiwa umum. Mimpi seperti: jatuh dari tempat tinggi, lari dari sesuatu atau seseorang, lari dengan kencang, dalam keadaan lemah tak berdaya terjebak di tengah-tengah konflik atau sebuah pertempuran, bertempur melawan sesuatu dengan sangat spektakuler, dan sebagainya. Ada kemiripan dari faktor penyebab psikologis di sana, mengapa dan bagaimana seseorang bermimpi demikian.
Sebut saja mimpi terjatuh dari suatu tempat yang sangat tinggi. Ada beberapa kemungkinan faktor penyebab munculnya mimpi ini. Pertama, bisa jadi orang tersebut sedang mengerjakan sebuah perkara dengan ekspektasi melebihi kapasitas yang ia mampu. Kemungkinan kedua, hampir sama dengan kemungkinan pertama, hanya saja hasil yang ditargetkan lebih mendekati mustahil. Kemungkinan ketiga, orang tersebut terlalu jumawa menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada orang di sekitarnya, entah mungkin dalam pekerjaan yang digeluti atau lingkungan sekitarnya, dan dia menganggap bahwa tidak ada yang bisa melebihinya.
Tentunya, dalam menganalisis sebuah mimpi, satu dari sekian kemungkinan yang ada memiliki probabilitas yang sama dalam skala prioritas faktor pemicu. Bisa jadi, seseorang yang bermimpi jatuh dari sebuah tempat tinggi, memiliki salah satu dari tiga kemungkinan di atas sebagai pemicu psikologis, atau bisa jadi tidak sama sekali karena penyebab tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan pribadi si pemimpi. Karenanya, Jung selalu mengulang-ulang nasehat berikut kepada para muridnya, “Pelajarilah simbolisme secara totalitas, tetapi dalam menganalisis mimpi pasienmu, sejauh mungkin tinggalkan apa yang telah kamu pelajari dari simbolisme.” Dibutuhkan sesi terapi, dialog, rangkaian tes, komunikasi akrab, rasa keterpercayaan, untuk menimbulkan suatu pemahaman global terhadap personalia pasien secara menyeluruh.
Sayangnya, perkembangan manusia menuju dunia yang modern, ketika penolakan terhadap agama semakin kentara, atau lebih jauh ke dalam era post-modern dengan pelbagai interpretasi skeptisnya, malah seringkali memisahkan antara kesadaran dengan insting paling dasar pada kejiwaan manusia, baik dari ketakutan (terkadang dibutuhkan agar seseorang tidak berlaku ceroboh), dan beberapa insting lain terutama kehausan spiritual. Tradisi urban menuntut —hingga taraf memaksa— manusia untuk lebih mengedepankan rasionya, berpikir serba realistis dan pragmatis. Walhasil, krisis yang dipaparkan oleh Jung sebagai ‘terciptanya manusia-manusia plastik’ yang bahkan karena terlalu lelah bekerja dan pemikiran yang serba sempit dalam memandang sesuatu, memaksa pikiran untuk tidak lagi memproduksi mimpi sebagai pengingat alamiah dari alam bawah sadar yang berfungsi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan oleh kesadaran. Mereka pasti mengabaikan kata hati yang mereka rasakan pertama kali yang terkadang muncul sebagai mimpi yang  meninggalkan jejak di kepala meski sudah terbangun, dan malah mengikuti alur logika yang mereka anggap benar.
Seorang pemikir kondang pun masih bisa menyangkal makna mimpi. Dalam buku Thus Spoke Zarathustra milik Nietzche, terdapat bagian kisah yang bercerita tentang insiden yang terjadi dalam perjalanan sebuah kapal pada tahun 1686. Secara tidak disengaja, Jung pernah membaca kisah tersebut pada sebuah buku yang terbit pada tahun 1835, hampir separuh abad sebelum Nietzche melahirkan magnum opus-nya. Psikolog Jerman ini mulai menyadari kejanggalan tersebut saat ia menemukan gaya tulisan yang sangat berbeda pada Thus Spoke Zarathustra, hanya pada bagian tertentu yang mengisahkan tentang insiden dalam sebuah data perjalanan kapal.
Saat ia mencocokkannya dengan buku miliknya, tulisan yang ada sangatlah mirip, kata demi kata, bak plagiasi. Meskipun Nietzche sama sekali tidak pernah menulis referensi yang merujuk ke buku tersebut, saat Jung mengklarifikasikan hal itu kepada adik dari pencetus ungkapan terkenal “Gott ist tot!” ini, sang adik mengaku bahwa mereka berdua pernah membaca buku tersebut saat Nietzche berumur 11 tahun. Bisa jadi, 50 tahun setelahnya, memori tersebut mencuat dari alam bawah sadar Nietzche saat gelombang sadarnya berada dalam keadaan sangat tenang, antara mimpi dan sadar, dan dia pun menuangkannya pada bukunya.
Maka sebuah mimpi tidak akan hadir tanpa sebuah faedah, baik proyeksi simbolik sebagai pengingat alam bawah sadar, maupun mimpi sebagai pencetus ide dari rekaman memori yang pernah ditangkap otak. Mimpi pun bisa hadir sebagai isyarat Tuhan, ilham yang ditangkap oleh para nabi, ulama dan orang-orang saleh pilihan. Islam sama sekali tidak memungkiri hal ini, karena ada tiga epistemologi menurut para ulama Mantiq: rasio, empirik dan wahyu atau ilham. Banyak kisah terabadikan dalam al-Quran, seperti mimpi nabi Ibrahim, mimpi nabi Yusuf, mimpi raja Mesir, mimpi Fir’aun, dan banyak lagi.
Dalam penafsiran mimpi yang membawa isyarat ilahi, sepenuhnya kembali ke kepribadian dan sisi religius si pemimpi. Tidaklah mungkin seorang begal, bermimpikan menjadi nabi kecuali mimpi tersebut dibawakan oleh syetan. Bahkan Tafsir al-Ahlam milik Ibn Sirin juga tidak bisa semata-mata menjadi pedoman dalam menginterpretasikan mimpi, karenanya jangan heran jika ada seseorang bermimpi A, lalu mengira akan terjadi sesuatu seperti yang terbaca atas deskripsi dari mimpi A, yang terjadi malah sebaliknya atau di luar interpretasi tersebut.
Di dalam mimpi, seringkali kita berada dalam sebuah peristiwa, tanpa pernah mengingat bagaimana mulanya kita bisa sampai di sana.
Di dalam mimpi, bisa jadi kita menjelma seorang manusia superior bak superhero di kisah-kisah fiktif. 
Di dalam mimpi, kita bisa menemui seseorang yang seharusnya tidak mungkin bisa kita temui di dunia nyata. Perasaan selanjutnya yang menyusul, entah haru biru atau bahkan ketakutan yang mencekam.
Mimpi adalah sahabat yang acap kali dibenci atau diacuhkan, meski menyikapinya secara berlebihan tanpa ilmu yang cukup juga sangat tidak baik. Mimpi itu unik, selalu membawa aura enigmatis yang sangat khas.
Siapa tahu saat semua orang serentak memimpikan kejadian yang sama, suatu kejadian yang mengguncangkan semesta akan terjadi.

* - tulisan ini pernah tayang di website berbeda.

Seberapa sering kita memejamkan mata, hanya tidur ayam, sembari menunggu pesan kita dibalas si dia, mau tidur malam karena sudah waktunya meski belum mengantuk, atau karena memang benar-benar sedang tidak ada kerjaan sama sekali? Mata terpejam, mulut dibiarkan separuh terbuka, nafas sudah diatur lambat-lambat, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Ada saja yang dipikirkan, seperti ratusan ‘seandainya’ dalam kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, mimpi-mimpi yang belum terlaksana, hutang-hutang yang belum terbayar dan bagaimana melunasinya, keran yang bocor, kucing yang mengeong, dan banyak lagi. Hal-hal yang sekiranya tidak perlu dipikirkan, tapi berloncatan begitu saja di dalam otak. Naasnya, mereka sering sekali bikin gaduh sebelum kita tidur, dan acapkali kita tertidur hanya dalam satu kondisi: letih yang sangat.

Hidup sebagai mahasiswa, misi mereka tidak jauh dari: kuliah, ujian, pacaran, bersenang-senang. Lulus dari kampus, kita diserbu ujian kehidupan selanjutnya: pekerjaan, gaji, rumah, keluarga, warisan. Tidak ada kata titik dalam kehidupan, lulus dari satu sekolah, masuk ke sekolah lain, yang terakhir sekolah kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang akan mewarnai pola kehidupan kita, terutama bagaimana kita mengatur diri dan aktivitas yang kita lakukan akan mempengaruhi kesehatan kita ke depan, terutama pola makan dan pola istirahat.

Saya tidak akan membahas banyak terkait pengaruh pola makan terhadap kesehatan, karena itu bukan bidang saya, begitu juga dengan hubungan erat tidur dengan otak dan bagaimana durasi tidur sangat berpengaruh ke kinerja jantung. Sebenarnya durasi tidur yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda sesuai umur dengan aktivitas hariannya, dan karena hal tersebut dapat ditemukan di banyak artikel kesehatan, tulisan ini tidak akan membahas itu sama sekali.

Kita akan membicarakan tentang posisi tidur dan kaitannya dengan karakter seseorang. Tapi sebelumnya, tolong buang jauh-jauh angka 69 dari pikiran kalian.

Profesor Chris Idzikowski, direktur dari Sleep Assessment and Advisory Service, mengadakan sebuah riset terhadap 1000 masyarakat Inggris. Hasil yang muncul, sangat mengejutkan. Ada enam posisi tidur dari sekian banyak posisi lainnya yang mengindikasikan karakter seseorang.

Lebih lanjut dia menyatakan, mengapa posisi tidur berkaitan erat dengan kepribadian orang, karena posisi tidur sama halnya dengan bahasa tubuh yang kerapkali dilakukan seseorang secara tidak sengaja dan mengekspresikan perasaan asli seseorang tanpa disadari. “Kita semua paham betul bahasa tubuh seseorang dalam keadaan terjaga. Sudah banyak buku beredaran di luar sana tentang bagaimana membaca bahasa tubuh seseorang, tetapi tidak banyak yang menjelaskan bagaimana kita bisa membaca seseorang dari gaya tidurnya.” Idzikowski menarik napas. “Lebih menariknya lagi, bagaimana posisi tidur seseorang itu memiliki makna yang tidak bisa kita duga. Bisa jadi di kesehariannya seseorang bersikap tegas, lantang, keras. Tapi gaya tidurnya menyatakan sebaliknya.”

Penelitian di atas juga menjelaskan bagaimana gaya tidur seseorang berkaitan dengan kondisi kesehatan. Semisal dalam masalah pencernaan dan masalah pernafasan, dua hal ini berkaitan erat dalam menentukan posisi tidur seseorang apakah dia akan menempel di dinding atau dalam posisi salto. Begitu juga apakah dia akan tidur mendengkur atau malah mengaum.

Berikut enam posisi tidur serta penjelasannya:


(Untuk selengkapnya, klik di sini

Complexes

Dualisme alam sadar dan alam bawah sadar. Masalah psike (jiwa) dan perdebatan mengenai letak, sudah terlalu lama berlarut dan sebenarnya jawabannya juga cukup jelas. Jika menggunakan wacana keagamaan, analisa yang didapat pun beragam. Untungnya, semakin banyak porsi argumen yang menghiasi perkataan seorang alim (dan hiasan dalam hal ini, bukanlah sekedar permainan kata, tetapi paduan sel kelabu yang gemilang dengan keringat darah dalam mencari referensi serta balutan teknik bejibun yang benar-benar terkuasai matang) maka akan semakin besar pula kepercayaan yang diraih dari pembaca untuk mengikutinya.

Yang paling menarik, pengaruh alam bawah sadar dalam laku keseharian manusia tidak bisa dirumuskan dengan lugas. Semisal, dalam mimpi. Letak titik tolak yang menyatakan apakah itu manifestasi pengalaman dan memori-memori yang terpendam, ataukah keinginan menggebu-gebu yang menjelma bunga tidur, tidak semuanya serta merta menjadi makna. Freud dan Jung tidak mempermasalahkan kausalitas mimpi dengan pengaruhnya pada alam sadar, tidak, tetapi abstraksi dan kompleksitas sebuah mimpi yang menjadi kunci dalam psikoanalisa. Di sini, mimpi memegang peran penting dalam menentukan tabiat dan laku seseorang serta mengapa dan bagaimana mereka bersikap dalam hidup.

Yin dan Yang, Ahriman dan Ohrmazd, Dualisme Psike

Sebelumnya, mungkin perlu dijelaskan sedikit perbedaan dalam praktik psikoanalisa antara Freud dan Jung. Freud akan mencoba menerangkan mimpi tersebut dengan menyambungkan hasrat jiwa yang terpendam dengan naluri dasar hewaniah bernama libido. Dia juga berkesimpulan bahwa pusat alam bawah sadar seseorang mampu terjelaskan secara total dalam mimpi-mimpinya. Jung tidak. Dia menjelaskan bahwa mimpi adalah produk gabungan antara alam sadar dan alam bawah sadar. Ada memori-memori yang tersupresi, complexes, yang bisa jadi terlupakan baik disengaja maupun tidak. Proses melupakan hal-hal yang tidak penting atau hal-hal yang tidak mengenakkan hati, bisa dilakukan baik dalam keadaan sadar maupun sebaliknya. Lagi-lagi, perbedaan antara ‘guru dan murid’ memang kentara. Complexes seperti yang telah dibahas di atas, menurut Jung, bisa terjadi baik dalam secara sadar maupun bawah sadar, sedangkan Freud mengkerucutkan penciptannya terbatas pada alam bawah sadar saja.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Mind, Puppet and Butterflies
Dengki dan kecemburuan. Sepasang perasaan bak sebuah cermin yang teramat peka dan seringkali menodai hati manusia seperti debu dalam belantara padang pasir. Harga diri, alias kebanggaan omong kosong, mudah rapuh dan seringkali mencelakai diri. Amarah, syahwat dan sifat rakus. Sifat-sifat hewani dalam diri yang jika tidak dikendalikan dengan apik, menjadi bara yang membakar seorang hamba. Dan ketamakan, atau yang disebut Thomas Aquinas sebagai aksi menentang Tuhan, menjadi dosa abadi seorang manusia untuk selalu ditebus. Malahan Dante Alighieri dalam Purgatory miliknya, mendefinisikan tamak sebagai sifat dasar manusia.

Sebenarnya ada lagi satu, entah dosa atau apalah itu. Kemalasan. Tapi seperti terpengaruh oleh satu sifat terakhir ini, tidak usah muluk-muluk mencari metafora untuk malas. Semua orang sudah sangat akrab. Meski tidak sedikit yang menjadikannya pasangan hidup.

Begitulah Tujuh Dosa –capital veins atau cardinal sins- yang diperkenalkan Katolik dalam ajaran mereka. Seringkali diadaptasi menjadi beragam literatur dan pelbagai karya seni, terutama pada Abad Pertengahan. Karya-karya Dante yang seperti orang nyemplung ke Neraka, Hieronimus Bosch dengan lukisan simbolisnya, Paus Gregory I dengan penambahan beberapa definisi, bahkan sampai dijadikan akronim mnemonik ‘SALICIA’ supaya mudah diingat. Yang jelas, Quod Erat Demonstrandum, satu konklusi yang bisa ditarik, bahwa umat awam Kristiani seringkali menjadikan Tujuh Sifat Buruk ini menjadi komedi dalam bahan perbincangan. Keringat darah berucucuran untuk hidup di dunia hanya sebagai penebusan dosa yang tak mengenal akhir.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Kami Pemuda Utopia...

Ideal pemuda menjadi kunci masa depan bukanlah utopia. Menyorot kasus anarkis yang dilakukan para senior sampai menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa ITN Malang, sebenarnya bukan berita baru. Tetapi peristiwa lama yang sering berulang, jika dibiarkan, akan menjadi hal yang lumrah. Bahkan bisa berakar menjadi kebiasaan jika tidak ada langkah preventif yang diterapkan sebagai solusi. Belum lagi berkembangnya tradisi pop yang menyeleweng, maraknya generasi konsumtif serba instan dan condong hedonis  yang semakin menjangkiti generasi muda sekarang dan banyak hal lain yang semakin mengaburkan harapan akan menjadi generasi pemuda sekarang.

Permasalahannya, dalam kasus ini, siapakah yang bersalah? Apakah patut kita menyalahkan generasi muda saja? Ataukah lembaga dan institusi pendidikan? Bisa jadi orang tua dan lingkungan sekitar-lah tempat kita menuding sebagai pucuk penyebab degenerasi moral para pemuda?
Beragam faktor dan variabel yang muncul ketika membahas kemerosotan moralitas suatu generasi menjadikan kasus ini tergolong unik. Maka dalam memecahkan persoalan tersebut, tidak bisa sekedar melalui satu perspektif, harus diurai satu-persatu pelbagai fakotr yang terkait, baru bisa dipreteli satu persatu.

Dalam Psikologi Pendidikan, sebenarnya sudah diperkenalkan tiga faktor utama pembentuk dan pemengaruh karakter seseorang, yaitu: rumah, sekolah dan lingkungan. Keluarga, kerabat dan segala media edutainment yang terdapat di rumah, baik visual, cetak maupun audio, semuanya merupakan sarana pembentukan karakter dan paradigma. Jelas faktor utama adalah yang pertama. Interaksi yang lahir antara sang anak dengan pelbagai perkakas kehidupan di sekitar ia berdiam, kemudian segala informasi yang ia tangkap dan ia proses tatkala berumur 1 – 6 tahun, akan menjadi patokan akan menjadi seperti apa dia akan berkembang. C.G. Jung menyatakan bahwa memori seorang anak pada umur belia masih belum sanggup memilah informasi yang ia terima. Apapun akan ia lahap. Hal ini sepertinya diikuti oleh Dorothy Law Nolte, seorang penulis asal Amerika yang terkenal akan puisinya, “Children Learn What They Live:

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


Dorothy Law Norte
Sedikit terjemahan bebas dari puisi tercipta pada tahun 1972 tersebut, Dorothy mengatakan bahwa seorang anak akan belajar memaki jika ia dibesarkan dengan celaan, ia akan selalu menyesali diri jika selalu dihina, ia akan belajar percaya diri jika selalu dimotivasi, dan seorang anak akan belajar menemukan cinta jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan. Tetapi tentu saja, pernyataan tersebut tidaklah akurat. Dalam faktualnya, akan banyak faktor yang mempengaruhi diri seorang anak dalam perkembangannya dan membentuk suatu pola teratur dalam setiap orang. Jung menyebutnya sebagai arketipe.

Peristiwa yang  menimbulkan jejak kuat pada memori seorang anak, boleh jadi akan menjadi pemicu baginya dalam pelbagai tindakan yang akan ia lakukan saat besarnya nanti. Kasih sayang yang diterima seorang anak sejak dini, tetapi terputus total karena perlakuan dari si orang tua pada umur 10 – 15 tahun misalkan, akan menyebabkan sang anak lari mencari rasa nyaman dan apresiasi dari teman sebayanya. Akibatnya, rumah baginya tidak lagi sebagai tempat anak berpulang, melainkan hanya sebuah media ‘kosong’ yang malah semakin menambah beban mental. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pelepasan segala penat yang ia dapatkan di luar rumah, berubah menjadi alat lain penambah masalah. Kasus ini selalu terjadi jika rumah kehilangan fungsinya, yang bisa disimpulkan jika hal ini terjadi: orang tua yang acuh.

Seringkali kasus bermula ketika orang tua tidak lagi peduli pada perkembangan jiwa anak melainkan hanya melihat elevasi unsur ekstrinsik saja, seperti prestasi, akademik, uang jajan dan sebagainya. Lantas orang tua terlalu memaksakan ideal mereka kepada sang anak, hingga akhirnya ideologi anak pun terkurung atas nama ‘penghormatan.’ Hal ini berlaku jika tidak adanya keterlibatan untuk saling memahami, antara si anak dengan orang tuanya. Jika kasus ini terjadi, akan lahir pola ‘pemberontakan’ pada diri sang anak yang menyebabkan dia selalu menentang sistem dan peraturan. Lagi, akibatnya akan muncul sebuah tendensi untuk selalu bersikap keras kepala, condong adu otot dan selalu ingin menang, dihormati dan dihargai.

Seharusnya, orang tua perlu menyadari akan perubahan sikap yang terjadi pada anaknya. Sayang, acapkali para wali lebih menyalahkan sekolah dan menuduh para guru bahwa mereka ‘tidak berhasil mendidik anak.’ Begitu juga dengan pemaksaan harapan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh sang anak. Memang, orang tua lebih banyak memakan asam garam kehidupan dan lebih mengerti beribu palang yang bakal merintangi kehidupan anaknya, sesuai dengan apa yang mereka pernah alami dulu. Tetapi zaman juga terus berubah, itu kenyataan. Kita tidak bisa hidup di masa lalu, karena itu seyogyanya orang tua dan anak saling bekerjasama, saling berkomunikasi aktif dan sama-sama mencapai satu kesepakatan dan kepemahaman untuk saling menghidupi. Andaikata hal ini tercapai, maka generasi muda mampu mengeluarkan potensi-potensi paling cemerlang yang mereka miliki.


Saat mengajar kuliah, Jung sempat menekankan pentingnya keterlibatan emosional dalam membentuk dan mendidik seseorang, karena signifikansi pendidikan dan pembentukan karakter anak akan sangat menentukan manusia seperti apa ia menjadi. Sejalan dengan konsep ta'dib Naguib al-Attas, pendidikan dan pengajaran moral itu berjalan sebaris, satu tujuan. Berhubung pelbagai inovasi dan kontribusi lebih sering muncul dan lebih dapat tersalurkan ketika muda. maka seyogyanya yang tua membantu yang muda dalam pembenahan dan penanaman kembali bibit-bibit luar biasa kepada yang muda. Tapi perlu dicatat, mereka juga harus melihat faktual dan bekerjasama dengan yang muda untuk saling bersinergi menghasilkan yang terbaik bagi kesemuanya. Jika hal ini tercapai dan diterapkan dalam ranah nasionalisme dan atas nama agama, misalkan. Maka tidak ada istilah pemuda yang bereuforia dengan kegalauan dan hedonisme mereka. Pemuda utopia jadi paradoks.

-------------------------------------
Pernah diterbitkan dalam majalah La Tansa dengan versi yang lebih singkat pada edisi Oktober.

Permainan Jiwa

Di antara sekian banyak buku psikologi yang berjejer di etalase utama Gramedia untuk buku-buku terbaru, cuma yang putih, tebalnya tidak seberapa, tapi dihiasi dengan warna-warna dasar mencolok mata, serta beberapa aksara kanji Jepang yang waktu itu satu-satunya buku yang meningkatkan rasa penasaran saya. Judulnya Kokology. Tujuh tahun silam, umur peristiwa itu. Kejadian yang memaksa saya untuk selalu memandang seseorang bukan dari sekedar kulit.

Selang beberapa bulan setelahnya, di tempat yang sama, edisi kedua muncul. Kali ini warnanya kuning. Sedikit lebih tebal dari edisi sebelumnya, tanpa ragu saya langsung merogoh dompet. Beruntung masih ada sisa beberapa lembar rupiah bergambar pemetik teh. Sampai di rumah, buku tersebut saya cerna dan menikmatinya perlahan.

Kokology, percampuran dari bahasa Jepang dan Latin. Kokoro, yang berarti jiwa atau semangat, dengan logos alias penelitian atau ilmu. Kedua pengarangnya, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito, masing-masing adalah professor dan ahli jiwa tersohor di Universitas Rissho dan Waseda, Jepang, banyak mengambil analisa serta teori dari para bapak psikologi modern, Freud dan Jung. Terutama karena teori alam bawah sadar mereka.

Kasus-kasus yang diangkat dalam kedua buku itu masih sama. Bagaimana mengetahui pola dasar pemikiran atau reaksi manusia terhadap segala sesuatu, yang sekiranya remeh sekalipun. Hubungan lawan jenis, masalah relasi, pekerjaan, corak kecerdasan, kecenderungan justifikasi, dan banyak lainnya. Buku tersebut tidak bercerita, tetapi kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang ditulis halus untuk mengajak alam bawah sadar para pembaca mencuat ke permukaan. Dari awal pembukaannya saja, editor sudah mengingatkan, “Lebih seru kalo buku ini dibaca berbarengan. Dua orang, bahkan lebih!”. Tetapi yang lebih berkesan adalah pesan dari si pengarang sendiri, “Jawablah dengan jujur dan apa yang pertama kali muncul di benak anda.” 

Soalnya mudah saja. Semisal, bayangkan anda mengendarai bus atau kereta bawah tanah, lantas mendapati sebuah kursi kosong. Anda pun bergegas untuk duduk di sana. Pada saat itu juga, seorang pemuda/pemudi lain (sesuai dengan gender anda) juga berjalan ke sana dengan niat yang sama. Mana yang akan anda lakukan di antara tiga opsi ini: dengan tidak segan segera duduk di kursi tersebut, segera mempersilahkannya, atau melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan? Silahkan jawab dalam hati.

Sekilas, soal tersebut hanya memperlihatkan sejauh mana tingkat toleransi kita. Padahal, Isamu Saito sengaja tidak menghadirkan pengendara lain sebagai manula misalkan, atau seorang ibu hamil, karena dalam hal ini, penulis dan saya sendiri juga lebih setuju pada pendapat Rousseau bahwa aslinya manusia itu welas asih. Dengan menyajikan manula atau bumil, jawaban pertama pembaca pasti: langsung mempersilahkan duduk. Tapi dengan kata ‘pemuda/pemudi’ yang bermakna sebaya, perlahan tapi pasti, pembaca digiring untuk bagaimana dia bereaksi dalam relasi antar sekitarnya dan konsekuensi yang diambil.

Langsung duduk tanpa segan, misalkan. Orang yang menjawab ini, mengerti apa yang dia mau dan apa yang bukan. Pengalaman bejibun telah mengajarkan, sangatlah tidak masuk akal untuk menderita demi orang lain, jika akibatnya ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dalam meniti hidup, tidaklah salah untuk menyakiti hati beberapa orang. Pertimbangannya ambisi dan ego.

Langsung mempersilahkan yang lain untuk duduk. Tidak lain karena dia terlalu cemas akan pendapat orang lain terhadapnya. Dia selalu menginginkan orang lain menganggap dirinya baik, indah, bagus, sehingga dia pun berlaku demikian. Orang-orang di sekitar pun menyebutnya easy going. Padahal aslinya, dia kurang memiliki pendirian. Hampir tiap kali dalam sebuah kesempatan kompetitif, dia rela menjadi tumbal agar yang lain semakin maju.

Yang terakhir, melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan. Pada titik ini, anda pasti sudah bisa menebak, apa maksud jawaban ketiga ini dalam perspektif Kokologi. Ya, mereka yang menjawab ini, selalu melihat sesuatu dengan garis besar. Yang memilih jawaban ketiga selalu mempertimbangkan perasaan atau pemikiran orang lain sebelum mengambil konklusi. Tentu, karena dunia tidak berputar di dirinya saja. Meskipun, kerugian yang ditanggung adalah keputusannya sendiri.

Banyak juga soal-soal lain yang ditujukan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ketika anda mendapat kesempatan untuk mendesain mug biru polos dengan empat pilihan motif, misalkan, maka mana yang anda sukai? Antara garis-garis lurus (horisontal atau vertikal, terserah), polkadot, garis-garis lengkung serupa ombak, atau motif kotak-kotak? Jawaban yang dipilih menegaskan bagaimana metode kita dalam mendekati masalah atau memberi solusi. 

Dalam menjalani hidup, manusia selalu penuh dengan pertimbangan. Atas konsekuensi yang akan dihadapi. Perhitungan untung-rugi. Keseimbangan. Dan pertimbangan tersebut tidak melulu terbatas pada objek materiil, tapi begitu juga dalam humanisme (sudut psikologi). Aksi dan reaksi, dan sikap yang kita berikan kepada lawan bicara, sejenis atau lawan jenis. Semuanya berdasarkan alam bawah sadar. Di mana alam bawah sadar merupakan proyeksi pengalaman seseorang yang sangat berkesan dalam, dan selanjutnya mempengaruhi pola dan tindak pikir.

Seseorang yang berkemampuan untuk menganalisa gaya berpikir dan sifat seseorang, lantas mendeduksi respon terbaik dalam berbicara atau bersikap kepada mereka, rentan memiliki daya manipulatif terhadap sesama. Dengan mudahnya dia dapat mengendalikan tendensi yang paling cocok dalam segala sesuatu. Jung menyebutnya sebagai Persona. Meski hampir semua orang memiliki Persona majemuk, bukan sekedar tunggal. Entah dia cakap menilai orang atau tidak. Tentu karena manusia cenderung memilih jalan pendekatan yang mereka nilai ‘baik’ dalam mengambil atau menyatakan sesuatu. Cuma ‘mereka yang dilabeli maksum olehNya’ dan orang-orang bijak saja memiliki kapabilitas untuk mampu mengukuhkan ideologi selaras dengan idealisme dan realisasi, tidak goyah dalam tindakan, dan benar-benar pantas menanggung amanah sebagai sosok pemimpin yang ideal.

Ah, andaikata banyak orang seperti itu, dan mereka benar-benar berani untuk mengenal dan dikenal, pastinya masyarakat di sekitarnya bakal berubah. Masisir, contoh kecilnya. Saya acapkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan Kokologi kepada beberapa orang, untuk mengenal kepribadiannya lebih dalam. Seperti soal di mana pada suatu pesta atau perkumpulan, anda diwajibkan untuk duduk di antara tiga kursi: kiri, tengah, atau kanan. Mana di antara kursi tersebut yang anda rasa paling nyaman untuk diduduki, dan kira-kira apa warna tersebut? Mereka yang memilih tengah, didominasi dengan tipikal sosialis yang enggan bekerja sendiri. Sedangkan warna yang dipilih adalah bakal penentu hasrat bawah sadarnya untuk menjadi apa dalam perkumpulan tersebut. Merah bermakna pecinta kerjasama, harmonisasi dan konsolidasi. Pink memiliki rasa solider dan kesetiaan yang kuat, dan banyak makna dari warna lainnya. Dalam dunia yang penuh permainan jiwa ini, kita memilih mau jadi apa, bagaimana dan untuk apa? Pemain, atau yang dipermainkan? Jangan biarkan pertanyaan konyol ini terbuang bersama gugur dedaunan.


Alumni pondok yang kuliah di universitas umum itu kebanyakan moralnya bobrok. Beberapa kawan saya pernah cerita, dengan santainya mereka menenggak minuman beralkohol seakan-akan minuman itu sekedar teh fermentasi. Di lain kesempatan, mereka juga cerita bahwa karena semalaman begadang nongkrong di warung kopi, paginya mereka melalaikan sholat Idul Fitri karena bangun kesiangan. Alasannya? “Kan sholat ‘id termasuk sunnah mar, bukan sunnah mua’akkad lagi.” Yap, alasan yang sangat masuk akal. Tapi pahala sholat ‘id yang hanya dapat diperoleh dua kali dalam setahun itu apa bisa diperoleh kembali pada tahun berikutnya? Mungkin, jika masih hidup. Tapi apakah kita berani menegaskan kata kita masih hidup pada hari esok? Ah, sesumbar menantang takdir. Hanya orang kuasa yang bebal imannya berani berlagak di hadapan Sang Pencipta.
Ah sebelumnya, mari intermezzo sejenak. Saat berjalan-jalan di taman, saya selalu kagum dengan sebuah tanaman  dari genus Taraxacum, atau yang lebih terkenal dengan sebutan dandelion, adalah kemampuannya untuk bereproduksi tanpa adanya penyerbukan dengan hasil keturunannya pasti identik dengan tumbuhan induk. Bayangkan saja, satu bunga saja mempunyai ratusan kuntum yang lebih kecil dengan hanya satu batang kepala benih. Pada musim gugur atau musim semi, terkadang sering kita melihat kuntum-kuntum itu terbawa angin, menuju jendela, menuju lapangan, menempel di baju, lewat selintas di depan muka. Bisa saja, dandelion yang kita jumpai di Bawwabah merupakan cabang kuntum dari induk yang tumbuh di Gami’, atau bahkan madrasah. Maka hal kedua yang saya kagumi dari dandelion ini, adalah penyebarannya yang sangat majemuk dan tidak terbatas jarak.
Hanya saja, identik tidak berarti mempunyai sifat yang sama seperti induknya. Rupa dan bentuk boleh serupa, tetapi faktor geologis dimana kuntum-kuntum kecil itu tumbuh sangat berpengaruh. Dari sekian banyak kuntum yang tersebar, berapa banyak probabilitas dari masing-masing kuntum tersebut yang mampu benar-benar tumbuh hingga sama elegannya seperti sang induk? Kurang lebih 35 persen. Berapa banyak kita dapati kuntum-kjuntum tersebut tergeletak begitu saja di jalan, menempel di tiang listrik, masuk ke ruangan, dan berbagai macam kemungkinan lain yang menyebabkan kuntum tersebut tidak menempel di tanah. Mungkin begitu pula dengan para alumni PM Darussalam Gontor.
    Setelah graduasi, masing-masing pribadi mulai menonjolkan watak asli. Seorang santri yang malu mengaku santri. Seorang santri yang lagaknya bukan seperti santri. Seorang santri yang salah bergaul sehingga lupa status dirinya sebagai santri. Seorang santri yang biasa-biasa saja ke-santri-annya.  Atau seorang santri yang sengaja menjual ke-santri-annya agar mendapatkan prestise. Alumni PM Darussalam Gontor sangat beragam. Tapi terlepas dari contoh-contoh negatif diatas, ada satu yang bisa disimpulkan. Mereka semua adalah pemuda-pemudi yang sudah terdidik. Masing-masing dari mereka sudah menggenggam sebuah kunci yang tersimpan di loker hati.
Mari kita lihat sekarang. Tidak usah jauh-jauh kembali ke Nusantara, disini sudah cukup. Dengan agenda raksasa Silaturahim Internasional yang diadakan di Mesir pada tahun 2011, sudah terlihat bagaimana karakteristik pentolan-pentolan para alumni yang tersebar di berbagai negara. Mayoritas mereka yang kuliah di Timur Tengah sanggup menempatkan diri pada posisi sebagaimana mestinya seorang santri bersikap, lengkap dengan seluruh aspek plus-minus yang melekat. Jadi tak heran, disaat bertegur sapa dengan alumni yang kuliah di Madinah atau Syria, ideologi dan corak pikir yang sudah terbentuk saat nyantri tetap tidak berubah. Itu karena mereka hidup di miliu pembelajaran yang dekat dengan kultur Islam nan kental. Tapi tetap dalam tanda kutip, tidak semuanya.
Kalau begini, SI itu sendiri tidak penting. Yang mutlak adalah subtansinya. Fungsi dan kandungan apa yang bisa diperoleh dari SI untuk kemudian diaplikasikan dalam keseharian bersosialisasi saat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Mereka yang di Indonesia kini serba terjepit.  Hidup dengan tuntutan serba praktis dalam lingkup kosmopolitan dan metropolis, ditambah berbagai masalah pelik krisis para humanis, menjadikan para alumni harus berani menyandingkan idealism mereka dengan wabah pemikiran disekitarnya. Tapi saya salut, wabah tersebut tidak terlalu mendominasi. Sehingga testimony saya di paragraph paling atas tadi bisa terbantahkan.
Apapun itu, tidak mungkin sebuah program berjalan tanpa hikmah. Melepas rindu dengan mendengar petuah kyai-kyai sebagai pengasuh kita saat di pondok itu saja sudah cukup. Belum lagi melihat wajah yang dulu dekat, kini terlepas jarak. Tapi tidak lagi dengan adanya SI ini. Mungkin ke depannya nanti, semoga saja tidak hanya beberapa orang saja sebagai utusan dari masing-masing negeri, akan tetapi seluruhnya. Meski dengan biaya operasional pribadi pun tak mengapa. Siapa sih yang tidak ingin bertukar ilmu dan pengalaman dari negeri seberang?

And it soars, high, to cut thru by its wings, the gloomiest sky

Now, the mourns are there, the griefs, tears - in a core
which are burdened deep in the human's heart
Nevertheless, it suddenly appears from nowhere, dear,
just like the times before
then swiftly it squints its eyes, "Too bright",
and stands there holding on the branch - tight

Black-weary clothes, gathered in the crowd
The tears spilled in the silent and the preachy words
tried holding the shady-souls sheltered
But nevertheless, it was already there, glancing from afar,
to imbue the very moment to its feathers
While it howled to them, my dear, it howled to them
to remind there's still a life left behind
to chase after

It is, you caught it on the dead trees,
shaped like a hand from graves
It is, you saw it when you're in grief, trying to dismiss
the world apart from its black-and-white
There it is! When you lose a hope, hate a love,
suffer a wound, bleed a soul!

It screams, while emphasizing:
"I'll be here, my wings and tail, just to let you know!
You want a joys? I'll give you more
Pursuing a life? I'll keep then no sore
I'll always be here, give you spaces, bless
you mercies, over and over
Need no sympathy? Fine, but, I'll float here still,
to teach you some... lore!"

"So, what is it?", you wonder. Please call
more-likely, a raven
a very unique bird indeed, one which flies
with the darkness of night
Always keeps up to the moon,
to be gladly surrounded by the dark, just to
dance under the shadow of moonlight

"But why?", you wonder
It is neither the creature of satire,
nor the pariah
Neither wants to be a martyr,
nor the Mesiah
The raven just enjoys to be flowed
in dark, condemning a light, saying
"Because when you are too blinded
by the Light,
and could see no more your path,
something is possessing and becoming you!
The Lord of Melancholy himself - The Dark"

(Srry kl pk bhs Inggris n byk tmn2 yg mngkin males bacany, cm sdikit iseng2 doang kok, haha :D)

Persona (1): TOPENG


Waktu itu sudah jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri. Dia berjalan dengan muka merengut, sambil wajah ditekuk-tekuk, kedua tangannya berkibas kasar dan kakinya berderap tegas, ketus dan mantap – tapi sambil mulut bersungut-sungut. Selang beberapa menit kemudian, saya bertemu dengan dia di tempat perkumpulan, sambil bertanya:
            "Eh, barusan dari mana? Tumben telat, biasanya datang paling awal," tanya saya ramah.
            "Oh, gak, tadi ada perlu aja," jawab teman saya sambil sedikit tertawa.
            Loh? Padahal tadi saya lihat sendiri kalau dia tersasar di jalan, ngedumel gak jelas sambil lihat kiri-kanan. Langsung saja saya buka kartu.
            "Masa? Tadi pas aku naik tremco ngelihat kamu tuh. Lagi jalan kemana gitu," kataku polos. Temanku malah tergelak.
            "Hehe, iya sih, tadi agak kesasar sedikit. Lagian tempat kumpulnya juga gak jelas sih,". Nah, terbuka sudah topengnya. Sewaktu di jalan tadi, jelas emosi jengkel dan rasa tak sabar yang terlihat, refleksi dari emosi yang alami. Baru ketika akan memasuki tempat perkumpulan, dengan aduhai dia berganti muka dengan topeng cerianya kembali.
            Memang dunia ini penuh topeng. Baik itu manusia di dalamnya, atau malah dunia itu sendiri menutupi kebusukan tetapi tertutupi dengan topeng arif dan kebijakannya. Entah. Karena saya sendiri masih bingung berjuang memecahkan teka-teki malam dan teka-teki keadilan (dikutip dari lagu 'Gie') yang penuh rupa ini.


~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software