.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Persona (2): Ikon

Saat bercengkrama dengan sebuah ideologi, manusia membutuhkan sesuatu untuk dicengkram. Sesuatu yang represif, lugas, simple, praktis, ekspresif, ekslusif dan otomatis dimaklumi oleh orang lain. Namun, alangkah dahsyat bagaimana tanda tangan antara satu sama lain, sering terdapat perbedaan. Dalam setiap garis lengkung, kurva, lurus, setengah lingkaran, menikuk tajam, masing-masing terdapat sebuah idealisme simbolis yang diungkapkan dengan tanda tangan.

Tapi tidak cukup dengan itu saja. Saat sebuah ideologi tersebut hadir agar dikenal orang banyak, tanda tangan sebagai ikon pribadi tidaklah cukup. Harus ada sebuah ikon pengganti, ikon khusus yang berkarakter, mudah diingat, umum dan praktis. Sama halnya dengan benda kecil mungil yang sering digandrungi para wanita. Seorang kawan pernah bertanya, “Mengapa selama ini intan, permata, mutiara, atau emas adalah sesuatu yang sangat berharga dan digila-gilai oleh banyak orang? Bukankah masih banyak benda-benda lain yang tak kalah indah, susah didapat, dan progresi pembuatannya pun sulit?”

"Am I sweet enough?"
Benda-benda itu, kawan, merupakan simbol aristokratik yang unik, elegan dan memberi pengertian berbeda dari sudut mana orang memandangnya. Logam mulia tersebut dianggap luapan perasaan yang dihibahkan oleh seseorang kepada orang yang terkasih, sebagai kado dan tanda bukti atas rasa sayangnya. Seorang kolektor, sanggup meniti perjalanan mengitari 5 benua hanya untuk mencari Heart of Eternity, The Allnatt  atau Wittelbasch dan sanggup menggadaikan 50% dari propertinya untuk itu. Mengapa wanita menyukai intan atau berlian? Karena di mata mereka, logam-logam mulia tersebut adalah ‘Pemanis’ bagi tubuh mereka.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

 Sebutlah, jika logam mulia tersebut bagi para wanta untuk adu gengsi, terutama jika benda-benda itu mempunyai arti khusus. Meskipun di sisi lain, keindahan permata yang mereka miliki, atau dikenakan di tubuh, merupakan daya perangsang yang kuat bagi wanita lain agar tertarik untuk sekedar memuji atau bahkan mengucap iri. Tentunya saya tidak menggeneralisir, hanya beberapa orang.

Tapi perlu juga kita cermati, bahwa permata tersebut sekedar ikon. Ikon sebagai prestise, moral estetika, harga diri ataupun kenangan. Jadi tak jarang meski hanya sekedar permata murahan, sebagai hadiah dari yang terkasih, akan selalu dirawat dan dijaga rapi. Meskipun, kenangan terbaik bukanlah apa yang kasat mata, melainkan yang terkunci rapat dalam hati.

Sekarang, ikon sudah merajai pusat ideologi sebagai pacuan komunikasi yang interaktif. Gampangnya begini, untuk mengenal bahwa kawan ataupun lawan bicara anda memiliki ideologi yang sesuai dengan milik kita, bisa kita melihat langsung kepada simbol (baca: tanda tangan) yang ia bubuhkan, atribut pakaian yang ia kenakan atau  bagaimana ia memersonifikasi diri sendiri. Carl Gustav Jung, psikolog asal Swiss, berpendapat, pola-pola dasar tersebut sudah muncul sejak zaman peradaban Yunani Kuno bahkan berabad-abad sebelumnya. Pola-pola tersebut mulai terdapat dalam mitologi Yunani Kuno, terutama ketika Plato berhipotesa bahwa manusia tak lebih dari sekedar ‘bayangan’ yang cacat.

Nantinya, perkembangan dari pemikiran tersebut merupakan cikal bakal pemikiran Jung mengenai arketipe. Dia menyadari bahwasanya mimpi-mimpinya, proyeksi dari imaji-imaji yang sering muncul dalam kepalanya, merupakan pola orisinil dan kompleks yang akan membentuk kepribadian dan paradigma seseorang. CG Jung, seperti tersebut dalam buku The Cambridge Companion to Jung, menyatakan bahwasanya ada setidaknya tiga faktor penting dalam pembentukan kepribadian, yaitu: ego, ketidaksadaran personal (personal unconscious), ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) serta sikap dan fungsi (attitude and function).

Untuk membahas satu-persatu dari keempat faktor di atas sangatlah panjang. Setidaknya saya lebih menekankan ke faktor ketidaksadaran kolektif, dimana terdapat empat arketipe (pola dasar, ciri pembeda psiko analisa milik Freud dan Jung) dan yang terkhusus diantaranya adalah: Persona, Shadow, Anima dan Animus serta ‘Self’.

Singkatnya, arketipal persona adalah arketipe yang adaptif. Dia merupakan hasil mediasi kehidupan psikis dari dunia luar. Persona seseorang akan terus berubah sesuai lingkungan atau orang yang ia hadapi, dan persona tersebut merupakan hasil interaksi ataupun pengalaman diri. Terkadang persona bisa fleksibel, bisa juga sangat kaku.

Lawan darinya adalah shadow atau bayangan, dimana arketipe ini merupakan tempat pembuangan hal-hal represif dan negatif yang dialami oleh jiwa. Semua orang pasti memiliki ‘bayangan’. Pikiran ataupun hal-hal lain yang sengaja ia tutup agar tidak tampak. Tapi bahkan ‘bayangan’ ini tidak selamanya terkekang. Jung menggambarkan bahwa ‘bayangan’ seseorang selalu berkelamin sama dengan pemiliknya. Jung mengatakan dalam bukunya “Memories, Dreams, Reflections”, jika kita mampu mengakui bahwa kita memiliki sisi negatif dan berasimilasi dengan baik, maka akan muncul sebuah jiwa kreatif yang hadir dalam mimpi dan berpengaruh terhadap kematangan individu.                
Arketipe lain adalah Anima dan Animus. Mungkin para gamer yang pernah memainkan sebuah permainan virtual Assassin’s Creed di komputer, sudah tidak asing dengan kata Animus. Bisa dibilang, Animus sendiri merupakan ikon dalam permainan tersebut. Sebuah mesin yang mampu mengakses memori terpendam di dalam otak seseorang hingga memori leluhur. Konsep ini sendiri tidak jauh berbeda dari definisi Anima dan Animus dalam psikologi. Anima dan Animus mirip dengan prinsip Yin dan Yang dalam filosofi Cina, dimana Anima mewakili prinsip-prinsip feminin dan Animus mewakili prinsip-prinsip maskulin. Dua prinsip ini saling melengkapi dan tidak mungkin terpisah. Bukan berarti Jung mengakui setiap orang memiliki potensi menjadi banci, tetapi unsur feminin dan maskulin disini mewakili hal-hal prinsipil seperti alam, imajinasi, sisi kolektif, kreatif atau inisiatif.

Dan yang terakhir adalah ‘Self’ atau Freud menyamakannya sebagai psike alias jiwa. Tetapi Jung membedakan antara Self dan psike, dimana self merupakan arketipe yang menggerakkan seseorang menuju keutuhan. Bisa dibilang, psikolog asal Jerman ini menerangkan bahwa Self adalah gabungan dari semua arketipe, pusat kepribadian yang darinya bermunculan ikon-ikon pembentuk karakter.

Melihat lebih dalam kepada seseorang, maka kita bisa melihat semua arketipe ini mencuat satu-satu. Bukan topeng, bukan juga egosentris. Tapi lebih bagaimana kita mampu bersikap dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari sehingga mampu menghasilkan kemampuan intrapersonal yang baik. Terkadang seseorang sengaja menonjolkan sesuatu dari dirinya, dengan maksud mengecoh orang lain untuk mengetahui sisi lain yang sengaja ia sembunyikan.

Sebutlah seseorang yang berambut acak-acakan, tampil urakan, dengan berbagai aksesoris ramai yang ia kenakan, dengan tampang cuek miliknya, ia mampu menghadirkan sebuah sosok yang ekstrovert. Padahal bisa jadi, itu hanya persona – topeng yang ia kenakan. Di lain tempat, ada juga seseorang berpakaian rapi, dengan model rambut klimis, berpakaian rapi, dengan mata dan wajah yang tegas – hanyalah persona pembohongan publik untuk menutupi sisi dirinya yang gemar berjingkrak. Anda, saya, dia ataupun mereka yang sering anda jumpai dimanapun kita berada, bisa jadi hanya sekedar jelmaan dari ikon-ikon palsu penipu diri. Jika anda pernah berpikir bahwa artis-artis Korea, Barat, ataupun politikus dan orang lain yang sekiranya selalu tersenyum dan tidak ernah merasakan pahitnya dunia, mungkin salah. Sedikit orang yang tetap memilih true self mereka tanpa mengindahkan pendapat orang.

Atribut yang manusia kenakan itu ikon. Ciri. Penanda. Tapi hanya satu sisi dari sebuah entitas majemuk. Tulisan mereka juga ikon, karena dengannya pembaca mampu mengetahui gaya berpikir penulis. Dalam menilai karya seorang Ghazali misalkan, tidak dengan semena-mena membaca satu bukunya dan menyimpulkan bahwa dia seorang apa, tapi kita deduksikan dari karya-karyanya yang lain dan pendapat objektif dari relatifnya. Begitu pun dengan orang sekitar. Adik perempuan saya pernah berkata, “Wanita memalsukan senyuman dan pria memalsukan perasaan.” Ah, mungkin mayoritas dari kita hidup dalam kepalsuan. Ikon kita, ikon mereka, semua sama. Simbol hipokrit. 


NB: Versi lebih ringkas dari kolom ini pernah diterbitkan di buletin Informatika edisi 161

0 comments:

Post a Comment