.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Saya belajar banyak dari Lookism, sebuah manhwa yang memperkenalkan realita: mayoritas masyarakat hanya memandang seseorang hanya dari penampilan atau isi kantong, bakat nomer dua. Kamu berpenampilan menarik, mengenakan baju-baju atau aksesoris bermerk, orang akan memandangmu dalam dua kategori: entah kamu termasuk kalangan borjuis, elitis, apalah itu, dan memandangmu dengan mata penuh hasad; atau kamu dileburkan dalam kategori makhluk-makhluk unggul pemimpin ras manusia, kamu pantas menyandang segala jabatan dan masa depan untuk apa saja, dan kamu akan dipandang dengan sorotan penuh kagum.

Kamu tidak berpenampilan menarik dan tidak mempunyai bakat? Saya mau mengatakan tenggelam saja di laut, atau dengan sinis, mengapa kamu masih bernafas? Tetapi tidak mungkin saya berkata seperti itu, karena saya sendiri termasuk orang-orang yang tidak bertampang menarik dan mengganggap penampilan mencolok itu sungguh memuakkan. Cukup berpakaian rapi, pantas dipandang, sesuai syariat, tidak muluk-muluk. Tetapi saya sadar, orang yang beranggapan seperti saya, tidak banyak. Apalagi jika mereka sudah tahu bagaimana rasanya mencari uang.

Sebelum saya berbicara lebih lanjut, saya sarankan bagi kawan-kawan yang membaca tulisan ini, jika masih duduk di bangku kuliah dan masih melajang, lebih baik melanjutkan aktivitas lain yang lebih berguna. Alasannya simpel, mahasiswa lebih mudah menjunjung idealisme sebelum akhirnya mengenal prioritas lain dan meneguk ludah dengan pahit. Saya cerita sedikit. Dulu saya pernah mencibir seorang kawan pekerja kantoran. Kerjaannya mengeluh di sosmed. Apa yang dikeluhkan, panjang, tidak usah dibahas. Sedangkan saya yang saat itu belum lulus kuliah tetapi kerja serabutan untuk menambah uang saku, dengan santainya berkata, jangan mengeluh, semua orang memiliki pasang-surut hidup masing-masing. Entah kesurupan jin mana, dengan ketusnya dia membalas, kamu bakal tahu sendiri jika kamu merasakannya. Sebenarnya saya mau menjawab, ya tapi tidak usah lah diumbar-umbar ke mana-mana laiknya pengemis, konyol kelihatannya. Untung saya mengutarakannya dalam hati, kalau tidak hubungan pertemanan kami sudah hancur.

Sekarang saya merasakan hal yang sama seperti yang kawan saya alami. Karma memang, saya merutuki nasib. Jika kamu tidak mau mengalami hal yang sama, tinggalkan tulisan ini dan lakukan sesuatu yang bermanfaat, memasak mie instan misalnya.

Sederet tokoh dalam manhwa Lookism.
Saya lanjutkan kembali, saya senang memerhatikan karakter orang-orang di sekitar saya, dan hal yang paling saya sukai saat membaca suatu kisah atau menonton film adalah perkembangan para tokoh di dalamnya. Dalam tulisan saya yang berjudul Ikon, manusia gemar menggunakan sesuatu yang merepresentasikan kegemaran atau kecenderungan mereka. Di kantor, saya seperti melihat akuarium dengan berbagai macam ikan hias, banyak sekali topeng dan simbol dalam atribut yang mereka kenakan.

Contohnya saja, ada yang melulu mengenakan kostum seronok dan setelah merasakan bagaimana akibat dari pandangan lelaki mata keranjang, perlahan-lahan kulit tubuhnya mulai tertutup, meski masih tidak semua. Ada yang memiliki tampang menarik, tetapi seolah tidak peduli apa tanggapan orang terhadap baju asal-asalan yang dia kenakan. Ada yang tampangnya biasa tetapi berusaha keras agar dipandang sedap oleh yang lain sehingga mengabaikan standar tampan atau cantik secara umum. Ada yang ingin menonjolkan karakter sangar mereka dengan bertato dan memiliki rambut khas preman pasar. Ada juga yang selalu berpakaian ala gypsy lengkap dengan kalung, gelang, anting di sekujur tubuh layaknya toko perhiasan murahan berjalan, dan banyak lagi.

Memang kenalan saya di kantor tidak banyak, setidaknya lumayan menambah pahala salaman biar tidak melulu yang disapa cuma kolega asal Indonesia. Saya juga beranggapan sebagai warga asing, kerja di tanah lain dan berkenalan dengan banyak warga asli adalah sesuatu yang merepotkan, kecuali di luar lingkup bisnis. Ibarat jika menghadiri suatu pesta, lebih baik berdiri di sudut daripada ikut bergumul di tengah dan menjadi sorotan kecuali terpaksa. Walhasil, lingkar pertemanan saya ya itu-itu saja. Saya tidak mau dikenal orang banyak kecuali situasi memaksa dan tidak mau tahu-menahu urusan orang kecuali mereka sendiri yang bercerita, sampai suatu hari saya menyadari bahwa saya sempat menjadi bahan gunjingan. Saya tidak tahu hal tersebut sampai seorang kawan menyampaikan langsung. Dia bilang, saya kutip kata demi kata, “You know, man. I envy you, you’re always looked so cool. You have this cool aura or something. We often spoke about you but hesitantly approach because you seem so distant.”

Seperti biasa, saya menjawabnya dengan memasang wajah dungu, tertawa, dan mengatakan not really beberapa kali, meski dalam hati saya menyangkal keras. Hidung saya tidak memerah atau kembang kempis karena tidak mengganggap itu pujian, dan sepertinya memang bukan. Melihat dari karakternya yang blak-blakan, apa adanya, supel dan tidak ragu dalam menyapa orang, khas tipikal seorang ekstrovert, mereka lebih memilih untuk mengatakan sesuatu yang tidak merugikan mereka. Terlebih lagi, dia cowok. Jika cewek yang mengatakan, mungkin pipi saya sudah seperti tomat. Saat saya bertanya apa alasannya beranggapan begitu, dia menjawab, kamu tidak pernah malu mengenakan jaket anime saat ke kantor. Padahal banyak penggemar anime di sini tetapi mereka malu berpakaian seperti itu, sedangkan kamu tidak. Lagi-lagi saya tertawa. Untung tadi muka saya tidak memerah.

Tetapi perkataan serupa juga sering saya dengar sebelumnya, kali ini dengan nada menyindir, yang paling saya ingat saat seseorang menyebut saya sebagai orang yang berkarakter dingin. Kemudian dia menjelaskan lebih lanjut, dingin karena seolah-olah berkelas dan berselera tinggi, yang bakal cuek jika disapa karena menganggap status yang tidak sama, yang selalu memasang tampang seolah-olah tidak peduli dengan dunia karena merasa sudah memiliki segala. Jujur saya tersinggung. Tentu saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan bagaimana kondisi keluarga saya dan lain sebagainya, tapi penting kiranya saya meluruskan satu hal: saya hanya ingin berpenampilan pantas sesuai selera, tidak lebih. Menarik atau tidak, terserah anggapan orang, tetapi banyak yang keliru bahwa saya harus berpenampilan trendi atau semacamnya. Mereka yang menganggap saya dingin, kemungkinan besar karena saya lebih sering memasang topeng tidak peduli terhadap orang-orang yang belum kenal atau akrab. Sebagian orang pasti menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak sopan, sok elitis atau apalah, apa daya saya seorang introvert yang sangat menghargai ruang privasi. Selama saya tidak melakukan sesuatu yang mengganggu, tentu saya sangat mengapresiasi untuk tidak diganggu juga.


Sekelumit kisah di atas dipaparkan dengan baik juga di Lookism. Meski bukan manhwa pertama yang saya baca, rupanya menyinggung banyak hal terkait favoritisme, kehidupan glamor selebriti dan dunia entertainment, terutama di Korea Selatan. Saya semakin menyadari beberapa hal terkait persepsi memang tidak bisa diubah. Manusia dinilai pertama dari tampang, kedua dari tubuh, ketiga dari pakaian. Manusia cenderung iri kepada seseorang yang berpakaian bagus, dan berakhir dalam dua hal: lamat-lamat mengikuti gaya tersebut tanpa mereka sadari, dengan mengorbankan banyak hal hanya untuk mengikuti tren, atau menabung sebisa mungkin dan selalu mengenakan baju yang mereka anggap prestisius atau masih setia dengan gaya yang biasa mereka kenakan.

Untuk kasus pertama, kebanyakan wanita begitu melihat barang yang mereka minati, tanpa ba-bi-bu segera membelinya meski harus mengorbankan uang saku. Saya banyak menemukan kasus tersebut terutama dari kalangan kelas menengah ke atas dan beberapa pria juga berperilaku sama (ingat prinsip Anima/Animus milik Jung). Sedangkan untuk kasus kedua, kebanyakan didominasi pria, meski tidak menafikan minoritas wanita, mungkin karena di sekitar saya cenderung didominasi oleh kaum penganut kantong tipis, mereka tidak peduli untuk beli barang baru selama barang yang lama masih bisa digunakan. Sekali lagi, tentu tidak semua seperti ini, dan banyak juga kaum wanita yang tidak mudah tergiur dengan hal-hal glamor. Jika kamu cowok lajang, belum punya calon, dan menemukan wanita macam itu, segera pinang. Jika boleh jujur, saya lebih respek kepada seseorang yang lebih mengutamakan kesederhanaan dalam segala hal. Bukankah Islam juga mengajarkan untuk tidak melihat dari penampilan saja? Pembelajar tashawwuf pasti mengamini.

Di Lookism sendiri tokoh utama digambarkan sangat sederhana. Dia berpenampilan menarik hanya karena dia menerima banyak baju berkelas dari sahabat karibnya, sedangkan uang hasil keringatnya dibelikan baju atau tas untuk ibunya. Dia anak tunggal, ibunya membanting tulang dengan memulung dan kerja serabutan demi menafkahi anaknya, dan sungguh, bagaimana hubungan keduanya untuk saling membahagiakan satu sama lain benar-benar menginspirasi. Tidak lain karena saya benar-benar berempati dengan tokoh utama. Membacanya, saya seperti melihat sosok diri sendiri meski dengan catatan: minus tampang keren dan tubuh tinggi nan atletis seperti model-model plastik.

Ibu dari si tokoh utama.
Tetapi sekali lagi, manhwa tersebut mengajari saya bagaimana seharusnya sikap seorang anak lelaki untuk ibunya, bagaimana lingkar kecil pertemanan seorang introvert akan berdampak banyak di kemudian hari jika ditunjang dengan persahabatan tanpa pamrih, bagaimana simbiosis introvert dengan ekstrovert bisa tercipta dengan baik, bagaimana persepsi manusia untuk menilai bakat selalu datang nomer dua setelah penampilan, bagaimana kemistri akan tercipta jika memiliki gaya pemikiran yang sama, dan tentunya bagaimana kerja keras untuk menghasilkan atau memperoleh sesuatu agar menuai hasil. 

Mungkin beberapa dari kita sudah pernah mendengar suatu pepatah, satu hal di dunia ini yang tidak mungkin mengkhianati kita adalah apa yang kita latih dan pelajari. Kamu ingin menjadi hafidz? Seringlah membaca dan mendengarkan murottal, tapi tolong jauhkan otak dari hasad dan menghasut. Kamu ingin pandai menggambar, menulis atau bermain musik? Seringlah berkarya dan tidak malu dicaci orang. Sebuah ilmu tidak mungkin tercapai kecuali dengan berkorban, komik Lookism dan bahkan dunia ini mengajarkan begitu. Hanya satu hal yang saya sesalkan dalam manhwa ini, ilustrator selalu menggambarkan tokoh berperangai buruk dengan penampilan yang buruk, sedangkan karakter yang baik juga digambarkan memiliki penampilan yang menarik. Padahal jika kita telaah kisah-kisah klasik, stereotipe penampilan buruk identik dengan jiwa yang buruk juga, merupakan teori kriminologi usang yang sudah lama ditanggalkan. Miris, padahal melihat dari jargon yang diusung komik ini bahwa penampilan bukan segala, tetap saja si ilustrator terjebak dalam stereotipe usang itu. Kemudian saya menyadari, barangkali itu yang diinginkan si ilustrator, agar pembacanya benar-benar jeli saat membaca cerita yang ia suguhkan bahkan sampai di luar konteks, atau saya yang terlalu berprasangka baik.

Lamat-lamat saya berpikir, saya sering menemukan bagaimana manusia tampan atau cantik, entah sadar atau tidak, sudah sering buang harga diri dan berperangai busuk, tapi bukan berarti semua seperti itu. Saya juga sering menemukan bagaimana seseorang yang berwajah buruk hatinya sama buruk, meski lagi-lagi, semua tidak seperti itu. Tapi perlu diingat, label kawan atau lawan, kita yang menentukan (untuk kalimat terakhir ini, saya ingin membantah meme yang lagi viral bahwa penyematan label kawan atau lawan, muslim atau kafir, dll, hanya digunakan oleh orang-orang liberal atau semacamnya. Naif sekali.)

Mungkin standar mengenali watak atau tabiat seseorang di era dijital ini dengan cara melihat apa yang mereka posting, semakin sering mereka memposting hal-hal yang berbau agamis, lumrahnya kita akan melabelinya sebagai orang yang agamis pula, padahal itu adalah kesalahan besar. Era dijital benar-benar era yang menjebak, banyak orang menilai sesuatu hanya dari kulit, baik itu karakter, bahkan informasi. Saya tidak tahu apakah ini merupakan ciri-ciri akhir zaman atau bukan, saya cuma bisa menyimpulkan satu hal: kita harus bisa melihat esensi dari segala sesuatu yang menarik perhatian kita sebelum menyimpulkan, kalau tidak, kita sendiri yang menanggung akibatnya. Mungkin bukan sekarang, tetapi saat ototmu sudah tidak lagi mampu menopang tulang, kamu akan tertawa dengan penuh sesal meratapi kesalahan yang sudah-sudah.