.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.



Suatu hari aku mencoba mengunjungi seorang dokter, istriku yang mengusulkan. Gara-gara mimpi sialan yang telah menghantuiku belakangan ini.

Aku tidak tahu apakah dia memang dokter, dia tidak mengenakan jas dokter yang warna putih itu. Setelan baju yang dikenakan lebih mirip mahasiswa pengangguran. Ruangan ini juga tidak seperti ruangan dokter pada umumnya. Ruangan ini memang bersih, dindingnya juga dicat putih seperti klinik-klinik dokter pada umumnya, tetapi aku tidak menemukan alat-alat yang seharusnya dimiliki dokter. Yang ada malah lemari besar berisikan buku, sebuah ranjang dan benda-benda lain entah apa fungsinya.

Yang aku tidak suka dari orang ini, senyumnya memang ramah, tetapi aku tahu dia hanya mencoba menggoda istriku. Matanya saat memandang istriku bagai hyena lapar yang sedang memburu mangsa. Aku tahu karena aku juga lelaki. Berulang kali dia mencoba berkelakar sampai istriku terpingkal-pingkal, kemudian istriku membalas candaan si dokter dengan menceritakan beberapa kejadian konyol yang menimpaku, padahal seharusnya itu rahasia kami. Sepertinya mereka berdua tidak melihat tanganku yang terkepal kuat sekarang.

Aku menatap tajam ke arah dokter tersebut. Aku berharap tatapanku mampu menghentikan pembicaraan mereka berdua. Dokter muda itu sepertinya sadar, dia berpura-pura terbatuk sambil membalikkan badan. Istriku masih tertawa riang. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu. Sangat lama. Aku tidak mau berkata aku cemburu karena jika seseorang cemburu, dia akan merasakan sensasi dada yang terbakar, pikirannya hanya dipenuhi rasa amarah dan bahkan dengan kalap dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku tidak seperti itu. Pikiranku tetap jernih. Tanganku memang masih terkepal, tetapi aku tidak memikirkan hal-hal aneh lain. Aku tahu karakter istriku, dia hanya sedang mencoba mencairkan suasana. Tetapi aku tidak suka jika dia menjadikanku sebagai bahan lawakan.

Si dokter muda mengambil beberapa lembar kartu dan memberikannya kepadaku. Dia menjelaskan, di kartu itu tertulis urutan angka dari urutan paling besar ke paling kecil. Aku disuruh untuk membuka dari tumpukan paling atas, menghitung angka yang tertulis di kartu dalam hati, dan meletakkannya kembali ke susunan paling bawah, begitu seterusnya. Katanya, metode ini adalah salah satu dari sekian banyak metode hipnotis dan hipnotis adalah cara paling efektif untuk mengetahui arti mimpi seseorang atau menghilangkan mimpi buruk yang menggangu. Omong kosong, batinku. Dia menyuruhku untuk memulai membuka kartu dan menghitung. Aku tidak yakin apakah terapi ini akan berhasil, tapi aku tetap melakukannya.

Waktu terasa berjalan lambat sekali, dan aku mulai bosan. Istriku melihatku dengan tatapan aneh. Aku tidak pernah melihat tatapannya seperti itu kecuali dulu, saat aku membawa seorang pria ke rumah.

~{Klik judul untuk baca kelanjutannya.}~


Kalau dulu kita selalu diwanti-wanti oleh orang tua untuk tidak pergi bermain selepas Maghrib, anak-anak Mesir bebas bermain setelah Isya selama dalam pengawasan. Kalau dulu main kelereng, atau nekeran, setiap anak punya gacoan – kelereng pilihan yang biasanya jadi andalan untuk menembak – kelereng yang anak-anak Mesir mainkan, biasa saja; hijau bening, polos tanpa motif, dan ukurannya pun sedikit lebih kecil dari kelereng yg biasa kita mainkan. Mereka tidak punya gacoan.

Gaya permainan mereka juga sama. Ada banyak jenisnya, tapi dasarnya sama, menembakkan kelereng kita ke kelereng lawan, dan bagi saya menembak kelereng dengan tangan itu susah sekali. Saya ingat betul, dulu pas kecil selalu berlatih sendiri di rumah, bahkan beberapa sahabat sampai rela datang ke rumah hanya untuk mengajarkan cara menembak kelereng. Tetap saja, tak ada hasil.

Maka ketika saya melihat ada beberapa anak Mesir bermain kelereng depan toko al-Kheir, Bawabat dua,  tawa dan muka serius mereka melempar saya kembali ke masa lalu.

Saya benci bermain kelereng. Benci karena kalahan. Tapi karena sakin bosannya diolok-olok kawan, saya pun memutar otak bagaimana agar tidak menjadi anak bawang. Tidak perlu menang, hanya untuk membuat mereka mengakui bahwa saya tidak sepecundang seperti yang mereka bilang. 

Suatu hari saya menemukan komik berjudul Super B-Daman di rental komik.

Para karakter dalam manga Super B-Daman
Ceritanya menarik. Sebagai seorang anak tentu saya menyukai kisah petualangan, persahabatan, kerja keras, kisah penebusan dosa, atau kisah-kisah mengandung moral yang mudah dipahami. Wajar, karena mental seorang anak menyukai sesuatu yang sederhana dan mudah dicerna. Semakin beranjak dewasa, kisah-kisah polos dengan bedak moral yang terlalu tebal malah membuat mual.

Untungnya, kisah dalam komik Super B-daman itu dikemas dengan beberapa plot twist yang cukup asyik dalam mata kanak-kanak. Saya bisa mengkhatamkan 15 jilid dalam hitungan jam dan hanya berhenti untuk sholat atau jika diingatkan makan.

Kemudian dua bulan lalu, gara-gara percakapan di kantor, saya iseng jelajah Tokopedia dan Bukalapak karena penasaran buku-buku apa saja yang mereka jual. Sekian lama melihat-lihat, tanpa sengaja saya menemukan komik yang sangat tidak asing, Super B-daman. Saya cengengesan, langsung saja saya kontak penjualnya tanpa pikir panjang. Bukan karena ceritanya yang sangat terkenang, saya membelinya untuk alasan nostalgik lain.

Komik itu berhasil membuat saya dari dari pecundang, bukan, bukan jadi pemenang seperti slogan-slogan buku motivasi, tapi trensetter.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Seberapa sering kita memejamkan mata, hanya tidur ayam, sembari menunggu pesan kita dibalas si dia, mau tidur malam karena sudah waktunya meski belum mengantuk, atau karena memang benar-benar sedang tidak ada kerjaan sama sekali? Mata terpejam, mulut dibiarkan separuh terbuka, nafas sudah diatur lambat-lambat, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Ada saja yang dipikirkan, seperti ratusan ‘seandainya’ dalam kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, mimpi-mimpi yang belum terlaksana, hutang-hutang yang belum terbayar dan bagaimana melunasinya, keran yang bocor, kucing yang mengeong, dan banyak lagi. Hal-hal yang sekiranya tidak perlu dipikirkan, tapi berloncatan begitu saja di dalam otak. Naasnya, mereka sering sekali bikin gaduh sebelum kita tidur, dan acapkali kita tertidur hanya dalam satu kondisi: letih yang sangat.

Hidup sebagai mahasiswa, misi mereka tidak jauh dari: kuliah, ujian, pacaran, bersenang-senang. Lulus dari kampus, kita diserbu ujian kehidupan selanjutnya: pekerjaan, gaji, rumah, keluarga, warisan. Tidak ada kata titik dalam kehidupan, lulus dari satu sekolah, masuk ke sekolah lain, yang terakhir sekolah kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang akan mewarnai pola kehidupan kita, terutama bagaimana kita mengatur diri dan aktivitas yang kita lakukan akan mempengaruhi kesehatan kita ke depan, terutama pola makan dan pola istirahat.

Saya tidak akan membahas banyak terkait pengaruh pola makan terhadap kesehatan, karena itu bukan bidang saya, begitu juga dengan hubungan erat tidur dengan otak dan bagaimana durasi tidur sangat berpengaruh ke kinerja jantung. Sebenarnya durasi tidur yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda sesuai umur dengan aktivitas hariannya, dan karena hal tersebut dapat ditemukan di banyak artikel kesehatan, tulisan ini tidak akan membahas itu sama sekali.

Kita akan membicarakan tentang posisi tidur dan kaitannya dengan karakter seseorang. Tapi sebelumnya, tolong buang jauh-jauh angka 69 dari pikiran kalian.

Profesor Chris Idzikowski, direktur dari Sleep Assessment and Advisory Service, mengadakan sebuah riset terhadap 1000 masyarakat Inggris. Hasil yang muncul, sangat mengejutkan. Ada enam posisi tidur dari sekian banyak posisi lainnya yang mengindikasikan karakter seseorang.

Lebih lanjut dia menyatakan, mengapa posisi tidur berkaitan erat dengan kepribadian orang, karena posisi tidur sama halnya dengan bahasa tubuh yang kerapkali dilakukan seseorang secara tidak sengaja dan mengekspresikan perasaan asli seseorang tanpa disadari. “Kita semua paham betul bahasa tubuh seseorang dalam keadaan terjaga. Sudah banyak buku beredaran di luar sana tentang bagaimana membaca bahasa tubuh seseorang, tetapi tidak banyak yang menjelaskan bagaimana kita bisa membaca seseorang dari gaya tidurnya.” Idzikowski menarik napas. “Lebih menariknya lagi, bagaimana posisi tidur seseorang itu memiliki makna yang tidak bisa kita duga. Bisa jadi di kesehariannya seseorang bersikap tegas, lantang, keras. Tapi gaya tidurnya menyatakan sebaliknya.”

Penelitian di atas juga menjelaskan bagaimana gaya tidur seseorang berkaitan dengan kondisi kesehatan. Semisal dalam masalah pencernaan dan masalah pernafasan, dua hal ini berkaitan erat dalam menentukan posisi tidur seseorang apakah dia akan menempel di dinding atau dalam posisi salto. Begitu juga apakah dia akan tidur mendengkur atau malah mengaum.

Berikut enam posisi tidur serta penjelasannya:


(Untuk selengkapnya, klik di sini

Awkward Moment

Tiba-tiba saya terpingkal. Untungnya saat itu tidak ada seorang pun di kamar, kecuali seekor kucing di atas pangkuan yang terbangun gara-gara tawa berisik seorang alien aneh. Saya terbahak dengan salah satu postingan di 9Gag, terkait seorang gamer saat diwawancarai,

“Apakah kamu mempunyai pacar?”

“Tidak.”

“Oh, maaf, sepertinya saya salah. Apakah itu berarti kamu punya cowok?”

“Tidak juga. Saya lelaki normal.”

Kesal karena gamer ini seperti menganggap remeh si pewawancara, dia bertanya lagi, “Lantas mengapa kamu tidak berusaha cari pacar? Dengan tampangmu, saya kira itu hal mudah.”

Senyum yang merekah di wajah sang gamer cukup mengejutkan. “Dulu saya pernah mengalaminya, lantas saya sadar. Tidak ada pengalaman dan kesan yang membuat saya sangat bahagia lebih dari pengalaman ketika bermain game.”

Lagi-lagi saya tertawa, tapi cukup dalam hati saja, jangan sampai si kucing terbangun dan mengeong-ngeong minta makan, sudah terlalu gemuk.  Apa yang dilontarkan oleh si gamer ini benar-benar persis seperti yang saya pikirkan. Bukan berarti saya mengatakan cinta itu tidak penting atau hanyalah hal sekunder, dsb, tidak, itu naif. Seperti kata aktor terkenal Liam Neeson dalam salah satu wawancaranya, cinta memiliki kekuatan tersendiri. Tapi bagi saya saat ini, dan menelisik ke belakang, saat di mana saya benar-benar merasakan jatuh cinta adalah yang bertepuk sebelah tangan ataupun terpaksa gagal kareka faktor luar, saya gigit jari.

Walhasil, saya merenung kembali. Jika cinta adalah permasalahan takdir, mungkin yang saya butuhkan kali ini bukanlah hal itu. Bahkan benar, semisal, pelbagai tulisan yang pernah diketik, baik yang inspiratif maupun menuai kritik, semua itu tidak berdasarkan motif asmara atau cinta. Hampir setiap ide yang menginspirasi karya, semua lahir dari proses pengalaman yang tercampur dengan nuansa magis saat membaca buku ditemani sebuah lagu, menonton anime, ataupun memainkan sebuah game.

Jadi mungkin lain kali jika ada teman-teman yang bertanya atas kejombloan saya, sepertinya cukup saya kirimkan saja tulisan ini kepada mereka *maniacally laughing*.

Oh ya, sebagai penutup. Serial Kidou Senshi Gundam terbaru: Tekketsu no Orphans, hemat pribadi lebih menarik daripada One Punch Man. Apa mungkin karena ada kedekatan emosional ya, jadinya saat mendengar ending lagu yang dibawakan oleh MISIA, seperti lupa jika minggu depan masih ada UAS, hahaha. Inochi no kate wa, senjo ni aru! Barbatos, ikou se!

Lalat Perusuh

Ilustrasi: etsy.com
Beberapa puntung Gudang Garam berserakan di bawah kaki. Dari tadi matanya tidak lepas dari sebuah masjid megah yang berdiri di samping kanan pertigaan jalan. Tidak jauh, hanya kisaran beberapa belas meter dari tempat ia berdiri. Tapi dia sengaja berdiri di sebuah sudut di mana sinar lampu jalanan tidak akan mengenai tubuhnya. 

Lagi-lagi dia mematikan rokoknya, dibuang begitu saja ke bawah, lantas mengambil sebatang lagi. Ekor matanya melihat tiga orang muncul dari balik kiri pertigaan. Mereka bertiga menggotong cangkul, dua belah papan, dua buah palang dan sebuah bungkusan dibalut sarung. Rokok yang hampir disumat pun kembali dimasukkan ke saku jaket. Tanpa dikomando, empat orang itu pun berjalan menuju masjid. Bungkusan sarung tadi dibuka. Ada satu botol berisikan cairan seperti minyak dan perkakas tukang yang hampir lengkap.  Dengan sigap, mereka melepas papan nama masjid, diganti dengan papan baru. Sebuah lubang digali di sampingnya, dipasangi palang dan papan juga.

“Papan yang lama mau diapakan, Man?”

Lelaki yang ditanya, tanpa menoleh, segera menyulut sebatang Gudang Garam yang dia ambil dari sakunya, “Bakar saja.” 

Setelah dua papan baru terpasang, mereka berempat segera membereskan peralatan, berusaha serapi mungkin untuk tidak meninggalkan jejak. Tiga orang yang tadi datang bersamaan, segera membawa papan lama using bertuliskan nama masjid, berjalan menuju tanah kosong yang tidak jauh dari sana dan membakarnya. Api yang menggelora dari minyak tanah dan bau kayu yang terbakar malah semakin membuat pulas warga di desa Sengkaleng. Setelah papan hanya menyisakan arang, sekonyong-konyong hujan turun mengguyur  desa. Kebetulan atau tidak, bahkan keempat pemuda ini tidak memperhitungkan nasib baik ini.

Masih di bawah guyuran hujan, adzan subuh berkumandang. Jamaah subuh juga cuma sedikit. Yang biasanya sebaris penuh, kini malah cuma lima orang sepuh. Dalam sholat juga acapkali mereka mengusap-usap mata. Para mahasiswa yang mengurus masjid sedang pergi entah ke mana. Papan yang sudah terganti semalam juga belum diperhatikan, masih hujan. Baru ketika matahari sedikit tampak dan pintu-pintu rumah mulai terbuka, Sengkaleng dikejutkan oleh dua papan bertuliskan: ‘Tanah milik Negara’ dan ‘ Masjid milik Tuhan, bukan milik Golongan’ yang berdiri di depan masjid As-Sakinah.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Terminal Wajah


Alam bahkan jelas melihat dua lelaki itu sama sekali tidak mirip. Tapi seorang ibu dengan tampilan kosmetik seperti topeng pantomim sedari tadi tidak henti-hentinya mengoceh dan bersikeras betapa salah seorang penjaga yang berdiri dekat pintu masuk sangatlah mirip dengan suaminya. 

Duduknya perempuan tua itu lumayan jauh, hampir empat baris di belakang dia duduk, Alam sempat menghitung. Tetap saja suara wanita paruh baya tadi mampu mengalahkan suara-suara bising di bandara ini. Sekali lagi, Alam melihat ke belakang, memperhatikan dengan seksama antara suami wanita tadi yang kini entah dengan apa lagi bisa menyembunyikan malunya selain dengan gugup berusaha merapikan kacamatanya. Kemudian perhatiannya beralih ke si penjaga. Alam memicingkan mata. Apanya yang persis? Lelaki berbaju putih rapi itu terlihat tegap, dengan tubuh atletis dan wajah yang mungkin selalu diidamkan oleh para wanita. Matanya yang tajam, hidung mancung, rahang yang terlihat kokoh, serta perbandingan tulang pipi yang tidak terlalu tirus dan gemuk. Ah, si suami hanya memiliki persamaan dari mata dan hidung. Tubuh, tulang pipi, apalagi rahang, jelas-jelas menonjolkan kerja lelaki ini cuma di balik meja. 

Celotehan si ibu tadi menarik minat beberapa wanita sebaya. Akhirnya ada empat orang istri, ramai mengobrol dengan nyaringnya, meninggalkan empat orang lelaki dengan pikirannya masing-masing yang sibuk menjaga barang-barang mereka. Sebelum Alam kembali mengatur duduknya kembali, dia sempat menangkap lelaki berkacamata –yang kata istrinya mirip penjaga di pintu masuk tadi– menunjukkan tangannya ke arah kamar mandi umum. Istrinya tidak menggubris. Si suami tadi berjalan gontai ke sana. Alam melanjutkan bacaannya sebentar sebelum kemudian ikut menyusul ke arah yang sama.

Wajah lelaki tadi sedang menatap cermin di atas wastafel dengan muka bagai jeruk purut. Sedikit-sedikit dia melenguh. Alam pun tidak berani mengganggu. Semua toilet kosong, tetapi kakinya memilih memasuki kamar mandi paling pojok.

“Sial, sial!”

Alam mendengar dari dalam kamar mandi, sesekali si wajah jeruk purut merutuki diri. Dia mengeluhkan istrinya, yang selalu menuntut, yang selalu membanding-bandingkan, yang tidak pernah bisa membiarkan hidupnya tenang. Lama dia berceloteh tentang wanitanya, sampai terdengar sebuah balasan. Lambat laun jadi obrolan. Alam yang masih belum menuntaskan hajatnya, bingung. Bukannya tadi cuma ada dua orang di sini? Perasaan tidak ada orang lain masuk. Tidak ada suara pintu dibuka, kalau iya suara denyitnya pasti kentara.

Alam menangkap si pemilik suara kedua mirip sekali dengan suara si suami, hanya lebih ceria. Keduanya pun mengobrol santai. Dari nadanya, mereka sangat akrab. Mungkin saudara atau kerabat jauh. Alam berusaha tidak acuh karena ada urusan lain.

Selesai menamatkan hajatnya, Alam menemukan si wajah jeruk purut tadi sudah berganti jadi wajah matahari. Senyumnya benar-benar merekah. Mata Alam mengedar ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa lagi di situ. Lantas dengan siapa tadi bapak itu berbicara?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Ilustrasi dari 'Dream of Butterfly' milik Zhuang Zi
Ketika kita mendapatkan sebuah memori memiliki perasaan yang teramat menyakitkan untuk dikenang, kesadaran diri akan menekan memori tersebut masuk ke dalam alam bawah sadar sebagai bentuk pertahanan diri dan kenangan tersebut lambat laun akan terlupakan, tapi tidak hilang seutuhnya. Begitu juga untuk kenangan teramat indah yang mampu memaksa otak untuk memimpikannya berulang-ulang. Menariknya, jika memori secara sadar mampu tertimbun ke dalam alam bawah sadar, apakah mungkin alam bawah sadar memunculkan sebuah ide atau gagasan yang tidak berasal dari kesadaran?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kembali pada tahun 1961. Pada penghujung hidupnya, Carl Gustav Jung menulis sebuah artikel (yang dicetak pada sebuah bunga rampai pada sebuah buku bertajuk, 'Man and His Symbols') mengangkat krusialnya fungsi mimpi seorang manusia dalam menentukan jati dirinya. Selama ini mimpi selalu memproyeksikan beberapa simbol, tetapi lantas apakah simbol tersebut bisa serta merta dianalisa hanya dengan mengacu kepada sebuah buku dan mencari kemiripan simbol yang muncul dalam mimpi di buku tersebut? Tentu tidak dan tidak akan bisa.

Dalam dunia simbol, kita mengenal simbol kolektif dan simbol individual (pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya yang berjudul 'Ikon'). Simbol kolektif tentunya representasi dari simbol dari kesadaran majemuk dan menyatakan bahwa simbol tersebut memiliki makna umum yang bisa diketahui bersama, seperti: tengkorak sebagai simbol kematian, matahari sebagai simbol kehidupan, dan pelbagai simbol lainnya terutama dari pelbagai mitologi kuno. Sedangkan simbol individual ditampilkan sebagai corak khusus manifestasi diri untuk menunjukkan ego. Contoh paling lugas dan simpelnya, jika sebuah perusahaan membutuhkan logo yang unik untuk merepresentasikan 'wajah' mereka kepada masyarakat, maka tiap orang memiliki tanda tangan yang baik dari guratan, garis lengkung, tekanan, sudut tajam, dan banyak faktor lain pastinya berbeda antara si A dengan B dan seterusnya (rujuk ke grafologi untuk informasi lebih lanjut) ataupun pelbagai atribut yang melekat pada tubuh yang menandakan bahwa inilah trademark mereka.

Maka mimpi, sekali lagi, adalah proyeksi simbolik yang ingin ditunjukkan alam bawah sadar kepada kesadaran. Meski dalam dua mimpi atau lebih terdapat kesamaan simbol di dalamnya misalkan, dalam mengintepretasikannya musti merujuk ke personalia masing-masing. Setiap individu memiliki pengalaman, kenangan, pembelajaran, idealisme dan sisi religius yang berbeda, maka tidak mungkin kita menafsirkan semua simbol kunci dan lubang kunci dengan hasrat seksual seperti yang dikemukakan Freud, tetapi Jung mengembalikan mimpi kepada si empunya. Ada titik tolak yang berbeda untuk setiap personalia. Bisa jadi lambang kunci dan lubang kunci menunjukkan satu hasrat seksual untuk mereka yang berlibido tinggi, dan bermakna harapan, kesejahteraan dan kesahajaan untuk lainnya, seperti yang dituangkan Campin dalam lukisannya pada sebuah altar di abad ke-15.

~{x-Klik judul untuk membaca kelanjutannya.-x}~