.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Lalat Perusuh

Ilustrasi: etsy.com
Beberapa puntung Gudang Garam berserakan di bawah kaki. Dari tadi matanya tidak lepas dari sebuah masjid megah yang berdiri di samping kanan pertigaan jalan. Tidak jauh, hanya kisaran beberapa belas meter dari tempat ia berdiri. Tapi dia sengaja berdiri di sebuah sudut di mana sinar lampu jalanan tidak akan mengenai tubuhnya. 

Lagi-lagi dia mematikan rokoknya, dibuang begitu saja ke bawah, lantas mengambil sebatang lagi. Ekor matanya melihat tiga orang muncul dari balik kiri pertigaan. Mereka bertiga menggotong cangkul, dua belah papan, dua buah palang dan sebuah bungkusan dibalut sarung. Rokok yang hampir disumat pun kembali dimasukkan ke saku jaket. Tanpa dikomando, empat orang itu pun berjalan menuju masjid. Bungkusan sarung tadi dibuka. Ada satu botol berisikan cairan seperti minyak dan perkakas tukang yang hampir lengkap.  Dengan sigap, mereka melepas papan nama masjid, diganti dengan papan baru. Sebuah lubang digali di sampingnya, dipasangi palang dan papan juga.

“Papan yang lama mau diapakan, Man?”

Lelaki yang ditanya, tanpa menoleh, segera menyulut sebatang Gudang Garam yang dia ambil dari sakunya, “Bakar saja.” 

Setelah dua papan baru terpasang, mereka berempat segera membereskan peralatan, berusaha serapi mungkin untuk tidak meninggalkan jejak. Tiga orang yang tadi datang bersamaan, segera membawa papan lama using bertuliskan nama masjid, berjalan menuju tanah kosong yang tidak jauh dari sana dan membakarnya. Api yang menggelora dari minyak tanah dan bau kayu yang terbakar malah semakin membuat pulas warga di desa Sengkaleng. Setelah papan hanya menyisakan arang, sekonyong-konyong hujan turun mengguyur  desa. Kebetulan atau tidak, bahkan keempat pemuda ini tidak memperhitungkan nasib baik ini.

Masih di bawah guyuran hujan, adzan subuh berkumandang. Jamaah subuh juga cuma sedikit. Yang biasanya sebaris penuh, kini malah cuma lima orang sepuh. Dalam sholat juga acapkali mereka mengusap-usap mata. Para mahasiswa yang mengurus masjid sedang pergi entah ke mana. Papan yang sudah terganti semalam juga belum diperhatikan, masih hujan. Baru ketika matahari sedikit tampak dan pintu-pintu rumah mulai terbuka, Sengkaleng dikejutkan oleh dua papan bertuliskan: ‘Tanah milik Negara’ dan ‘ Masjid milik Tuhan, bukan milik Golongan’ yang berdiri di depan masjid As-Sakinah.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~