.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.



Sepi mengantar kamboja turun ke kawan
hingga berhantu dikoyak malam-malam purnama
Mendengar sebentuk senyap dilantun gitar
mampir dan tersesat, dari sebongkah hati lenyap 

Kalong-kalong dungu bilang itu orang -
gila, baik nasibnya
Tak khawatir separuh wajah dibentuk
atau sepasang mata yang sama lain tak melihat

Bukan sayap ia kepak
tapi sepasang bara yang sempat ia tahan

Ditangkapnya seorang gadis berkejaran dengan bayang
Takut serupa karma menjadi langkah beban 
Ramai di belakangnya puluhan setan menjelma merah
dan kelelawar yang begitu saja tertawa


Mau mati rasanya pekak membingar
Ditutup tawa dan kabut tebal
dikiranya kelimut, membentuk selimut
musuh dibalik itu tak tampak

Mati saja dihadang pasukan hujan
melati melentik putihnya menghitam
Dikira angin membuat lega
Ah, perih menusuk di bawah sana!

Mau mati melihat cahaya itu kembali
Yang datang, mereka sumringah
Siapa teriak?
Surti menangis di bawah pohon Jati

Puisi bukan semena-mena untaian kata-kata yang indah yang diracik sedemikian rupa, dengan maksud tertentu, lantas disuguhkan begitu saja seperti melepas burung dari kurungan menuju alam bebas. Kemudian pujian demi pujian bertubi-tubi datang. Ada yang memuji diksi, ada yang memuji metafora, ada yang mengkritik sudut pandang.

Puisi bukan sekedar karya yang tertuang untuk menuai sanjung. Juga jangan disempitmaknakan sebagai ‘puisi kamar’. Sekedar sebuah karya hasil curhatan yang meletup sesat, tidak ada simbiosis dari fenomena sekitar atau tidak mampu menenggelamkan pembaca dalam melankoli penyair. Walhasil, cuma kata-kata serapah yang dibalut madu jadinya. Atau katakan, ungkapan-ungkapan rindu dibalut kemelut yang menebar simpati. Bakal hangus oleh waktu jika ‘perenungannya’ kurang.

Jika diibaratkan puisi sebagai fondasi, maka pantun sebagai bagian kesusasteraan Indonesia adalah tonggak sejarah peradaban Indonesia. Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen.), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.

Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa, memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.
Maka, sebenarnya apa itu puisi?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Kami Pemuda Utopia...

Ideal pemuda menjadi kunci masa depan bukanlah utopia. Menyorot kasus anarkis yang dilakukan para senior sampai menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa ITN Malang, sebenarnya bukan berita baru. Tetapi peristiwa lama yang sering berulang, jika dibiarkan, akan menjadi hal yang lumrah. Bahkan bisa berakar menjadi kebiasaan jika tidak ada langkah preventif yang diterapkan sebagai solusi. Belum lagi berkembangnya tradisi pop yang menyeleweng, maraknya generasi konsumtif serba instan dan condong hedonis  yang semakin menjangkiti generasi muda sekarang dan banyak hal lain yang semakin mengaburkan harapan akan menjadi generasi pemuda sekarang.

Permasalahannya, dalam kasus ini, siapakah yang bersalah? Apakah patut kita menyalahkan generasi muda saja? Ataukah lembaga dan institusi pendidikan? Bisa jadi orang tua dan lingkungan sekitar-lah tempat kita menuding sebagai pucuk penyebab degenerasi moral para pemuda?
Beragam faktor dan variabel yang muncul ketika membahas kemerosotan moralitas suatu generasi menjadikan kasus ini tergolong unik. Maka dalam memecahkan persoalan tersebut, tidak bisa sekedar melalui satu perspektif, harus diurai satu-persatu pelbagai fakotr yang terkait, baru bisa dipreteli satu persatu.

Dalam Psikologi Pendidikan, sebenarnya sudah diperkenalkan tiga faktor utama pembentuk dan pemengaruh karakter seseorang, yaitu: rumah, sekolah dan lingkungan. Keluarga, kerabat dan segala media edutainment yang terdapat di rumah, baik visual, cetak maupun audio, semuanya merupakan sarana pembentukan karakter dan paradigma. Jelas faktor utama adalah yang pertama. Interaksi yang lahir antara sang anak dengan pelbagai perkakas kehidupan di sekitar ia berdiam, kemudian segala informasi yang ia tangkap dan ia proses tatkala berumur 1 – 6 tahun, akan menjadi patokan akan menjadi seperti apa dia akan berkembang. C.G. Jung menyatakan bahwa memori seorang anak pada umur belia masih belum sanggup memilah informasi yang ia terima. Apapun akan ia lahap. Hal ini sepertinya diikuti oleh Dorothy Law Nolte, seorang penulis asal Amerika yang terkenal akan puisinya, “Children Learn What They Live:

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


Dorothy Law Norte
Sedikit terjemahan bebas dari puisi tercipta pada tahun 1972 tersebut, Dorothy mengatakan bahwa seorang anak akan belajar memaki jika ia dibesarkan dengan celaan, ia akan selalu menyesali diri jika selalu dihina, ia akan belajar percaya diri jika selalu dimotivasi, dan seorang anak akan belajar menemukan cinta jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan. Tetapi tentu saja, pernyataan tersebut tidaklah akurat. Dalam faktualnya, akan banyak faktor yang mempengaruhi diri seorang anak dalam perkembangannya dan membentuk suatu pola teratur dalam setiap orang. Jung menyebutnya sebagai arketipe.

Peristiwa yang  menimbulkan jejak kuat pada memori seorang anak, boleh jadi akan menjadi pemicu baginya dalam pelbagai tindakan yang akan ia lakukan saat besarnya nanti. Kasih sayang yang diterima seorang anak sejak dini, tetapi terputus total karena perlakuan dari si orang tua pada umur 10 – 15 tahun misalkan, akan menyebabkan sang anak lari mencari rasa nyaman dan apresiasi dari teman sebayanya. Akibatnya, rumah baginya tidak lagi sebagai tempat anak berpulang, melainkan hanya sebuah media ‘kosong’ yang malah semakin menambah beban mental. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pelepasan segala penat yang ia dapatkan di luar rumah, berubah menjadi alat lain penambah masalah. Kasus ini selalu terjadi jika rumah kehilangan fungsinya, yang bisa disimpulkan jika hal ini terjadi: orang tua yang acuh.

Seringkali kasus bermula ketika orang tua tidak lagi peduli pada perkembangan jiwa anak melainkan hanya melihat elevasi unsur ekstrinsik saja, seperti prestasi, akademik, uang jajan dan sebagainya. Lantas orang tua terlalu memaksakan ideal mereka kepada sang anak, hingga akhirnya ideologi anak pun terkurung atas nama ‘penghormatan.’ Hal ini berlaku jika tidak adanya keterlibatan untuk saling memahami, antara si anak dengan orang tuanya. Jika kasus ini terjadi, akan lahir pola ‘pemberontakan’ pada diri sang anak yang menyebabkan dia selalu menentang sistem dan peraturan. Lagi, akibatnya akan muncul sebuah tendensi untuk selalu bersikap keras kepala, condong adu otot dan selalu ingin menang, dihormati dan dihargai.

Seharusnya, orang tua perlu menyadari akan perubahan sikap yang terjadi pada anaknya. Sayang, acapkali para wali lebih menyalahkan sekolah dan menuduh para guru bahwa mereka ‘tidak berhasil mendidik anak.’ Begitu juga dengan pemaksaan harapan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh sang anak. Memang, orang tua lebih banyak memakan asam garam kehidupan dan lebih mengerti beribu palang yang bakal merintangi kehidupan anaknya, sesuai dengan apa yang mereka pernah alami dulu. Tetapi zaman juga terus berubah, itu kenyataan. Kita tidak bisa hidup di masa lalu, karena itu seyogyanya orang tua dan anak saling bekerjasama, saling berkomunikasi aktif dan sama-sama mencapai satu kesepakatan dan kepemahaman untuk saling menghidupi. Andaikata hal ini tercapai, maka generasi muda mampu mengeluarkan potensi-potensi paling cemerlang yang mereka miliki.


Saat mengajar kuliah, Jung sempat menekankan pentingnya keterlibatan emosional dalam membentuk dan mendidik seseorang, karena signifikansi pendidikan dan pembentukan karakter anak akan sangat menentukan manusia seperti apa ia menjadi. Sejalan dengan konsep ta'dib Naguib al-Attas, pendidikan dan pengajaran moral itu berjalan sebaris, satu tujuan. Berhubung pelbagai inovasi dan kontribusi lebih sering muncul dan lebih dapat tersalurkan ketika muda. maka seyogyanya yang tua membantu yang muda dalam pembenahan dan penanaman kembali bibit-bibit luar biasa kepada yang muda. Tapi perlu dicatat, mereka juga harus melihat faktual dan bekerjasama dengan yang muda untuk saling bersinergi menghasilkan yang terbaik bagi kesemuanya. Jika hal ini tercapai dan diterapkan dalam ranah nasionalisme dan atas nama agama, misalkan. Maka tidak ada istilah pemuda yang bereuforia dengan kegalauan dan hedonisme mereka. Pemuda utopia jadi paradoks.

-------------------------------------
Pernah diterbitkan dalam majalah La Tansa dengan versi yang lebih singkat pada edisi Oktober.

"What Teachers Make"



Inside the dining room owned by a lawyer, there sat a several guests from different jobs whom he had invited. One of them is a banker, one is a doctor, one is a teacher, and others were from various jobs. The dinner was simply begun with the host’s speech. The lawyer questioned the problem with the teacher, “What is a kid going to learn from someone who decided his best option life was to become a teacher? The guests all laughed, but one.

The lawyer continued, “You know,” he glanced to everyone. “People studied, and those who excelled in what they learnt, they chase after their dreams. Just like us, sitting here. But those who were unlucky, teach.” Again, everyone burst out their laugh. Their laughter brought them to tears, anyone but Taylor Mali. He decided to bite his tongue instead of following along his colleagues, and resisted the temptation to remind the dinner guests that it is also true what people said about lawyers. But he held his tongue. After all, this is a polite conversation held in a dinner reserved by a lawyer himself.

“Well, I mean, you’re a teacher, Taylor. Be honest, what do you make?” suddenly the host addressed the question into Taylor.

“You really want to know?” Taylor angered. He let out the urge which he had long kept. “You want to know what I make? I make kids work harder than they ever thought they could. I can make a C+ feel like a congressional medal of honor for those who are not the brightest, and an A- feel like a slap in the face for the brightest ones. I have kids sit through forty minutes of study hall in absolute silence at exams. I didn’t let them to go to the bathroom? Because why? They are bored, that’s why. I could distinguish those who really were going to the lavatory and those who pretended.”

“And do you what else I make? I make parents terrible in fear when I call home. I make parents see their children for who they are and what they can be. I make them question. I make them criticize. I make them apologize and mean it. I make them write. I make them read, read and read. I make them spell, over and over and over again until they will never misspell either one of those words again. I make them show all their work in math and hide it on their final drafts in English. I make them understand that if you’ve got brain and follow the heart.”

Gritting his teeth, Taylor walked into the lawyer’s seat, clenching his hand. “You want to know what I make? I make kids wonder. I make them recognize the world. Here, let me break it down for you, so you know what I say is true. Teachers make a lot difference. Now, what about you?” He walked out the room, leaving the lawyer and the guests swallow their silence.

This dialogue actually happened, experienced and expressed in a famous American slam poem (free verses) which has won four winning teams at the National Poetry Slam competition. The poem’s title was ‘What Teacher Make’ by Taylor Mali.

Taylor was a teacher. He worked as an English, History and Math teacher for 9 years and continues to be an advocate for teachers all over the world. This poem would make very good follow-up to the Erica Goldson graduation speech. While the education system nowadays might not be perfect, teachers are the unsung heroes of the education system and there is nothing for them but praise and respect for the profession. Teachers can make all the difference – having a mediocre one can really damage a student’s potential, but the right one can inspire a child to greatness.

‘What the teachers make’ is all what Taylor insisted. The students are not to do only what they were told. They should ask questions. They must not mindlessly memorize then regurgitate facts and figures. They must not write out an entire essay for homework, memorize it, only to promptly forget it and move on to the next assignment. Well this could be good in some way. Those who followed along the system most prominently are near the top of the class. But on hindsight, did they learn much? While the pattern still continued as they went on to college, and yes, the piece of paper the students received at the end of university did help them to land a job. But did they finish their purpose in a proper way?

While basically managing the student’s activities in school and offering them the basic knowledge, the teacher’s duty is to bring out the potential in every student, maximize it, teach them the right manner and guide them in the proper way. Before doing so, teachers must come in term with their selves, do they love their jobs or not? If someone teaches hatefully, they will not do as well as those who love it. Rather than just having an effect on the teacher himself though, it trickles down into children. How well the students learn the subject, their interest in that subject, their desire to be at school sometimes, will be determined by how well the teachers could appoint it to them, how great the life at school is ever be.


After all, the good education system will never allow the students to be a robot wandering the streets mindlessly without having a single clue about what he wants to do in his life. Becoming a teacher is not only to make students excel in every subject. They must able to be acquainted with them professionally (as the teacher and student relationship) and emotionally (as befriending them, becoming the guidance whom replaces parents at school). Teaching is not a simple profession. While maintaining the proper acquaintance, they must able to guide the students to utilize what they learn in the best of what should they become. So, we ordinary people still, what do we make?

---------------------
Once published in La Tansa magazine, December edition.

Permainan Jiwa

Di antara sekian banyak buku psikologi yang berjejer di etalase utama Gramedia untuk buku-buku terbaru, cuma yang putih, tebalnya tidak seberapa, tapi dihiasi dengan warna-warna dasar mencolok mata, serta beberapa aksara kanji Jepang yang waktu itu satu-satunya buku yang meningkatkan rasa penasaran saya. Judulnya Kokology. Tujuh tahun silam, umur peristiwa itu. Kejadian yang memaksa saya untuk selalu memandang seseorang bukan dari sekedar kulit.

Selang beberapa bulan setelahnya, di tempat yang sama, edisi kedua muncul. Kali ini warnanya kuning. Sedikit lebih tebal dari edisi sebelumnya, tanpa ragu saya langsung merogoh dompet. Beruntung masih ada sisa beberapa lembar rupiah bergambar pemetik teh. Sampai di rumah, buku tersebut saya cerna dan menikmatinya perlahan.

Kokology, percampuran dari bahasa Jepang dan Latin. Kokoro, yang berarti jiwa atau semangat, dengan logos alias penelitian atau ilmu. Kedua pengarangnya, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito, masing-masing adalah professor dan ahli jiwa tersohor di Universitas Rissho dan Waseda, Jepang, banyak mengambil analisa serta teori dari para bapak psikologi modern, Freud dan Jung. Terutama karena teori alam bawah sadar mereka.

Kasus-kasus yang diangkat dalam kedua buku itu masih sama. Bagaimana mengetahui pola dasar pemikiran atau reaksi manusia terhadap segala sesuatu, yang sekiranya remeh sekalipun. Hubungan lawan jenis, masalah relasi, pekerjaan, corak kecerdasan, kecenderungan justifikasi, dan banyak lainnya. Buku tersebut tidak bercerita, tetapi kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang ditulis halus untuk mengajak alam bawah sadar para pembaca mencuat ke permukaan. Dari awal pembukaannya saja, editor sudah mengingatkan, “Lebih seru kalo buku ini dibaca berbarengan. Dua orang, bahkan lebih!”. Tetapi yang lebih berkesan adalah pesan dari si pengarang sendiri, “Jawablah dengan jujur dan apa yang pertama kali muncul di benak anda.” 

Soalnya mudah saja. Semisal, bayangkan anda mengendarai bus atau kereta bawah tanah, lantas mendapati sebuah kursi kosong. Anda pun bergegas untuk duduk di sana. Pada saat itu juga, seorang pemuda/pemudi lain (sesuai dengan gender anda) juga berjalan ke sana dengan niat yang sama. Mana yang akan anda lakukan di antara tiga opsi ini: dengan tidak segan segera duduk di kursi tersebut, segera mempersilahkannya, atau melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan? Silahkan jawab dalam hati.

Sekilas, soal tersebut hanya memperlihatkan sejauh mana tingkat toleransi kita. Padahal, Isamu Saito sengaja tidak menghadirkan pengendara lain sebagai manula misalkan, atau seorang ibu hamil, karena dalam hal ini, penulis dan saya sendiri juga lebih setuju pada pendapat Rousseau bahwa aslinya manusia itu welas asih. Dengan menyajikan manula atau bumil, jawaban pertama pembaca pasti: langsung mempersilahkan duduk. Tapi dengan kata ‘pemuda/pemudi’ yang bermakna sebaya, perlahan tapi pasti, pembaca digiring untuk bagaimana dia bereaksi dalam relasi antar sekitarnya dan konsekuensi yang diambil.

Langsung duduk tanpa segan, misalkan. Orang yang menjawab ini, mengerti apa yang dia mau dan apa yang bukan. Pengalaman bejibun telah mengajarkan, sangatlah tidak masuk akal untuk menderita demi orang lain, jika akibatnya ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dalam meniti hidup, tidaklah salah untuk menyakiti hati beberapa orang. Pertimbangannya ambisi dan ego.

Langsung mempersilahkan yang lain untuk duduk. Tidak lain karena dia terlalu cemas akan pendapat orang lain terhadapnya. Dia selalu menginginkan orang lain menganggap dirinya baik, indah, bagus, sehingga dia pun berlaku demikian. Orang-orang di sekitar pun menyebutnya easy going. Padahal aslinya, dia kurang memiliki pendirian. Hampir tiap kali dalam sebuah kesempatan kompetitif, dia rela menjadi tumbal agar yang lain semakin maju.

Yang terakhir, melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan. Pada titik ini, anda pasti sudah bisa menebak, apa maksud jawaban ketiga ini dalam perspektif Kokologi. Ya, mereka yang menjawab ini, selalu melihat sesuatu dengan garis besar. Yang memilih jawaban ketiga selalu mempertimbangkan perasaan atau pemikiran orang lain sebelum mengambil konklusi. Tentu, karena dunia tidak berputar di dirinya saja. Meskipun, kerugian yang ditanggung adalah keputusannya sendiri.

Banyak juga soal-soal lain yang ditujukan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ketika anda mendapat kesempatan untuk mendesain mug biru polos dengan empat pilihan motif, misalkan, maka mana yang anda sukai? Antara garis-garis lurus (horisontal atau vertikal, terserah), polkadot, garis-garis lengkung serupa ombak, atau motif kotak-kotak? Jawaban yang dipilih menegaskan bagaimana metode kita dalam mendekati masalah atau memberi solusi. 

Dalam menjalani hidup, manusia selalu penuh dengan pertimbangan. Atas konsekuensi yang akan dihadapi. Perhitungan untung-rugi. Keseimbangan. Dan pertimbangan tersebut tidak melulu terbatas pada objek materiil, tapi begitu juga dalam humanisme (sudut psikologi). Aksi dan reaksi, dan sikap yang kita berikan kepada lawan bicara, sejenis atau lawan jenis. Semuanya berdasarkan alam bawah sadar. Di mana alam bawah sadar merupakan proyeksi pengalaman seseorang yang sangat berkesan dalam, dan selanjutnya mempengaruhi pola dan tindak pikir.

Seseorang yang berkemampuan untuk menganalisa gaya berpikir dan sifat seseorang, lantas mendeduksi respon terbaik dalam berbicara atau bersikap kepada mereka, rentan memiliki daya manipulatif terhadap sesama. Dengan mudahnya dia dapat mengendalikan tendensi yang paling cocok dalam segala sesuatu. Jung menyebutnya sebagai Persona. Meski hampir semua orang memiliki Persona majemuk, bukan sekedar tunggal. Entah dia cakap menilai orang atau tidak. Tentu karena manusia cenderung memilih jalan pendekatan yang mereka nilai ‘baik’ dalam mengambil atau menyatakan sesuatu. Cuma ‘mereka yang dilabeli maksum olehNya’ dan orang-orang bijak saja memiliki kapabilitas untuk mampu mengukuhkan ideologi selaras dengan idealisme dan realisasi, tidak goyah dalam tindakan, dan benar-benar pantas menanggung amanah sebagai sosok pemimpin yang ideal.

Ah, andaikata banyak orang seperti itu, dan mereka benar-benar berani untuk mengenal dan dikenal, pastinya masyarakat di sekitarnya bakal berubah. Masisir, contoh kecilnya. Saya acapkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan Kokologi kepada beberapa orang, untuk mengenal kepribadiannya lebih dalam. Seperti soal di mana pada suatu pesta atau perkumpulan, anda diwajibkan untuk duduk di antara tiga kursi: kiri, tengah, atau kanan. Mana di antara kursi tersebut yang anda rasa paling nyaman untuk diduduki, dan kira-kira apa warna tersebut? Mereka yang memilih tengah, didominasi dengan tipikal sosialis yang enggan bekerja sendiri. Sedangkan warna yang dipilih adalah bakal penentu hasrat bawah sadarnya untuk menjadi apa dalam perkumpulan tersebut. Merah bermakna pecinta kerjasama, harmonisasi dan konsolidasi. Pink memiliki rasa solider dan kesetiaan yang kuat, dan banyak makna dari warna lainnya. Dalam dunia yang penuh permainan jiwa ini, kita memilih mau jadi apa, bagaimana dan untuk apa? Pemain, atau yang dipermainkan? Jangan biarkan pertanyaan konyol ini terbuang bersama gugur dedaunan.

Pemuja Lilin


Muka bertemu, lidahku batu
Padahal mentari sudah menyelip di balik ufuk
belai hangat hati santun
Padahal murai berkicau asyik di beringin
menyapa kilau ratusan embun

Pasti hatiku kejut kala kau
dan tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam
dan pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan
atau manis tutur kata, jelmaan Emily untuk Gilbert
atau hidung yang penjarakan Sinta di kalbu Rahwana

Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif,
ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan

Bagi sang pria, lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Tapi nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati
Kamu tahu?

(revisi dari: Empati)





Jalannya tertatih, ringkih, hembusan nafasnya yang terputus-putus seperti berpacu detik dengan malaikat maut. Mata tua yang mudah meredup dan celana coklat butut yang ia kenakan, mungkin pasangan sejati yang pertama kali ditangkap semua orang yang melewatinya. Tentu dengan tidak melewatkan sebuah kaos putih yang selalu ia pakai.

Dan inilah kami. Lagi-lagi bertemu begitu saja, di Port Said, tanpa sengaja, tanpa janji. Berjalan, berpapasan, tanpa tegur sapa, hanya berbalas senyum. Tubuh tuanya berjalan lambat – walau sedikit tertahan, tapi pasti. Seakan-akan emosi alam sudah bercampur dengan jiwa raganya. Sedangkan aku? Aku hanya berjalan lurus, tidak lebih. Percuma aku memberinya uang, kuduga dia pasti menolaknya. Materi bagi orang tua sepertinya, fana dan tidak kekal. Sedikit saja aku bersimpati, dia juga pasti menolak diri. Kami berdua seperti pemain catur yang sedang saling menerka gerakan lawan. Salah langkah sedikit, label taruhannya. Iblis, atau malaikat?

Tapi singkat saja. Kemudian sang kakek menjulurkan tangan, kami berjabat erat, saling tersenyum. Orang tua itu melanjutkan jalannya, aku berdiri mematung.

Rahmat mengernyitkan dahi. Mungkin kawanku ini kebingungan, antara aku dengan si orang tua, di sini sama berpapasan. Tetapi sama tidak bergeming, saling terdiam. Bukan, ujarku dalam hati. Tolong jangan tatapkan pandangan skeptis itu ke arahku. Kau hanya belum merasakan. Coba saja kau berdiri di atas sepatuku, menatap sosok rentanya dari tempatku sini. Apa yang kau lihat?

Di mataku, dia bagaikan matahari. Dulu pernah aku bercerita ke Rahmat tentang seorang kakek tua berkulit hitam, yang mengenakan baju kumal bergambar lingkaran dengan sebuah segitiga menyembul di tengah. Mungkin gambar itu melambangkan sesuatu. Entah kenapa, imajinasiku memaksa, ini simbol bintang berpijar. "Bukannya itu cuma gambar lingkaran?" kawanku menimpali.

“Tidak, sobat. Keras semangatnya yang telah ia banting habis untuk sisa hidup koleganya. Juga beratus tapak sudah dia injak hanya untuk membuktikan, di dunia tiran ini masih ada simpati. Dan meski ia tidak berharap puja, cintanya kepada mereka yang terus saja mencacinya, begitu luas. Bagaikan luapan sinar surya di atas alam raya,” jawabku. Dan tidak sekali pun sosok renta itu pernah berhendak pamrih. Tidak, tidak sama sekali.

"Sok pujangga kau. Seolah-olah sudah kenal dia bertahun-tahun saja," waktu itu Rahmat membalas, tawanya meledak sembari tangannya menepuk-nepuk punggungku. Bibirku tersenyum simpul.

Ah, kejadian itu. Masa lalu. Kini mataku masih melekat kepada sosoknya yang kini mulai menjauh.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Bising

Sungguh, suara petasan-petasan yang dihamburkan begitu saja di jalan-jalan, di serambi toko, depan kios telpon, atau arak-arakan dengan meluapkan sorak gembira menjadi teriakan para pemuda yang saling bersahutan, ditambah lagi dengan lomba membunyikan klakson beritme dari kawasan Sabi hingga pojokan Tajammu’. Hingar bingar yang lumrah terdengar dalam menunjukkan suasana hati. Kegembiraan. Bukan bahagia subjektif yang cuma bisa dinikmati dua sejoli, tapi ini bahagia masal. Ya, warga Mesir kini bereuforia. Konon katanya, karena tuntutan rakyat sudah terpenuhi. Morsyi tidak lagi dianggap pantas duduk di atas kursi pemerintah. Saatnya kudeta. Ramai orang bicara.

Di sudut Kairo yang lain, bundaran Rabea Adawea, panji-panji “Tidak untuk Kekerasan dan Ya untuk Legitimasi,” bersliweran di sepanjang jalan. Slogan tersebut melekat di kaca-kaca belakang mobil, di tiang listrik, di dinding toko, di bendera-bendera kecil bergambar wajah seorang pria berkacamata yang dibawa massa, juga dalam suara yang melayang-layang di udara. Mereka juga warga Mesir, tapi wajah mereka mendung. Presiden yang sangat mereka hormati, dengan sangat tidak senonoh, begitu kata mereka, digulingkan begitu saja oleh Abdul Fattah el-Sisi, kepala tertinggi militer. Kata el-Sisi dalam pidatonya malam Kamis kemarin, ini adalah keputusan demokratis. Permintaan presiden untuk menghadirkan kepala-kepala dari pelbagai elemen untuk hadir pada malam sebelumnya, sudah dituruti. Hasil dialog menyepakati bahwa Morsyi pantas turun jabatan, demi mencegah mudarat yang bakal datang. Tapi himpunan massa yang menyesaki bunderan Rabea Adawea seminggu penuh ini, sama sekali menolak keputusan tersebut. Membenci malah.

Dari Azhar sendiri, universitas yang sejarahnya mendahului negara tempat ia berpijak, diwakili oleh Grand Syeikh Ahmad Thayyib, menyuarakan dukungan terhadap turunnya Morsyi. Antisipasi dampak yang bakal dilancarkan preman-preman bayaran di lapangan Syuhada (dulu Tahrir) jika Morsyi masih bersinggasana di kursinya, dikhawatirkan menjadi huru-hara menjelma skandal internasional yang bahkan militer pun tidak sanggup membelenggunya. Itu alasannya. Syeikh Azhar pun menyesalkan penangkapan militer atas Morsyi dan para pimpinan Ikhwanul Muslimin, padahal kebebasan berpolitik adalah hak untuk semua orang. Jika alasan penahanan mereka semata-mata untuk menahan kebebasan mereka agar tidak bergerilya, kembali menghimpun massa, lantas memunculkan kudeta edisi kedua. Ini alasan yang tidak objektif sekali. Formalitas, bisa dibilang. Sama seperti yang menimpa tahanan-tahanan politik mulai dari zaman Ibnu Taimiyyah, atau presiden Soekarno, juga sastrawan-sastrawan Lekra yang diasingkan ke luar negeri dengan dalih yang hampir mirip.
   
Belum lengkap rasanya tanpa memunculkan suara-suara media. Ah, propaganda. Nasihat dari Eriyanto pada bukunya “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media” memaksa saya untuk tidak cukup sekali melihat pada tulisan yang terpampang di satu media. Harus lanjut mengkomparasinya. Cari berita tandingan, cari info lanjutan. Kemudian cari pola yang menghubungkan. Apakah benar kejatuhan Morsyi ini karena faktor pihak ketiga? BBC berbisik, Dr. Baltaji, tokoh Ikhwanul Muslimin, menyampaikan info dari pembantu Morsyi bahwa sebelum kudeta, presiden didatangi Menlu dan Dubes AS. Mereka minta sang kepala negara, mundur. Morsyi menolak. Ancaman dari mereka, “Selamat menghubungi kami dari penjara.” Terbukti sekarang. Dari salah satu media Indonesia, malah justru Obama mengecam tindakan penggulingan yang menurutnya tidak demokratis ini. Ah, teori konspirasi. Kemudian media-media lain, visual maupun cetak, yang saling melempar tuding untuk kepentingan ideologis yang mereka usung. Kepentingan golongan juga tentunya. Masing-masing saling menghancurkan citra, melempar isu untuk meresahkan para warga, baik pribumi maupun asing.

Kemudian kalut. Yang justru mencuat ya kekacauan. Terjadi di mana-mana. Di Nadi Sittah Oktober, di lapangan Tahrir, di bunderan Abbaseyah, di bunderan Rabea Adawea, di tubuh militer sendiri. El-Sisi digulingkan oleh beberapa petinggi militer. Aldy Mansour, presiden terpilih sementara, juga terancam jatuh. Itu masih suara media. Semua ribut. Semua gaduh. Semua cemas. Setiap mata memandang mata lain dengan curiga. Kata yang terlontar dari mulut menentukan nasib jiwa beberapa detik ke depan. Pada 1961 dulu, Edward Lorenz sudah menjelaskan, inilah yang disebut dengan chaotic theory. Teori kalang-kabut. Pada awalnya, semua unsur terlihat acak. Tapi pada suatu titik, akan tampak bukti bahwa masing-masing unsur ternyata memiliki predeterminasi.
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Dot 0.0.1

Pernyataan bahwa setiap orang bisa hidup berbahagia setiap waktu, itu omong kosong. Kenyataannya, setiap orang memiliki permasalahan masing-masing. Terlepas apakah orang lain mengetahui atau tidak, apakah sang pemilih masalah memilih mengundang simpati dari khalayak atau tidak. Hemat saya, dan saya akui sifat pribadi memang egois... masalahku, ya masalahku. Masalahmu, itu urusanmu. Lakukan apa yang terbaik untuk dirimu, dan saya pun begitu.

Tapi tentu saja, bukankah manusia diciptakan untuk saling bekerjasama? Berbagi pengalaman? Tenggang rasa kalau pelajaran PPKn dulu pernah bicara. Tapi tentunya, semua orang pasti mengalami sebuah titik di mana kepercayaan menjadi krisis. Kebergantungan menjadi titik dilematis. Hanya kepadaNya kita kembali, maka hanya kepadaNya pula kita berharap. Tapi tentu saja, ini solusi paling subjektif dan sangat tidak relevan. Tunggu, perintah tersebut sangat syar'i da masuk akal, tapi jangan dibawa ke titik ekstrim. Mengingat, sebenarnya masih ada orang yang pastinya ikhlas membantu kita, jikalau kita meminta tolong mereka.

Ah, harga diri. Jadi harga diri yang dipermasalahkan sekarang.

Kamu bilang, harga dirimu terlalu tinggi, sampai-sampai diberi empati sama saja seperti menjatuhkan 'harga' tersebut.

Tapi tentu tidak. Ada permasalahan lain selain berkutat dengan harga-harga. Sejauh mana para 'pembantu' itu mengerti permasalahan yang kita hadapi? Sedalam mana mereka mengerti perspektif kita? Setinggi apa mereka mengerti apa yang bakal kita tuntut dari bantuan mereka?

Pada dasarnya, manusia itu unik. Mereka hidup untuk bergotong royong, begitu kata Soekarno saat merintis Indonesia. Tapi manusia juga individu idealis yang pastinya memiliki harapan, cita dan doa yang berbeda. Manusia bisa saja saling membantu, tapi itu sebatas kulit. Isi hati manusia lebih dalam dari palung yang terdalam. Meski diteliti denga sonar mata batin atau proyeksi psikologis tercanggih sekalipun, nilai yang tertangkap hanya awang-awang.

Pada dasarnya, dia hanya ingin mengungkapkan, benci dengan keluh kesah berserak. Dirinya sendiri, dan lainnya. Mereka semua hanyalah manusia normal. Ah tolong, itu kicau-kicau sudah berputar jadi beliung. Bisa ditambahkan api? Biar bergelora.

Kosong

"Maka sebuah ucap tanpa aksi pun lebih parah daripada sekedar kentut."

Yang disampaikan oleh apa-apa dalam dunia permainan, dunia perfilman, dunia fiksi - meskipun mengandung pernyataan kenyataan, tetap saja sifatnya fiktif. Kita dihibur sebuah gumam. Igauan, obrolan, rileksasi mata atau apalah itu, semuanya hanya pengejewantahan ide kreatif orang. Jika kita hanya terus mengonsumsi tanpa memproduksi, atau sekedar balas gumam tanpa menghadirkan kristalisasi ide kreatif lain sebagai pembanding, lantas apa nilai diri, kalau bukan kosong? Kosong bukanlah nol, yang masih bisa disubstraksi, eliminasi ataupun apalah, mediasi plus - minus. Kosong ya kosong. Cawan yang kosong selalu bisa diisi bukan? Tapi tanpa 'isi', bahkan untuk anjing sekedar melongok ke dalam tong sampah yang kosong pun ia enggan.

Ini tentang ideologi. Sebuah 'rasa', kata teman.

Pernah ada keyakinan diri yang menekankan, hiburan-hiburan itu adalah bentuk pelarian. Kita ingin hidup sebagai model. Fitrah manusia ingin dikenal, para psikolog modern itu yang bilang. Tapi tidak banyak yang sadar, 'menempuh usaha' yang sekedar dilempar ke takdir, itu pelampiasan. Frustrasi, lebih tepat. Atau malas? Karena banyak rasa malas yang mendatangkan kegagalan. Dan bagaimana kita bisa gagal sebelum memulai, jika memang gagal adalah nilai? Rupanya kosong bersifat lebih destruktif daripada sekedar gagal, karena sebelum kegagalan pun masih ada usaha.

Kembali lagi ke kosong. Manusia-manusia kosong yang berbicara kosong. Dipuji susah, dihina pun untuk apa. Kita harus akui nilai manusia-manusia kosong, ya cuma kosong! Dan kosong bukanlah nol, rujuk  analogi di atas. Hanya sedikit yang menyadari bahwa diri barulah kosong. Tanpa nilai, tanpa ide, tanpa aksi, sekedar bual. Cawan hampa yang sedikit kecipratan cat lukis, eh dikira pelangi.

Bahkan jika tulisan ini dianggap bernilai, hemat pribadi, tidak. Konon tulisan yang apik musti berlapiskan data. Di sini tidak ada, isinya curhatan. Nilainya dan si penulis juga masih kosong. Duduk seorang bhuta dengan kaki mengangkang, lalu terlelap dengan keringat menetes dikira hujan. Asam, padahal.

Dot

Seandainya benar yang dikatakan Hobbes, manusia pada dasarnya binatang buas, maka bisa dipastikan keadaan sekeliling saya bakal hancur berantakan. Lantak oleh kepalan tangan yang sedari tadi mengeras. Tapi bah, apa gunanya akal sehat jika emosi selalu dikedepankan? Apa guna ilmu yang selama ini dipelajari, jika pada saat dibutuhkan olah pikir masih terberai?

Melawan kenyataan dengan tenggelam dalam imaji. Musim panas selalu menggoda. Membenci apabila prediksi atas keburukan sesuatu atau seseorang benar-benar terjadi, terlepas menimpa diri atau yang lain. Mual mendengar kata manis bau sampah -najis- yang bertebaran di mana-mana. Mau muntah melihat topeng berserak. Bukan sekali dua kali, dari dulu hingga kini mereka sudah tampak. Mereka dari kata 'siapa' yang bisa saja menjadi. Luka-luka dunia. Borok manusia yang lupa diobati. Tuhan, beri aku kesabaran.

Kopi Gantung


“Si Claudio kenapa senyum-senyum gitu?” tunjuk Sandro ke pojok gang. Kawan-kawannya yang lain langsung menoleh. Benar saja, Claudio yang pendiam, yang senangnya menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri dan jarang bertukar tawa dengan kawanan lainnya, kini malah berlari ke arah mereka. Wajahnya sumringah benar. Gerombolan pengemis itu langsung saling berbisik, ada apa dengan Claudio?

Masih tersengal, Claudio berusaha mengatur nafas. Kawanan pengemis lain masih melongo heran menatap sosok ceking yang berdiri di hadapan mereka. Claudio tersenyum lagi, lebih lebar, seperti menyeringai. Terbata-bata, setengah berteriak dia berkata:
“A-Aku bisa menghipnotis orang!”

Kaget dan bingung. Spontan lima orang berbaju compang-camping yang duduk di atas tumpukan kardus bekas pizza pada sebuah ujung gang paling kotor dan paling tidak terawat di Napoli, celingukan, saling melihat satu sama lain. Mereka tidak berbicara, tapi dalam hati, berpikiran sama. Jadi ini alasan si Claudio sering menyendiri? Dia berlatih… hipnotis?! Tapi Claudio, pengemis ceking yang tadi akunya bisa menghipnotis orang, berlagak bak pesulap yang pernah ia tonton di televisi dulu, mengisyaratkan lima calon penonton di depannya untuk segera berdiri. Semula lima sekawan itu enggan, tetapi Claudio sangat memaksa. “Akan aku buktikan!” begitu ucapnya. Sebagai sobat yang agak sering ngobrol dengan Claudio, Sandro pun mendorong kawanan lainnya untuk mulai berjalan.

Claudio sibuk memacu langkah. Di mukanya, benar-benar terpancar rasa percaya diri dan aura kharismatik. Dalam benaknya, dia sudah menjadi orang yang berbeda. Claudio bukan lagi seorang pengemis yang sehari-harinya mengais sampah, menengadahkan tangan, air liur menetes setiap melihat lelaki berjas rapi dengan mobil-mobil mewah mereka, atau wanita-wanita malam yang berlagak centil tetapi selalu membuang muka setiap lewat di depannya.

Tidak! Sekarang, dia adalah manusia superior. Calon bintang yang bakal melegenda di Itali, lebih dari Carlos, pesepakbola handal dari tim Calcio yang terkenal itu!
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~


Kepada kerlip bintang tertahan
untuk sang Bulan
Ada barisan melodi mengikat kata berkalut
Penyanjung hati, penghujung sembilu
Sebuah orkestra

Kepak para merpati membuka pagi
denting dibuka oleh petikan kecapi
Dimaksud beruk membidik kesuma
Juwita itukah? Parasnya tirta
Amboi, dari hulu simfoni bersahut
Lentik klasik pianis berbisik

Tirai ditutup malam
Merona merah sang Bulan
Genit senyumnya seindah sulam
Elok bersahaja 'tuk pelita kelam

Padamu kurajut untaian amarta
di atas pesona dahan cemara
terbalut embun berkilau surya
Kita berlari mengejar bebayang

Harga Diri

-renungan untuk para sahabat jurnalis di mana saja-

Berapa harga yang harus kita bayar saat membeli buletin Informatika Orsat ICMI Kairo? Cukup murah, hanya 1.5 LE. Sehari-harinya kita sanggup mengisi perut dengan menu ala Mesir dengan menghabiskan hanya 10-12 LE untuk 3 kali makan. Tasdiq Azhar dapat kita pegang setelah membayar 35 LE kepada khazinah. Hampir setiap jenis barang di dunia ini mempunyai harga pasti di pasaran. Meskipun terkadang terdapat selisih angka maupun nominal dalam harga setiap barang, para pedagang sangat kompetitif dalam menarik pelanggan. Intinya, agar barang mereka terjual habis dan meraup banyak keuntungan.

Tetapi sayang, banyak yang mematok harga untuk dirinya sendiri terlewat murah. Anggap aja si D. Dia mengobral kata kemana-mana, hingga terpuruk karena menipu diri, tapi demi ketenaran dan buah bibir, rela mengorbankan jati diri. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, pasti dia akan menjawab bahwa hobi atau kegemaran yang ia miliki, sama dengan lawan bicaranya. Dia akan membenci sesuatu atau seseorang yang lawan bicaranya benci. Tapi hanya pada saat itu saja. Pada saat dia berada bersama lawan bicaranya. Dia akan berkata sebaliknya jika sudah meninggalkan orang itu. Perkataannya juga akan berbeda kepada setiap orang yang ia temui. Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya akan mengecap dia sebagai orang baik, karena selalu bersikap ramah. Bisa jadi mereka sayang, karena kesamaan hal dalam hobi, kegemaran dan sifat.

Tapi orang yang sudah mengenal si D teramat dekat jelas mengetahui bahwa dia bermuka dua dan tidak mempunyai prinsip.

Alangkah sayang jikalau sebuah prinsip yang sebelumnya terjunjung tinggi, melenceng 180 derajat atau bahkan berlawanan arah setelah menerima iming-iming jabatan, harta atau demi seseorang yang ia sukai. Jabatan, apa sih yang bisa mengatur posisi disamping takdir dan realita? Kita tidak akan pernah tahu kapan seseorang akan tergantikan dari posisinya dan kapan seseorang dipromosikan naik tingkat. Siapa tahu kali ini anda adalah seorang CEO, esok hari sudah menggelandang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemudian ada harta. Apakah anda sanggup mengatakan harta tersebut akan abadi? Tidak mungkin. Pada masanya nanti, anda akan merasakan jika kas semakin kosong dan dompet semakin tipis. Lantas anda harus mencari lagi. Mengemis lagi. Sedangkan yang terakhir, cinta. Percuma jika anda menyama-nyamakan hobi yang anda miliki dengan sang pujaan hati. Menyukai film, lagu, hobi ataupun gaya hidup yang ia gemari meskipun dalam hati berteriak pahit. Tidak henti-hentinya menipu diri. Tidak akan kekal cinta semacam ini.

Seyogyanya, sebuah prinsip  merupakan cermin nurani dan pasti mengarah dalam kebaikan. Tapi jika sekali saja tergoyahkan, prinsip tersebut akan kehilangan niatnya yang ‘murni’ dan menjadikan harga diri sang pemilik prinsip menurun drastis. Tapi tidak dengan jurnalistik. Dalam dapur redaksi kami, setiap diri tertempa masalah baru yang hampir merubah kesepakatan bersama, pasti terpental dengan usaha bersama. Kami tidak ingin prinsip jurnalistik yang kami pegang teguh, terobral murah dengan diskon besar-besaran. Harga diri seorang jurnalis sangat tinggi, hanya dapat disetarakan dengan veritas. Ujung kata, “Jibun no kachi wa jibun de kimeru mono sae.” Anda sendiri-lah yang menentukan berapa kualitas harga diri pribadi.


oleh: Umar Vrathdar

A. Pendahuluan
Melihat kebijakan presiden menyangkut pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani HR berkenaan penyataan bersalah karena menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat, dinilai banyak menimbulkan isu kontroversial. Beberapa pihak menganggap bahwa tindakan ini mengurangi etos kerja Komisi Pemberantasan Korupsi dalam penanggulangan korupsi yang merebak di kawasan Nusantara kita ini. Sedangkan beberapa pihak lain, mendukung keputusan yang diambil oleh presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyayangkan sikap mereka yang mengecam kebijakan presiden dan melihat bahwa pemberian grasi ini tidak lepas dari undang-undang dan masih dalam koridor hukum.

Sepintas jika melihat RUU Grasi, maka kita dapat menyimpulkan bahwasanya pemberian grasi ini tidak lepas dari hukum. Tapi terlepas dari hukum, sempat terslentingkan isu bahwa dalam hal ini, ada isu politik yang melatarbelakangi itu semua. Apalagi menyangkut pemberian remisi kepada Aulia Pohan, mantan besan SBY dulu, Bunbunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin. Apa kaitan grasi dan remisi ini serta bagaimana kaitannya dengan keabsahan tindakan pemerintah dengan undang-undang?

Di makalah ini, penulis akan sedikit menjabarkan mengenai definisi grasi, kronologi pemberian grasi kepada Syaukani serta kelayakannya, beberapa tanggapan dan kritik pada pemerintah atas pemberian Grasi kepada Syaukani dan beberapa koruptor yang diberi grasi tetapi tidak tertangkap hangat media serta kesimpulan apakah grasi maupun remisi tersebut sebenarnya masuk koridor hokum atau tidak.

B. Definisi Grasi dan Remisi
Grasi, dalam Wikipedia mempunyai artian sebagaimana berikut: salah satu dari empat hak Presiden Indonesia di bidang yudikatif. Grasi adalah Hak untuk memberikan pengurangan hukuman, pengampunan, atau bahkan pembebasan hukuman sama sekali. Sebagai contoh, yaitu mereka yang pernah mendapat hukuman mati dikurangi menjadi hukuman penjara seumur hidup. Sedangkan grasi dalam KBBI adalah ampunan yg diberikan oleh kepala negara kepada orang yang telah dijatuhi hukuman. Remisi sendiri dalam Wikipedia adalah pengurangan masa hukuman yang didasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dan definisi lain dalam KBBI, yaitu pengurangan hukuman yang diberikan kepada orang yang terhukum.

Disini penulis mengambil kesimpulan, bahwasanya grasi dan remisi adalah hak presiden dalam meringankan hukuman seorang terpidana, baik keputusan tersebut berlandaskana alasan kuat maupun tidak. Apalagi tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2002 Bab 1 Pasal 1. Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Dalam pengaturan pasal-pasal selanjutnya, tidak tertuliskan disana untuk menyertakan alasan dari pemerintah mengenai pemberian grasi atau remisi. Inilah yang menyebabkan kerancuan dalam undang-undang dan menimbulkan banyak spekulasi dari berbagai pihak.

Pantaskah Syaukani Diberi Grasi?
Mari kita ambil contoh Syaukani. Koruptor yang satu ini sudah Pada 18 Desember 2006, ia ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembebasan lahan Bandara Loa Kulu yang diduga merugikan negara sebesar Rp 15,36 milyar, namun segera setelah itu Syaukani langsung menjalani perawatan rumah sakit selama sekitar 3 bulan dan tidak kembali ditahan setelah selesai menjalani perawatan. Pada 16 Maret 2007, Syaukani akhirnya dijemput paksa dari Wisma Bupati Kutai Kertanegara di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan di KPK.  Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada 14 Desember 2007, memvonis Syaukani dengan hukuman penjara dua tahun enam bulan karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi selama 2001 hingga 2005 dan merugikan negara Rp113 miliar. Tindak pidana korupsi yang dilakukan Syaukani adalah menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat. Sampai hari ini, Syaukani tercatat sebagai pasien dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dan kemarin, melalui surat Grasi No. 7/G Tahun 2010 tertanggal 15 Agustus 2010 yang ditandatangani Presiden SBY, hukuman mantan Ketua DPD Partai Golkar Kaltim tersebut, dikurangi dari tadinya enam tahun menjadi tiga tahun penjara.

Masalah sebeanrnya bukan disini, tapi Syaukani sebelumnya telah menjalankan hukuman bui dalam kurun waktu tiga tahun dari sisa hukuman 6 tahun, maka setelah SBY menurunkan keputusan grasi tersebut, otomatis dia dinyatakan warga bebas. Pada 18 Agustus lalu, surat pembebasan diantar staf Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang kepada Syaukani yang sedang dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. Dari sinilah masyarakat menuai protes.

Menurut Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM kondisi kesehatan Syaukani yang memprihatinkan membuatnya pantas mendapat grasi dari Presiden. Faktanya, berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1995 dan PP tahun 1996, semua mengatur remisi pada siapapun dan harus ada klarifikasi. Saat ini ada empat koruptor yang dapat remisi di antaranya Aulia Pohan dan Syaukani. Semuanya sudah bebas bersyarat dan sudah ada waktunya. Sedangkan Syaukani harus membayar Rp45 miliar dan suratnya sudah ada di KPK. Penulis mengutip perkataan Patrialis, “Kalau tidak membayar, kita tidak mau. Itu cash n carry dan dia harus dapat jaminan dari keluarga,” Artinya, walau Syaukani sudah terlepas dari hukuman bui, dia tetap diwajibkan oleh Negara untuk mengganti kas keuangan yang telah ia raup, meski hanya 1/3 dari total 113 M. Bukan berarti dia bebas lalu tidak membayar, tidak begitu.

Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin A Tumpa mengakui jika institusinya memberikan pertimbangan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan grasi terhadap mantan terpidana kasus korupsi  Syaukani.  Menurut keterangan dokter Cipto Mangunkusumo, Syaukani akan alami cacat permanen dan stroke berat. Jika diteruskan dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo justru akan merugikan keuangan negara. Mengapa? Karena kas negara yang semula lebih. "Itu pertimbangan MA, dan kami nggak bicara pertimbangan hukum, tapi pertimbangan sosiologis kemasyarakatan dan keadilan," jelas Harifin. Harifin menjelaskan, awalnya kuasa hukum Syaukani mengusulkan grasi pada 2009. Saat pengajuan grasi, kuasa hukum Syaukani menyertakan surat keterangan dokter tentang kondisi Syaukani yang sudah tidak dapat bergerak. Kemudian, Ketua MA menyerahkan data tersebut pada salah satu hakim agung untuk menelaah usulan grasi tersebut. Akhirnya, MA memutuskan merekomendasikan pada Presiden untuk memberi grasi pada Syaukani.

Tidak semua referensi penulis langsung tulis di atas, langsung saja penulis ambil poin-poin penting yang perlu digarisbawahi:
~{x-Klik judul untuk artikel lebih lengkap.-x}~


Yang berbisik, yang terusik
Banyak perih tersamar kepak
sayap-sayap merpati
Dipangkunya tanda tanya
yang mendesak di balik jeruji

Yang berbisik, yang merintih
Berjalan kaki dua-tiga
bertindihan!
Ada sarjana kejar bayangan,
kakinya bungkam

Yang berbisik, yang terusik
Mata dan hati berjalan sama,
berpalingan!
Pena tergores, darah yang tampak

Yang berbisik, yang mengusik
dipandangnya satu-satu, lalu dipasungnya!
Mimpi basi manusia plastik


SAMAS, Rumah Akar, Ahad 24 Maret 2013
 oleh: Umar Abdulloh

A.      Pendahuluan
Mengenal dan memahami peta periodisasi sejarah sastra Indonesia diperlukan oleh para sastrawan muda Indonesia untuk membentuk karakter yang nasionalis dan patriotik. Tidak lain, karena wawasan akan sejarah tersebut akan semakin menuai benih cinta yang semakin mengakar di dalam diri dan memperkuat keyakinan bahwa Indonesia sangatlah kaya akan seni dan kebudayaan. Bhinneka Tunggal Ika, moto Ibu Pertiwi bukan sekedar iklan pasar, tetapi realita yang acapkali diremehtemehkan. Untuk itu, kita perlu mengetahui mula sejarah sastra di Indonesia, yang  tidak lain diawali dengan sastra Melayu.

Ragam karya sastra Indonesia menurut bentuknya, terdiri atas: puisi, prosa, prosa liris, dan drama. Masing-masing ragam karya sastra Indonesia dari setiap periode itu mengalami perkembangan sehingga menimbulkan ciri khas. Beberapa orang penelaah sastra Indonesia telah mencoba membuat periodisasi sastra Indonesia ini. Salah satunya adalah H.B. Jassin.

Dia membagi periodisasi sastra ini menjadi dua macam: Sastra Melayu dan Sastra Indonesia Modern, dengan pemecahan Sastra Indonesa Modern ini menjadi beberapa fase, yaitu: angkatan Balai Pustaka (angkatan 20), Pujangga Baru (angkatan 33), angkatan 45 dan angkatan 66. Meski pada tulisan kali ini, penulis hanya akan menjelaskan secara singkat sejarah Sastra Melayu dan mengerucutkannya pada proses perkembangan puisi/prosa, serta pengenalan singkat tokoh-tokoh ternama saat itu.

B.      Kilas Singkat Sejarah Sastra Melayu
Kebudayaan Melayu, sebagaimana kebudayaan Jawa, memperoleh pengaruh yang sangat kuat dari India kira-kira semenjak abad ke-5 M hingga abad ke-14 M. Namun pencapaian keduanya cenderung berbeda. Kebudayaan Jawa telah menorehkan prestasi menonjol dalam bidang seni ukir seperti candi, patung dan relief, sedangkan pencapaian terbesar kebudayaan Melayu terletak di bidang kesusasteraan.

Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen.), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.

Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa, memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.

Namun,  keberadaan aksara, alat tulis serta kemahiran menulis saja tidak cukup. Karya-karya sastra tertulis yang muncul pada masa integrasi Melayu dengan Hindu-Buddha sangat sukar ditemukan, karena hampir tidak ada satu pun yan selamat, kecuali karya-karya yang dituliskan pada material yang tidak rentan dengan perubahan cuaca, seperti pada prasasti atau nisan. Bahkan menurut penulis, belum diketemukan karya sastra Melayu pada kedua artefak itu.

Bisa jadi, melenyapnya karya-karya sastra dari masa yang cukup jauh ini, sanggup dikorelasikan dengan hakikat sastra: baik dalam bentuk maupun isinya, pasti mengandung nilai-nilai tertentu yang dianut, diyakini dan diamalkan oleh masyarakat atau anggota masyarakat yang menciptakannya. Karya-karya sastra pada masa pengaruh India tentu mengandung nilai-nilai keagamaan dan norma-norma fundamental Hindu-Buddha yang sangat lekat, sehingga ketika pengaruh Islam muncul, nilai-nilai tersebut musti disisihkan dan digantikan oleh nilai-nilai Islam. Meski, Api Sejarah milik Ahmad Mansur Suryanegara, sedikit kontroversial dengan data historik yang umum ditemukan, mengatakan bahwa Islam sudah memasuki Indonesia jauh sebelum Hindu-Buddha. 

Harus ditekankan pula bahwa agama Hindu-Buddha memmpunyai watak elitis, yakni pendalaman pengetahuan tentang kedua agama tersebut hanya mampu dilakukan oleh kalangan tertentu, misalnya kelas brahmana atau bhiksu (Marwati Djoened Pusponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka Pendidikan dan Kebudayaan). Karakter elitis ini membuat Islam yang tidak membedakan kasta (egaliter, pen.) memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mendalaminya dan dapat diterima, juga tersebar luas di kalangan orang Melayu. Dengan karakter egaliter pula, aksara jawi yang diperkenalakan oleh kebudayaan Islam/Arab-Persia, mendapatkan dukungan penuh ketika mendesak karya-karya dan aksara sebelumnya yang masih mengandung bentuk maupun nilai-nilai budaya yang elitis.

C.     


Meskipun saya bukanlah seorang pengajar, tatkala seorang kawan berceloteh bahwa gaya mengajar dosen-dosen di univeritas Indonesia itu cukup sembrono, telinga saya sedikit menjengit. Dia bilang, para dosen cukup menghadiri perkuliahan, terlepas datang awal waktu maupun telat, memberitahu halaman mana saja yang perlu dibaca oleh para mahasiswanya, kemudian ia tinggal menyibukkan diri dengan aktifitas pribadi. Atau bahkan melangkah keluar pintu dan meninggalkan para mahasiswanya sibuk berkutat dengan diktat. Mulanya saya bertanya kepada kawan saya ini, “Apakah ini yang terjadi di kampus yang pernah anda singgahi?”

“Oh, tidak. Ini berlaku ke semua kampus.”

Dengan tegas saya menolak terus-terang bahwa pernyataannya tersebut sangat tidak bisa digeneralisir. Dia melanjutkan, informasi tersebut dia terima dari salah seorang dosen yang sedang berdomisili di Mesir. Seketika saya bantah, “Tidak mungkin borok di wajah, sengaja mereka biarkan terlihat.”

Meskipun pernyataan kawan saya di atas ada benarnya, tentunya tidak sedikit pula yang berlaku sebaliknya. Mari kita akui, moralitas remaja ataupun pemuda yang semakin merosot belakangan ini bermula dari ulah pendidik yang setengah-setengah dalam mengajar. Tetapi jangan sampai kita melupakan faktor lain.

Begini, perlu kita ketahui bahwa problematika moral yang muncul di kalangan remaja seakan tidak pernah surut, malah bertambah. Padahal remaja adalah kunci masa depan, generasi yang diprediksi menjadi golongan unggul untuk generasi mendatang. Tapi entah pikiran para pemuda yang terpengaruh media atau kondisi sosial yang memang memaksa untuk selalu mengikut arus. Budaya mengekor, pemuja hedon, mengejar kepuasan jasmani, ingin menang sendiri dan mindset kapitalis sudah menjadi variabel pasti yang tidak bisa dipungkiri dari moralitas generasi muda sekarang. Banyaknya kasus perkosaan di angkot-angkot, rating akses ke situs pornografi yang sangat tinggi, serta kegemaran akan kekerasan yang tertuang dalam permainan digital, merupakan beberapa dari sekian banyak katalisator bertambahnya penyakit hati.

Tapi apakah kita harus menyalahkan mereka saja? Tentu tidak bisa senaif itu. Di sini, pengaruh dari masyarakat sekitar, lembaga pendidikan, juga orang tua sangatlah vital. Dari lembaga pendidikan, Alfons Dani, salah seorang peneliti di Yayasan Dinamika Edukasi Dasar Yogyakarta, mengatakan bahwa penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Lebih lanjut, dengan apik ia telah memetakan beberapa permasalahan khusus, yaitu: rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.  

Dari beberapa alasan di atas, RM Mangunwijaya di bukunya Pendidikan Pemerdekaan menyatakan, bahwa visi pendidikan adalah ‘Belajar Sejati’. Artiny, seorang pengajar haruslah mengantarkan dan menolong anak didik mereka untuk mengenal dan mengembangkan potensi diri agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa, dan utuh; bukan cuma menjadi kepingan serba pasrah belaka kepada mesin besar yang tak dia ketahui susunannya dan arahnya. Bagi para pembelajar, mereka akan mulai menata cita untuk menjadi manusia merdeka, sekaligus peduli dan solider dengan sesamanya dalam ikhtiar meraih kemanusiaan yang terjadi, dengan jati diri serta citra diri yang semakin utuh harmonis dan integer.

Romo Mangun juga mengulas bahwa menurutnya seorang pendidik haruslah bersikpa demokratis, dialogis, intelektual dan harus menghayati tugas guru sebagai panggilan hidup. Dia juga menambahkan, kualitas guru yang sangat rendan dan kesejahteraan yang kurang layak, sepatutnya perlu diberikan perhatian lebih oleh pemerintah. Dengan begini, pendidik pun tidak setengah-setengah dalam menjalankan tugasnya. Atau dalam kata lain, menggantikan peran ‘orang tua’ dalam sekolah ataupun universitas.

Sayangnya, harapan di atas hanyalah utopia jika tidak ada pengaruh arus balik dari orang tua para pembelajar. Acapkali dengan acuh mereka menyerahkan anak mereka kepada pihak sekolah, kemudian berlepas tangan dan berharap kelulusan anaknya nanti adalah tanda kematangan pribadi. Karenanya, jika anak berulah, tidak sedikit orang tua yang protes kepada pihak sekolah. Hal inilah kerap yang menjadi pemicu kasus anak-anak broken home dan pelarian mereka ke hal-hal maksiat seprti miras dan narkoba. Padahal telah disebutkan oleh banyak pakar Psikologi Pendidikan, seperti tertulis dalam buku ‘Ilmu al-Nafs al-Tarbawi, milik Abdul Aziz al-Qushi, bahwa peran pendidik baik dalam rumah maupun sekolah, masing-masing sama vitalnya. Peran ta’dib alias pendidikan karakter,meminjam konsep dari Naguib al-Attas, tidak lain diampu oleh para tokoh pendidik: guru dan orang tua. Mau tidak mau, ortu pun memiliki tanggung jawab lebih besar, karena mereka-lah yang sehari-harinya berinteraksi dan mampu bersosialisasi langsung dengan intimasi lebih karena telah mengenal mereka sejak lahir. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya pernah mewanti-wanti, anak yang tidak terdidik oleh orang tua, mereka akan terdidik zaman. Jangan sampai ortu lalai dengan kewajiban int, malah melakukan hal-hal parsial seperti memberi sangu kepada anak saja, tanpa ada rasa.

Kembali ke proses ajar-mengajar, jika peran pendidik telah terlaksanakan dengan baik, maka alangkah ironis jika sang anak malah bermain apatis. Pada dasarnya ego manusia adalah tamak, tidak mengenal puas, Islam mengajarkan untuk bersifat qana’ah. Sifat ini tidak mungkin bisa langung dipraktikkan oleh sang anak, karena sifat genetik tidaklah terwariskan seratus persen. Sifat ini dibutuhkan ketika anak selalu menuntut hal-hal materialis yang belum tentu bermanfaat. Maka tugas orang tua dan guru, jika menasehati tidak berhasil, siasat pertama yang harus dilakukan adalah memberi contoh.

Dalam kasus di atas, memberi contoh tersebut bisa diibaratkan dengan ‘memberi punggung’. Sang anak membutuhkan punggung untuk ditatap. Punggung seseorang yang secara wujud bisa ia tangkap untuk kemudian bisa ia tiru dan ia kembangkan dalam menyikapi hidup.

Permasalahannya, tanpa pengawasan dan pembinaan yang cukup dan kebutuhan untuk saling memahami antara pendidik dan anak didik, ‘punggung’ tersebut bisa menjadi punggung siapa saja. Saat remaja, manusia cenderung membutuhkan sebuah sosok nyata yang mampu ia idolakan. Sosok tersebut jelas harus sangat impresif dan mempunya idealisme yang tercitrakan langsung, baik dari lisan maupun gerak-gerik. Jadi, sosok ini bisa berasal dari siapa saja, dari keluarga, aktor film, pengemis jalanan hingga seorang kriminal sekalipun. Tugas pendidik lah sebagai pengatur agar sang anak mampu menatap ke punggung yang benar, dan anak, dalam keegoisan masa muda mereka, harus belajar bahwa hari ini bukan hanya untuk dinikmati. Hari ini dan esok, ada untuk masa depan yang lebih berarti.

Walhasil, ketika peran masing-masing telah terintegritaskan dalam sikap dan aksi, maka pembelajar akan belajar untuk saling mempengaruhi dan bersaing dalam hal kebaikan. Akan tercipta budaya saling mengajar antar sesama pembelajar, sehingga yang lain bisa meniru kebaikan karakter kawan. Tentunya, jika hal ini terwujud, akan tercipta pembenahan moralitas generasi muda menjadi lebih sublim dan mulia.

Butir Pantai

Saat angin melandai daratan
Kuhapus lukisan dalam ingatan

Berikan tanyaku pada pualam!
Pada sampah yang terpinggirkan
Pada buai mulut amis bau ikan
Pada jejak-jejak pasir dihapus pasang

Kepada harapan-harapan yang tidak lekang dari efek ruang
lepas tanpa kendali, sinarnya tanpa bayang
Harapan-harapan itu kupinang, dengan modal sekuntum gebu
lalu kusulam

(revisi dari Komposisi Dua Simfoni: Pudar Harapan Terakhir)


Harapan yang Membujang

Pesona lebat hujan menderas
bagi kita, kobar sahut bertalu yang keras
gemerlap cahaya yang terang bersinar
kepada manusia, untuk apa yang benar

Gerimis itu milik mereka
tercipta dari kenangan
untuk dihening ciptakan

Tak perlu simpati itu, acuh saja pada moral hidup
kepak kupu layangnya tak pernah jauh
serigala penyendiri, lolongnya sayat hati

Wahai Sang Angin, lekas pecah yang menggerah, biar hilang lara batin!
Lagu 'kan selalu hidup, tidak dengan manusia

Ah, lihat si Dungu berpatah tatih mengejar pagi
maafkan si Bebal yang berbantah caci dengan sunyi
berdosa, enggan 'aku pendosa
dan masih berharap agar Dia menyemat selamat!

Apa cantiknya cita yang tak membawa apa?
'tika harapan terhempas dari tangan-tangan Juwara


(dibacakan dalam acara Bincang Sastra dan Malam Penyair di Aula Griya, KSW, Ahad 10/2 '13)

Kembar Dampit

Biar seperti api
lumat habis bakar kesumat
atau berpuruk di rerindang lindap
tertimbun gugur Akasa kusam

Lalu gelap
Angin bertiup sayup melambat
Dua merpati berpagut urat
di tanah sirah sayap tertambat


for the angel who always stays