.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Manusia Label

Sumringahnya dilabeli. Menjadi manusia label itu enak, semakin membuat kita mengerti sesempit apa informasi yang mereka ketahui tentang kita, dan seluas apa jarak jangkau label tersebut menembus hati orang-orang di sekitar. Apalagi dapat label yang pahit. Ironisnya, setidaknya tidak ada istilah 'muna' yang terlontar jika kita berlaku buruk, karena berarti tingkah laku keluar sesuai label didapat.

Andai manusia bisa jujur dan bijak bersikap, seyogyanya label tidak akan ada sejak awal. Tidak usah juga mengubah label dalam tingkah laku diumbar terpaksa. Seandainya setiap hati bisa mengerti, perkataan blak-blakan di depan, apa adanya, dengan tulus, tanpa hasrat menyakiti, hanya menjunjung etis kebaikan, jauh lebih baik daripada gumaman kata buruk menusuk dari belakang atau malah dipendam.

Ah, tapi apalah saya seorang penggumam yang seringkali menikmati tabiat dan perilaku manusia dan hanya disimpan sendiri. Butuh cahaya yang lebih kuat agar bayang semakin perkasa. Butuh menikmati banyak label lagi untuk ke depan dan keteguhan untuk menerimanya dengan senyum dan kebijaksanaan. Apalah daya, yang menulis ini hanyalah manusia tanah liat. Pendosa!

Sudah cukup. Mari hidup di dunia label.

Mind, Puppet and Butterflies
Dengki dan kecemburuan. Sepasang perasaan bak sebuah cermin yang teramat peka dan seringkali menodai hati manusia seperti debu dalam belantara padang pasir. Harga diri, alias kebanggaan omong kosong, mudah rapuh dan seringkali mencelakai diri. Amarah, syahwat dan sifat rakus. Sifat-sifat hewani dalam diri yang jika tidak dikendalikan dengan apik, menjadi bara yang membakar seorang hamba. Dan ketamakan, atau yang disebut Thomas Aquinas sebagai aksi menentang Tuhan, menjadi dosa abadi seorang manusia untuk selalu ditebus. Malahan Dante Alighieri dalam Purgatory miliknya, mendefinisikan tamak sebagai sifat dasar manusia.

Sebenarnya ada lagi satu, entah dosa atau apalah itu. Kemalasan. Tapi seperti terpengaruh oleh satu sifat terakhir ini, tidak usah muluk-muluk mencari metafora untuk malas. Semua orang sudah sangat akrab. Meski tidak sedikit yang menjadikannya pasangan hidup.

Begitulah Tujuh Dosa –capital veins atau cardinal sins- yang diperkenalkan Katolik dalam ajaran mereka. Seringkali diadaptasi menjadi beragam literatur dan pelbagai karya seni, terutama pada Abad Pertengahan. Karya-karya Dante yang seperti orang nyemplung ke Neraka, Hieronimus Bosch dengan lukisan simbolisnya, Paus Gregory I dengan penambahan beberapa definisi, bahkan sampai dijadikan akronim mnemonik ‘SALICIA’ supaya mudah diingat. Yang jelas, Quod Erat Demonstrandum, satu konklusi yang bisa ditarik, bahwa umat awam Kristiani seringkali menjadikan Tujuh Sifat Buruk ini menjadi komedi dalam bahan perbincangan. Keringat darah berucucuran untuk hidup di dunia hanya sebagai penebusan dosa yang tak mengenal akhir.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~