.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Lorong


Hanya ada satu temaram lampu disitu; kuning, buram dan menyala samar. Vrathdar sedikit menengadah. Di lorong yang sempit, lembap, bau kotoran yang menyengat hidung, ditemani oleh beberapa ekor tikus yang berlarian kesana-kemari, sepertinya hanya dia satu-satunya manusia disana. Dia berjalan sedikit, bunyi PLOP! yang keras menggema di dinding lorong setiap kali sepatu ketsnya menginjak lantai yang becek dan bercampur lumut hijau pekat. Yang di pikirannya kini satu, bagaimana cara keluar dari tempat menjijikkan ini!
Tiba-tiba dia berhenti. Dia tepat berada dibawah lampu sekarang, dan sejauh mata memandang, sama sekali tidak ada penerangan lagi di depan. Remaja bercelana jeans biru dekil itu berpikir, seandainya dia terus berjalan maju, siapa yang akan ia temui nanti? Atau barangkali….apa?
"Bah, di lorong sempit seperti ini, emang ada setan ya?", Vrathdar mengucap dalam hati. Simpul tersinggung di bibir, mungkin hanya itu kini yang dapat menghibur hatinya. Tapi di balik senyumnya, rasa cemas yang amat sangat menjalar di sekujur tubuh. Satu-satunya alat penerangan yang memungkinkan adalah handphone miliknya, tapi alat itupun sudah pecah semenjak ia tersadar tadi.
Wajahnya mengeras. Dia bertekad akan terus berjalan maju, apapun yang akan terjadi nanti. Vrathdar melangkah perlahan. Bunyi PLOP! yang tadi bergema telah tersamarkan menjadi sebuah desis dan kecipak air. Sambil berjalan ia terus berpikir, bagaimana aku bisa berada disini? Tempat apa ini? Mengapa dan apa yang telah aku perbuat? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar bagaikan gasing di kepalanya. Dan sambil terus bejalan, bertanya-tanya….
PLOP! PLOP!
Vrathdar terkejut. Refleks, dia menoleh kebelakang. Hanya sinar lampu yang semakin pudar ia melihat. Tetapi dia tahu, suara barusan adalah suara seseorang berjalan…atau sesuatu. Dan suara itu bukan berasal dari kakinya. Vrathdar terdiam.
PLOP! PLOP! PLOP!
Mukanya berubah pasi. Suara itu berasal dari kegelapan di depannya! Seketika dia langsung berbalik arah, mencoba berlari…tetapi terlambat, suara PLOP! PLOP! PLOP! berada tepat di belakangnya. Sesuatu yang basah, berlendir, dan sedikit kenyal menyentuh pundaknya. Vrathdar menoleh, dan ia tidak percaya apa yang ia lihat!
Teriakan manusia menggema di sebuah lorong gelap nan sempit.
"Aaargh…!!"
~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 recall it back...-x}~

Empati

...Sebuah cerpen konyol yang masih butuh edit sana-sini :P

Jaket hitam yang berkibar usang, rontok uban yang teramat gersang, dua hal yang tertampung dalam satu tonggak tubuh penat berkulit hitam. Ringkih berjalan tertatih, hembusan nafasnya berpacu detik dengan malaikat maut. Mata tua yang mudah meredup dan celana coklat butut yang ia kenakan – adalah pasangan hidup di semakin hari ia bertolak menuju alam azali.
Dan inilah kami. Bertemu begitu saja, di Port Jeremie, tanpa sengaja, tanpa janji. Berjalan, berpapasan, tanpa tegur sapa, hanya berbalas senyum. Tubuh tuanya berjalan lambat – walau sedikit lambat tertahan, tapi pasti. Seakan-akan emosi alam sudah bercampur dengan jiwa raganya. Sedangkan aku? Aku hanya berjalan lurus, tidak lebih. Percuma aku memberinya uang, karena materi itu kini baginya fana dan tidak kekal. Percuma aku bersimpati lebih kepada sang luapan hati, karena pasti ia menolak diri.
Bukan. Tolong jangan tatapkan pandangan skeptis itu ke arahku. Kau hanya belum merasakan. Coba saja kau berdiri disampingku, menatap sosok rentanya dari belakang. Apa yang kau lihat?
~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 recall it back...-x}~