.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Ketika kita memiliki perasaan atau sebuah memori yang teramat menyakitkan, kesadaran akan menekan memori tersebut ke dalam alam bawah sadar sebagai bentuk pertahanan diri. Kenangan tersebut lambat laun akan terlupakan meski tidak hilang seutuhnya. Begitu juga kenangan indah, ia mampu memaksa otak untuk memimpikannya berulang-ulang. Menariknya, jika memori mampu tenggelam ke alam bawah sadar, apakah mungkin alam bawah sadar memunculkan sebuah ide atau gagasan yang tidak berasal dari kesadaran?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kembali pada tahun 1961. Pada penghujung hidupnya, Carl Gustav Jung menulis artikel pada bunga rampai bertajuk, Man and His Symbols. Ia mengukuhkan krusialnya fungsi mimpi seorang manusia dalam menentukan jati diri. Selama ini mimpi selalu memproyeksikan beberapa simbol, lantas apakah simbol tersebut bisa dianalisis hanya dengan mengacu kepada sebuah buku dan mencari kemiripan simbol yang muncul dalam mimpi di buku tersebut? Tentu tidak bisa, dan tidak akan bisa.
Dalam dunia simbol, kita mengenal simbol kolektif dan simbol individual (sudah saya bahas dalam Bagaimana Ikon Menelanjangi Jati Diri). Simbol kolektif tentunya representasi dari kesadaran majemuk dan menyatakan bahwa simbol tersebut memiliki makna umum yang bisa diketahui bersama, seperti: tengkorak sebagai simbol kematian, matahari sebagai simbol kehidupan, dan pelbagai simbol lainnya terutama dari pelbagai mitologi kuno. Sedangkan simbol individual ditampilkan sebagai corak khusus manifestasi diri untuk menunjukkan ego. Contoh paling lugas dan simple: sebuah perusahaan membutuhkan logo yang unik untuk merepresentasikan ‘wajah’ mereka kepada masyarakat, tiap orang memiliki tanda tangan yang berbeda antara si A dengan B dan seterusnya (grafologi) ataupun pelbagai atribut yang melekat pada tubuh yang menandakan bahwa inilah trademark mereka.
Maka mimpi, sekali lagi, adalah proyeksi simbolik yang ingin ditunjukkan alam bawah sadar kepada kesadaran. Dalam dua mimpi atau lebih biasanya terdapat kesamaan simbol dan untuk menginterpretasikannya musti merujuk ke personalia masing-masing. Setiap individu memiliki pengalaman, kenangan, pembelajaran, idealisme dan religiuitas berbeda, maka tidak mungkin kita menafsirkan semua simbol kunci dan lubang kunci dengan hasrat seksual seperti yang dikemukakan Freud. Jung mengembalikan mimpi kepada si empunya. Ada titik tolak yang berbeda untuk setiap personalia. Bisa jadi lambang lubang kunci menunjukkan satu hasrat seksual untuk mereka yang berlibido tinggi, lalu bermakna harapan, kesejahteraan dan kesahajaan untuk lainnya, seperti yang dituangkan Campin dalam lukisannya pada sebuah altar di abad ke-15.
Terkadang mimpi juga beralih menjadi sebuah pengingat. Lihat kasus pasien yang mengalami gangguan neurotik, disosiatif amnesia, misalnya. Mereka mengalami gangguan ingatan jangka panjang karena trauma atau musibah yang pernah dialaminya, sehingga otak akan melakukan mekanisme defensif diri untuk menutup akses ke memori tersebut dengan sangat kuat: menguburnya dengan beragam memori yang indah atau semacamnya. Tetapi ketika dia berada dalam sikon yang sama sesuai dengan pemicu awal amnesianya (kejadian buruk tersebut), kesadaran akan tetap memblokir utuh akses ke memori buruk tersebut, tetapi alam bawah sadar akan menuntun si pasien untuk menyelamatkan diri agar tidak terjerembap di situasi yang sama. Bisa dengan mimpi, ataupun secara sadar, ketika dia tidak tahu harus melakukan apa tapi secara intuitif tergerak secara spontan.
Dalam keadaan sadar, peristiwa ketika seseorang mampu merepresi memori secara alamiah, disebut dengan ‘lupa yang disengaja’. Freud mendeskripsikannya sebagai kumpulan memori yang benar-benar siap untuk ditanggalkan. Nietzsche menggambarkan dengan lugas, “Where pride is insistent enough, memory prefers to give away.” Para psikolog modern menyebutnya sebagai a repressed contents; terkuburnya sebuah ide yang dinilai buruk oleh diri ke dalam alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan diri.
Contoh paling mudahnya seperti seorang sekretaris yang sedikit iri kepada koleganya. Dalam setiap pesta atau rapat, sekretaris ini seringkali lupa untuk mengundang ‘si kolega’. Bahkan ketika ditegur atau dilabrak, sekretaris ini dengan simpelnya berkata lupa atau “maaf, saya banyak pikiran.” Dia hanya enggan atau memang secara tidak sadar tidak ingin mengakui faktor dasar kelupaannya adalah karena iri hati karena si kolega tersebut adalah anak emas bos.
Begitu pula dalam mimpi. Simbol kolektif mengenal pelbagai simbol dari mitologi kuno, memiliki kemiripan peristiwa-peristiwa umum. Mimpi seperti: jatuh dari tempat tinggi, lari dari sesuatu atau seseorang, lari dengan kencang, dalam keadaan lemah tak berdaya terjebak di tengah-tengah konflik atau sebuah pertempuran, bertempur melawan sesuatu dengan sangat spektakuler, dan sebagainya. Ada kemiripan dari faktor penyebab psikologis di sana, mengapa dan bagaimana seseorang bermimpi demikian.
Sebut saja mimpi terjatuh dari suatu tempat yang sangat tinggi. Ada beberapa kemungkinan faktor penyebab munculnya mimpi ini. Pertama, bisa jadi orang tersebut sedang mengerjakan sebuah perkara dengan ekspektasi melebihi kapasitas yang ia mampu. Kemungkinan kedua, hampir sama dengan kemungkinan pertama, hanya saja hasil yang ditargetkan lebih mendekati mustahil. Kemungkinan ketiga, orang tersebut terlalu jumawa menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada orang di sekitarnya, entah mungkin dalam pekerjaan yang digeluti atau lingkungan sekitarnya, dan dia menganggap bahwa tidak ada yang bisa melebihinya.
Tentunya, dalam menganalisis sebuah mimpi, satu dari sekian kemungkinan yang ada memiliki probabilitas yang sama dalam skala prioritas faktor pemicu. Bisa jadi, seseorang yang bermimpi jatuh dari sebuah tempat tinggi, memiliki salah satu dari tiga kemungkinan di atas sebagai pemicu psikologis, atau bisa jadi tidak sama sekali karena penyebab tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan pribadi si pemimpi. Karenanya, Jung selalu mengulang-ulang nasehat berikut kepada para muridnya, “Pelajarilah simbolisme secara totalitas, tetapi dalam menganalisis mimpi pasienmu, sejauh mungkin tinggalkan apa yang telah kamu pelajari dari simbolisme.” Dibutuhkan sesi terapi, dialog, rangkaian tes, komunikasi akrab, rasa keterpercayaan, untuk menimbulkan suatu pemahaman global terhadap personalia pasien secara menyeluruh.
Sayangnya, perkembangan manusia menuju dunia yang modern, ketika penolakan terhadap agama semakin kentara, atau lebih jauh ke dalam era post-modern dengan pelbagai interpretasi skeptisnya, malah seringkali memisahkan antara kesadaran dengan insting paling dasar pada kejiwaan manusia, baik dari ketakutan (terkadang dibutuhkan agar seseorang tidak berlaku ceroboh), dan beberapa insting lain terutama kehausan spiritual. Tradisi urban menuntut —hingga taraf memaksa— manusia untuk lebih mengedepankan rasionya, berpikir serba realistis dan pragmatis. Walhasil, krisis yang dipaparkan oleh Jung sebagai ‘terciptanya manusia-manusia plastik’ yang bahkan karena terlalu lelah bekerja dan pemikiran yang serba sempit dalam memandang sesuatu, memaksa pikiran untuk tidak lagi memproduksi mimpi sebagai pengingat alamiah dari alam bawah sadar yang berfungsi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan oleh kesadaran. Mereka pasti mengabaikan kata hati yang mereka rasakan pertama kali yang terkadang muncul sebagai mimpi yang  meninggalkan jejak di kepala meski sudah terbangun, dan malah mengikuti alur logika yang mereka anggap benar.
Seorang pemikir kondang pun masih bisa menyangkal makna mimpi. Dalam buku Thus Spoke Zarathustra milik Nietzche, terdapat bagian kisah yang bercerita tentang insiden yang terjadi dalam perjalanan sebuah kapal pada tahun 1686. Secara tidak disengaja, Jung pernah membaca kisah tersebut pada sebuah buku yang terbit pada tahun 1835, hampir separuh abad sebelum Nietzche melahirkan magnum opus-nya. Psikolog Jerman ini mulai menyadari kejanggalan tersebut saat ia menemukan gaya tulisan yang sangat berbeda pada Thus Spoke Zarathustra, hanya pada bagian tertentu yang mengisahkan tentang insiden dalam sebuah data perjalanan kapal.
Saat ia mencocokkannya dengan buku miliknya, tulisan yang ada sangatlah mirip, kata demi kata, bak plagiasi. Meskipun Nietzche sama sekali tidak pernah menulis referensi yang merujuk ke buku tersebut, saat Jung mengklarifikasikan hal itu kepada adik dari pencetus ungkapan terkenal “Gott ist tot!” ini, sang adik mengaku bahwa mereka berdua pernah membaca buku tersebut saat Nietzche berumur 11 tahun. Bisa jadi, 50 tahun setelahnya, memori tersebut mencuat dari alam bawah sadar Nietzche saat gelombang sadarnya berada dalam keadaan sangat tenang, antara mimpi dan sadar, dan dia pun menuangkannya pada bukunya.
Maka sebuah mimpi tidak akan hadir tanpa sebuah faedah, baik proyeksi simbolik sebagai pengingat alam bawah sadar, maupun mimpi sebagai pencetus ide dari rekaman memori yang pernah ditangkap otak. Mimpi pun bisa hadir sebagai isyarat Tuhan, ilham yang ditangkap oleh para nabi, ulama dan orang-orang saleh pilihan. Islam sama sekali tidak memungkiri hal ini, karena ada tiga epistemologi menurut para ulama Mantiq: rasio, empirik dan wahyu atau ilham. Banyak kisah terabadikan dalam al-Quran, seperti mimpi nabi Ibrahim, mimpi nabi Yusuf, mimpi raja Mesir, mimpi Fir’aun, dan banyak lagi.
Dalam penafsiran mimpi yang membawa isyarat ilahi, sepenuhnya kembali ke kepribadian dan sisi religius si pemimpi. Tidaklah mungkin seorang begal, bermimpikan menjadi nabi kecuali mimpi tersebut dibawakan oleh syetan. Bahkan Tafsir al-Ahlam milik Ibn Sirin juga tidak bisa semata-mata menjadi pedoman dalam menginterpretasikan mimpi, karenanya jangan heran jika ada seseorang bermimpi A, lalu mengira akan terjadi sesuatu seperti yang terbaca atas deskripsi dari mimpi A, yang terjadi malah sebaliknya atau di luar interpretasi tersebut.
Di dalam mimpi, seringkali kita berada dalam sebuah peristiwa, tanpa pernah mengingat bagaimana mulanya kita bisa sampai di sana.
Di dalam mimpi, bisa jadi kita menjelma seorang manusia superior bak superhero di kisah-kisah fiktif. 
Di dalam mimpi, kita bisa menemui seseorang yang seharusnya tidak mungkin bisa kita temui di dunia nyata. Perasaan selanjutnya yang menyusul, entah haru biru atau bahkan ketakutan yang mencekam.
Mimpi adalah sahabat yang acap kali dibenci atau diacuhkan, meski menyikapinya secara berlebihan tanpa ilmu yang cukup juga sangat tidak baik. Mimpi itu unik, selalu membawa aura enigmatis yang sangat khas.
Siapa tahu saat semua orang serentak memimpikan kejadian yang sama, suatu kejadian yang mengguncangkan semesta akan terjadi.

* - tulisan ini pernah tayang di website berbeda.

Barangkali kesalahan dek Afi dan om Hartanto bukan berasal dari diri mereka, melainkan masyarakat di sekitarnya. Dan kita adalah bagian dari masyarakat itu. Manusia memang mudah terpesona dengan sesuatu yang menyilaukan mata, menyibukkan diri dengan rumor yang sedang panas-panasnya, mengikuti tren yang ada tanpa tedeng aling-aling dan langsung mengecap sesuatu dari tampilan zahir. Umum dan remeh memang. Tetapi kita tahu, sebuah kesalahan yang kerap dilakukan berulang kali bisa menjadi kebiasaan yang membentuk karakter tanpa disadari.
Boleh jadi Dek Afi dan Om Hartanto adalah korban.
Masyarakat kerap menilai baik-buruknya seseorang dari prestasi dan penampilan. Pria berdasi dan berpakaian rapi lebih mudah memantik kharisma dan memancing hormat dari lawan bicara dibanding pria berambut panjang, berbaju kumal dengan celana jins yang bolong di lututnya. Orang akan lebih mendengarkan argumen seseorang yang terkesan ilmiah dengan sesekali mencomot kutipan dari sana-sini dibandingkan perkataan jujur yang tidak sistematis dan sedikit terbata-bata. Seorang pendiam yang lebih banyak mengucilkan diri untuk berkarya dan menulis akan lebih mudah menerima fitnah dibanding seorang bermulut besar tetapi aktif dalam kegiatan warga, meski niatannya cuma setor muka dan bertegur sapa.
Saya bisa mengatakan, bahwa pada beberapa tahun ke depan akan semakin banyak Dek Afi dan Om Hartanto lain yang bermunculan jika budaya kritis dan peka-sekitar semakin terkikis dan orang-orang mudah sekali menyebarkan sebuah berita tanpa sama sekali ada niatan mengklarifikasi. Jika kebiasaan ini dibiarkan berlangsung, generasi kini dan mendatang akan semakin tertutup pikirannya dan bakal semakin mudah menyalahkan. Sebuah kabar tidak mengenakkan tersebar, dan semua orang berbondong-bondong mengiyakan. Semua ramai menyalahkan, dan yang mencoba berempati atau tidak ikut-ikutan dengan maksud untuk menyelidiki akan dikucilkan.
Tidak heran akhirnya orang akan mencoba mencari jalan pintas dan berpikir: jika aku bukan dari golongan berada dan kemampuanku pas-pasan, bagaimana caranya untuk membuat masyarakat mengakuinya? Walhasil mereka akan menjadikan sosmed sebagai pelarian, karena sosmed tidak memiliki medium untuk memverifikasi. Segala yang diunggah bersifat netral. Benar tidaknya tergantung persepsi pembaca. Terlepas tulisan atau foto yang kerap ditampilkan adalah hasil plagiat atau manipulasi. Toh, jarang ada masyarakat yang kritis. Mereka yang kritis biasanya cuma mereka yang kerdil hati atau kurang kerjaan, begitulah stigma yang biasa beredar.
Freud sudah menulis analisis yang lebih detil terkait kasus di atas dalam Studies on Hysteria sejak lama, bagaimana seseorang sangat mencemaskan penampilan, budaya gunjing-menggunjing yang tidak terbatasi moral dan sifat takut dikritik sebagai gejala penyakit jiwa. Hanya saja dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, seseorang juga semakin mudah menilai sesuatu berdasarkan nafsu semata. Sengaja kata nafsu yang digunakan di sini–bukan hati, karena jika seseorang menggunakan hatinya dengan baik, maka nurani yang akan berkata. Bukan ego. Ingat sebuah hadis yang mengatakan  bahwa di dalam sebuah jasad terdapat segumpal daging, jika dia sakit maka seluruh tubuhnya akan turut sakit. Gumpalan daging tersebut adalah hati. Dari hadis tersebut, kita bisa menyimpulkan dua hal: secara fisik hati termasuk organ yang memiliki peranan penting dalam menetralisir racun, mengatur komposisi kandungan lemak dan gula dalam darah, membuat empedu untuk membantu pencernaan lemak, dan banyak lagi. Dalam pengibaratan metafisik, hati atau qalb juga bisa dimaknai sebagai jiwa. Rusaknya jiwa seseorang mampu menyebabkan rusaknya salah satu atau seluruh tubuh.
Psikolog Barat cenderung memaknai hati sebagai jiwa. Dalam Psikologi dan Agama, Carl Jung menjelaskan alasan rusaknya jiwa seseorang sebagai penyebab sakit fisik, dan pemicu terjadinya neurosis atau psikoneurosis: suatu kelainan mental yang mempengaruhi kepribadian seseorang tanpa mengganggu fungsi rasionalnya. Neurosis ini menyebabkan orang untuk sangat berhati-hati terhadap penampilan luar, rapuh dikritik, malu berlebihan, mudah cemas dan puncaknya: jatuh stress. Seseorang yang menderita neurosis mudah terpengaruhi lawan bicara, sehingga dia selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu dan mengevaluasi gayanya tiap dalam hitungan mikro detik untuk membuat orang-orang di sekitarnya terus memuji dan tidak mengkritisinya. Karena dia sangat rentan dikritik, maka dia selalu memperhitungkan agar topeng yang dikenakan adalah topeng terbaik dan mengikuti arus. Dia sangat takut untuk dikucilkan atau dianggap berbeda, sehingga dia selalu mengikuti tren yang beredar.
Meski neurosis sudah dihapus dari klasifikasi kelainan jiwa dan digolongkan bersama gangguan-gangguan impuls seperti anxiety (cemas), disosiatif, mood, dan semacamnya oleh American Psychiatric Association pada tahun 1974–salah satunya karena kesulitan yang muncul saat mendefinisikan kewarasan seseorang, tetapi saya tetap mengikuti pendapat Freud dan Jung bahwa neurosis muncul jika seseorang terlalu membentengi hatinya untuk berekspresi sehingga mengganggu pola-pola adaptif dirinya. Neurosis akan menghalangi kebebasan seseorang untuk berkembang, mengurangsi fleksibilitas pemikiran, perilaku dan emosinya, sehingga memunculkan paranoia berlebihan dan rasa cemas yang tak kunjung akhir dan bisa berujung depresi.
Para ahli menjelaskan bahwa pemicu terjadinya neurotik ini adalah konflik antara id, yang mengatur pemenuhan kebutuhan hidup, dengan ego yang berusaha menjaga bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi tanpa berbenturan dengan realitas. Faktor lain juga bisa tercipta jika kesadaran seseorang berbanding terbalik dengan egonya. Seseorang yang sangat memperhatikan kesehatan dan kebersihan akan mudah mengait-ngaitkan munculnya suatu penyakit yang berbahaya pada tubuhnya usai membanding-bandingkannya dengan artikel kesehatan yang ia baca, terlebih jika gejala-gejala ringan yang muncul pada tubuhnya sama seperti gejala yang terdapat pada suatu penyakit kronis tertentu seperti kanker, misalkan. Dia cenderung melebih-lebihkan sesuatu, meski sudah berkonsultasi dengan dokter terpercaya dan menetapkan tidak ada kanker dalam tubuhnya, dia tetap keukeuh dengan kepercayaannya dan terus mengeluh. Penderita kanker imajiner tersebut jika dibiarkan akan bisa memaksa tubuh untuk benar-benar menciptakan kanker sungguhan atas reaksi dari dorongan sugesti yang kuat, mempengaruhi tindakan dan pola makan tanpa disadari, menciptakan darah kotor yang tersumbat dan semakin lama memicu kanker.
Begitu juga yang terjadi dalam kasus Afi dan Hartanto. Jika orang-orang di sekitarnya tidak mampu mengklarifikasi dengan cepat terkait rumor yang beredar atas diri mereka, maka bisa disimpulkan: mereka pandai mengenakan topeng, atau mereka jarang bergaul. Mereka jarang berinteraksi dengan kawan dan keluarga, atau komunikasi yang terjalin sebatas formalitas belaka. Terbukti pengakuan dari guru Afi yang telat muncul dan rekan-rekan PPI Delft yang telat klarifikasi karena kesulitan menggali latar belakang Hartanto. Kita juga bisa menyimpulkan hal yang sama bahwa keduanya sama-sama meraih pamor dari medsos, sedangkan medsos bukanlah refleksi yang menggambarkan karakter sejati seseorang Medsos hanyalah serpihan, itu juga bagi orang-orang yang menyadari. Tapi bagi sebagian orang, medsos adalah proyeksi jati diri seseorang. Selama yang ditampilkan adalah hal-hal baik, maka mudahlah label orang baik tersemat kepada mereka, begitu juga sebaliknya.
Jadi obsesi atau paranoia yang berlebihan terhadap sesuatu, mengasingkan diri tanpa menyibukkan diri dengan hal-hal positif, kurangnya solidaritas dari orang-orang di sekitar dan menyikapi medsos sebagai proyektor karakter sejati seseorang adalah dampak negatif yang mampu mempengaruhi kepribadian. “Sudah sewajarnya setiap orang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya,” begitu adagium masyhur dari Muqoddimah Ibn Khaldun. Timbal balik dari orang lain, pola pikir yang terbentuk dari himpunan pengalaman baik menyenangkan maupun traumatis dan kemampuan untuk menggali hikmah di kala sedih atau bahagia, itulah yang akan membentuk diri manusia dan bisa menjauhkan mereka dari penyakit-penyakit jiwa, atau hati menurut ulama Islam.
Merujuk pada kasus di atas, rasa cemas dan takut akan runtuhnya imej berasal dari dengki yang mengakar setelah melihat prestasi mengagumkan orang lain, dan memaksanya mengukir kebohongan demi kebohongan untuk menciptakan karakter imajiner agar orang-orang lain menatapnya terkesima. Penyakit semacam ini disebut dengan Mithomania (masih tergolong sebagai neurosis). Setiap orang memiliki neurosis potensial dalam dirinya, dan bisa terjangkiti Mithomania atau neurosis lain tergantung bagaimana dia mengelola jiwanya dengan cerdas. Ketika seseorang sanggup mengelola emosi dengan baik dan proporsional, mampu menerima dirinya secara utuh dengan mengakui kelebihan dan kekurangan yang ia miliki, serta berani mengembangkan potensi dirinya setelah menelan bulat-bulat kenyataan bahwa dirinya tidak sempurna dan mengerti tidak ada sesuatu yang instan bahkan butuh proses untuk menjadi sebuah pribadi yang matang. Dengan begitu, maka tidak ada lagi adek-adek gemes seperti Afi dan om-om nakal laiknya Hartanto yang lahir dari konsensus sosial.
“Orang beruntung adalah orang yang mengetahui untuk apa dia diciptakan, bekal apa yang telah dipersiapkan, dan mencari hal yang bersifat duniawi untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokoknya,” begitu yang ditulis oleh Abdul Khaliq el-Syarbawi dalam Maratib al-Nafs miliknya. Menonjolkan prestasi berlebihan akan menumbuh-kembangembangkan sifat arogan, padahal hanya Sang Pencipta yang boleh berbaju kesombongan.

* - late post dari tahun 2017.

Saya belajar banyak dari Lookism, sebuah manhwa yang memperkenalkan realita: mayoritas masyarakat hanya memandang seseorang hanya dari penampilan atau isi kantong, bakat nomer dua. Kamu berpenampilan menarik, mengenakan baju-baju atau aksesoris bermerk, orang akan memandangmu dalam dua kategori: entah kamu termasuk kalangan borjuis, elitis, apalah itu, dan memandangmu dengan mata penuh hasad; atau kamu dileburkan dalam kategori makhluk-makhluk unggul pemimpin ras manusia, kamu pantas menyandang segala jabatan dan masa depan untuk apa saja, dan kamu akan dipandang dengan sorotan penuh kagum.

Kamu tidak berpenampilan menarik dan tidak mempunyai bakat? Saya mau mengatakan tenggelam saja di laut, atau dengan sinis, mengapa kamu masih bernafas? Tetapi tidak mungkin saya berkata seperti itu, karena saya sendiri termasuk orang-orang yang tidak bertampang menarik dan mengganggap penampilan mencolok itu sungguh memuakkan. Cukup berpakaian rapi, pantas dipandang, sesuai syariat, tidak muluk-muluk. Tetapi saya sadar, orang yang beranggapan seperti saya, tidak banyak. Apalagi jika mereka sudah tahu bagaimana rasanya mencari uang.

Sebelum saya berbicara lebih lanjut, saya sarankan bagi kawan-kawan yang membaca tulisan ini, jika masih duduk di bangku kuliah dan masih melajang, lebih baik melanjutkan aktivitas lain yang lebih berguna. Alasannya simpel, mahasiswa lebih mudah menjunjung idealisme sebelum akhirnya mengenal prioritas lain dan meneguk ludah dengan pahit. Saya cerita sedikit. Dulu saya pernah mencibir seorang kawan pekerja kantoran. Kerjaannya mengeluh di sosmed. Apa yang dikeluhkan, panjang, tidak usah dibahas. Sedangkan saya yang saat itu belum lulus kuliah tetapi kerja serabutan untuk menambah uang saku, dengan santainya berkata, jangan mengeluh, semua orang memiliki pasang-surut hidup masing-masing. Entah kesurupan jin mana, dengan ketusnya dia membalas, kamu bakal tahu sendiri jika kamu merasakannya. Sebenarnya saya mau menjawab, ya tapi tidak usah lah diumbar-umbar ke mana-mana laiknya pengemis, konyol kelihatannya. Untung saya mengutarakannya dalam hati, kalau tidak hubungan pertemanan kami sudah hancur.

Sekarang saya merasakan hal yang sama seperti yang kawan saya alami. Karma memang, saya merutuki nasib. Jika kamu tidak mau mengalami hal yang sama, tinggalkan tulisan ini dan lakukan sesuatu yang bermanfaat, memasak mie instan misalnya.

Sederet tokoh dalam manhwa Lookism.
Saya lanjutkan kembali, saya senang memerhatikan karakter orang-orang di sekitar saya, dan hal yang paling saya sukai saat membaca suatu kisah atau menonton film adalah perkembangan para tokoh di dalamnya. Dalam tulisan saya yang berjudul Ikon, manusia gemar menggunakan sesuatu yang merepresentasikan kegemaran atau kecenderungan mereka. Di kantor, saya seperti melihat akuarium dengan berbagai macam ikan hias, banyak sekali topeng dan simbol dalam atribut yang mereka kenakan.

Contohnya saja, ada yang melulu mengenakan kostum seronok dan setelah merasakan bagaimana akibat dari pandangan lelaki mata keranjang, perlahan-lahan kulit tubuhnya mulai tertutup, meski masih tidak semua. Ada yang memiliki tampang menarik, tetapi seolah tidak peduli apa tanggapan orang terhadap baju asal-asalan yang dia kenakan. Ada yang tampangnya biasa tetapi berusaha keras agar dipandang sedap oleh yang lain sehingga mengabaikan standar tampan atau cantik secara umum. Ada yang ingin menonjolkan karakter sangar mereka dengan bertato dan memiliki rambut khas preman pasar. Ada juga yang selalu berpakaian ala gypsy lengkap dengan kalung, gelang, anting di sekujur tubuh layaknya toko perhiasan murahan berjalan, dan banyak lagi.

Memang kenalan saya di kantor tidak banyak, setidaknya lumayan menambah pahala salaman biar tidak melulu yang disapa cuma kolega asal Indonesia. Saya juga beranggapan sebagai warga asing, kerja di tanah lain dan berkenalan dengan banyak warga asli adalah sesuatu yang merepotkan, kecuali di luar lingkup bisnis. Ibarat jika menghadiri suatu pesta, lebih baik berdiri di sudut daripada ikut bergumul di tengah dan menjadi sorotan kecuali terpaksa. Walhasil, lingkar pertemanan saya ya itu-itu saja. Saya tidak mau dikenal orang banyak kecuali situasi memaksa dan tidak mau tahu-menahu urusan orang kecuali mereka sendiri yang bercerita, sampai suatu hari saya menyadari bahwa saya sempat menjadi bahan gunjingan. Saya tidak tahu hal tersebut sampai seorang kawan menyampaikan langsung. Dia bilang, saya kutip kata demi kata, “You know, man. I envy you, you’re always looked so cool. You have this cool aura or something. We often spoke about you but hesitantly approach because you seem so distant.”

Seperti biasa, saya menjawabnya dengan memasang wajah dungu, tertawa, dan mengatakan not really beberapa kali, meski dalam hati saya menyangkal keras. Hidung saya tidak memerah atau kembang kempis karena tidak mengganggap itu pujian, dan sepertinya memang bukan. Melihat dari karakternya yang blak-blakan, apa adanya, supel dan tidak ragu dalam menyapa orang, khas tipikal seorang ekstrovert, mereka lebih memilih untuk mengatakan sesuatu yang tidak merugikan mereka. Terlebih lagi, dia cowok. Jika cewek yang mengatakan, mungkin pipi saya sudah seperti tomat. Saat saya bertanya apa alasannya beranggapan begitu, dia menjawab, kamu tidak pernah malu mengenakan jaket anime saat ke kantor. Padahal banyak penggemar anime di sini tetapi mereka malu berpakaian seperti itu, sedangkan kamu tidak. Lagi-lagi saya tertawa. Untung tadi muka saya tidak memerah.

Tetapi perkataan serupa juga sering saya dengar sebelumnya, kali ini dengan nada menyindir, yang paling saya ingat saat seseorang menyebut saya sebagai orang yang berkarakter dingin. Kemudian dia menjelaskan lebih lanjut, dingin karena seolah-olah berkelas dan berselera tinggi, yang bakal cuek jika disapa karena menganggap status yang tidak sama, yang selalu memasang tampang seolah-olah tidak peduli dengan dunia karena merasa sudah memiliki segala. Jujur saya tersinggung. Tentu saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan bagaimana kondisi keluarga saya dan lain sebagainya, tapi penting kiranya saya meluruskan satu hal: saya hanya ingin berpenampilan pantas sesuai selera, tidak lebih. Menarik atau tidak, terserah anggapan orang, tetapi banyak yang keliru bahwa saya harus berpenampilan trendi atau semacamnya. Mereka yang menganggap saya dingin, kemungkinan besar karena saya lebih sering memasang topeng tidak peduli terhadap orang-orang yang belum kenal atau akrab. Sebagian orang pasti menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak sopan, sok elitis atau apalah, apa daya saya seorang introvert yang sangat menghargai ruang privasi. Selama saya tidak melakukan sesuatu yang mengganggu, tentu saya sangat mengapresiasi untuk tidak diganggu juga.


Sekelumit kisah di atas dipaparkan dengan baik juga di Lookism. Meski bukan manhwa pertama yang saya baca, rupanya menyinggung banyak hal terkait favoritisme, kehidupan glamor selebriti dan dunia entertainment, terutama di Korea Selatan. Saya semakin menyadari beberapa hal terkait persepsi memang tidak bisa diubah. Manusia dinilai pertama dari tampang, kedua dari tubuh, ketiga dari pakaian. Manusia cenderung iri kepada seseorang yang berpakaian bagus, dan berakhir dalam dua hal: lamat-lamat mengikuti gaya tersebut tanpa mereka sadari, dengan mengorbankan banyak hal hanya untuk mengikuti tren, atau menabung sebisa mungkin dan selalu mengenakan baju yang mereka anggap prestisius atau masih setia dengan gaya yang biasa mereka kenakan.

Untuk kasus pertama, kebanyakan wanita begitu melihat barang yang mereka minati, tanpa ba-bi-bu segera membelinya meski harus mengorbankan uang saku. Saya banyak menemukan kasus tersebut terutama dari kalangan kelas menengah ke atas dan beberapa pria juga berperilaku sama (ingat prinsip Anima/Animus milik Jung). Sedangkan untuk kasus kedua, kebanyakan didominasi pria, meski tidak menafikan minoritas wanita, mungkin karena di sekitar saya cenderung didominasi oleh kaum penganut kantong tipis, mereka tidak peduli untuk beli barang baru selama barang yang lama masih bisa digunakan. Sekali lagi, tentu tidak semua seperti ini, dan banyak juga kaum wanita yang tidak mudah tergiur dengan hal-hal glamor. Jika kamu cowok lajang, belum punya calon, dan menemukan wanita macam itu, segera pinang. Jika boleh jujur, saya lebih respek kepada seseorang yang lebih mengutamakan kesederhanaan dalam segala hal. Bukankah Islam juga mengajarkan untuk tidak melihat dari penampilan saja? Pembelajar tashawwuf pasti mengamini.

Di Lookism sendiri tokoh utama digambarkan sangat sederhana. Dia berpenampilan menarik hanya karena dia menerima banyak baju berkelas dari sahabat karibnya, sedangkan uang hasil keringatnya dibelikan baju atau tas untuk ibunya. Dia anak tunggal, ibunya membanting tulang dengan memulung dan kerja serabutan demi menafkahi anaknya, dan sungguh, bagaimana hubungan keduanya untuk saling membahagiakan satu sama lain benar-benar menginspirasi. Tidak lain karena saya benar-benar berempati dengan tokoh utama. Membacanya, saya seperti melihat sosok diri sendiri meski dengan catatan: minus tampang keren dan tubuh tinggi nan atletis seperti model-model plastik.

Ibu dari si tokoh utama.
Tetapi sekali lagi, manhwa tersebut mengajari saya bagaimana seharusnya sikap seorang anak lelaki untuk ibunya, bagaimana lingkar kecil pertemanan seorang introvert akan berdampak banyak di kemudian hari jika ditunjang dengan persahabatan tanpa pamrih, bagaimana simbiosis introvert dengan ekstrovert bisa tercipta dengan baik, bagaimana persepsi manusia untuk menilai bakat selalu datang nomer dua setelah penampilan, bagaimana kemistri akan tercipta jika memiliki gaya pemikiran yang sama, dan tentunya bagaimana kerja keras untuk menghasilkan atau memperoleh sesuatu agar menuai hasil. 

Mungkin beberapa dari kita sudah pernah mendengar suatu pepatah, satu hal di dunia ini yang tidak mungkin mengkhianati kita adalah apa yang kita latih dan pelajari. Kamu ingin menjadi hafidz? Seringlah membaca dan mendengarkan murottal, tapi tolong jauhkan otak dari hasad dan menghasut. Kamu ingin pandai menggambar, menulis atau bermain musik? Seringlah berkarya dan tidak malu dicaci orang. Sebuah ilmu tidak mungkin tercapai kecuali dengan berkorban, komik Lookism dan bahkan dunia ini mengajarkan begitu. Hanya satu hal yang saya sesalkan dalam manhwa ini, ilustrator selalu menggambarkan tokoh berperangai buruk dengan penampilan yang buruk, sedangkan karakter yang baik juga digambarkan memiliki penampilan yang menarik. Padahal jika kita telaah kisah-kisah klasik, stereotipe penampilan buruk identik dengan jiwa yang buruk juga, merupakan teori kriminologi usang yang sudah lama ditanggalkan. Miris, padahal melihat dari jargon yang diusung komik ini bahwa penampilan bukan segala, tetap saja si ilustrator terjebak dalam stereotipe usang itu. Kemudian saya menyadari, barangkali itu yang diinginkan si ilustrator, agar pembacanya benar-benar jeli saat membaca cerita yang ia suguhkan bahkan sampai di luar konteks, atau saya yang terlalu berprasangka baik.

Lamat-lamat saya berpikir, saya sering menemukan bagaimana manusia tampan atau cantik, entah sadar atau tidak, sudah sering buang harga diri dan berperangai busuk, tapi bukan berarti semua seperti itu. Saya juga sering menemukan bagaimana seseorang yang berwajah buruk hatinya sama buruk, meski lagi-lagi, semua tidak seperti itu. Tapi perlu diingat, label kawan atau lawan, kita yang menentukan (untuk kalimat terakhir ini, saya ingin membantah meme yang lagi viral bahwa penyematan label kawan atau lawan, muslim atau kafir, dll, hanya digunakan oleh orang-orang liberal atau semacamnya. Naif sekali.)

Mungkin standar mengenali watak atau tabiat seseorang di era dijital ini dengan cara melihat apa yang mereka posting, semakin sering mereka memposting hal-hal yang berbau agamis, lumrahnya kita akan melabelinya sebagai orang yang agamis pula, padahal itu adalah kesalahan besar. Era dijital benar-benar era yang menjebak, banyak orang menilai sesuatu hanya dari kulit, baik itu karakter, bahkan informasi. Saya tidak tahu apakah ini merupakan ciri-ciri akhir zaman atau bukan, saya cuma bisa menyimpulkan satu hal: kita harus bisa melihat esensi dari segala sesuatu yang menarik perhatian kita sebelum menyimpulkan, kalau tidak, kita sendiri yang menanggung akibatnya. Mungkin bukan sekarang, tetapi saat ototmu sudah tidak lagi mampu menopang tulang, kamu akan tertawa dengan penuh sesal meratapi kesalahan yang sudah-sudah.