.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Dot 3.0: Perkara Hati

Dalam urusan memasak kita pasti akan memilih bahan terbaik untuk menghasilkan makanan yang enak pula. Sayangnya, tidak begitu dengan hal memilih pasangan.

Saya menyadarinya sedikit terlambat. Ada seseorang yang sangat mencintai saya, saya pun demikian. Dia seorang yang alim, tapi sengaja menyembunyikannya. Semakin jauh saya mengenalnya, semakin kagum saya dibuatnya. Sebuah hubungan yang serius selalu mampu memaksa dua insan untuk saling berdiskusi terutama terkait masa depan, tentu karena hubungan yang benar berasal dari hati akan menargetkan sesuatu sampai selesai. Dia terbuka untuk bercerita apa adanya, sampai suatu ketika dia pernah bercerita suatu hal yang sangat menyentakkan hati. Saya terperanjat. Tidak ada seseorang yang tidak memiliki cacat. Dengan angkuhnya, saya memutuskan hubungan tersebut. Umur masih muda, tapi tak terhitung reputasi dan prestasi yang saya raih. Wawasan agama saya cukup luas, tidak mungkin seorang bidadari yang rupanya jelmaan beruk menyamar disandingkan dengan calon seorang raja. Sesumbar sekali saya berpikir dalam hati. Begitu pongah saya berpikiran, dan dengan teramat menyesal saya menyadari pilihan itu salah setelah lewat ratusan purnama. Tidak usah saya jelaskan bagaimana, tetapi kelak wanita tersebut beruntung telah menemukan pasangan yang mampu menerima segala kebaikan dan keburukannya, bertahan dan terus saling berusaha menjaga dan memperbaiki diri.

Dalam urusan mencintai, kita tentu mengharapkan yang terbaik dari pasangan kita kelak. Manusia selalu berpengharapan lebih, selalu mengharapkan sosok yang sempurna untuk menggenapi separuh jiwanya. Saya menyebutnya sebagai racun budaya yang kerap dipopulerkan oleh serial drama Korea dan serial drama Barat jauh sebelum itu yang kerap menggabungkan budaya hedon dan menampilkan bahwa kebaikan selalu sebanding dengan penampilan, meski mungkin pemikiran saya terlalu dangkal dan picik karena terlalu menggeneralisir, nyatanya banyak pemuda-pemudi yang tanpa disadari melakukan hal ini.

Saya menyadarinya terlambat, sekali lagi menegaskan, karena sekian banyak buku yang dilahap, saya melupakan sebuah esensi yang sangat fatal. Esensi yang seharusnya diajarkan oleh para sesepuh, guru dan banyak hal lain dalam mengajarkan suatu ilmu: keikhlasan.

Makna ikhlas di sini bukan berarti melepas dan merelakan, banyak yang salah kaprah dalam hal itu. Manusia selalu ingin mengubah sesuatu menjadi lebih baik, contoh dalam hal pasangan, mereka pasti ingin pasangan mereka berubah sesuai dengan imej yang ada dalam benak mereka. Disuruhnya ini, itu, mereka harus begini, mereka harus begitu. Saya pernah bercerita kepada Ibu, sangat manusiawi sekali jika kita beranggapan begitu dan melakukannya. Ingin mengubah dan berubah. Kelak lupa, setiap harinya manusia selalu berubah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita tidak tahu kapal ajal kan menjelang, maka seorang muslim yang cerdas senantiasa harus mempersiapkan dirinya unutk kemungkinan yang terburuk yakni kematiannya dan muslim yang lemah akal selalu hanya ingin memperturuti hawa nafsunya. Begitu ucap sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah.

Apa kaitannya dengan keikhlasan? Dari dulu saya selalu tertarik memperdalami psikologi, mungkin karena sedari kecil selalu dicecoki bacaan-bacaan detektif, sehingga lambat-laun sering bertanya-tanya, apa motif seorang kriminal melakukan kejahatan? Banyak teori yang diulas oleh para pakar Kriminologi, penjelasan mereka tidak selalu sama. Saya masih belum puas. Kemudian saya pernah menulis sebuah makalah dan diterbitkan di sebuah jurnal yang berkaitan dengan krisis moral dan humanisme dalam pandangan Islam. Tulisan itu menuai banyak puji, tapi juga kritik. Para senior kajian yang terlebih dahulu malang-melintang dalam dunia akademisi menganggap tulisan saya terlalu kering. "Kamu perlu lebih banyak lagi membaca karya-karya tashawwuf, karena ilmu psikologi Barat hanya bisa mengupas kulit. Dalam Islam, karena epistemologi kita meyakini adanya ilmu yang bisa diraih dari selain deduksi dan empirik, maka hati dan kematangan jiwa juga mempunyai dampak yang sangat besar dalam mengembangkan suatu karakter seseorang."

Saya menemukan jawaban tersebut setelah berulang kali menyimak pelbagai pelajaran yang diasuh oleh para guru di Bumi Kinanah dan mengalami suatu kejadian yang selalu terkenang. Hati adalah sesuatu yang sangat amat goyah, dan manusia harus terus mengasahnya agar posisi hati tidak terus tenggelam dalam kubangan sampah. Dengan beberapa sahabat, kami sepakat berusaha memanifestasikannya dalam banyak hal. Kita tidak usah menampilkan topeng kebaikan di muka umum, dan senantiasa mengamalkannya dalam karya yang lain. Kawan lain ada yang mengamalkannya dalam praktik berdagang, dengan anggapan untung dan rugi semua dalam kuasa Tuhan. Bagaimana sikap kita saat diuji dengan kebahagiaan dan kesedihan, itulah esensi keikhlasan. Ada lagi yang mengamalkan dengan mengajar. Dia melihat bagaimana reaksi diri saat dikritik murid, dia juga ingin menguji murid dari segi kejujuran dan ketekunan. Saya sendiri berjanji kepada diri, untuk mampu menghasilkan karya dan seni yang nampak tidak dibalut dengan aksesoris Islami tetapi ruh dan praktiknya adalah manifestasi dari ajaran-ajaran Islami. Semua itu adalah olah batin yang berusaha diperoleh oleh seorang manusia yang ingin mencapai tingkatan jiwa tertinggi: an-nafs al-muthmainnah. Penjelasan lebih hangat dan jelas bisa disimak dalam seluruh majelis ilmu Syeikh Sya'rawi atau dalam bukunya yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, Psikologi Sufi.

Tetapi lagi-lagi, ilmu keikhlasan ini sungguh sangat berat. Saya menemukannya dari sosok wanita lain. Sudah belajar dari pengalaman masa lalu, dan dia dengan masa lalunya, kami dipertemukan dalam sebuah garis takdir yang sangat rumit. Dia mengetahui apa kekurangan saya, tetapi berusaha menambalnya dalam hal itu, saya juga berjanji untuk mengubahnya. Saya juga tahu bagaimana kekurangannya, tetapi saya juga mencoba bersabar dan menasehati diri pelan-pelan. Semula keluarganya menentang, karena tentu, siapa pula yang orang tua yang mau anaknya dijodohkan dengan lelaki yang lebih, lebih bau kencur daripada putrinya? Tetapi usaha wanita tersebut selalu saya kagumi bahkan sampai sekarang. Dia rela melawan semua keputusan keluarga yang menentang kami. Lambat laun, mereka pun luluh dan berhasil menerima saya. Tentu juga setelah mereka berdiskusi panjang lebar dengan saya dan banyak hal lain yang kami lakukan bersama. Manusia hanya bisa saling memahami ketika mereka dihadapkan sebuah permasalahan dan mereka bekerja sama dalam memecahkan hal tersebut.

Naasnya, meski keluarganya telah menerima saya dengan baik, lain halnya dengan keluarga saya. Ibu menolak habis-habisan, tentunya dengan pelbagai alasan. Cukup logis memang, karena faktor usia yang diperhitungkan. Tetapi alasan kedua sungguh sangat tidak masuk akal, karena menurutnya latar belakang keluarga si mempelai bukan berasal dari keluarga yang cukup agamis. Saya membantah, keluarga kami juga tidak agamis. Satu-satunya orang yang masuk pesantren dan kuliah di Timur Tengah hanya saya, yang lain tidak. Kemudian Ibu membantah lagi, dan sekaligus mengancam: kalau masih bersikeras, tidak usah pulang. Kalau masih dilanjutkan, beliau tidak akan pernah ridla sama sekali. Ucapan tersebut sanggup mengubah kehidupan kami kelak. Saya menjelaskan kepada keluarga wanita dengan baik-baik, mereka tentu tidak terima dengan kenyataan tersebut. Mereka menganggap saya lelaki yang tidak bertanggung jawab, tidak menyelesaikan urusan yang sudah dimulai. Saya gelagapan tidak tahu harus menjawab apa. Saya sudah kehilagan sosok yang benar-benar saya anggap ideal untuk dijadikan pasangan hidup, juga kehilangan muka, kehilangan semangat, kehilangan banyak hal. Mungkin kawan-kawan yang membaca ini menyatakan: "Kamu terlalu berlebihan!" tapi saya yakin mereka yang pernah mengalami pasti mengamini.

Kejadian tersebut menorehkan luka yang teramat dalam. Saya meminta bantuan beberapa ustadzah yang kebetulan alumni dari kampus saya kuliah dan pihak keluarga untuk mendekati Ibu saya dan membantunya mengajari terus bagaimana Islam yang sesungguhnya, karena saya yakin seseorang hanya bisa dipahamkan dengan orang lain yang mereka hormati atau percayai. Jika kehormatan atau kepercayaan itu hilang, apa saja yang kita katakan tidak akan pernah menyentuh hati. Saya sendiri karena takut berbuat hal yang sanggup dicap sebagai anak durhaka, melarikan diri kembali ke negeri yang saya anggap bisa mengajarkan saya menjadi lebih baik. 

Sebenarnya itu adalah bentuk pelarian diri untuk menghapus kesedihan yang tidak bisa diutarakan. Sekembalinya saya ke negeri itu, saya kerap membunuh waktu dengan belajar banyak hal, sembunyi-sembunyi belajar dari apa pun, bergabung dalam majlis dan kegiatan apapun yang saya yakini bisa membuat saya lebih baik, dengan kerap tidak menampilkan diri atau menyamar. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas r.a. terkait seorang muslim harus mampu memetik hikmah dari segala hal dan dalam kondisi apapun selalu saya tanam baik-baik dalam sanubari. Saya tidak akan memposting bahkan melarang kawan-kawan yang mengerti saya terlibat dalam suatu kelompok yang baik, karena cukup bagi saya tidak perlu kelihaian, kepandaian atau kemampuan seseorang diketahui banyak orang. Cukup bagi mereka yang bisa mengapresiasi kita. Maka jangan heran kenapa saya bisa memiliki banyak masker dan kacamata bahkan sejak pandemi Covid 19 ini muncul. Saya juga sengaja membiarkan imej yang melekat dalam diri memang jauh dari kata sempurna, biar hanya mereka yang akrab dan benar-benar ingin mengenal saya yang bisa memahami. Manifestasi ini sudah sering saya tuangkan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, di Ikon atau buah pikir singkat di sini. Hasil dari pengembaraan tersebut menyimpulkan sebuah janji untuk saya sendiri: saya ingin berubah lebih baik, tetapi tidak ingin banyak orang yang tahu. Biar hanya segelintir orang yang mengerti, dan saya tidak akan pernah mau menilai sesuatu dari kulitnya. Jika saya melanggar janji, biar Allah SWT yang menegur.

Rupanya ujian datang dalam berbagai bentuk. Seunggul-unggulnya manusia, kita bukan nabi. Posisi hati juga bisa naik dan turun, tidak bisa diprediksi. Saya lalai, pernah bergabung di sebuah wadah keilmuan yang sungguh sangat apik dan karena iming-iming harta kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi. Kekhilafan ini berbuah simalakama.

Saya menemukan seorang wanita yang saya anggap merupakan cerminan ideal dari wanita yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak, tapi memang karma nyata adanya. Apa yang terjadi di akhir sungguh seperti kisah yang pernah saya alami. Kekhilafan saya yang melahirkan pelbagai kekecewaan di dirinya walhasil mampu membuatnya mengambil keputusan drastis. Saya tentu memakluminya. Pertama, itu karma, dan saya pernah berlaku serupa, yaitu kisah yang saya ceritakan di awal. Wa jazau sayyiatin sayyiatun mitsluha. Dengan gelap mata saya memandang bahwa sebuah diri tidak aka pernah terjerembap dalam lubang, padahal kita hanya manusia tempatnya salah dan lupa. Kedua, seseorang diuji dengan seberapa mampu dia bertahan dan dengan kepercayaan. Saya yakin sudah tidak ada kepercayaan dalam dirinya dan menyalahkan, padahal dulu dia yang meminta bertahan, rupanya kalam itu diingkari sendiri, meski saya tidak menyalahkan sepenuhnya. Saya juga punya andil dalam membuatnya kehilangan kepercayaan tersebut. Ketiga, jika benar faktor keluarga turut memegang peran, maka keluarganya benar-benar cerminan keluarga saya dulu. Meski di suatu hal, saya sangat menyesalkan kegagalan menikah bukan karena faktor ekternal melainkan dari keluarga saya sendiri seperti yang saya ulas di kisah kedua di atas, rupanya mata keluarga seakan tersingkap setelahnya. Mereka semua benar-benar berubah, entah dari mana, tentu dengan kehendakNya. Maka saya tidak mungkin menyalahkan keluarga wanita kali ini, tapi saya berharap dan berdoa agar kelak dia yang mampu membawa perubahan yang lebih baik di keluarganya. Keempat, meski dia menyangkal, saya kenal karakternya. Dia akan dengan mudah mendapatkan pengganti baru yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya. Memang saya juga salah menilai, alasan ketertarikan dia di awal dengan saya karena gelar, bukan karakter. Saya mencintainya karena banyak hal yang tidak bisa diuraikan satu per satu, dan tak acuh dengan segala status, usia atau apapun yang dia sandang. Rupanya dia tidak. Gelar dan harta bisa dikejar. Seharusnya saat bertanya mengenai cinta sejati, kita akan kelimpungan menjawabnya. Beberapa mungkin menjawab dari mata, beberapa lain menjawab karena hal lain. Tapi cinta sejati letaknya di hati. Saya mempelajarinya dari dua wanita, yang satu Ibu Kandung, satu lagi tidak usah saya jelaskan, kawan-kawan mungkin bisa menyimpulkan. Saat diri tidak puas dengan sesuatu yang ada dan dengan serta merta meninggalkan tanpa berusaha, berarti memang dari awal dia tidak ikhlas menerima. Fungsi ikhlas dalam segala sesuatu sangat dalam jika kita mampu melihatnya.

Baik, curhatan ini saya cukupkan. Bagi kawan-kawan yang tidak sengaja tersasar ke blog saya, semoga bisa mengambil hikmah dari tulisan sampah ini. Bagi kalian yang sedang diuji, sebelum tali pernikahan telah terikat, jika kamu masih bisa melihat kebaikan dalam diri pasanganmu, cobalah bertahan. Jika kalian sudah menikah dan kelak menghadapi permasalahan yang sama, ingatlah anak kalian. Jika kalian masih dalam pencarian dan terus mengharapkan sosok yang sempurna, percayalah bahwa hasil yang baik hanya bisa diperjuangkan bersama-sama, bukan sebelah pihak. Jangan gegabah mengambil keputusan, terutama di saat sedih atau senang sedang dalam puncaknya. Satu hal yang perlu dicamkan, bahwa ketika kamu sudah berjanji untuk mengubah diri menjadi lebih baik, biarkan pasanganmu menilai. Jika dia tidak mampu, pasrahkan ke Penciptamu.

0 comments:

Post a Comment

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software