.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Bising

Sungguh, suara petasan-petasan yang dihamburkan begitu saja di jalan-jalan, di serambi toko, depan kios telpon, atau arak-arakan dengan meluapkan sorak gembira menjadi teriakan para pemuda yang saling bersahutan, ditambah lagi dengan lomba membunyikan klakson beritme dari kawasan Sabi hingga pojokan Tajammu’. Hingar bingar yang lumrah terdengar dalam menunjukkan suasana hati. Kegembiraan. Bukan bahagia subjektif yang cuma bisa dinikmati dua sejoli, tapi ini bahagia masal. Ya, warga Mesir kini bereuforia. Konon katanya, karena tuntutan rakyat sudah terpenuhi. Morsyi tidak lagi dianggap pantas duduk di atas kursi pemerintah. Saatnya kudeta. Ramai orang bicara.

Di sudut Kairo yang lain, bundaran Rabea Adawea, panji-panji “Tidak untuk Kekerasan dan Ya untuk Legitimasi,” bersliweran di sepanjang jalan. Slogan tersebut melekat di kaca-kaca belakang mobil, di tiang listrik, di dinding toko, di bendera-bendera kecil bergambar wajah seorang pria berkacamata yang dibawa massa, juga dalam suara yang melayang-layang di udara. Mereka juga warga Mesir, tapi wajah mereka mendung. Presiden yang sangat mereka hormati, dengan sangat tidak senonoh, begitu kata mereka, digulingkan begitu saja oleh Abdul Fattah el-Sisi, kepala tertinggi militer. Kata el-Sisi dalam pidatonya malam Kamis kemarin, ini adalah keputusan demokratis. Permintaan presiden untuk menghadirkan kepala-kepala dari pelbagai elemen untuk hadir pada malam sebelumnya, sudah dituruti. Hasil dialog menyepakati bahwa Morsyi pantas turun jabatan, demi mencegah mudarat yang bakal datang. Tapi himpunan massa yang menyesaki bunderan Rabea Adawea seminggu penuh ini, sama sekali menolak keputusan tersebut. Membenci malah.

Dari Azhar sendiri, universitas yang sejarahnya mendahului negara tempat ia berpijak, diwakili oleh Grand Syeikh Ahmad Thayyib, menyuarakan dukungan terhadap turunnya Morsyi. Antisipasi dampak yang bakal dilancarkan preman-preman bayaran di lapangan Syuhada (dulu Tahrir) jika Morsyi masih bersinggasana di kursinya, dikhawatirkan menjadi huru-hara menjelma skandal internasional yang bahkan militer pun tidak sanggup membelenggunya. Itu alasannya. Syeikh Azhar pun menyesalkan penangkapan militer atas Morsyi dan para pimpinan Ikhwanul Muslimin, padahal kebebasan berpolitik adalah hak untuk semua orang. Jika alasan penahanan mereka semata-mata untuk menahan kebebasan mereka agar tidak bergerilya, kembali menghimpun massa, lantas memunculkan kudeta edisi kedua. Ini alasan yang tidak objektif sekali. Formalitas, bisa dibilang. Sama seperti yang menimpa tahanan-tahanan politik mulai dari zaman Ibnu Taimiyyah, atau presiden Soekarno, juga sastrawan-sastrawan Lekra yang diasingkan ke luar negeri dengan dalih yang hampir mirip.
   
Belum lengkap rasanya tanpa memunculkan suara-suara media. Ah, propaganda. Nasihat dari Eriyanto pada bukunya “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media” memaksa saya untuk tidak cukup sekali melihat pada tulisan yang terpampang di satu media. Harus lanjut mengkomparasinya. Cari berita tandingan, cari info lanjutan. Kemudian cari pola yang menghubungkan. Apakah benar kejatuhan Morsyi ini karena faktor pihak ketiga? BBC berbisik, Dr. Baltaji, tokoh Ikhwanul Muslimin, menyampaikan info dari pembantu Morsyi bahwa sebelum kudeta, presiden didatangi Menlu dan Dubes AS. Mereka minta sang kepala negara, mundur. Morsyi menolak. Ancaman dari mereka, “Selamat menghubungi kami dari penjara.” Terbukti sekarang. Dari salah satu media Indonesia, malah justru Obama mengecam tindakan penggulingan yang menurutnya tidak demokratis ini. Ah, teori konspirasi. Kemudian media-media lain, visual maupun cetak, yang saling melempar tuding untuk kepentingan ideologis yang mereka usung. Kepentingan golongan juga tentunya. Masing-masing saling menghancurkan citra, melempar isu untuk meresahkan para warga, baik pribumi maupun asing.

Kemudian kalut. Yang justru mencuat ya kekacauan. Terjadi di mana-mana. Di Nadi Sittah Oktober, di lapangan Tahrir, di bunderan Abbaseyah, di bunderan Rabea Adawea, di tubuh militer sendiri. El-Sisi digulingkan oleh beberapa petinggi militer. Aldy Mansour, presiden terpilih sementara, juga terancam jatuh. Itu masih suara media. Semua ribut. Semua gaduh. Semua cemas. Setiap mata memandang mata lain dengan curiga. Kata yang terlontar dari mulut menentukan nasib jiwa beberapa detik ke depan. Pada 1961 dulu, Edward Lorenz sudah menjelaskan, inilah yang disebut dengan chaotic theory. Teori kalang-kabut. Pada awalnya, semua unsur terlihat acak. Tapi pada suatu titik, akan tampak bukti bahwa masing-masing unsur ternyata memiliki predeterminasi.
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~