.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Bunuh Sang Homunculus!

Mind, Puppet and Butterflies
Dengki dan kecemburuan. Sepasang perasaan bak sebuah cermin yang teramat peka dan seringkali menodai hati manusia seperti debu dalam belantara padang pasir. Harga diri, alias kebanggaan omong kosong, mudah rapuh dan seringkali mencelakai diri. Amarah, syahwat dan sifat rakus. Sifat-sifat hewani dalam diri yang jika tidak dikendalikan dengan apik, menjadi bara yang membakar seorang hamba. Dan ketamakan, atau yang disebut Thomas Aquinas sebagai aksi menentang Tuhan, menjadi dosa abadi seorang manusia untuk selalu ditebus. Malahan Dante Alighieri dalam Purgatory miliknya, mendefinisikan tamak sebagai sifat dasar manusia.

Sebenarnya ada lagi satu, entah dosa atau apalah itu. Kemalasan. Tapi seperti terpengaruh oleh satu sifat terakhir ini, tidak usah muluk-muluk mencari metafora untuk malas. Semua orang sudah sangat akrab. Meski tidak sedikit yang menjadikannya pasangan hidup.

Begitulah Tujuh Dosa –capital veins atau cardinal sins- yang diperkenalkan Katolik dalam ajaran mereka. Seringkali diadaptasi menjadi beragam literatur dan pelbagai karya seni, terutama pada Abad Pertengahan. Karya-karya Dante yang seperti orang nyemplung ke Neraka, Hieronimus Bosch dengan lukisan simbolisnya, Paus Gregory I dengan penambahan beberapa definisi, bahkan sampai dijadikan akronim mnemonik ‘SALICIA’ supaya mudah diingat. Yang jelas, Quod Erat Demonstrandum, satu konklusi yang bisa ditarik, bahwa umat awam Kristiani seringkali menjadikan Tujuh Sifat Buruk ini menjadi komedi dalam bahan perbincangan. Keringat darah berucucuran untuk hidup di dunia hanya sebagai penebusan dosa yang tak mengenal akhir.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~


Islam sendiri tidak mengenal dosa warisan. “Wa laa taziru waziratun wizra ukhra.” Cukup dengan bergaul dengan diri sendiri lebih akrab, lebih santun, niscaya cahaya nurani akan semakin menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Muhammad Amin Al-Kurdy dalam Tanwir al-Qulub fii Mu’amalati ‘Allam al-Ghuyub sudah menjelaskan cukup gamblang. Dia mengutip sebuah hadis yang meskipun Ibn Taimiyyah menganggapnya maudlu’, Ibn Al-Sam’ani menyebutnya bahwa itu perkataan dari Yahya bin Mu’adz al-Razi, tapi yang sekiranya menarik diambil adalah penjelasan dari Imam Nawawi terkait matan “Barangsiapa mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya,” bermakna: mengenal diri sendiri dengan tunduk, patuh dan penuh penghambaan kepadaNya untuk mengenal sejati Sang Pencipta secara utuh dengan segala sifatNya.

Ini yang unik. Setelah mengutip hadis di atas, al-Kurdi menjelaskan bahwa tingkatan al-Nafs seperti yang tercantum dalam al-Quran, ada tujuh. Tapi bukan ‘Tujuh Dosa’ seperti SALICIA-nya Katolik. Ada al-Ammarah, tingkat paling dasar, manusia binatang jalang sejalang-jalangnya. Al-Lawwamah, ketika manusia terkadang bermaksiat, terkadang taat. Al-Muthmainnah, untuk mereka yang senantiasa mengikuti cahya nurani. Al-Mulhimah, teruntuk hamba yang berilmu dan mengaplikasikannya, bersikap tawaduk dan qana’ah. Al-Radliyah, ketika menguasai tiga unsur dalam tingkat sebelumnya, lantas merelakan segala kebimbangan hati padaNya. Al-Mardliyah, lanjutan dari hamba yang Radlin dan terlihat dalam perilaku keseharian yang serba ikhlas, senantiasa berdzikr dan berakhlak terpuji. Kemudian al-Kamilah, tingkatan manusia paling arif, saat bias laku dan ucap merupakan pengejewantahan dari asma’ wa sifat milikNya.

Dan ketika manusia masih saja berkubang di genangan maksiat, tanpa kembali merindukan cahaya kebaikan, bisa jadi dia kerasukan Homunculus.

Kemunculan  Homunculus ini bisa ditelusuri semenjak abad Pertengahan, ketika mandragora, sebuah tanaman beracun yang berwujud manusia, tumbuh dari sperma manusia yang jatuh ke tanah dan berkembang menjadi mitos ‘tanaman yang berteriak’. Tetapi jauh sebelumnya lagi, Paracelsus, bernama lengkap Philippus Aureolus Theophratus Bombastus von Hohenheim, seorang alkimis asal Jerman,  telah mengemukakan bahwa dalam diri seorang lelaki, terdapat miniatur manusia kecil yang terdapat dalam sperma mereka. Hal ini menjelaskan mengapa bagaimana proses menurunnya sebuah gen pada diri manusia, tetapi hanya pada abad ke-15 itu saja. Setelahnya, ya sebagaimana pelajaran Biologi tentang kromosom-kromosom itu. Teori ‘manusia kecil’ dalam sperma pun luluh lantak.

Tapi kenyataannya tidak begitu. Istilah homunculus justru muncul dalam istilah psikologi modern. Karenanya tidak heran jika Carl Gustav Jung tidak menisbatkan istilah tersebut kepada Paracelsus, tetapi lebih percaya bahwa pangkal historik bermula dari ‘Visions of Zosimos’, buku alkimia dan mistisisme sekaligus. Ditulis oleh Zosimos yang lahir di Panopolis (dulunya Akhmim), sebuah kota di selatan Mesir, yang bercerita tentang dualisme manusia, ‘sisi terang’ dan ‘sisi gelap’.

Lebih lanjut, dalam perkembangannya istilah homunculus digunakan sebagai cerminan bagian kerja tubuh manusia pada dua titik fokus: somatosensory cortex (sensory homunculus) dan motor cortex (motor homunculus). Kedua titik ini sangat menjelaskan akan kinerja bibir (sensory), tangan, (motory), kaki (motory) dan juga alat kelamin (sensory). Dalam bidang neurologi, homunculus imajiner seringkali digambarkan sebagai sosok seorang manusia kerdil berbibir sangat ndower dan tangan yang besarnya bukan kepalang. Tidak lain karena bibir-lah bagian tubuh manusia paling sensitif, dan tangan sebagai peraga motorik yang sering dipergunakan. Yamamoto Hideo menjelaskannya dengan plot menarik dan deskripsi cukup gamblang dalam manga masyhurnya yang berjudul ‘Homunculus’.

Homunculus Imajiner
Homunculus juga seringkali dikaburkan dengan terma Doppelganger. Makhluk kembar dari sebuah diri yang bersifat segala kebalikan. Seperti menatap ke cermin, doppelganger adalah bayangan semu. Yang semula kanan menjadi kiri, watak pun berubah drastis, dari baik ke buruk atau sebaliknya. Dalam mitologi Mesir Kuno, bertemu atau melihat doppelganger dipercaya sebagai pembawa sial atau penanda kematian. Bisa jadi, homunculus sebagai terma populer, merupakan derivasi dari doppelganger. Jadi seseorang dikatakan kerasukan homunculus, saat naluri hewaniah lebih dominan daripada naluri manusiawi. Meski tentu, ‘kerasukan’ bukan kata yang tepat di sini, karena homunculus itu sendiri sudah ada dalam diri manusia.

Dalam pemaparan di atas, bibir dan alat kelamin adalah sebagai peraga sensorik, juga menjelma pisau bermata dua yang acapkali menjerumuskan manusia dalam berdosa. Setidaknya tangan, yang sehari-harinya kita gunakan –entah untuk apa saja-, baik atau tidaknya tergantung amalan yang dikerjakan.

Jika manusia lahir sebagai makhluk yang fitrah, maka homunculus ini saling berkonspirasi dengan elemen-elemen di sekitar, entah pergaulan, entah lingkungan, entah dalam persekolahan/perkuliahan, lebih untuk menarik ‘empu’-nya agar turut menjadi kerdil seperti dia. Kerdil yang menyesatkan, sehingga perilaku diri, kelak tidak jauh beda dari seekor binatang liar. ‘Tujuh Dosa’ pun menjadi imej yang melekat ke pemilik tubuh.

Walhasil, sebuah pertanyaan menarik, mencuat: “Bagaimana cara menangkal diri dari homunculus?” Perlu diketahui, segala perbuatan, baik maupun buruk, telah diciptakan Allah SWT melekat pada diri setiap manusia. Tapi seringkali, ego lebih berkuasa daripada nurani. Al-Kurdi pun mencoba memberikan perumpamaan, “Layaknya seorang pasien yang berkonsultasi kepada seorang dokter,  penyakit fisik mampu dicegah secara fisikal dan disembuhkan dengan obat. Penyakit hati dan kesalahan berpikir pun mampu dicegah dengan berolahraga hati dan pikiran. Bukan dengan semata-mata menimba ilmu, seperti para brahmana dan ahli hikmah. Tapi penyeimbangan antara ilmu, ibadah dan menjaga kebugaran jasmani.” Meski tentu tidak terbatas pada hal ini saja. Banyak jalan untuk manusia dalam membunuh homunculus-nya. Tergantung, apakah dia sadar (dan mau) atau tidak?


0 comments:

Post a Comment