.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Jangan Menulis Pasir di atas Lautan!

Puisi bukan semena-mena untaian kata-kata yang indah yang diracik sedemikian rupa, dengan maksud tertentu, lantas disuguhkan begitu saja seperti melepas burung dari kurungan menuju alam bebas. Kemudian pujian demi pujian bertubi-tubi datang. Ada yang memuji diksi, ada yang memuji metafora, ada yang mengkritik sudut pandang.

Puisi bukan sekedar karya yang tertuang untuk menuai sanjung. Juga jangan disempitmaknakan sebagai ‘puisi kamar’. Sekedar sebuah karya hasil curhatan yang meletup sesat, tidak ada simbiosis dari fenomena sekitar atau tidak mampu menenggelamkan pembaca dalam melankoli penyair. Walhasil, cuma kata-kata serapah yang dibalut madu jadinya. Atau katakan, ungkapan-ungkapan rindu dibalut kemelut yang menebar simpati. Bakal hangus oleh waktu jika ‘perenungannya’ kurang.

Jika diibaratkan puisi sebagai fondasi, maka pantun sebagai bagian kesusasteraan Indonesia adalah tonggak sejarah peradaban Indonesia. Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen.), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.

Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa, memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.
Maka, sebenarnya apa itu puisi?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Puisi sebagai Aku

Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Sedangkan puisi dalam KBBI adalah: ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Definisi terakhir, puisi dengan sajak dimiripkan. Meski kini, sajak lebih bebas daripada puisi. Puisi lebih pendek daripada prosa.

Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

Contoh puisi-puisi milik Sapardi DD:

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hatiku Selembar Daun

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Baris-baris pada puisi juga dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala ‘keanehan’ yang diciptakannya. Puisi-puisi seperti ini sering ditemukan dalam karya-karya Sutardji Calzoum Bachri:

Mantera

lima percik mawar
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mangasapi duka

puah!
kau jadi Kau
Kasihku

Tragedi Winka dan Sihka

kawin
           kawin
                      kawin
                                 kawin
                                            kawin
                                                       ka
                                                 win
                                              ka
                                      win
                                  ka
                           win
                      ka
              win
         ka
 winka
                       winka
                                 winka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sihka
                                                                      sih
                                                                  ka
                                                             sih
                                                        ka
                                                   sih
                                               ka
                                          sih
                                      ka
                                 sih
                             ka
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          sih
                                                               ka
                                                                   Ku

Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah dalam berkarya. Di sini, menulis puisi. Idealnya, manifestasi ide dan refleksi perasaan yang ada dalam diri, dipadatkan dalam beberapa bait. Tulisan yang muncul bakal menjadi cermin, sejauh mana pengalaman seseorang berkelana dalam rimba kehidupana dan sejauh mana perenungan yang dihasilkan. Apakah sekedar jelmaan mood yang meletup seperti popcorn kemudian lenyap? Atau belati yang menghujam dalam batin mereka semua yang melempar mata ke kata?

Pelangi di atas Putih

Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru. Puisi lama santun dengan model pantunnya. Bisa dilihat sekarang, ragam daerah mana yang sering menggunakan pantun sebagai alat tergur sapa. Pasti daerah Sumatera. Puisi baru lebih bebas. Konon, sudah dimulai sejak periode Pujangga Lama (ala periodisasi sastra HB Jassin) mengikut keinginan Sutan Tadir Alisjahbana untuk menjadikan seni sebagai seni, dan mewujudukan asimilasi kebudayaan Barat dalam dunia sastra Indonesia. Chairil Anwar, pada periode 45, pun muncul sebagai pelopor pembaharu puisi.

Ironisnya yang terjadi kini, beberapa kasus mengenai puisi modern makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri, yaitu ‘pemadatan kata’. kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut.
Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedang berada di kamar yang sunyi.” Ada pula yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi di mana saja.” Pendapat lain mengatakan “Saya bisa menulis puisi saat hati saya sedang sedih.”
Ungkapan-ungkapan di atas, hanya sebagian kecil saja pendapat orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan menulis puisi dengan baik dan benar.

Langkah gampangnya, puisi dapat ditulis berdasarkan catatan harian. Ikutilah langkah berikut ini jika Anda akan menulis puisi berdasar catatan harian:

1. Baca dan renungkan isi catatan harian yang Anda miliki.
2. Coretlah kata-kata yang tidak penting dan tambahkan kosakata yang menurut Anda menarik untuk disertakan.
3. Hapuslah baris-baris yang tidak penting.
4. Atur dan urutkan kembali baris-baris yang sudah Anda pilih.
5. Bacalah kembali hasil akhir baris-baris itu.
6. Suntinglah kembali baris-baris itu sehingga menjadi baris-baris puisi yang menarik.

Ini hanya salah satu metode saja. Secara teoretis, banyak ragam dalam menulis puisi. Berikut kutipan dari teknik menulis puisi oleh Hastra Indriyana:

Teknik Menulis Puisi (1)

Polisindeton: termasuk dalam gaya bahasa retoris, yaitu beberapa kata, frasa, klausa berurutan dihubungkan satu sama lain oleh konjungsi. Secara sekilas, mirip dengan repetisi jika kebetulan konjungsi yg digunakan sama. Lihat contoh berikut.
Jembatan telah mengantar orang bukit
Menuju pasar menuju sawah menuju
Sekolah menuju jawaban yang ditanyakan
Seperti halnya air dan pasir yang mengalir
Dari hulu ke hilir melewati kota melewati
Nama-nama desa melewati seribu
Penyeberangan melewati ingatan
Menuju muara

Teknik Menulis Puisi (2)
Impresi: sesuai dengan namanya, impresi menekankan pada efek kesan, atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran dan perasaan. Kesan atas efek yg diciptakan ini dipengaruhi oleh kerja indera. Selanjutnya, pikiran dan perasaan (pembaca) mengolahnya sesuai dengan konteks yang dimaksudkan. Sebagai contoh, indera visual: penyair menggambarkan imaji penglihatan atas benda atau peristiwa yang dilihatnya. Deskripsi atau narasi yang ditulisnya dibentuk sedemikian rupa (biasanya dengan bahasa sederhana-lugas), dan sekaligus diniatkan untuk mencapai maksud dan makna lain (tersirat). Lihat contoh puisi Sapardi Djoko Damono (Seekor Ulat) berikut.
Seekor ulat akhirnya mencapai sekuntum bunga lalu
berhenti di sana. Ia telah memakan beberapa lembar daun
muda di ranting itu, dan kini ia berada di atas sekuntum
bunga: ia pun diam…
Kata kunci bait pertama puisi tersebut (untuk menikmati/atau bahkan untuk memaknainya) adalah: sekuntum bunga; memakan beberapa lembar daun; ia pun diam. Sajak-sajak Sapardi sarat dengan teknik ini. Salah satu yang sangat saya sukai adalah “Berjalan ke Barat di Pagi Hari” dan “Peristiwa Pagi Tadi”.

Teknik Menulis Puisi (3)
Alusi: majas perbandingan yang merunjuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa; kilatan. Tokoh atau peristiwa yang diacu diambil secara parsial, atau bahkan secara sekilas. Baiklah, untuk memahaminya, saya tunjukkan contoh puisi yang sangat terkenal, “Dongeng Sebelum Tidur”, karya Goenawan Mohamad. Agar pembaca bisa menikmatinya, maka sebelumnya pembaca harus faham seluk beluk kisah Anglingdarma. Tanpa memahami kisah tersebut, puisi menjadi sebuah karya yang setengah gagal dinikmati, atau bahkan gagal sama sekali. Puisi lain yang serupa, misalnya “Malam Tamansari”, karya Suminto A. Sayuti, “Celana Ibu”, karya Joko Pinurbo, dll.

Dongeng Sebelum Tidur
“Cicak itu, cintaku, bercerita tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam
itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi
dan sprei.
“Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari
pagi.”
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain
ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup
rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan
diri – dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana – untuk tidak
setia.
“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa
harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya
dan sebagainya?”
1971

Teknik Menulis Puisi (4)
Dramatis: teknik penulisan puisi yang di dalamnya diciptakan sebuah cerita yang melibatkan konflik atau emosi. Dalam teknik ini elemen yang ada antara lain: tokoh, cerita/alur, konflik, dialog. Opening dan ending sangat berpengaruh terhadap efek yang diinginkan. Sifat-sifat teknik dramatis ini adalah mengesankan, meneror, mengejutkan, dan membuat penasaran (suspensif). Bacalah opening puisi “Zagreb” karya Goenawan Mohamad berikut, yang meneror dan menegangkan.
Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh dari Zagreb.
Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, berisi sepotong kepala,
dan berkata kepada petugas imigrasi yang memeriksanya: “Ini anakku.”

Untuk ending, mari kita baca puisi “Dengan Kata Lain”, karya Joko Pinurbo berikut ini.

Dengan Kata Lain
Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, 
guru Sejarah-ku dulu.
“Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung.”
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
“Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”
Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.
Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.
Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku: “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”
(2004)

Teknik Menulis Puisi (5)
Anadiplosis: repetisi dengan mengulang kata atau frasa terakhir suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Dua bait pertama puisi “Puake” karya Sutardji Calzoum Bachri di bawah adalah contohnya.
puan jadi celah
celah jadi sungai
sungai jadi muare
muare jadi perahu
perahu jadi buaye
buaye jadi puake
puake jadi pukau
pukau jadi mau

Penutup: Jejak Sejarah

Yang jelas, manusia dikenal atas karyanya. Kali ini kita berbicara puisi, jadilah puisi sebagai bukti. Maka menulislah sebagai bukti bahwa kita ada. Bukan sebagai pencitraan, tetapi seruan. Sejak zaman praproklamasi, puisi sudah menjadi senjata yang dituliskan di koran-koran, majalah-majalah, untuk mengajak berperang. Sekarang, kita mau menjadikan puisi sebagai apa? Jangan cuma hiasan kamar atau dinding laptop. Era globalisasi, kita lagi perang ideologi. Saatnya mencongkel mata-mata buta yang terbuai di kealpaan, apatis sama sekitar.




0 comments:

Post a Comment