.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Saya sangat menikmati sekali. Malam, dimana yang lain khusyuk beribadah kepada-Nya dan kita termasuk di dalam kerumunan tersebut, kemudian pada penghujungnya, menyusul ikrar "Merdeka!" seperti yang dikumandangkan pada 67 tahun silam dari sekelompok manusia yang berdiri rapat bersama. Mereka terhormat. Mereka siap. Mereka kunci masa depan. Mereka penggoyang, ah maaf, penggoncang dunia!

Itu kemarin. Hanya beberapa saat sebelum jarum jam berdentang dua belas kali dan pekik takbir berdendang memekakkan seisi aula. Aula yang pada sejatinya mungkin sanggup membendung hingga dua ratus kepala manusia, tetapi pada idealisme dan semangat terbakar yang saya lihat mencuat hingga keluar dari jendela dan tumpah ke jalanan Su'q Sayyarot, saya skeptis. "Kok bisa pesimis gitu?" Atapnya bakal roboh, saya jawab. Bagaimana tidak? Jika sedari awal riuh segunung ide saling tumpang tindih, berputar-putar, meliuk-liuk, lalu bak angin topan yang kasat mata, mendobrak hati per orang dan menyadarkan mereka akan kehampaan. Mungkin bukan atap saja yang roboh. Tapi kebodohan yang mengakar di kelam hati muslim Indonesia, bisa tercabut, terbang, hilang! lantang hati saya berteriak waktu itu, disambut mulut-mulut yang menganga.

Ah, maafkan bahasa saya yang berapi-api. Tapi memang tidak bisa menafikan analogi, tatkala sebuah ide sudah bertengger di kepala, akan sulit terlepas kecuali oleh kehendak empunya sangkar. Pada malam itu, di Aula Griya KSW, Rumah Budaya AKAR menampilkan sebuah acara. Saya tidak mau bermulut manis hanya sekedar memuji kehebatan dan kesuksesan acara tersebut. Tapi dibalik sesuatu yang besar, pasti ada penyangga ide yang jauh lebih besar. Di sini, saya berusaha mengupas konsep tersebut satu persatu.

Tema yang diangkat adalah "Merdeka atau Kaya Raya." Ah, semoga pisau yang saya gunakan untuk mengupas ini benar tajam adanya. Jadi begini, acara dibuka dengan rentetan formalitas biasa. Kemudian sebuah lagu. Lantas seorang Tabrani Basya maju ke depan dan memaksa hadirin untuk berdiskusi dengan hati masing-masing. Apakah benar kita sudah merdeka? Nah, merdeka dari siapa? Merdeka dari apa? Mari melatih diri melawan hipokrit.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa hak seseorang terbatasi oleh hak orang lain. Kewajiban seseorang juga pastinya tergeneralisirkan dengan paradigma sosial, dimana kewajiban dalam konteks ini merupakan kewajiban seorang manusia antar sesama. Pertanyaan menarik yang muncul adalah kewajiban sosial sebagai penghidupan. Dalam garis bawah, penghidupan yang menghidupi, bukan hanya menghidupi satu indivdu tapi juga lingkungan dan sekitarnya. Tapi semisal ada antitesis, "Ya suka-suka dong, maunya seseorang itu seperti apa. Mau kaya sendiri kek, mau senang sendiri kek, mau galau sendiri kek. Bukannya itu hak? Kalau anda menyalahkan saya, justru HAM yang sedang anda tentang."

Sebenarnya tidak sepicik itu, kawan. Hak seseorang memang tidak terbatasi kafan sekalipun, tapi terbentur dengan hak-hak lain yang masing-masing berteriak, "Sama penting." Tiap pribadi pasti punya kepentingan masing-masing. Masalahnya, jika setiap pribadi hanya terus mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan-kepentingan lain di sekitarnya, akan lahir di masa mendatang, calon generasi apatis nan egois yang bakal mengejar kepuasan hedonisme semata. Mereka beranak-pinak, memiliki cucu, mati meninggalkan idealisme korup, dan terus begitu jika tidak terjadi pembenahan di tengah-tengah. Dan jika keadaan ini berlanjut, akan jadi siklus. Lantas Indonesia mati. Rakyat menjerit. Pribadi-pribadi korup bermental materialis bermulut manis semakin jelalatan kemana-mana. Umbar janji, cekik leher, batin puas, kemudian meludah.

Jikalau hal itu terjadi, tolong cepat bangunkan saya dari mimpi buruk paling horor yang pernah saya alami. Pasalnya, jika kasus tersebut terjadi hanya dalam skala kecil, maka boleh manusia bersombong, "Ah, paling cuma tetangga yang itu-itu aja nantinya bakal protes." Tapi jika sudah terjadi pada skala nasional, imbasnya juga pada infrastruktur tatanan negara tersebut. Dalam hal ini, Indonesia. Taruhlah orang-orang yang berpikir sekedar untuk mengisi rekening mereka dalam wadah rakyat jelata yang hanya sekedar mengiba. Rakyat cuma bisa mengharap dan meminta. Para materialis itu malah semakin mendongakkan kepala. Kan, egois.

Padahal dalam Islam sendiri sudah gamblang tersampaikan bahwa salah satu tujuan risalah Nabi SAW adalah sebagai rahmat bagi sekalian alam, baik umat pemeluk Islam maupun non-muslim, bahkan mencakup hewan dan benda-benda tak bernyawa. Dalam tataran sosial, Allah SWT mewajibkan kaum berada untuk turut membantu golongan papa. Bahkan Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada orang kaya jika ada tetangganya yang mati karena tak mampu mengisi perutnya. Oleh karena itu, tataran individual dalam Islam sengaja saya kaitkan di sini,mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dan ketersangkutpautan dengan 'kekayaan' sebagai momok bukan tujuan. Atau boleh sebagai tujuan, tapi hanya dalam garis bawah, mensejahterakan sesama, bukan cuma perutnya dan semata keluarga atau kolega. Sosial itu seluruh, bukan segolongan-segolongan. Masak Indonesia mau kita segiempatkan. Kita masih satu bangsa kan?

Saya teringat, Yusuf al-Qaradhawi, salah satu pemuka agama di Mesir, pernah menyatakan pada tahun 1415 H, “Salah satu keistimewaan sistem Islam adalah tidak terpisahnya politik, ekonomi dan akhlak, seperti halnya tidak rusaknya perpaduan sinergis antara ilmu dan akhlak.” Saya mohon maaf jika terlalu mengintegralkan masyarakat Indonesia hanya kepada penduduk Muslim saja, padahal harusnya majemuk dan tidak me-nyegiempat-kan seperti perkataan saya di atas. Tapi saya meminta izin untuk mengutip perkataan ulama tersohor ini, karena memang betul begitu. Tiga faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya tingkat moralitas suatu bangsa ya bisa dilihat dari tatanan politik, sistem ekonomi yang dilakui, serta akhlak tiap individu. Jika politik sekedar menjadi ajang cari pamor, timbun harta, rebut kuasa, disambut gayung dengan sistem ekonomi yang konon 'campuran' tapi kental dengan nuansa kapitalis. Hancur bangsa. Yang lahir bukannya generasi cemerlang tapi malah generasi apatis. Generasi ular. Generasi egois. Ah, semoga saya tidak sedang menggunjing generasi tua sekarang ataupun yang muda.

Jujur, saya takut. Jika para 'kita' sekedar melaksanakan upacara bendera untuk ritualitas, itu juga yang mau saja. Lomba 17 Agustus-an juga ritualitas. Belum lagi pada tahun ini,  peringatan kemerdekaan yang begitu sakral jatuh di bulan yang lebih sakral lagi, Ramadhan. Puasa sekedar rutinitas, tuan puan semua? Atau mungkin ritualitas? Pada awal jatuh bulan, semua berbondong-bondong ke masjid. Saling berlomba mengisi shof terdepan. Seiring beralih waktu, yang ada semakin hilang. Yang semula giat, kemudian lenyap. Oh, ternyata maksud awal sering Tarawih cuma pengen tampil kece. Cari gebetan baru, tuan puan? Atau malah setelah sholat langsung hang out? Berduaan lagi? Berpegangan tangan lagi? Ini yang muda-mudi. Meski beberapa lain ada juga yang menghabiskan waktu sekedar nongkrong di tepi jalan sambil merokok dan banyak lagi yang tidak berjam'ah bukan karena ada udzur, tapi menyengajakan. Lebih parah. Di rumah, mata tertatap pada monitor, tidak bisa terlepas. Fenomena yang saya sendiri pernah menjalani dan mengakui, karenanya saya mencibir diri sendiri dan kita semua.

Pada intinya, semua kembali ke niat masing-masing. Makna kemerdekaan hanya berbuah semu jika tidak diiringi dengan perilaku dan perlakuan untuk bersama memajukan bangsa, bukan hanya perut dan pantat saja. Makna Ramadhan bukan sekedar menjadi suci hanya dalam satu bulan, kemudian lepas, lalu liar, kembali binar, banal. Bukan. Ramadhan dan revolusi, keduanya adalah wajan proses. Manusia dimasukkan ke sana, api jiwa dibakar, entah nanti jadinya setengah matang, enak, atau malah gosong, bukan tergantung lamanya memasak tapi kualitas hati dan kekentalan tekad yang jadi penentu. Cara menilainya juga bukan sehari atau dua hari setelah dimasak, alias hari H, melainkan seminggu, dua bulan, sampai dua belas bulan ke depan dimana kita kembali menjadi bahan yang akan dimasak di wajan yang sama.

Jadi pertanyaan terakhir, dan inilah kulit yang belum bisa saya kupas: "Sudahkah kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan, negara dan agama?" Kali ini saya menolak untuk membenturkan tanya ke dinding dan sengaja melepasnya ke angkasa luas.


Bersiar di Kali Labuh

Untuk Indonesia yang selalu di hati. Untuk Indonesia yang selalu bersemi. Untuk Indonesia yang tergopoh berdiri. Dan Islam sebagai pucuk ikrar Ibu-ku berlari!


Janji Selembar Kain
 
Dia telisik, tiap sudut, tiap ukir
bulir permata menggaris lekuk di pipi
Tiap pasang, saat senja menggerayang
Gesit jarum, gemulai tak terusik

Untuk dua warna titah kahyangan
Satu wujud prisma kehidupan

Bak genang tiram dibalik rindang cendana
pasti ada sejuta pinta
Seuntai geram dalam untaian benang 
dulunya sengsara
simbol aksara murka
Tapi masa depan, ah
Mahaparana
Kunci bangsa gapai nirwana



-Tanah Tanpa Sebuah Nama-

Latah, berpatah-payah,
musim kata
kutuk bajing antek laku damar
Langkah serdadu kurcaci mulai sayup
Hanya kepak merpati usap peluh

Angin membawa kesturi sayat hati
Geranggangmu menggarang, tuan?
Kembali hina, nista

Hadang, tikam
Mati tanpa diam
Pekat merah jerat bumi
Putih lelakon tampil Persada

Kasmaran bangun nisan, tuan?
Angguknya, tanpa tiran


-Rengasdengklok-

Dalam gelap bebayang nanti rapat meringkuk
tanya pada dinding, cuma batu
Tidak ada waktu, raga satu-satu dibalut dungu
wayang wajah tutup hati buruk beruk
"Belenggu lepas?" nanti katanya
Baris bibir rapi-rapi terbelit bungkam

"Kita semut, tapi gundukan. Lawannya gajah,"
lupa di kaki, semut terinjak-injak sudah
Tidak bisa! Songsong matahari biar lebih sigap
biar terbakar bui mimpi para tua
"Bisa saja, kemari, ambilkan tinta"
Kalah! Ronta raga tanpa kata banyak silap
Terkucilkan kisah dimana dua orang
dianak tirikan saudara sepangkuan

Cendrawasih terpancung, kabar dari Timur
"Kabar baru?" Gerit letih yang menjawab
Bebayang kembali memeluk lesu
Yang harapnya pendar, samar pudar
Segenap dinding ramai berpantul bising
"Sakura tumbang! Sakura tumbang!"
Bebayang hilang, diganti bakar
"Apakah benar? Dimana kabar?"
"Sakura tumbang! Sakura tumbang!
Ramai, ribut, hura, pikuk

"Indonesia!"
Yang retak dalam jiwa, sudah satu
Lampiran selembar cita
tinta baru tumpah-tumpah
Diiring sajak, parade lagu
"Tanah tumpah darahku!"


Lidah Lipan

Hina, dina, dusta
Kerap kutemu di mukamu batu
Sedia payung berhujan mawar
Sumpal mulutku

Tak ayal berkelok lari
Tak ayal berbasa-basi
Tak ayal disangka mati
Tapi mati masih mencaci

Buang busuk bopeng senyum itu
manis muka tusuknya ganas
Yang ingin kujejalkan di sempal ketam-mu
Hina, dina, musnah!

Paranoia


~sebuah cerpen~

Seperti malam-malam yang lain, jalanan itu sepi. Pucat si bulan seperti mau muntah, kuning galaunya tertutup awan kelabu yang cemburu pada banyaknya bintang. Lampu-lampu di pinggir jalan rusak separuh. Beberapa malah kedap-kedip seperti lampu disko. Genangan air dan kumpulan sampah berserak yang tak jelas dari apa, membuat Anna sedikit bergidik. Ia sebenarnya tidak takut gelap. Ia benci kotor. Tidak bersih. Tidak higienis. Sampah-sampah itu jelas membawa banyak penyakit. Beberapa anjing buduk saling berebut sisa makanan. Wanita bertubuh semampai itu segera menyingkir ke sisi lain jalan. Meski sinar lampu tidak terlalu terang, tapi dia masih bisa melihat ke sekitar, hanya dalam radius beberapa meter. Asal jangan dekat-dekat dengan hewan najis itu, batin Anna.

Anna mempercepat langkah. Awalnya dia tidak ingin melewati gang ini. Tapi apa boleh buat, dia sudah terlambat. Baginya pulang diatas jam 12 malam adalah hal yang tabu. Karena dia harus tidur cepat, dengan porsi yang cukup tentunya. Lalu bangun dengan sinar pagi yang membelai lembut, ditemani dengan secangkir teh dan sepotong roti beralaskan selai nanas, dan melanjutkan aktifitasnya yang padat sebagai mahasiswi di Universitas ‘Ainu Syams  dengan rutinitas yang terpogram.

Huh! Ia mengutuk dalam hati. Rencananya harus disusun lagi dari awal.

Beberapa puing terserak sisa pembangunan di gang yang sempit itu. Anna memerhatikan dengan seksama. Di depan tumpukan batu itu, sebuah rumah kecil yang seharusnya akan dijadikan sebuah losmen dengan harga murah, sudah ditelantarkan menjadi rumah hantu. Tidak ada orang yang mau menginap di tempat kumuh dalam gang menjijikkan seperti ini, pikir Anna. Hanya beberapa bulan setelah losmen itu diresmikan dan pemiliknya melarikan diri entah kemana. Losmen itu ditelantarkan begitu saja, karena itu penduduk lokal menyebutnya rumah hantu. Kosong, sepi, tanpa penghuni. Plakat kayu bertuliskan Cairo Inn yang bertengger di atas pintu losmen sudah lapuk digerogoti rayap, samar-samar menyisakan huruf ‘Ir’ dan ‘In’. Hampir beberapa minggu yang lalu polisi lokal sempat menciduk beberapa pengedar narkotika yang menjadikan losmen itu sebaga markas mereka. Kini rumah hantu itu hanya menjadi kandang bagi anjing-anjing dan hewan-hewan lain yang terlantarkan. Anna sedikit mengernyit dan mempercepat langkahnya. Bahkan dari jarak beberapa meter saja sudah tercium bau tidak sedap. Kotoran dari binatang-binatang itukah?Atau bangkai?

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Pasang langkahmu getarkan debu jahanam
Ketemu satu jalan semu
Kemana topan menghadang?
Mukamu muka Raja, muka Ratu
kujadikan alas sepatu

Biar diiring kecapi, sama saja
Kunang menari tersulut api
Api padam puntung hanyut
Lalu isak
Yang mana?

Gadis tatap rembulan
di bibirnya, mantan cenduai
"Kusimpan, hingga kujelang malam"
Tanpa mengerti maksud arti

Dia bingung, asanya rabut
Hingga ujung waktu menyisir 'luruh pahara pun
tak kuasa hapus lekat memori
Di hatinya, hanya satu damar kesturi
Gusah puji, suci
Tanpa cela

Wanggara, wara-wara,waranggana
Satu-persatu minum warangan

Waranggi, wira-wiri,warakawuri
Mari diam

Worawari bertaburan

Buta


Merah - ia melihat, kusam terkikis dibalik amarah
rabun terbugkam melhat ranting mendua
dilihat, ujung cemara pucuknya ikat
barisan dusta, disentuh luka
Dikagum fana, akhirnya berppasrah ada angin

Dan dilihatnya pagar itu rendah, rapuh
dibawah - rerimbunan lembut yang dulu dirindu
Serahnya bersatu, demi masa, ia menjadi burung!
Angin terbahak


Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software