.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Permainan Jiwa

Di antara sekian banyak buku psikologi yang berjejer di etalase utama Gramedia untuk buku-buku terbaru, cuma yang putih, tebalnya tidak seberapa, tapi dihiasi dengan warna-warna dasar mencolok mata, serta beberapa aksara kanji Jepang yang waktu itu satu-satunya buku yang meningkatkan rasa penasaran saya. Judulnya Kokology. Tujuh tahun silam, umur peristiwa itu. Kejadian yang memaksa saya untuk selalu memandang seseorang bukan dari sekedar kulit.

Selang beberapa bulan setelahnya, di tempat yang sama, edisi kedua muncul. Kali ini warnanya kuning. Sedikit lebih tebal dari edisi sebelumnya, tanpa ragu saya langsung merogoh dompet. Beruntung masih ada sisa beberapa lembar rupiah bergambar pemetik teh. Sampai di rumah, buku tersebut saya cerna dan menikmatinya perlahan.

Kokology, percampuran dari bahasa Jepang dan Latin. Kokoro, yang berarti jiwa atau semangat, dengan logos alias penelitian atau ilmu. Kedua pengarangnya, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito, masing-masing adalah professor dan ahli jiwa tersohor di Universitas Rissho dan Waseda, Jepang, banyak mengambil analisa serta teori dari para bapak psikologi modern, Freud dan Jung. Terutama karena teori alam bawah sadar mereka.

Kasus-kasus yang diangkat dalam kedua buku itu masih sama. Bagaimana mengetahui pola dasar pemikiran atau reaksi manusia terhadap segala sesuatu, yang sekiranya remeh sekalipun. Hubungan lawan jenis, masalah relasi, pekerjaan, corak kecerdasan, kecenderungan justifikasi, dan banyak lainnya. Buku tersebut tidak bercerita, tetapi kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang ditulis halus untuk mengajak alam bawah sadar para pembaca mencuat ke permukaan. Dari awal pembukaannya saja, editor sudah mengingatkan, “Lebih seru kalo buku ini dibaca berbarengan. Dua orang, bahkan lebih!”. Tetapi yang lebih berkesan adalah pesan dari si pengarang sendiri, “Jawablah dengan jujur dan apa yang pertama kali muncul di benak anda.” 

Soalnya mudah saja. Semisal, bayangkan anda mengendarai bus atau kereta bawah tanah, lantas mendapati sebuah kursi kosong. Anda pun bergegas untuk duduk di sana. Pada saat itu juga, seorang pemuda/pemudi lain (sesuai dengan gender anda) juga berjalan ke sana dengan niat yang sama. Mana yang akan anda lakukan di antara tiga opsi ini: dengan tidak segan segera duduk di kursi tersebut, segera mempersilahkannya, atau melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan? Silahkan jawab dalam hati.

Sekilas, soal tersebut hanya memperlihatkan sejauh mana tingkat toleransi kita. Padahal, Isamu Saito sengaja tidak menghadirkan pengendara lain sebagai manula misalkan, atau seorang ibu hamil, karena dalam hal ini, penulis dan saya sendiri juga lebih setuju pada pendapat Rousseau bahwa aslinya manusia itu welas asih. Dengan menyajikan manula atau bumil, jawaban pertama pembaca pasti: langsung mempersilahkan duduk. Tapi dengan kata ‘pemuda/pemudi’ yang bermakna sebaya, perlahan tapi pasti, pembaca digiring untuk bagaimana dia bereaksi dalam relasi antar sekitarnya dan konsekuensi yang diambil.

Langsung duduk tanpa segan, misalkan. Orang yang menjawab ini, mengerti apa yang dia mau dan apa yang bukan. Pengalaman bejibun telah mengajarkan, sangatlah tidak masuk akal untuk menderita demi orang lain, jika akibatnya ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dalam meniti hidup, tidaklah salah untuk menyakiti hati beberapa orang. Pertimbangannya ambisi dan ego.

Langsung mempersilahkan yang lain untuk duduk. Tidak lain karena dia terlalu cemas akan pendapat orang lain terhadapnya. Dia selalu menginginkan orang lain menganggap dirinya baik, indah, bagus, sehingga dia pun berlaku demikian. Orang-orang di sekitar pun menyebutnya easy going. Padahal aslinya, dia kurang memiliki pendirian. Hampir tiap kali dalam sebuah kesempatan kompetitif, dia rela menjadi tumbal agar yang lain semakin maju.

Yang terakhir, melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan. Pada titik ini, anda pasti sudah bisa menebak, apa maksud jawaban ketiga ini dalam perspektif Kokologi. Ya, mereka yang menjawab ini, selalu melihat sesuatu dengan garis besar. Yang memilih jawaban ketiga selalu mempertimbangkan perasaan atau pemikiran orang lain sebelum mengambil konklusi. Tentu, karena dunia tidak berputar di dirinya saja. Meskipun, kerugian yang ditanggung adalah keputusannya sendiri.

Banyak juga soal-soal lain yang ditujukan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ketika anda mendapat kesempatan untuk mendesain mug biru polos dengan empat pilihan motif, misalkan, maka mana yang anda sukai? Antara garis-garis lurus (horisontal atau vertikal, terserah), polkadot, garis-garis lengkung serupa ombak, atau motif kotak-kotak? Jawaban yang dipilih menegaskan bagaimana metode kita dalam mendekati masalah atau memberi solusi. 

Dalam menjalani hidup, manusia selalu penuh dengan pertimbangan. Atas konsekuensi yang akan dihadapi. Perhitungan untung-rugi. Keseimbangan. Dan pertimbangan tersebut tidak melulu terbatas pada objek materiil, tapi begitu juga dalam humanisme (sudut psikologi). Aksi dan reaksi, dan sikap yang kita berikan kepada lawan bicara, sejenis atau lawan jenis. Semuanya berdasarkan alam bawah sadar. Di mana alam bawah sadar merupakan proyeksi pengalaman seseorang yang sangat berkesan dalam, dan selanjutnya mempengaruhi pola dan tindak pikir.

Seseorang yang berkemampuan untuk menganalisa gaya berpikir dan sifat seseorang, lantas mendeduksi respon terbaik dalam berbicara atau bersikap kepada mereka, rentan memiliki daya manipulatif terhadap sesama. Dengan mudahnya dia dapat mengendalikan tendensi yang paling cocok dalam segala sesuatu. Jung menyebutnya sebagai Persona. Meski hampir semua orang memiliki Persona majemuk, bukan sekedar tunggal. Entah dia cakap menilai orang atau tidak. Tentu karena manusia cenderung memilih jalan pendekatan yang mereka nilai ‘baik’ dalam mengambil atau menyatakan sesuatu. Cuma ‘mereka yang dilabeli maksum olehNya’ dan orang-orang bijak saja memiliki kapabilitas untuk mampu mengukuhkan ideologi selaras dengan idealisme dan realisasi, tidak goyah dalam tindakan, dan benar-benar pantas menanggung amanah sebagai sosok pemimpin yang ideal.

Ah, andaikata banyak orang seperti itu, dan mereka benar-benar berani untuk mengenal dan dikenal, pastinya masyarakat di sekitarnya bakal berubah. Masisir, contoh kecilnya. Saya acapkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan Kokologi kepada beberapa orang, untuk mengenal kepribadiannya lebih dalam. Seperti soal di mana pada suatu pesta atau perkumpulan, anda diwajibkan untuk duduk di antara tiga kursi: kiri, tengah, atau kanan. Mana di antara kursi tersebut yang anda rasa paling nyaman untuk diduduki, dan kira-kira apa warna tersebut? Mereka yang memilih tengah, didominasi dengan tipikal sosialis yang enggan bekerja sendiri. Sedangkan warna yang dipilih adalah bakal penentu hasrat bawah sadarnya untuk menjadi apa dalam perkumpulan tersebut. Merah bermakna pecinta kerjasama, harmonisasi dan konsolidasi. Pink memiliki rasa solider dan kesetiaan yang kuat, dan banyak makna dari warna lainnya. Dalam dunia yang penuh permainan jiwa ini, kita memilih mau jadi apa, bagaimana dan untuk apa? Pemain, atau yang dipermainkan? Jangan biarkan pertanyaan konyol ini terbuang bersama gugur dedaunan.

Pemuja Lilin


Muka bertemu, lidahku batu
Padahal mentari sudah menyelip di balik ufuk
belai hangat hati santun
Padahal murai berkicau asyik di beringin
menyapa kilau ratusan embun

Pasti hatiku kejut kala kau
dan tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam
dan pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan
atau manis tutur kata, jelmaan Emily untuk Gilbert
atau hidung yang penjarakan Sinta di kalbu Rahwana

Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif,
ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan

Bagi sang pria, lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Tapi nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati
Kamu tahu?

(revisi dari: Empati)





Jalannya tertatih, ringkih, hembusan nafasnya yang terputus-putus seperti berpacu detik dengan malaikat maut. Mata tua yang mudah meredup dan celana coklat butut yang ia kenakan, mungkin pasangan sejati yang pertama kali ditangkap semua orang yang melewatinya. Tentu dengan tidak melewatkan sebuah kaos putih yang selalu ia pakai.

Dan inilah kami. Lagi-lagi bertemu begitu saja, di Port Said, tanpa sengaja, tanpa janji. Berjalan, berpapasan, tanpa tegur sapa, hanya berbalas senyum. Tubuh tuanya berjalan lambat – walau sedikit tertahan, tapi pasti. Seakan-akan emosi alam sudah bercampur dengan jiwa raganya. Sedangkan aku? Aku hanya berjalan lurus, tidak lebih. Percuma aku memberinya uang, kuduga dia pasti menolaknya. Materi bagi orang tua sepertinya, fana dan tidak kekal. Sedikit saja aku bersimpati, dia juga pasti menolak diri. Kami berdua seperti pemain catur yang sedang saling menerka gerakan lawan. Salah langkah sedikit, label taruhannya. Iblis, atau malaikat?

Tapi singkat saja. Kemudian sang kakek menjulurkan tangan, kami berjabat erat, saling tersenyum. Orang tua itu melanjutkan jalannya, aku berdiri mematung.

Rahmat mengernyitkan dahi. Mungkin kawanku ini kebingungan, antara aku dengan si orang tua, di sini sama berpapasan. Tetapi sama tidak bergeming, saling terdiam. Bukan, ujarku dalam hati. Tolong jangan tatapkan pandangan skeptis itu ke arahku. Kau hanya belum merasakan. Coba saja kau berdiri di atas sepatuku, menatap sosok rentanya dari tempatku sini. Apa yang kau lihat?

Di mataku, dia bagaikan matahari. Dulu pernah aku bercerita ke Rahmat tentang seorang kakek tua berkulit hitam, yang mengenakan baju kumal bergambar lingkaran dengan sebuah segitiga menyembul di tengah. Mungkin gambar itu melambangkan sesuatu. Entah kenapa, imajinasiku memaksa, ini simbol bintang berpijar. "Bukannya itu cuma gambar lingkaran?" kawanku menimpali.

“Tidak, sobat. Keras semangatnya yang telah ia banting habis untuk sisa hidup koleganya. Juga beratus tapak sudah dia injak hanya untuk membuktikan, di dunia tiran ini masih ada simpati. Dan meski ia tidak berharap puja, cintanya kepada mereka yang terus saja mencacinya, begitu luas. Bagaikan luapan sinar surya di atas alam raya,” jawabku. Dan tidak sekali pun sosok renta itu pernah berhendak pamrih. Tidak, tidak sama sekali.

"Sok pujangga kau. Seolah-olah sudah kenal dia bertahun-tahun saja," waktu itu Rahmat membalas, tawanya meledak sembari tangannya menepuk-nepuk punggungku. Bibirku tersenyum simpul.

Ah, kejadian itu. Masa lalu. Kini mataku masih melekat kepada sosoknya yang kini mulai menjauh.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Bising

Sungguh, suara petasan-petasan yang dihamburkan begitu saja di jalan-jalan, di serambi toko, depan kios telpon, atau arak-arakan dengan meluapkan sorak gembira menjadi teriakan para pemuda yang saling bersahutan, ditambah lagi dengan lomba membunyikan klakson beritme dari kawasan Sabi hingga pojokan Tajammu’. Hingar bingar yang lumrah terdengar dalam menunjukkan suasana hati. Kegembiraan. Bukan bahagia subjektif yang cuma bisa dinikmati dua sejoli, tapi ini bahagia masal. Ya, warga Mesir kini bereuforia. Konon katanya, karena tuntutan rakyat sudah terpenuhi. Morsyi tidak lagi dianggap pantas duduk di atas kursi pemerintah. Saatnya kudeta. Ramai orang bicara.

Di sudut Kairo yang lain, bundaran Rabea Adawea, panji-panji “Tidak untuk Kekerasan dan Ya untuk Legitimasi,” bersliweran di sepanjang jalan. Slogan tersebut melekat di kaca-kaca belakang mobil, di tiang listrik, di dinding toko, di bendera-bendera kecil bergambar wajah seorang pria berkacamata yang dibawa massa, juga dalam suara yang melayang-layang di udara. Mereka juga warga Mesir, tapi wajah mereka mendung. Presiden yang sangat mereka hormati, dengan sangat tidak senonoh, begitu kata mereka, digulingkan begitu saja oleh Abdul Fattah el-Sisi, kepala tertinggi militer. Kata el-Sisi dalam pidatonya malam Kamis kemarin, ini adalah keputusan demokratis. Permintaan presiden untuk menghadirkan kepala-kepala dari pelbagai elemen untuk hadir pada malam sebelumnya, sudah dituruti. Hasil dialog menyepakati bahwa Morsyi pantas turun jabatan, demi mencegah mudarat yang bakal datang. Tapi himpunan massa yang menyesaki bunderan Rabea Adawea seminggu penuh ini, sama sekali menolak keputusan tersebut. Membenci malah.

Dari Azhar sendiri, universitas yang sejarahnya mendahului negara tempat ia berpijak, diwakili oleh Grand Syeikh Ahmad Thayyib, menyuarakan dukungan terhadap turunnya Morsyi. Antisipasi dampak yang bakal dilancarkan preman-preman bayaran di lapangan Syuhada (dulu Tahrir) jika Morsyi masih bersinggasana di kursinya, dikhawatirkan menjadi huru-hara menjelma skandal internasional yang bahkan militer pun tidak sanggup membelenggunya. Itu alasannya. Syeikh Azhar pun menyesalkan penangkapan militer atas Morsyi dan para pimpinan Ikhwanul Muslimin, padahal kebebasan berpolitik adalah hak untuk semua orang. Jika alasan penahanan mereka semata-mata untuk menahan kebebasan mereka agar tidak bergerilya, kembali menghimpun massa, lantas memunculkan kudeta edisi kedua. Ini alasan yang tidak objektif sekali. Formalitas, bisa dibilang. Sama seperti yang menimpa tahanan-tahanan politik mulai dari zaman Ibnu Taimiyyah, atau presiden Soekarno, juga sastrawan-sastrawan Lekra yang diasingkan ke luar negeri dengan dalih yang hampir mirip.
   
Belum lengkap rasanya tanpa memunculkan suara-suara media. Ah, propaganda. Nasihat dari Eriyanto pada bukunya “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media” memaksa saya untuk tidak cukup sekali melihat pada tulisan yang terpampang di satu media. Harus lanjut mengkomparasinya. Cari berita tandingan, cari info lanjutan. Kemudian cari pola yang menghubungkan. Apakah benar kejatuhan Morsyi ini karena faktor pihak ketiga? BBC berbisik, Dr. Baltaji, tokoh Ikhwanul Muslimin, menyampaikan info dari pembantu Morsyi bahwa sebelum kudeta, presiden didatangi Menlu dan Dubes AS. Mereka minta sang kepala negara, mundur. Morsyi menolak. Ancaman dari mereka, “Selamat menghubungi kami dari penjara.” Terbukti sekarang. Dari salah satu media Indonesia, malah justru Obama mengecam tindakan penggulingan yang menurutnya tidak demokratis ini. Ah, teori konspirasi. Kemudian media-media lain, visual maupun cetak, yang saling melempar tuding untuk kepentingan ideologis yang mereka usung. Kepentingan golongan juga tentunya. Masing-masing saling menghancurkan citra, melempar isu untuk meresahkan para warga, baik pribumi maupun asing.

Kemudian kalut. Yang justru mencuat ya kekacauan. Terjadi di mana-mana. Di Nadi Sittah Oktober, di lapangan Tahrir, di bunderan Abbaseyah, di bunderan Rabea Adawea, di tubuh militer sendiri. El-Sisi digulingkan oleh beberapa petinggi militer. Aldy Mansour, presiden terpilih sementara, juga terancam jatuh. Itu masih suara media. Semua ribut. Semua gaduh. Semua cemas. Setiap mata memandang mata lain dengan curiga. Kata yang terlontar dari mulut menentukan nasib jiwa beberapa detik ke depan. Pada 1961 dulu, Edward Lorenz sudah menjelaskan, inilah yang disebut dengan chaotic theory. Teori kalang-kabut. Pada awalnya, semua unsur terlihat acak. Tapi pada suatu titik, akan tampak bukti bahwa masing-masing unsur ternyata memiliki predeterminasi.
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Dot 0.0.1

Pernyataan bahwa setiap orang bisa hidup berbahagia setiap waktu, itu omong kosong. Kenyataannya, setiap orang memiliki permasalahan masing-masing. Terlepas apakah orang lain mengetahui atau tidak, apakah sang pemilih masalah memilih mengundang simpati dari khalayak atau tidak. Hemat saya, dan saya akui sifat pribadi memang egois... masalahku, ya masalahku. Masalahmu, itu urusanmu. Lakukan apa yang terbaik untuk dirimu, dan saya pun begitu.

Tapi tentu saja, bukankah manusia diciptakan untuk saling bekerjasama? Berbagi pengalaman? Tenggang rasa kalau pelajaran PPKn dulu pernah bicara. Tapi tentunya, semua orang pasti mengalami sebuah titik di mana kepercayaan menjadi krisis. Kebergantungan menjadi titik dilematis. Hanya kepadaNya kita kembali, maka hanya kepadaNya pula kita berharap. Tapi tentu saja, ini solusi paling subjektif dan sangat tidak relevan. Tunggu, perintah tersebut sangat syar'i da masuk akal, tapi jangan dibawa ke titik ekstrim. Mengingat, sebenarnya masih ada orang yang pastinya ikhlas membantu kita, jikalau kita meminta tolong mereka.

Ah, harga diri. Jadi harga diri yang dipermasalahkan sekarang.

Kamu bilang, harga dirimu terlalu tinggi, sampai-sampai diberi empati sama saja seperti menjatuhkan 'harga' tersebut.

Tapi tentu tidak. Ada permasalahan lain selain berkutat dengan harga-harga. Sejauh mana para 'pembantu' itu mengerti permasalahan yang kita hadapi? Sedalam mana mereka mengerti perspektif kita? Setinggi apa mereka mengerti apa yang bakal kita tuntut dari bantuan mereka?

Pada dasarnya, manusia itu unik. Mereka hidup untuk bergotong royong, begitu kata Soekarno saat merintis Indonesia. Tapi manusia juga individu idealis yang pastinya memiliki harapan, cita dan doa yang berbeda. Manusia bisa saja saling membantu, tapi itu sebatas kulit. Isi hati manusia lebih dalam dari palung yang terdalam. Meski diteliti denga sonar mata batin atau proyeksi psikologis tercanggih sekalipun, nilai yang tertangkap hanya awang-awang.

Pada dasarnya, dia hanya ingin mengungkapkan, benci dengan keluh kesah berserak. Dirinya sendiri, dan lainnya. Mereka semua hanyalah manusia normal. Ah tolong, itu kicau-kicau sudah berputar jadi beliung. Bisa ditambahkan api? Biar bergelora.

Kosong

"Maka sebuah ucap tanpa aksi pun lebih parah daripada sekedar kentut."

Yang disampaikan oleh apa-apa dalam dunia permainan, dunia perfilman, dunia fiksi - meskipun mengandung pernyataan kenyataan, tetap saja sifatnya fiktif. Kita dihibur sebuah gumam. Igauan, obrolan, rileksasi mata atau apalah itu, semuanya hanya pengejewantahan ide kreatif orang. Jika kita hanya terus mengonsumsi tanpa memproduksi, atau sekedar balas gumam tanpa menghadirkan kristalisasi ide kreatif lain sebagai pembanding, lantas apa nilai diri, kalau bukan kosong? Kosong bukanlah nol, yang masih bisa disubstraksi, eliminasi ataupun apalah, mediasi plus - minus. Kosong ya kosong. Cawan yang kosong selalu bisa diisi bukan? Tapi tanpa 'isi', bahkan untuk anjing sekedar melongok ke dalam tong sampah yang kosong pun ia enggan.

Ini tentang ideologi. Sebuah 'rasa', kata teman.

Pernah ada keyakinan diri yang menekankan, hiburan-hiburan itu adalah bentuk pelarian. Kita ingin hidup sebagai model. Fitrah manusia ingin dikenal, para psikolog modern itu yang bilang. Tapi tidak banyak yang sadar, 'menempuh usaha' yang sekedar dilempar ke takdir, itu pelampiasan. Frustrasi, lebih tepat. Atau malas? Karena banyak rasa malas yang mendatangkan kegagalan. Dan bagaimana kita bisa gagal sebelum memulai, jika memang gagal adalah nilai? Rupanya kosong bersifat lebih destruktif daripada sekedar gagal, karena sebelum kegagalan pun masih ada usaha.

Kembali lagi ke kosong. Manusia-manusia kosong yang berbicara kosong. Dipuji susah, dihina pun untuk apa. Kita harus akui nilai manusia-manusia kosong, ya cuma kosong! Dan kosong bukanlah nol, rujuk  analogi di atas. Hanya sedikit yang menyadari bahwa diri barulah kosong. Tanpa nilai, tanpa ide, tanpa aksi, sekedar bual. Cawan hampa yang sedikit kecipratan cat lukis, eh dikira pelangi.

Bahkan jika tulisan ini dianggap bernilai, hemat pribadi, tidak. Konon tulisan yang apik musti berlapiskan data. Di sini tidak ada, isinya curhatan. Nilainya dan si penulis juga masih kosong. Duduk seorang bhuta dengan kaki mengangkang, lalu terlelap dengan keringat menetes dikira hujan. Asam, padahal.

Dot

Seandainya benar yang dikatakan Hobbes, manusia pada dasarnya binatang buas, maka bisa dipastikan keadaan sekeliling saya bakal hancur berantakan. Lantak oleh kepalan tangan yang sedari tadi mengeras. Tapi bah, apa gunanya akal sehat jika emosi selalu dikedepankan? Apa guna ilmu yang selama ini dipelajari, jika pada saat dibutuhkan olah pikir masih terberai?

Melawan kenyataan dengan tenggelam dalam imaji. Musim panas selalu menggoda. Membenci apabila prediksi atas keburukan sesuatu atau seseorang benar-benar terjadi, terlepas menimpa diri atau yang lain. Mual mendengar kata manis bau sampah -najis- yang bertebaran di mana-mana. Mau muntah melihat topeng berserak. Bukan sekali dua kali, dari dulu hingga kini mereka sudah tampak. Mereka dari kata 'siapa' yang bisa saja menjadi. Luka-luka dunia. Borok manusia yang lupa diobati. Tuhan, beri aku kesabaran.

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software