.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Mawar Untukku

Lalu lepas, lenyap, apa yang terenggut
berkepak bebas
Dua mata berhulu tajam menusuk
pilu, menatap garang
Dulu rindu yang pernah dicampak, kini
sudah melesak
Api biru yang tak berhinggap, apa
memang pernah terkesiap?
Senja sama saja dengan ufuk sekarang
Tak beda lontar kata terucap...
atau hitam tertulis....haha,
semua samar!
Sama saja bercampur disana
dengan kabut, terus buram hingga lenyap
Dan jangan bilang kalau
cantik mawar tak pelak -
lagi, indah kelopak, tapi duri
menusuk dari balik tak tampak


(If you even assume that this poem is written along with how my feeling goes on, then you're one step wrong :D. Once more, I dedicate this poem 4 my pal who's in depth and please...just stand back!!)

Utopia


Disana, terduduk, disentak
mati oleh angkara
Bangunkan aku singgasana dari buih di lautan!
Kamu tiupkan padaku sunyi,
akan kupasung dengan gaduh di hati

Dulu iya, elok keloknya, aku terpana
Sampai seribu asa kubangun
pun tak sanggup menyaingi menara selaksa
Berlanjut dari utopia, mekar menjadi dusta
Tapi masih dengan ilusikah aku
Tertawa...? Ternganga...?

Kelak seribu luka ini kujinjing paksa
Lenyap dengan duka, tapi yang terlantun...
simfoni syahdu berlagu merdu
-Hakikat diri seorang manusia-

(puisi ancur yang terilhami saat sadar kalo sekarang aku masih sering meliku dari orientasi seharusnya dan kaget kalo ternyata........ satu hari 24 jam itu gak cukup!!!)

Persona (1): TOPENG


Waktu itu sudah jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri. Dia berjalan dengan muka merengut, sambil wajah ditekuk-tekuk, kedua tangannya berkibas kasar dan kakinya berderap tegas, ketus dan mantap – tapi sambil mulut bersungut-sungut. Selang beberapa menit kemudian, saya bertemu dengan dia di tempat perkumpulan, sambil bertanya:
            "Eh, barusan dari mana? Tumben telat, biasanya datang paling awal," tanya saya ramah.
            "Oh, gak, tadi ada perlu aja," jawab teman saya sambil sedikit tertawa.
            Loh? Padahal tadi saya lihat sendiri kalau dia tersasar di jalan, ngedumel gak jelas sambil lihat kiri-kanan. Langsung saja saya buka kartu.
            "Masa? Tadi pas aku naik tremco ngelihat kamu tuh. Lagi jalan kemana gitu," kataku polos. Temanku malah tergelak.
            "Hehe, iya sih, tadi agak kesasar sedikit. Lagian tempat kumpulnya juga gak jelas sih,". Nah, terbuka sudah topengnya. Sewaktu di jalan tadi, jelas emosi jengkel dan rasa tak sabar yang terlihat, refleksi dari emosi yang alami. Baru ketika akan memasuki tempat perkumpulan, dengan aduhai dia berganti muka dengan topeng cerianya kembali.
            Memang dunia ini penuh topeng. Baik itu manusia di dalamnya, atau malah dunia itu sendiri menutupi kebusukan tetapi tertutupi dengan topeng arif dan kebijakannya. Entah. Karena saya sendiri masih bingung berjuang memecahkan teka-teki malam dan teka-teki keadilan (dikutip dari lagu 'Gie') yang penuh rupa ini.


~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Ohayoo. Sekarang masih pagi. Kaget habis bangun, ternyata masih terbayang dengan jelas mimpi semalam. Padahal biasanya kalo aku mimpi, pasti selayang pintas. Kayak kentut gitu lah, bau sebentar terus ilang (hehe :-p). Tapi yang ini lain. Sangat clear di memori. Seperti slow-motionnya The Matrix, bahkan sampe nulis ni post masih aj kebayang. Well, biasanya kalo Rav mimpi gini tu berarti premonition. Atau cuma 'bunga tidur'? Entahlah.
Ok, jadi begini ceritanya...

Ada sebuah rumah, entah bagaimana bentuknya...tidak terbayang jelas. Yang jelas, ada seseorang di rumah tersebut yang masih mempunyai relasi keluarga. Dia mengundangku untuk berkunjung. Kemudian entah kenapa, ada perasaan seakan mendengar sebuah command untuk memasuki sebuah kamar. Kamar tersebut berada di balik tembok sebelah kiri sekitar 2-3 meter setelah memasuki pintu masuk. Jangan tanya, "Terus kalo di sebelah kanan ad pa-an?". Gak tahu juga.

Setelah memasuki tu kamar,  baru sadar  kalo aku sedang menggunakan jaket hitam tebal, lengkap dengan tudung kepala yang menutupi wajah. Nah, entah "someone's-that-related-with-my-fam" (selanjutnya saya panggil Vad aj biar gampang) tu ngomong apa, yang jelas dia berbicara dengan seseorang di kamar tersebut yang sedang duduk di atas kasurnya, seorang cewek. Mungkin si Vad memperkenalkan saya dengan cewek tersebut, karena lantas dia sangat antusias dan ngelihatin saya seperti orang mo beli baju-baju di supermarket, dari atas sampe bawah tubuh gue gak lepas dari matanya. Tapi nyantai aj sih. Langsung aja aku duduk di sampingnya sambil buka jaket. Woi, ternyata dingin ya? Berarti itu alasanku barusan pake jaket. Hitam juga konduktor panas, jadi pasti lebih hangat. Tapi cerita ini baru dimulai dari sini.
~{x-Penasaran? Tolong jangan dibaca lagi deh, please....-x}~



Hanya sekedar iseng, selamat menikmati, haha :D

Apabila kamu ingin berbantah kata dengan Diam, coba tanyakan kepada galau yang bergaduh di hati. Sedikit, atau tidak lama gundah itu bersarang, tetapi lemah jika sedikit saja terantuk batu karang bernama emosi. Dan dikala puncak antara sedih, senang, gembira, cemas, marah dan sakit perut bercampur, kepala itu akan meledak-ledak bagaikan lokomotif yang baru mau bertolak, muntah asap. Ini adalah anekdot dimana dua orang berbeda karakter bersikap, yang satu diam karena sedang mencoba berpikir dingin, sedangkan satunya lagi sedang diam tapi menahan marah.

~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 read it more...-x}~


(artikel ini pernah diterbitkan di Majalah La Tansa edisi XVIII)

Tahu musuh terbesar yang mungkin akan anda hadapi selama sisa umur hidup anda? Lihatlah ke cermin. Terkadang muka yang muncul benar-benar bisa membuat sakit perut. Saat anda dihadapi beberapa problematika seperti berhadapan dengan kenyataan pahit, terkadang ide yang terbersit yaitu bagaimana kita lari dan meninggalkan semuanya dibelakang. Tapi tetap itu bukanlah solusi, karena selama masalah tersebut tidak kita pecahkan, maka dia akan kembali lagi untuk menghantui hidup kita disaat semua sudah terlihat santai, aman, nyaman dan tenang. Seperti bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Dalam hidup, kita seperti itu.           

 
Sekarang mari kita bicara masalah waktu. Apa hanya hemat penulis saja atau memang begitu realitanya? Setiap kali ada perkumpulan selalu saja tepat waktu - sejam dari waktu yang tertulis di agenda atau waktu yang telah disepakati, bahkan lebih. Apabila di pamflet tertulis acara akan dimulai jam delapan pagi, maka sudah menjadi rahasia umum apabila nantinya acara dimulai jam sembilan. Bukan hanya perkumpulan-perkumpulan kroco saja, bahkan probabilitas acara-acara resmi yang melibatkan staf KBRI dimulai tepat waktu sesuai agenda bisa ditaksir hanya mencapai 30%. Sampai muncul slentingan konyol yang sudah tidak asing lagi, CLT (satuan waktu Kairo) merupakan singkatan dari Cairo Long Time – anekdot dari jam karet paling molor dalam dinamika Masisir.           
~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 read it more...-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software