.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Sebuah idealisme kejurnalistikan berangkat dari keseragaman pola pikir. Keseragaman pola pikir tidak sembarang tercipta, tapi hasil seleksi bermacam ideologi, kematangan sikap, timbal-balik dari pengaruh eksternal  dan kesepakatan sosial untuk bersama mengerjakan sesuatu. Jadi, keseragaman pola pikir ini bukan semata hasil tekanan seorang individu semata, tetapi mufakat antara atasan dengan petugas lapangan.

Hanya saja idealisme kejurnalistikan yang sering ditemukan di berbagai media Indonesia, kadangkali berakar tunggang, berbasis tekanan (atau modal popularitas?), dan bukan kesepakatan. Padahal, seharusnya idealisme-lah yang nantinya, disokong dengan kewenangan atau konstitusional hukum sebagai payung, berdiri tegak dengan nama kebebasan pers. Mengutip dari Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, menjelaskan bahwasanya kebebasan yang dimaksud adalah hak yang diberikan oleh konstitusional atau perlindungan hukum yang berkaitan dengan dengan media dan bahan-bahan yang dipublikasikan seperti menyebar luaskan, pencetakan dan penerbitkan surat kabar, majalah, buku atau dalam material lainnya tanpa adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari pemerintah. Apakah dalam dinamika Masisir*, hal ini sudah terjadi?
~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Aurora Tersudut


Ketika merepih malam, sudi Rembulan mengepakkan sinarnya
Kali ini, dengarkan, resapi perlahan

Saat gerimis terhanyut angin, bukan melankoli
lantas demi detik yg berpacu, galau dan pasi

Terkenangkah engkau dengan Aurora tanpa kalbu?
dengan mistiknya, membelai hangat malam
Mereguk dahaga saat kata-kata berbicara bisu
merentang gundah gulana dengan dawai kecapi hati

Bukan merajut lagi apa yang sudah terlalui pagi!

Katakan dengan melodi, sejukkan emosi membuncah rindu

Seperti ego burung kelana-kah?
Yang tersesat dalam sangkar,
mungkin terbutakan dunia dengan piciknya?

Esok kelabu, selanjutnya biru
samar mengikut awan berkurungkan kabut

Tapi dalam diam, ada gejolak
Jiwa memberontak
Nadi tertuntun bergerak
Usah punguti memori terserak

Ingatkah kau pada Aurora berselimut sendu?
Dia mencoba berbisik pada mentari bersilau syahdu

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasssssih banyak kepada saudara Muhib, karena andalah oase ditengah gersangnya padang pasir, hujan ketika paceklik, buah tiin saat musim dingin dan syakhonah (pemanas air, red) ketika gas kompor sudah habis. Ya, pokoknya begitulah, metafora kebaikannya gak akan habis kalo disebutkan satu-satu.

Bayangkan saja, saudara-saudari semuanya, disaat saya (mengeluh) kelaparan, dia mengajak saya makan dengan lauk yang lumayan “Wow!”. Setelah itu, kami mampir ke tempat pembelian aneka juz, dan sekali lagi, dia membayar jus saya! Terakhir, ketika saatnya berpisah jalan, padahal saya sudah menolak-nolak dari awal (“Aduh hib, syukron banget! Tapi bener, masih ada duit kok. Kalo masih recehan mah masih ada, ada yang lebih gede ngga?”) tetap aja. Sambil berjabat tangan hangat, dengan liciknya dia berhasil menyelipkan beberapa puluh pon di tangan saya, lantas berbalik cepat dan berjalan tergesa sampai hamper ditabrak mobil, tanpa menoleh sedikitpun ke saya. Wah, saya yang punya automatic-response terhadap segala hal yang menyegarkan ‘kantong’, ngerti banget kalo gak boleh ngelepas salah seorang sahabat seperti ini dengan keadaan tanpa hirau seperti itu (Bayangkan saja, hampir saja dia tertabrak gara-gara tidak menoleh sama sekali. Sekali lagi dia nyebrang, gak bisa bayangin kalo tertabrak beneran!).

“Hib! Thanx ya!”

Kukuh. Seperti baja, tetap menatap lurus. Nah kan, sekarang nabrak orang.

“Hib! Thanx ya! KAPAN—KAPAN AKU GANTI!”

Ah, akhirnya dia menoleh. Sambil melambaikan tangannya, dia tersenyum. Oh, alangkah baiknya dia Ya Rabb. Semoga bisa bertemu lagi ntar, amin.

Gak banyak yang bisa diceritakan hari ini, kecuali satu hal yang terkadang membuat saya merenung. Dari pagi, entah kenapa, mungkin gara-gara begadang semalam suntuk dan paginya banyak suara-suara halus yang memekakkan telinga, ada satu hal rutin yang tidak bisa dilakukan. Sama sekali. Sesuatu yang membuat keadaan tubuh serba gelisah, pikiran tak terarah, ragu yang serba bergeliat kesana-kemari, juga rasa depresi yang naik-turun tak dapat dimengerti. Sesuatu indah yang berasal dari kematangan diri dan mental yang tertata apik, disambung dengan makanan 3mpat sehat lima sempurna. Sesuatu yang terasa enggan saat dilepas pertama kalinya, tetapi hati bagaikan tumbuh mawar jika sudah terbuang. Sesuatu yang sangat dinanti-nanti, diharap-harapkan oleh orang lain kepada kita, terutama saat mereka mulai mencium gelagat yang tak enak dan bau parfum yang berlebihan.

Itulah engkau, wahai Boker. Mengapa dikau tak kunjung datang pagi ini?


~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Dirimu Semahal Kartu

Berapa harga yang harus kita bayar saat membeli majalah National Geographic? Cukup murah, hanya berkisar 5 pon. Dengan 1 pon ditaksir sama dengan 1.500 rupiah. Sehari-harinya kita sanggup mengisi perut dengan menu ala Mesir dengan menghabiskan hanya 10-12 pon untuk 3 kali makan. Tasdiq Azhar dapat kita pegang setelah membayar 35 pon kepada khazinah. Hampir setiap jenis barang di dunia ini mempunyai harga pasti di pasaran. Meskipun terkadang terdapat selisih angka maupun nominal dalam harga setiap barang, para pedagang sangat kompetitif dalam menarik pelanggan. Intinya, agar barang mereka terjual habis dan meraup banyak keuntungan.


Tetapi sayang, banyak yang mematok harga untuk dirinya sendiri terlewat murah. Anggap aja si D. Dia mengobral kata kemana-mana, hingga terpuruk karena menipu diri, tapi demi ketenaran dan buah bibir, rela mengorbankan jati diri. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, pasti dia akan menjawab bahwa hobi atau kegemaran yang ia miliki, sama dengan lawan bicaranya. Dia akan membenci sesuatu atau seseorang yang lawan bicaranya benci. Tapi hanya pada saat itu saja. Pada saat dia berada bersama lawan bicaranya. Dia akan berkata sebaliknya jika sudah meninggalkan orang itu. Perkataannya juga akan berbeda kepada setiap orang yang ia temui. Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya akan mengecap dia sebagai orang baik, karena selalu bersikap ramah. Bisa jadi mereka sayang, karena kesamaan hal dalam hobi, kegemaran dan sifat.

Tapi orang yang sudah mengenal si D teramat dekat jelas mengetahui bahwa dia bermuka dua dan tidak mempunyai prinsip.

Alangkah sayang jikalau sebuah prinsip yang sebelumnya terjunjung tinggi, melenceng 180 derajat atau bahkan berlawanan arah setelah menerima iming-iming jabatan, harta atau demi seseorang yang ia sukai. Jabatan, apa sih yang bisa mengatur posisi disamping takdir dan realita? Kita tidak akan pernah tahu kapan seseorang akan tergantikan dari posisinya dan kapan seseorang dipromosikan naik tingkat. Siapa tahu kali ini anda adalah seorang CEO, esok hari sudah menggelandang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemudian ada harta. Apakah anda sanggup mengatakan harta tersebut akan abadi? Tidak mungkin. Pada masanya nanti, anda akan merasakan jika kas semakin kosong dan dompet semakin tipis. Lantas anda harus mencari lagi. Mengemis lagi. Sedangkan yang terakhir, cinta. Percuma jika anda menyama-nyamakan hobi yang anda miliki dengan sang pujaan hati. Menyukai film, lagu, hobi ataupun gaya hidup yang ia gemari meskipun dalam hati berteriak pahit. Tidak henti-hentinya menipu diri. Tidak akan kekal cinta semacam ini.

Seyogyanya, sebuah prinsip  merupakan cermin nurani dan pasti mengarah dalam kebaikan. Tapi jika sekali saja tergoyahkan, prinsip tersebut akan kehilangan niatnya yang ‘murni’ dan menjadikan harga diri sang pemilik prinsip menurun drastis. Tapi tidak dengan jurnalistik. Saya tidak ingin prinsip jurnalistik yang pernah dipegang teguh, terobral murah dengan diskon besar-besaran. Harga diri seorang jurnalis sangat tinggi, hanya dapat disetarakan dengan veritas. Dalam sebuah pepatah arab, “Qul al-haqq wa lau kaana murron.” Berkatalah sejujurnya, meskipun itu pahit. Saat jurnalistik menghilangkan prinsip keadilan yang berbasis fakta dan kebenaran, dari situlah harga diri seorang jurnalis hilang. Menjadi gratis.

Bolehlah dikata saya seorang idealis. Dan idealis tidak jauh dari utopis, realisasi sulit. Tapi meskipun kemungkinan yang tersisa hanya sekitar 1 persen, apakah kemudian kita membuang harapan?

 Ujung kata, harga diri bukan berarti bersikap tinggi hati, sombong, aristokratis dan hemat bicara. Harga diri seseorang diukur dari kemampuan diri bersosialisasi, menempatkan diri secara semestinya dengan presisi hati-hati, tidak berlebih, tidak juga terlalu menutup. Ummatan wasatha, menciptakan diri menjadi seorang sosialis idealis yang moderat.  “Jibun no kachi wa jibun de kimeru mono sae.” Anda-lah, dan bukan orang lain, yang menentukan berapa kualitas harga diri pribadi.

Drama Persona*



Gumam terlatuk, sepi merasuk
dipasung raba bisikkan riak kalut
Hadir disaat angkara berbisik, ricuh
anggap sepoi pahit berpilin -
semburat ilusi saling menyahut

Ada tawa, terbahak, buang suka!
Hilang gelonggong ribut duka,
apa masih cita?
Saat itu logika menyahut...
tidak ada rasa bercermin
Cuma hening berteriak!
Gema bising

Wajah-wajah datar di dinding
hendakkah kau melukis bingar?
Benarkah sejati senyum terpagut,
tanpa imbuh ragu tertahan?
Mana tangis tertumpah lega,
bukan bibir terkulum paksa?
Akankah pipi merona senja,
tertambat sampai di hati Sang Puja?

Arahkan bayonet, bidik ke tirai
Kacaukan...
ini drama persona!




*Persona: Kata persona disini merujuk kepada term psikologi, hasil ideologi filosofis Carl Jeung dan Zhuang Zi

Limbah Kata


Jika kata menjadi nilai seseorang, apakah anda tidak curiga jika dalam proses pengerjaannya sempat terdpat kecurangan? Jika kata menjadi sebuah identitas, apakah anda tidak tahu bahwa dalam pembuatan KTP ada istilah 'jalan pintas'? Terkadang kebenaran tidak seperti apa yang mata dan telinga tangkap.

Semua orang sebenarnya masih tertohok pada satu objek. Anda yang kini sedang dalam dilema, saya bisa menebak bahwa salah satu unsurnya pasti karena 'dia'. Atau anda yang sedang di atas angin, apakah karena motivasi dan sugesti dari-'nya'? Bahkan beberapa ada yang tenggelam disana, atau juga yang sembari mencari secercah sinar dalam kekusutan enigmatis, malah alpa sampai lupa dirinya siapa. Atau apa tujuan hidupnya. Atau untuk apa muncul di dunia. Atau bagaimana dia terwujud dan  mengapa bentuknya mengikuti pola asimetris, tapi kembar juga bisa.

Izinkan saya mengutip perkataan Jacques Derrida dalam salah satu kritikannya terhadap Madness and Civilization karya Michel Foucalt, maka saya dengan lantang berkata kepada Anda, "Saya tetap memiliki kesadaran seorang murid yang penuh kekaguman dan rasa terima kasih. Namun, karena "kesadaran" itu adalah kesadaran yang kritis untuk terlibat dialog dengan sang guru, maka ia adalah kesadaran tak bahagia." Ketika pertama kali Derrida menghadiri seminar Foucalt, dia sangat terkagum oleh intepretasi Foucault atas pemikiran Descartes. Tetapi sekedar kagum bukan berarti sepaham. Terbukti dengan munculnya Cogito and the History of Madness sebagai kontra atas pemikiran Foucalt yang mengecap dirinya sebagai pengembang modernitasnya Kant. Derrida dengan paham dekonstruksinya dan Foucalt atas sumbangsihnya terhadap Post-modernisme.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Pagi Kembali

Kala pagi tersamar kabut

Sebentar lagi,
Terik itu tersibak tanpa pesona galau
dan ketika pelik kutitip surya,
sepi seperti beralur dalam gelombang pukau
Tanpa kata-kata, mata-mata terkesima
rasanya kemilau mengelupas senja
bolehkah pekat menggumpal suka tanpa selaksa?

Ketika elegi berbisik kata pesona indah...

Jika kuning seperti angin, dan biru — butiran debu
maka aku berdiri dalam memoar segumpal pasir
Tapi bukan fantasi melankolia,
atau lembut sepoi dahlia di udara
Rasanya tetes hujan cahya di bawah dekap pelangi
dan karang menantang beribu percik ombak menerjang
Melambai terhanyut harmoni,
dekap semu sedu sedan!

Pernah aku menitip salam,
berjalan gontai dalam malam
membalas kerlip bulan yang manja tertahan,
lalu pagi kembali...

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software