.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Dot 0.0.1

Pernyataan bahwa setiap orang bisa hidup berbahagia setiap waktu, itu omong kosong. Kenyataannya, setiap orang memiliki permasalahan masing-masing. Terlepas apakah orang lain mengetahui atau tidak, apakah sang pemilih masalah memilih mengundang simpati dari khalayak atau tidak. Hemat saya, dan saya akui sifat pribadi memang egois... masalahku, ya masalahku. Masalahmu, itu urusanmu. Lakukan apa yang terbaik untuk dirimu, dan saya pun begitu.

Tapi tentu saja, bukankah manusia diciptakan untuk saling bekerjasama? Berbagi pengalaman? Tenggang rasa kalau pelajaran PPKn dulu pernah bicara. Tapi tentunya, semua orang pasti mengalami sebuah titik di mana kepercayaan menjadi krisis. Kebergantungan menjadi titik dilematis. Hanya kepadaNya kita kembali, maka hanya kepadaNya pula kita berharap. Tapi tentu saja, ini solusi paling subjektif dan sangat tidak relevan. Tunggu, perintah tersebut sangat syar'i da masuk akal, tapi jangan dibawa ke titik ekstrim. Mengingat, sebenarnya masih ada orang yang pastinya ikhlas membantu kita, jikalau kita meminta tolong mereka.

Ah, harga diri. Jadi harga diri yang dipermasalahkan sekarang.

Kamu bilang, harga dirimu terlalu tinggi, sampai-sampai diberi empati sama saja seperti menjatuhkan 'harga' tersebut.

Tapi tentu tidak. Ada permasalahan lain selain berkutat dengan harga-harga. Sejauh mana para 'pembantu' itu mengerti permasalahan yang kita hadapi? Sedalam mana mereka mengerti perspektif kita? Setinggi apa mereka mengerti apa yang bakal kita tuntut dari bantuan mereka?

Pada dasarnya, manusia itu unik. Mereka hidup untuk bergotong royong, begitu kata Soekarno saat merintis Indonesia. Tapi manusia juga individu idealis yang pastinya memiliki harapan, cita dan doa yang berbeda. Manusia bisa saja saling membantu, tapi itu sebatas kulit. Isi hati manusia lebih dalam dari palung yang terdalam. Meski diteliti denga sonar mata batin atau proyeksi psikologis tercanggih sekalipun, nilai yang tertangkap hanya awang-awang.

Pada dasarnya, dia hanya ingin mengungkapkan, benci dengan keluh kesah berserak. Dirinya sendiri, dan lainnya. Mereka semua hanyalah manusia normal. Ah tolong, itu kicau-kicau sudah berputar jadi beliung. Bisa ditambahkan api? Biar bergelora.

Kosong

"Maka sebuah ucap tanpa aksi pun lebih parah daripada sekedar kentut."

Yang disampaikan oleh apa-apa dalam dunia permainan, dunia perfilman, dunia fiksi - meskipun mengandung pernyataan kenyataan, tetap saja sifatnya fiktif. Kita dihibur sebuah gumam. Igauan, obrolan, rileksasi mata atau apalah itu, semuanya hanya pengejewantahan ide kreatif orang. Jika kita hanya terus mengonsumsi tanpa memproduksi, atau sekedar balas gumam tanpa menghadirkan kristalisasi ide kreatif lain sebagai pembanding, lantas apa nilai diri, kalau bukan kosong? Kosong bukanlah nol, yang masih bisa disubstraksi, eliminasi ataupun apalah, mediasi plus - minus. Kosong ya kosong. Cawan yang kosong selalu bisa diisi bukan? Tapi tanpa 'isi', bahkan untuk anjing sekedar melongok ke dalam tong sampah yang kosong pun ia enggan.

Ini tentang ideologi. Sebuah 'rasa', kata teman.

Pernah ada keyakinan diri yang menekankan, hiburan-hiburan itu adalah bentuk pelarian. Kita ingin hidup sebagai model. Fitrah manusia ingin dikenal, para psikolog modern itu yang bilang. Tapi tidak banyak yang sadar, 'menempuh usaha' yang sekedar dilempar ke takdir, itu pelampiasan. Frustrasi, lebih tepat. Atau malas? Karena banyak rasa malas yang mendatangkan kegagalan. Dan bagaimana kita bisa gagal sebelum memulai, jika memang gagal adalah nilai? Rupanya kosong bersifat lebih destruktif daripada sekedar gagal, karena sebelum kegagalan pun masih ada usaha.

Kembali lagi ke kosong. Manusia-manusia kosong yang berbicara kosong. Dipuji susah, dihina pun untuk apa. Kita harus akui nilai manusia-manusia kosong, ya cuma kosong! Dan kosong bukanlah nol, rujuk  analogi di atas. Hanya sedikit yang menyadari bahwa diri barulah kosong. Tanpa nilai, tanpa ide, tanpa aksi, sekedar bual. Cawan hampa yang sedikit kecipratan cat lukis, eh dikira pelangi.

Bahkan jika tulisan ini dianggap bernilai, hemat pribadi, tidak. Konon tulisan yang apik musti berlapiskan data. Di sini tidak ada, isinya curhatan. Nilainya dan si penulis juga masih kosong. Duduk seorang bhuta dengan kaki mengangkang, lalu terlelap dengan keringat menetes dikira hujan. Asam, padahal.

Dot

Seandainya benar yang dikatakan Hobbes, manusia pada dasarnya binatang buas, maka bisa dipastikan keadaan sekeliling saya bakal hancur berantakan. Lantak oleh kepalan tangan yang sedari tadi mengeras. Tapi bah, apa gunanya akal sehat jika emosi selalu dikedepankan? Apa guna ilmu yang selama ini dipelajari, jika pada saat dibutuhkan olah pikir masih terberai?

Melawan kenyataan dengan tenggelam dalam imaji. Musim panas selalu menggoda. Membenci apabila prediksi atas keburukan sesuatu atau seseorang benar-benar terjadi, terlepas menimpa diri atau yang lain. Mual mendengar kata manis bau sampah -najis- yang bertebaran di mana-mana. Mau muntah melihat topeng berserak. Bukan sekali dua kali, dari dulu hingga kini mereka sudah tampak. Mereka dari kata 'siapa' yang bisa saja menjadi. Luka-luka dunia. Borok manusia yang lupa diobati. Tuhan, beri aku kesabaran.

Kopi Gantung


“Si Claudio kenapa senyum-senyum gitu?” tunjuk Sandro ke pojok gang. Kawan-kawannya yang lain langsung menoleh. Benar saja, Claudio yang pendiam, yang senangnya menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri dan jarang bertukar tawa dengan kawanan lainnya, kini malah berlari ke arah mereka. Wajahnya sumringah benar. Gerombolan pengemis itu langsung saling berbisik, ada apa dengan Claudio?

Masih tersengal, Claudio berusaha mengatur nafas. Kawanan pengemis lain masih melongo heran menatap sosok ceking yang berdiri di hadapan mereka. Claudio tersenyum lagi, lebih lebar, seperti menyeringai. Terbata-bata, setengah berteriak dia berkata:
“A-Aku bisa menghipnotis orang!”

Kaget dan bingung. Spontan lima orang berbaju compang-camping yang duduk di atas tumpukan kardus bekas pizza pada sebuah ujung gang paling kotor dan paling tidak terawat di Napoli, celingukan, saling melihat satu sama lain. Mereka tidak berbicara, tapi dalam hati, berpikiran sama. Jadi ini alasan si Claudio sering menyendiri? Dia berlatih… hipnotis?! Tapi Claudio, pengemis ceking yang tadi akunya bisa menghipnotis orang, berlagak bak pesulap yang pernah ia tonton di televisi dulu, mengisyaratkan lima calon penonton di depannya untuk segera berdiri. Semula lima sekawan itu enggan, tetapi Claudio sangat memaksa. “Akan aku buktikan!” begitu ucapnya. Sebagai sobat yang agak sering ngobrol dengan Claudio, Sandro pun mendorong kawanan lainnya untuk mulai berjalan.

Claudio sibuk memacu langkah. Di mukanya, benar-benar terpancar rasa percaya diri dan aura kharismatik. Dalam benaknya, dia sudah menjadi orang yang berbeda. Claudio bukan lagi seorang pengemis yang sehari-harinya mengais sampah, menengadahkan tangan, air liur menetes setiap melihat lelaki berjas rapi dengan mobil-mobil mewah mereka, atau wanita-wanita malam yang berlagak centil tetapi selalu membuang muka setiap lewat di depannya.

Tidak! Sekarang, dia adalah manusia superior. Calon bintang yang bakal melegenda di Itali, lebih dari Carlos, pesepakbola handal dari tim Calcio yang terkenal itu!
~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~


Kepada kerlip bintang tertahan
untuk sang Bulan
Ada barisan melodi mengikat kata berkalut
Penyanjung hati, penghujung sembilu
Sebuah orkestra

Kepak para merpati membuka pagi
denting dibuka oleh petikan kecapi
Dimaksud beruk membidik kesuma
Juwita itukah? Parasnya tirta
Amboi, dari hulu simfoni bersahut
Lentik klasik pianis berbisik

Tirai ditutup malam
Merona merah sang Bulan
Genit senyumnya seindah sulam
Elok bersahaja 'tuk pelita kelam

Padamu kurajut untaian amarta
di atas pesona dahan cemara
terbalut embun berkilau surya
Kita berlari mengejar bebayang

Harga Diri

-renungan untuk para sahabat jurnalis di mana saja-

Berapa harga yang harus kita bayar saat membeli buletin Informatika Orsat ICMI Kairo? Cukup murah, hanya 1.5 LE. Sehari-harinya kita sanggup mengisi perut dengan menu ala Mesir dengan menghabiskan hanya 10-12 LE untuk 3 kali makan. Tasdiq Azhar dapat kita pegang setelah membayar 35 LE kepada khazinah. Hampir setiap jenis barang di dunia ini mempunyai harga pasti di pasaran. Meskipun terkadang terdapat selisih angka maupun nominal dalam harga setiap barang, para pedagang sangat kompetitif dalam menarik pelanggan. Intinya, agar barang mereka terjual habis dan meraup banyak keuntungan.

Tetapi sayang, banyak yang mematok harga untuk dirinya sendiri terlewat murah. Anggap aja si D. Dia mengobral kata kemana-mana, hingga terpuruk karena menipu diri, tapi demi ketenaran dan buah bibir, rela mengorbankan jati diri. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, pasti dia akan menjawab bahwa hobi atau kegemaran yang ia miliki, sama dengan lawan bicaranya. Dia akan membenci sesuatu atau seseorang yang lawan bicaranya benci. Tapi hanya pada saat itu saja. Pada saat dia berada bersama lawan bicaranya. Dia akan berkata sebaliknya jika sudah meninggalkan orang itu. Perkataannya juga akan berbeda kepada setiap orang yang ia temui. Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya akan mengecap dia sebagai orang baik, karena selalu bersikap ramah. Bisa jadi mereka sayang, karena kesamaan hal dalam hobi, kegemaran dan sifat.

Tapi orang yang sudah mengenal si D teramat dekat jelas mengetahui bahwa dia bermuka dua dan tidak mempunyai prinsip.

Alangkah sayang jikalau sebuah prinsip yang sebelumnya terjunjung tinggi, melenceng 180 derajat atau bahkan berlawanan arah setelah menerima iming-iming jabatan, harta atau demi seseorang yang ia sukai. Jabatan, apa sih yang bisa mengatur posisi disamping takdir dan realita? Kita tidak akan pernah tahu kapan seseorang akan tergantikan dari posisinya dan kapan seseorang dipromosikan naik tingkat. Siapa tahu kali ini anda adalah seorang CEO, esok hari sudah menggelandang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemudian ada harta. Apakah anda sanggup mengatakan harta tersebut akan abadi? Tidak mungkin. Pada masanya nanti, anda akan merasakan jika kas semakin kosong dan dompet semakin tipis. Lantas anda harus mencari lagi. Mengemis lagi. Sedangkan yang terakhir, cinta. Percuma jika anda menyama-nyamakan hobi yang anda miliki dengan sang pujaan hati. Menyukai film, lagu, hobi ataupun gaya hidup yang ia gemari meskipun dalam hati berteriak pahit. Tidak henti-hentinya menipu diri. Tidak akan kekal cinta semacam ini.

Seyogyanya, sebuah prinsip  merupakan cermin nurani dan pasti mengarah dalam kebaikan. Tapi jika sekali saja tergoyahkan, prinsip tersebut akan kehilangan niatnya yang ‘murni’ dan menjadikan harga diri sang pemilik prinsip menurun drastis. Tapi tidak dengan jurnalistik. Dalam dapur redaksi kami, setiap diri tertempa masalah baru yang hampir merubah kesepakatan bersama, pasti terpental dengan usaha bersama. Kami tidak ingin prinsip jurnalistik yang kami pegang teguh, terobral murah dengan diskon besar-besaran. Harga diri seorang jurnalis sangat tinggi, hanya dapat disetarakan dengan veritas. Ujung kata, “Jibun no kachi wa jibun de kimeru mono sae.” Anda sendiri-lah yang menentukan berapa kualitas harga diri pribadi.


oleh: Umar Vrathdar

A. Pendahuluan
Melihat kebijakan presiden menyangkut pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani HR berkenaan penyataan bersalah karena menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat, dinilai banyak menimbulkan isu kontroversial. Beberapa pihak menganggap bahwa tindakan ini mengurangi etos kerja Komisi Pemberantasan Korupsi dalam penanggulangan korupsi yang merebak di kawasan Nusantara kita ini. Sedangkan beberapa pihak lain, mendukung keputusan yang diambil oleh presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyayangkan sikap mereka yang mengecam kebijakan presiden dan melihat bahwa pemberian grasi ini tidak lepas dari undang-undang dan masih dalam koridor hukum.

Sepintas jika melihat RUU Grasi, maka kita dapat menyimpulkan bahwasanya pemberian grasi ini tidak lepas dari hukum. Tapi terlepas dari hukum, sempat terslentingkan isu bahwa dalam hal ini, ada isu politik yang melatarbelakangi itu semua. Apalagi menyangkut pemberian remisi kepada Aulia Pohan, mantan besan SBY dulu, Bunbunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin. Apa kaitan grasi dan remisi ini serta bagaimana kaitannya dengan keabsahan tindakan pemerintah dengan undang-undang?

Di makalah ini, penulis akan sedikit menjabarkan mengenai definisi grasi, kronologi pemberian grasi kepada Syaukani serta kelayakannya, beberapa tanggapan dan kritik pada pemerintah atas pemberian Grasi kepada Syaukani dan beberapa koruptor yang diberi grasi tetapi tidak tertangkap hangat media serta kesimpulan apakah grasi maupun remisi tersebut sebenarnya masuk koridor hokum atau tidak.

B. Definisi Grasi dan Remisi
Grasi, dalam Wikipedia mempunyai artian sebagaimana berikut: salah satu dari empat hak Presiden Indonesia di bidang yudikatif. Grasi adalah Hak untuk memberikan pengurangan hukuman, pengampunan, atau bahkan pembebasan hukuman sama sekali. Sebagai contoh, yaitu mereka yang pernah mendapat hukuman mati dikurangi menjadi hukuman penjara seumur hidup. Sedangkan grasi dalam KBBI adalah ampunan yg diberikan oleh kepala negara kepada orang yang telah dijatuhi hukuman. Remisi sendiri dalam Wikipedia adalah pengurangan masa hukuman yang didasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dan definisi lain dalam KBBI, yaitu pengurangan hukuman yang diberikan kepada orang yang terhukum.

Disini penulis mengambil kesimpulan, bahwasanya grasi dan remisi adalah hak presiden dalam meringankan hukuman seorang terpidana, baik keputusan tersebut berlandaskana alasan kuat maupun tidak. Apalagi tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2002 Bab 1 Pasal 1. Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Dalam pengaturan pasal-pasal selanjutnya, tidak tertuliskan disana untuk menyertakan alasan dari pemerintah mengenai pemberian grasi atau remisi. Inilah yang menyebabkan kerancuan dalam undang-undang dan menimbulkan banyak spekulasi dari berbagai pihak.

Pantaskah Syaukani Diberi Grasi?
Mari kita ambil contoh Syaukani. Koruptor yang satu ini sudah Pada 18 Desember 2006, ia ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembebasan lahan Bandara Loa Kulu yang diduga merugikan negara sebesar Rp 15,36 milyar, namun segera setelah itu Syaukani langsung menjalani perawatan rumah sakit selama sekitar 3 bulan dan tidak kembali ditahan setelah selesai menjalani perawatan. Pada 16 Maret 2007, Syaukani akhirnya dijemput paksa dari Wisma Bupati Kutai Kertanegara di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan di KPK.  Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada 14 Desember 2007, memvonis Syaukani dengan hukuman penjara dua tahun enam bulan karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi selama 2001 hingga 2005 dan merugikan negara Rp113 miliar. Tindak pidana korupsi yang dilakukan Syaukani adalah menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat. Sampai hari ini, Syaukani tercatat sebagai pasien dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dan kemarin, melalui surat Grasi No. 7/G Tahun 2010 tertanggal 15 Agustus 2010 yang ditandatangani Presiden SBY, hukuman mantan Ketua DPD Partai Golkar Kaltim tersebut, dikurangi dari tadinya enam tahun menjadi tiga tahun penjara.

Masalah sebeanrnya bukan disini, tapi Syaukani sebelumnya telah menjalankan hukuman bui dalam kurun waktu tiga tahun dari sisa hukuman 6 tahun, maka setelah SBY menurunkan keputusan grasi tersebut, otomatis dia dinyatakan warga bebas. Pada 18 Agustus lalu, surat pembebasan diantar staf Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang kepada Syaukani yang sedang dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. Dari sinilah masyarakat menuai protes.

Menurut Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM kondisi kesehatan Syaukani yang memprihatinkan membuatnya pantas mendapat grasi dari Presiden. Faktanya, berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1995 dan PP tahun 1996, semua mengatur remisi pada siapapun dan harus ada klarifikasi. Saat ini ada empat koruptor yang dapat remisi di antaranya Aulia Pohan dan Syaukani. Semuanya sudah bebas bersyarat dan sudah ada waktunya. Sedangkan Syaukani harus membayar Rp45 miliar dan suratnya sudah ada di KPK. Penulis mengutip perkataan Patrialis, “Kalau tidak membayar, kita tidak mau. Itu cash n carry dan dia harus dapat jaminan dari keluarga,” Artinya, walau Syaukani sudah terlepas dari hukuman bui, dia tetap diwajibkan oleh Negara untuk mengganti kas keuangan yang telah ia raup, meski hanya 1/3 dari total 113 M. Bukan berarti dia bebas lalu tidak membayar, tidak begitu.

Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin A Tumpa mengakui jika institusinya memberikan pertimbangan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan grasi terhadap mantan terpidana kasus korupsi  Syaukani.  Menurut keterangan dokter Cipto Mangunkusumo, Syaukani akan alami cacat permanen dan stroke berat. Jika diteruskan dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo justru akan merugikan keuangan negara. Mengapa? Karena kas negara yang semula lebih. "Itu pertimbangan MA, dan kami nggak bicara pertimbangan hukum, tapi pertimbangan sosiologis kemasyarakatan dan keadilan," jelas Harifin. Harifin menjelaskan, awalnya kuasa hukum Syaukani mengusulkan grasi pada 2009. Saat pengajuan grasi, kuasa hukum Syaukani menyertakan surat keterangan dokter tentang kondisi Syaukani yang sudah tidak dapat bergerak. Kemudian, Ketua MA menyerahkan data tersebut pada salah satu hakim agung untuk menelaah usulan grasi tersebut. Akhirnya, MA memutuskan merekomendasikan pada Presiden untuk memberi grasi pada Syaukani.

Tidak semua referensi penulis langsung tulis di atas, langsung saja penulis ambil poin-poin penting yang perlu digarisbawahi:
~{x-Klik judul untuk artikel lebih lengkap.-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software