.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Wadah Besar

Produk kultur Jepang, baik yang tradisional maupun modern, selalu saja membuat saya takjub. Meski tidak sedikit yang nyleneh, banyak juga yang menginspirasi bahkan memotivasi. Dalam pelbagai permainan virtual yang mereka sajikan misalkan, Jepang cenderung lebih menonjolkan unsur strategi dan taktik di atas aksi, berbeda dengan nemesis mereka di North America yang didominasi umbar grafik dan aksi. Meski hal ini tidak bisa dijadikan patokan. Di sisi lain, bisa dibilang hampir keseluruhan produk permainan virtual Jepang selalu menonjolkan unsur psikologis yang kental sebagai tema. Beberapa di antaranya mungkin pernah saya tuliskan dalam bentuk review, tapi Valkyria Chronicles? Belum.

Game ini bergenre turn-based strategy. Mengangkat tema perang bersetting di Eropa dengan seluruh nama negara dan karakter yang terlibat sengaja disamarkan. Tentu, beberapa elemen sengaja diparodikan, sehingga saya menduga Revolusi Inggris (atau Revolusi Industri) sebagai latar belakang karena penonjolan penggunaan mesin di atas ternak hewan dan upaya penghapusan perbudakan misalkan, atau kemajuan penguasaan manusia atas beragamnya ilmu alam (biotani, biologi, insektologi, dll) meski ditampakkan dengan sangat eksentrik sebagai sifat karakter utama yang sering absent-minded jika sudah berbicara mengenai serangga, dan juga peleburan dua negara (mengacu ke sejarah, Revolusi Industri ditandai atas meleburnya Inggris dan Skotlandia) dan masih banyak lagi.

Urut dari paling kiri: Welkins, Alicia, Largo, Isara dan Rosie

Saya tidak ingin mengkritisi latar sejarah yang diangkat (meski turut menikmati), tetapi lebih ke perwatakan masing-masing tokoh yang sangat unik. Welkins yang nyentrik tapi berjiwa heroik, Alicia sebagai gadis berpotensi tinggi yang menyimpan rahasia, Rosie yang cantik dan keras kepala, Isara dengan rambut hitamnya sebagai imouto dan mekanik super jenius, Largo dengan tubuh besar dan didongkrak dengan hati yang besar, serta masih banyak lagi. Terlalu banyak adegan mengesankan untuk diceritakan, tapi di antara itu semua, salah satu yang paling berkesan ketika pada Feast Day, parodi dari Valentine’s Day, Isara memberikan dua boneka rajutan sendiri kepada Largo dan Rosie. Largo yang memang mengagumi Isara, tentu saja menerimanya dengan senang hati. Tapi Rosie? Dengan ketus dia menolaknya mentah-mentah. Isara yang memang tulus memberi karena ingin menjalin persahabatan dengan mereka berdua, tentu saja kecewa dengan ulah Brigitte Sparks. Largo, yang sejak awal mengenal dekat Rosie, menegurnya:

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Yume no Fuun

Bukan sesekali atau bagaimana, mimpi itu juga kerap muncul bahkan sebelum insiden itu terjadi. Mimpi, sekali lagi, bisa berasal dari manifestasi alam bawah sadar, pertanda ghoibiyyat ataupun kehendak yang tersupresi. Dan bukan dalam kuasa saya untuk menafsirkan mimpi-mimpi, tapi memberinya solusi. Tapi bagaimana bisa memberi penawar kepada diri sedang menggapainya pungguk merindu matahari?

Ini aneh.


Ada untaian nada yang lupa terdendang pada sebuah pagi kala pada cermin sang pria berbagi
Ditatapnya pijaran lilin, dalam pendarnya sebuah senyum
Dari sebuah surya yang disekat pada sebuah tangkai berlapis harap
dan toreh kertas putih bertabur sakura di atas meja berserak
Termenung, dia bersolilokui:

"Lagi, dan ini terakhir kali. Seberapa dalam diperlukan untuk melubangi harga diri dan dengan hati-hati menyembunyikan hati dari sebuah tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam?
Pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan yang manis tutur katanya jelmaan Emily kepada Gilbert?
Dan parasnya, dari matanya tirta amarta penjarakan Sinta di kalbu Rahwana?"

Ada jeda setitik, terpisah kekeh kecil dan guratan otot jantung dari ratusan desah panjang
Wajah di balik cermin adalah badut dalam keramaian paling sepi

"Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif
Ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan."

Bagi sang pria dan semburat fajar yang masih ia selimuti
Lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Biar nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati

Di Perjalanan



*kepada seorang sastrawan

Ada kawanan tanya dan seru yang selalu bertolak
dari terminal awan menuju pemberhentian fajar
Meski beliung sesaat menutup jarak
tapi bara di kepala tak hentinya menggarang

Selalu dalam perempatan, dalam tekuk silang,
dalam lengkung yang menyisakan bentuk menjadi abjad
Ramai manusia bermuka karang satu-persatu masuk
penuh desak
Masinis tidak pernah tahu, dan tidak pernah ingin tahu
Demi nama anggur dan rembulan yang berabad sudah usang,
Siapalah menetap, siapalah turun cepat

Dalam perjalanan, sebelum pemberhentian fajar
Wagon di belakang masih penuh dengan muatan
dari gerusan pahit kopi menjelma nikmat, bentak lapar
dari tumpukan dua-enam, di balik punggung delapan dan sembilan
dari panas hirup simbol beralih dupa penuhi dinding,
bermantrakan:
"Vice, DiosGugar, Cleo!"
Kiri dan kanan, talu genderang dan lantunan gitar menggantikan oksigen para penumpang
Di gerbong paling belakang, kawanan tanya dan seru akan bergeming
Tidak beranjak, kursinya karatan

Di akhir perjalanan, setelah pemberhentian fajar
Ketemu pertigaan, para sekawan memilih berlainan
Sesampai ujung, mereka berbalik:
"Kelak kau ke mana?"
"Kelak aku bagaimana?"
"Kelak aku ke sana!"
Tersungging senyum di raga karena mereka mampu menangkap makna
Tanpa pernah menangkap suara, kawanan itu kembali berjalan

25/3

Gadis Penari

*copas dari entah di mana

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, di kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari.

Si gadis muda bertanya “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah Anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat Anda tentang tarian saya.”

“Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit,” jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu.

Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Tampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar tampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.

Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan Anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga Anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari,” jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar.

“Ini tidak adil,” seru si ibu muda. “Sikap Anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa Anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”

Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak …. Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus nonton Anda 10 menit untuk membuktikan tarian Anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan Anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap Anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi Anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu Anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya. Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas Anda meminta pujian dari orang lain.”

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya Anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini Anda sudah menjadi penari kelas dunia. Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak akan pernah bisa hilang selama-lamanya…”

(Dikutip dari tulisan Anonim, entah siapa. Tulisan ini sekaligus memotivasi diri agar keberhasilan sesaat pada usia muda tidak baik dipuji terlalu banyak karena justru melemahkan. Sebaliknya, porsi kritik dan puji berimbang, kemudian penegasan diri untuk selalu produktif dan berkembang. Itulah motivasi terbaik selain otosugesti.)

Complexes

Dualisme alam sadar dan alam bawah sadar. Masalah psike (jiwa) dan perdebatan mengenai letak, sudah terlalu lama berlarut dan sebenarnya jawabannya juga cukup jelas. Jika menggunakan wacana keagamaan, analisa yang didapat pun beragam. Untungnya, semakin banyak porsi argumen yang menghiasi perkataan seorang alim (dan hiasan dalam hal ini, bukanlah sekedar permainan kata, tetapi paduan sel kelabu yang gemilang dengan keringat darah dalam mencari referensi serta balutan teknik bejibun yang benar-benar terkuasai matang) maka akan semakin besar pula kepercayaan yang diraih dari pembaca untuk mengikutinya.

Yang paling menarik, pengaruh alam bawah sadar dalam laku keseharian manusia tidak bisa dirumuskan dengan lugas. Semisal, dalam mimpi. Letak titik tolak yang menyatakan apakah itu manifestasi pengalaman dan memori-memori yang terpendam, ataukah keinginan menggebu-gebu yang menjelma bunga tidur, tidak semuanya serta merta menjadi makna. Freud dan Jung tidak mempermasalahkan kausalitas mimpi dengan pengaruhnya pada alam sadar, tidak, tetapi abstraksi dan kompleksitas sebuah mimpi yang menjadi kunci dalam psikoanalisa. Di sini, mimpi memegang peran penting dalam menentukan tabiat dan laku seseorang serta mengapa dan bagaimana mereka bersikap dalam hidup.

Yin dan Yang, Ahriman dan Ohrmazd, Dualisme Psike

Sebelumnya, mungkin perlu dijelaskan sedikit perbedaan dalam praktik psikoanalisa antara Freud dan Jung. Freud akan mencoba menerangkan mimpi tersebut dengan menyambungkan hasrat jiwa yang terpendam dengan naluri dasar hewaniah bernama libido. Dia juga berkesimpulan bahwa pusat alam bawah sadar seseorang mampu terjelaskan secara total dalam mimpi-mimpinya. Jung tidak. Dia menjelaskan bahwa mimpi adalah produk gabungan antara alam sadar dan alam bawah sadar. Ada memori-memori yang tersupresi, complexes, yang bisa jadi terlupakan baik disengaja maupun tidak. Proses melupakan hal-hal yang tidak penting atau hal-hal yang tidak mengenakkan hati, bisa dilakukan baik dalam keadaan sadar maupun sebaliknya. Lagi-lagi, perbedaan antara ‘guru dan murid’ memang kentara. Complexes seperti yang telah dibahas di atas, menurut Jung, bisa terjadi baik dalam secara sadar maupun bawah sadar, sedangkan Freud mengkerucutkan penciptannya terbatas pada alam bawah sadar saja.

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Manusia Label

Sumringahnya dilabeli. Menjadi manusia label itu enak, semakin membuat kita mengerti sesempit apa informasi yang mereka ketahui tentang kita, dan seluas apa jarak jangkau label tersebut menembus hati orang-orang di sekitar. Apalagi dapat label yang pahit. Ironisnya, setidaknya tidak ada istilah 'muna' yang terlontar jika kita berlaku buruk, karena berarti tingkah laku keluar sesuai label didapat.

Andai manusia bisa jujur dan bijak bersikap, seyogyanya label tidak akan ada sejak awal. Tidak usah juga mengubah label dalam tingkah laku diumbar terpaksa. Seandainya setiap hati bisa mengerti, perkataan blak-blakan di depan, apa adanya, dengan tulus, tanpa hasrat menyakiti, hanya menjunjung etis kebaikan, jauh lebih baik daripada gumaman kata buruk menusuk dari belakang atau malah dipendam.

Ah, tapi apalah saya seorang penggumam yang seringkali menikmati tabiat dan perilaku manusia dan hanya disimpan sendiri. Butuh cahaya yang lebih kuat agar bayang semakin perkasa. Butuh menikmati banyak label lagi untuk ke depan dan keteguhan untuk menerimanya dengan senyum dan kebijaksanaan. Apalah daya, yang menulis ini hanyalah manusia tanah liat. Pendosa!

Sudah cukup. Mari hidup di dunia label.

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software