Ingin lidah bersumpah serapah, tapi apa daya?
Kutarik waktu, aku ingin melesat cepat
Dan dengan kejut, teriakku
di penghujung hening
demi nama mereka yang membisu
dengan perlahan dan khidmat,
pantun bergoyang kilat sesaat
-jancuk-
.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasssssih banyak kepada saudara Muhib, karena andalah oase ditengah gersangnya padang pasir, hujan ketika paceklik, buah tiin saat musim dingin dan syakhonah (pemanas air, red) ketika gas kompor sudah habis. Ya, pokoknya begitulah, metafora kebaikannya gak akan habis kalo disebutkan satu-satu.
Bayangkan saja, saudara-saudari semuanya, disaat saya (mengeluh) kelaparan, dia mengajak saya makan dengan lauk yang lumayan “Wow!”. Setelah itu, kami mampir ke tempat pembelian aneka juz, dan sekali lagi, dia membayar jus saya! Terakhir, ketika saatnya berpisah jalan, padahal saya sudah menolak-nolak dari awal (“Aduh hib, syukron banget! Tapi bener, masih ada duit kok. Kalo masih recehan mah masih ada, ada yang lebih gede ngga?”) tetap aja. Sambil berjabat tangan hangat, dengan liciknya dia berhasil menyelipkan beberapa puluh pon di tangan saya, lantas berbalik cepat dan berjalan tergesa sampai hamper ditabrak mobil, tanpa menoleh sedikitpun ke saya. Wah, saya yang punya automatic-response terhadap segala hal yang menyegarkan ‘kantong’, ngerti banget kalo gak boleh ngelepas salah seorang sahabat seperti ini dengan keadaan tanpa hirau seperti itu (Bayangkan saja, hampir saja dia tertabrak gara-gara tidak menoleh sama sekali. Sekali lagi dia nyebrang, gak bisa bayangin kalo tertabrak beneran!).
“Hib! Thanx ya!”
Kukuh. Seperti baja, tetap menatap lurus. Nah kan, sekarang nabrak orang.
“Hib! Thanx ya! KAPAN—KAPAN AKU GANTI!”
Ah, akhirnya dia menoleh. Sambil melambaikan tangannya, dia tersenyum. Oh, alangkah baiknya dia Ya Rabb. Semoga bisa bertemu lagi ntar, amin.
Gak banyak yang bisa diceritakan hari ini, kecuali satu hal yang terkadang membuat saya merenung. Dari pagi, entah kenapa, mungkin gara-gara begadang semalam suntuk dan paginya banyak suara-suara halus yang memekakkan telinga, ada satu hal rutin yang tidak bisa dilakukan. Sama sekali. Sesuatu yang membuat keadaan tubuh serba gelisah, pikiran tak terarah, ragu yang serba bergeliat kesana-kemari, juga rasa depresi yang naik-turun tak dapat dimengerti. Sesuatu indah yang berasal dari kematangan diri dan mental yang tertata apik, disambung dengan makanan 3mpat sehat lima sempurna. Sesuatu yang terasa enggan saat dilepas pertama kalinya, tetapi hati bagaikan tumbuh mawar jika sudah terbuang. Sesuatu yang sangat dinanti-nanti, diharap-harapkan oleh orang lain kepada kita, terutama saat mereka mulai mencium gelagat yang tak enak dan bau parfum yang berlebihan.
Itulah engkau, wahai Boker. Mengapa dikau tak kunjung datang pagi ini?
Berapa harga yang harus kita bayar saat membeli majalah National Geographic? Cukup murah, hanya berkisar 5 pon. Dengan 1 pon ditaksir sama dengan 1.500 rupiah. Sehari-harinya kita sanggup mengisi perut dengan menu ala Mesir dengan menghabiskan hanya 10-12 pon untuk 3 kali makan. Tasdiq Azhar dapat kita pegang setelah membayar 35 pon kepada khazinah. Hampir setiap jenis barang di dunia ini mempunyai harga pasti di pasaran. Meskipun terkadang terdapat selisih angka maupun nominal dalam harga setiap barang, para pedagang sangat kompetitif dalam menarik pelanggan. Intinya, agar barang mereka terjual habis dan meraup banyak keuntungan.