.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Bye, Godot!



One word...."WUOOOOOOO!!!"

Yeah, amazing, stunning, addictive, itu yang aku rasakan saat memainkan game ini di NDS. Kalo pembaca tidak terlalu ngeh sama games dengan genre visual novel dan lebih cenderung milih yang action, hardcore, adventure atau fighting...langsung gebrak meja dan tinggalkan game ini sekarang juga! Tapi bagi para pembaca yang demen main RPG dan bukan melihat gameplay-nya doang, tapi juga melihat unsur cerita dari game secara keseluruhan, I HIGHLY RECOMMEND THIS GAME 4 U, buds, haha :D.


Well, klip diatas adalah kasus klimaks dari kasus-kasus lain di dalam game Phoenix Wright: Trial and Tribulation. Disini, anda menjadi seorang pengacara bernama Phoenix Wright dengan asistennya, Maya, yang harus berjuang membela klien anda dari tuduhan-tuduhan tak berdasar. Pada awalnya anda, sebagai Phoenix Wright, juga pasti meragukan apakah klien anda benar-benar bersalah atau tidak, hanya lucunya (dan hal yang paling tidak logis di game yang seharusnya logis ini), disini banyak disisipkan unsur-unsur mistik khas Buddha. Kesurupan lah, jimat lah, manggil roh mati kek, pokoknya seperti itu lah. Hanya saja hal-hal seperti ini bagi saya tidak terlalu mengganggu sih, karena ada salah satu alat bernama Magatama yang nantinya dapat digunakan sebagai lie-detector. Lucunya, karena memang aslinya alat yang gak jelas juga, saat seeorang berbohong, maka akan muncul visualisasi rantai yang mengelilingi orang tersebut, ditambah dengan locker yang terlihat sangat kokoh dan tidak bisa dibuka. Seperti ini nih:
~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

And it soars, high, to cut thru by its wings, the gloomiest sky

Now, the mourns are there, the griefs, tears - in a core
which are burdened deep in the human's heart
Nevertheless, it suddenly appears from nowhere, dear,
just like the times before
then swiftly it squints its eyes, "Too bright",
and stands there holding on the branch - tight

Black-weary clothes, gathered in the crowd
The tears spilled in the silent and the preachy words
tried holding the shady-souls sheltered
But nevertheless, it was already there, glancing from afar,
to imbue the very moment to its feathers
While it howled to them, my dear, it howled to them
to remind there's still a life left behind
to chase after

It is, you caught it on the dead trees,
shaped like a hand from graves
It is, you saw it when you're in grief, trying to dismiss
the world apart from its black-and-white
There it is! When you lose a hope, hate a love,
suffer a wound, bleed a soul!

It screams, while emphasizing:
"I'll be here, my wings and tail, just to let you know!
You want a joys? I'll give you more
Pursuing a life? I'll keep then no sore
I'll always be here, give you spaces, bless
you mercies, over and over
Need no sympathy? Fine, but, I'll float here still,
to teach you some... lore!"

"So, what is it?", you wonder. Please call
more-likely, a raven
a very unique bird indeed, one which flies
with the darkness of night
Always keeps up to the moon,
to be gladly surrounded by the dark, just to
dance under the shadow of moonlight

"But why?", you wonder
It is neither the creature of satire,
nor the pariah
Neither wants to be a martyr,
nor the Mesiah
The raven just enjoys to be flowed
in dark, condemning a light, saying
"Because when you are too blinded
by the Light,
and could see no more your path,
something is possessing and becoming you!
The Lord of Melancholy himself - The Dark"

(Srry kl pk bhs Inggris n byk tmn2 yg mngkin males bacany, cm sdikit iseng2 doang kok, haha :D)

Ruang Sidang

Ketika kejujuran acapkali dicabik-cabik dengan feodalitas peraturan formal, kata-kata pun samar membentang hingga ke seluruh ruang tapi akan terbanting ke lantai, jatuh dengan mengatasnamakan hukum. Padahal apalah hukum di sebuah ruangan sempit seperti ruang sidang? Nama keadilan hanya mengetuk pintu hati yang sudah terbuka, tapi jika pintu-pintu itu sengaja menutup dari semula? Ketika palu itu diketuk, ada yang tersenyum lebar, ada yang berpucat pasi, ada wajah-wajah tirus mengeras tanpa kompromi, beberapa orang yang hadir turut mengucapkan syukur, tetapi beberapa yang lain saling bersumpah serapah. Sayangnya, hampir kekesalan mereka hanya terpantul pada dinding tanpa bisa membalas apa. Cuma asa yang semakin meredup, tinggal dahi yang tambah mengerut. Dan lagu Gie pun berdendang:

"Tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki keaaaaaaa....diiii.....laaaan...." :D

Dan kini, bayangkan jika anda dihadapkan dengan sebuah ruang sidang raksasa beratapkan langit biru, menjejakkan kaki di atas permadani dari tanah dengan dihadiri peserta sidang dari seluruh manusia di muka bumi. Dan disana, ada seorang tua berjanggut putih nan lebatnya, dengan plat nama berinisialkan "J" tersekat di dada, duduk dengan raut muka bosan menatap anda yang kini sedang menjadi seorang pengacara profesional, bersama seorang klien yang duduk di sebelah anda bernama Ryo Felsu - anda bisa melihat bahwa dia sedang dalam gugup yang amat sangat. Seorang jaksa dengan kliennya duduk berseberangan dengan kalian berdua. Tetapi ada satu kesamaan, mata kalian semua tajam mengarah saling berhadapan. Sedangkan si Orang Tua? Dia tidak usah banyak mengobral kata, tetapi moral 'keadilan' terletak di palu yang kini ia genggam. Bagaimana sidang berakhir, apakah "Guilty!" atau "Not Guilty" yang akan menjadi kata terakhir yang ia ucapkan, tugas andalah untuk mengarahkannya. Baginya proses sidang harus sesuai tuntutan mekanisme dan kata-katanya terlalu berharga untuk dihamburkan-hamburkan. Tetapi satu nasehat saya untuk anda, kebalikan dari Orang Tua, kata-kata anda adalah senjata. Gunakan seefisien dan semaksimal mungkin. Sidang dimulai.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Mawar Untukku

Lalu lepas, lenyap, apa yang terenggut
berkepak bebas
Dua mata berhulu tajam menusuk
pilu, menatap garang
Dulu rindu yang pernah dicampak, kini
sudah melesak
Api biru yang tak berhinggap, apa
memang pernah terkesiap?
Senja sama saja dengan ufuk sekarang
Tak beda lontar kata terucap...
atau hitam tertulis....haha,
semua samar!
Sama saja bercampur disana
dengan kabut, terus buram hingga lenyap
Dan jangan bilang kalau
cantik mawar tak pelak -
lagi, indah kelopak, tapi duri
menusuk dari balik tak tampak


(If you even assume that this poem is written along with how my feeling goes on, then you're one step wrong :D. Once more, I dedicate this poem 4 my pal who's in depth and please...just stand back!!)

Utopia


Disana, terduduk, disentak
mati oleh angkara
Bangunkan aku singgasana dari buih di lautan!
Kamu tiupkan padaku sunyi,
akan kupasung dengan gaduh di hati

Dulu iya, elok keloknya, aku terpana
Sampai seribu asa kubangun
pun tak sanggup menyaingi menara selaksa
Berlanjut dari utopia, mekar menjadi dusta
Tapi masih dengan ilusikah aku
Tertawa...? Ternganga...?

Kelak seribu luka ini kujinjing paksa
Lenyap dengan duka, tapi yang terlantun...
simfoni syahdu berlagu merdu
-Hakikat diri seorang manusia-

(puisi ancur yang terilhami saat sadar kalo sekarang aku masih sering meliku dari orientasi seharusnya dan kaget kalo ternyata........ satu hari 24 jam itu gak cukup!!!)

Persona (1): TOPENG


Waktu itu sudah jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri. Dia berjalan dengan muka merengut, sambil wajah ditekuk-tekuk, kedua tangannya berkibas kasar dan kakinya berderap tegas, ketus dan mantap – tapi sambil mulut bersungut-sungut. Selang beberapa menit kemudian, saya bertemu dengan dia di tempat perkumpulan, sambil bertanya:
            "Eh, barusan dari mana? Tumben telat, biasanya datang paling awal," tanya saya ramah.
            "Oh, gak, tadi ada perlu aja," jawab teman saya sambil sedikit tertawa.
            Loh? Padahal tadi saya lihat sendiri kalau dia tersasar di jalan, ngedumel gak jelas sambil lihat kiri-kanan. Langsung saja saya buka kartu.
            "Masa? Tadi pas aku naik tremco ngelihat kamu tuh. Lagi jalan kemana gitu," kataku polos. Temanku malah tergelak.
            "Hehe, iya sih, tadi agak kesasar sedikit. Lagian tempat kumpulnya juga gak jelas sih,". Nah, terbuka sudah topengnya. Sewaktu di jalan tadi, jelas emosi jengkel dan rasa tak sabar yang terlihat, refleksi dari emosi yang alami. Baru ketika akan memasuki tempat perkumpulan, dengan aduhai dia berganti muka dengan topeng cerianya kembali.
            Memang dunia ini penuh topeng. Baik itu manusia di dalamnya, atau malah dunia itu sendiri menutupi kebusukan tetapi tertutupi dengan topeng arif dan kebijakannya. Entah. Karena saya sendiri masih bingung berjuang memecahkan teka-teki malam dan teka-teki keadilan (dikutip dari lagu 'Gie') yang penuh rupa ini.


~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Ohayoo. Sekarang masih pagi. Kaget habis bangun, ternyata masih terbayang dengan jelas mimpi semalam. Padahal biasanya kalo aku mimpi, pasti selayang pintas. Kayak kentut gitu lah, bau sebentar terus ilang (hehe :-p). Tapi yang ini lain. Sangat clear di memori. Seperti slow-motionnya The Matrix, bahkan sampe nulis ni post masih aj kebayang. Well, biasanya kalo Rav mimpi gini tu berarti premonition. Atau cuma 'bunga tidur'? Entahlah.
Ok, jadi begini ceritanya...

Ada sebuah rumah, entah bagaimana bentuknya...tidak terbayang jelas. Yang jelas, ada seseorang di rumah tersebut yang masih mempunyai relasi keluarga. Dia mengundangku untuk berkunjung. Kemudian entah kenapa, ada perasaan seakan mendengar sebuah command untuk memasuki sebuah kamar. Kamar tersebut berada di balik tembok sebelah kiri sekitar 2-3 meter setelah memasuki pintu masuk. Jangan tanya, "Terus kalo di sebelah kanan ad pa-an?". Gak tahu juga.

Setelah memasuki tu kamar,  baru sadar  kalo aku sedang menggunakan jaket hitam tebal, lengkap dengan tudung kepala yang menutupi wajah. Nah, entah "someone's-that-related-with-my-fam" (selanjutnya saya panggil Vad aj biar gampang) tu ngomong apa, yang jelas dia berbicara dengan seseorang di kamar tersebut yang sedang duduk di atas kasurnya, seorang cewek. Mungkin si Vad memperkenalkan saya dengan cewek tersebut, karena lantas dia sangat antusias dan ngelihatin saya seperti orang mo beli baju-baju di supermarket, dari atas sampe bawah tubuh gue gak lepas dari matanya. Tapi nyantai aj sih. Langsung aja aku duduk di sampingnya sambil buka jaket. Woi, ternyata dingin ya? Berarti itu alasanku barusan pake jaket. Hitam juga konduktor panas, jadi pasti lebih hangat. Tapi cerita ini baru dimulai dari sini.
~{x-Penasaran? Tolong jangan dibaca lagi deh, please....-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software