.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Dirimu Semahal Kartu

Berapa harga yang harus kita bayar saat membeli majalah National Geographic? Cukup murah, hanya berkisar 5 pon. Dengan 1 pon ditaksir sama dengan 1.500 rupiah. Sehari-harinya kita sanggup mengisi perut dengan menu ala Mesir dengan menghabiskan hanya 10-12 pon untuk 3 kali makan. Tasdiq Azhar dapat kita pegang setelah membayar 35 pon kepada khazinah. Hampir setiap jenis barang di dunia ini mempunyai harga pasti di pasaran. Meskipun terkadang terdapat selisih angka maupun nominal dalam harga setiap barang, para pedagang sangat kompetitif dalam menarik pelanggan. Intinya, agar barang mereka terjual habis dan meraup banyak keuntungan.


Tetapi sayang, banyak yang mematok harga untuk dirinya sendiri terlewat murah. Anggap aja si D. Dia mengobral kata kemana-mana, hingga terpuruk karena menipu diri, tapi demi ketenaran dan buah bibir, rela mengorbankan jati diri. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, pasti dia akan menjawab bahwa hobi atau kegemaran yang ia miliki, sama dengan lawan bicaranya. Dia akan membenci sesuatu atau seseorang yang lawan bicaranya benci. Tapi hanya pada saat itu saja. Pada saat dia berada bersama lawan bicaranya. Dia akan berkata sebaliknya jika sudah meninggalkan orang itu. Perkataannya juga akan berbeda kepada setiap orang yang ia temui. Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya akan mengecap dia sebagai orang baik, karena selalu bersikap ramah. Bisa jadi mereka sayang, karena kesamaan hal dalam hobi, kegemaran dan sifat.

Tapi orang yang sudah mengenal si D teramat dekat jelas mengetahui bahwa dia bermuka dua dan tidak mempunyai prinsip.

Alangkah sayang jikalau sebuah prinsip yang sebelumnya terjunjung tinggi, melenceng 180 derajat atau bahkan berlawanan arah setelah menerima iming-iming jabatan, harta atau demi seseorang yang ia sukai. Jabatan, apa sih yang bisa mengatur posisi disamping takdir dan realita? Kita tidak akan pernah tahu kapan seseorang akan tergantikan dari posisinya dan kapan seseorang dipromosikan naik tingkat. Siapa tahu kali ini anda adalah seorang CEO, esok hari sudah menggelandang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemudian ada harta. Apakah anda sanggup mengatakan harta tersebut akan abadi? Tidak mungkin. Pada masanya nanti, anda akan merasakan jika kas semakin kosong dan dompet semakin tipis. Lantas anda harus mencari lagi. Mengemis lagi. Sedangkan yang terakhir, cinta. Percuma jika anda menyama-nyamakan hobi yang anda miliki dengan sang pujaan hati. Menyukai film, lagu, hobi ataupun gaya hidup yang ia gemari meskipun dalam hati berteriak pahit. Tidak henti-hentinya menipu diri. Tidak akan kekal cinta semacam ini.

Seyogyanya, sebuah prinsip  merupakan cermin nurani dan pasti mengarah dalam kebaikan. Tapi jika sekali saja tergoyahkan, prinsip tersebut akan kehilangan niatnya yang ‘murni’ dan menjadikan harga diri sang pemilik prinsip menurun drastis. Tapi tidak dengan jurnalistik. Saya tidak ingin prinsip jurnalistik yang pernah dipegang teguh, terobral murah dengan diskon besar-besaran. Harga diri seorang jurnalis sangat tinggi, hanya dapat disetarakan dengan veritas. Dalam sebuah pepatah arab, “Qul al-haqq wa lau kaana murron.” Berkatalah sejujurnya, meskipun itu pahit. Saat jurnalistik menghilangkan prinsip keadilan yang berbasis fakta dan kebenaran, dari situlah harga diri seorang jurnalis hilang. Menjadi gratis.

Bolehlah dikata saya seorang idealis. Dan idealis tidak jauh dari utopis, realisasi sulit. Tapi meskipun kemungkinan yang tersisa hanya sekitar 1 persen, apakah kemudian kita membuang harapan?

 Ujung kata, harga diri bukan berarti bersikap tinggi hati, sombong, aristokratis dan hemat bicara. Harga diri seseorang diukur dari kemampuan diri bersosialisasi, menempatkan diri secara semestinya dengan presisi hati-hati, tidak berlebih, tidak juga terlalu menutup. Ummatan wasatha, menciptakan diri menjadi seorang sosialis idealis yang moderat.  “Jibun no kachi wa jibun de kimeru mono sae.” Anda-lah, dan bukan orang lain, yang menentukan berapa kualitas harga diri pribadi.

Drama Persona*



Gumam terlatuk, sepi merasuk
dipasung raba bisikkan riak kalut
Hadir disaat angkara berbisik, ricuh
anggap sepoi pahit berpilin -
semburat ilusi saling menyahut

Ada tawa, terbahak, buang suka!
Hilang gelonggong ribut duka,
apa masih cita?
Saat itu logika menyahut...
tidak ada rasa bercermin
Cuma hening berteriak!
Gema bising

Wajah-wajah datar di dinding
hendakkah kau melukis bingar?
Benarkah sejati senyum terpagut,
tanpa imbuh ragu tertahan?
Mana tangis tertumpah lega,
bukan bibir terkulum paksa?
Akankah pipi merona senja,
tertambat sampai di hati Sang Puja?

Arahkan bayonet, bidik ke tirai
Kacaukan...
ini drama persona!




*Persona: Kata persona disini merujuk kepada term psikologi, hasil ideologi filosofis Carl Jeung dan Zhuang Zi

Limbah Kata


Jika kata menjadi nilai seseorang, apakah anda tidak curiga jika dalam proses pengerjaannya sempat terdpat kecurangan? Jika kata menjadi sebuah identitas, apakah anda tidak tahu bahwa dalam pembuatan KTP ada istilah 'jalan pintas'? Terkadang kebenaran tidak seperti apa yang mata dan telinga tangkap.

Semua orang sebenarnya masih tertohok pada satu objek. Anda yang kini sedang dalam dilema, saya bisa menebak bahwa salah satu unsurnya pasti karena 'dia'. Atau anda yang sedang di atas angin, apakah karena motivasi dan sugesti dari-'nya'? Bahkan beberapa ada yang tenggelam disana, atau juga yang sembari mencari secercah sinar dalam kekusutan enigmatis, malah alpa sampai lupa dirinya siapa. Atau apa tujuan hidupnya. Atau untuk apa muncul di dunia. Atau bagaimana dia terwujud dan  mengapa bentuknya mengikuti pola asimetris, tapi kembar juga bisa.

Izinkan saya mengutip perkataan Jacques Derrida dalam salah satu kritikannya terhadap Madness and Civilization karya Michel Foucalt, maka saya dengan lantang berkata kepada Anda, "Saya tetap memiliki kesadaran seorang murid yang penuh kekaguman dan rasa terima kasih. Namun, karena "kesadaran" itu adalah kesadaran yang kritis untuk terlibat dialog dengan sang guru, maka ia adalah kesadaran tak bahagia." Ketika pertama kali Derrida menghadiri seminar Foucalt, dia sangat terkagum oleh intepretasi Foucault atas pemikiran Descartes. Tetapi sekedar kagum bukan berarti sepaham. Terbukti dengan munculnya Cogito and the History of Madness sebagai kontra atas pemikiran Foucalt yang mengecap dirinya sebagai pengembang modernitasnya Kant. Derrida dengan paham dekonstruksinya dan Foucalt atas sumbangsihnya terhadap Post-modernisme.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Pagi Kembali

Kala pagi tersamar kabut

Sebentar lagi,
Terik itu tersibak tanpa pesona galau
dan ketika pelik kutitip surya,
sepi seperti beralur dalam gelombang pukau
Tanpa kata-kata, mata-mata terkesima
rasanya kemilau mengelupas senja
bolehkah pekat menggumpal suka tanpa selaksa?

Ketika elegi berbisik kata pesona indah...

Jika kuning seperti angin, dan biru — butiran debu
maka aku berdiri dalam memoar segumpal pasir
Tapi bukan fantasi melankolia,
atau lembut sepoi dahlia di udara
Rasanya tetes hujan cahya di bawah dekap pelangi
dan karang menantang beribu percik ombak menerjang
Melambai terhanyut harmoni,
dekap semu sedu sedan!

Pernah aku menitip salam,
berjalan gontai dalam malam
membalas kerlip bulan yang manja tertahan,
lalu pagi kembali...

Midnight of a Clown


Clutching into the mysteries
The frown’s dropped into the dark knees
“It’s not that Faust in fault!”

Screaming to the wind, like the roaring guillotine
The blood rushed into no face, my Lord,
like he has no wrath to fold
“It won’t fall! Fear not, think you’re all…God?”


And why would the smile just be on his?
Look at him closely, it doesn’t even fit
The silent gaze upon the fading moonlight
The preaching crowd, no, a wounding bond,
brought into eye of no justice
waiting in the end of line, the lost of right!

Listen not, my Lord, those blabbering mouth
but seems like thou ears are full of frauds

His laugh bears no joys, waits unknown
He’s the most whom suits to wear a crown!
“Why the long face then, o, friend of mine?
Just do what u’re told to, then it’ll all be fine!”

Thee hold no grudge, but,
Why the smiling?
The blade just rushed then to cut nothing…but sin
A purgatory feeling, such a bitter livin’ to grin

Surat Untukmu, Ibu

Kepada Beliau yang sudah lama kami tak bersua, bagaimana kabar Ibu disana? Masih hijaukah alam yang menghiasi mahkotamu itu? Bagaimana kabar mereka yang tegak melindungimu, kepada langit selalu menantang? Haha, iya, gunung-gunung itu.

Saya masih ingat saat bersama Mahameru, saya berjanji untuk mengalahkannya, berusaha menyentuh ujung kepalanya dengan tangan saya dan setelah menahan pegal di kaki selama tiga hari dua malam, kami tertawa bersama. Puas, janji tersebut telah terbayar. Lantas bagaimana dengan angin? Masihkah dia mengembara kemana-kemana, tak peduli mana Timur dan Barat, dan selalu saja tidak menghiraukan perintahmu untuk sebentar saja menetap? Biarkan saja dia Bu, memang tabiat dia sedikit mirip serigala liar. Terkadang saya juga seperti itu, malah sering alpa jika dibuai bintang...untung kaki masih menjejak bumi, haha.

Sedari dulu lama rasa ini sudah saya pendam. Fragmen-fragmen rasa jengkel, serba salah, tak mampu berbuat... hanya berteriak, kecewa, sedih, ingin menyendiri. Tertahan, kemudian berubah menjadi ledakan ingin menjejak keras! Tangan mengepal erat! Mata menyala jalang! Ingin berubah dan merubah, tapi bagaimana? Dan juga sedari dulu pertanyaan ini selalu saya biarkan saja tergantung di pucat senja, biar merah saga dan awan mencaci semaunya.

Ini bukan masalah hidup. Waktu selalu menunggu dalam bayang untuk melucuti satu-persatu rahasianya.

Dan bukan hendak ego yang menentang rasa ini untuk kembali ke kampung halaman. Tapi enigma saat aku berkaca dan melihat sesosok pemuda tanpa wajah-lah yang membuatku ketakutan. Aku iri, Ibu. Aku malu. Aku hanya ingin menjadi, bukan di-'jadi'-kan atau sekedar 'terjadi'. Aku sederhana, Ibu. Aku ingin berubah. Dan kelak, semenjak pertama kali nanti aku telah berubah, pertama kali yang akan aku lakukan adalah...mengganti baju usangmu, membuang mahkota lamamu dan menggantinya dengan yang baru, lalu aku akan mencarikan suami baru untukmu.

Karena aku bosan melihat suamimu tak berkutik saat dikamar kau terpojok fakta sembari menangis miris! Melihat anak-anakmu yang semakin tua semakin hilang moralnya, lenyap tergelapkan dunia! Engkau juga telah melihatnya, Ibu, ke dalam dua mata yang hanya dan selalu mencari nama, tersirat disetiap gerik suamimu yang bermalamnya entah dimana! Sudah, hentikan tangismu, Ibu! Aku ingin engkau berbahagia! Tidak semua anak-anakmu merajut hampa...

Tangismu akan mereda, Ibu. Mata beningmu tak akan kering lagi. Kami berjanji akan membuatmu riang kembali, Ibu Pertiwiku! Tapi tunggu beberapa tahun lagi.

When the stream of clear river flows rapidly, even the naked eyes could see what lies on the ground beneath the river itself because of its cleanliness. There are stones, sometimes a little fishes swim across, a sands and more importantly, imagine we stand near there in the bright morning. The sun shines down its light to the flowing water and what appears then a natural reflection of spectrums glow beautifully above a little inch of the river. Like the rainbow indeed, the reflection is colorful and stunningly attractive.


Forgive the adolescence of writer that puts much metaphoric words in the paragraph above. Briefly, there are two points there. First, a constant current stream that flows in transparency, clear without any dirt or garbage, which pictured in the image of clear and clean river. The second point is a reflection of a glowing light which described more-alike, some pretty little rainbow. It’s colourful, means the rainbow is not the appearance of one single colour only, but contains many colours which all emerged in one. Now if we step ahead, the two points here are representative sample of how the good government is organized in even better policy.

First, transparency. Transparent here doesn’t mean a weakness of argument like what stated in dictionary, but moreover is the transparent of the government to put everything as the results of works, the circulation of money, plans and steps what will be taken or not, whatever and whenever the citizen is all concerned within. Take a sample of our president of Indonesia itself, SBY, whom has granted some clemency regarding a matter of one famous guilty corrupter, Syaukani HR. It’s not a personal matter anymore, because the identity and reputation of Indonesia is engraved on it. Even all the progression is right and well-placed in the corridor of laws, most of citizens couldn’t stand is also not the reason of humanism as what stated by SBY, but the freedom of those guilty persons Aulia Pohan, Maman S Soemantri, Bunbunan Hutapea, Aslim Tadjuddin (whom all these three are involved in corruption case of Indonesian Bank), Artalyts Suryani, Al Amin Nasution and many more. There are 11 names listed by the hand of senior journalist whom I deliberately don’t mention here, but total more than 22 names of corruptor got the remission they wished from the hand of president in August 17 ago, claimed Indonesia Corruption Watch (ICW) in news. What matters here is the list of corruptor’s names which not revealed to the public, but lies concealed in the hand of president himself, or moreover by Patrialis Akbar, the Ministry of Laws and Human Rights, as what comes in the report of investigation by some journalists. The conclusion is, then the government doesn’t act in transparency, because the president doesn’t reveal what is right, the reason behind releasing them all free from the prisoners to become the free men. We also may speculate that president has played a dirty hand here, also he has a brach, because he doesn’t obey the laws of “UU nomor 22 Tahun 2002” subject 3 section 3, which force us to believe, has President some profound political reason behind it?

Second comes the multiple colour as the image of Indonesian cultures. The different cultures mean a different languages, a different characters, a different attitudes and a different ideologies among the many districts. Here comes the test of how skillful the president could embrace all elements without benefiting a single-group only and risking another. Have a little peek into our motto as example. Indonesia has “Bhinneka Tunggal Ika” which means we must hold not any grudge into whom has a different character from us. Perhaps Sumatera civilians have a strong-character, as they are easily blood-boiled. Compare them to Javanese people which some are slow, nice, but some are also easily angered. Or whatsoever in Kalimantan, Papua, Sulawesi, Madura and many more, the communication and interaction are done differently toward the people regarding where from they were born or stayed long in some district. The writer said that he has learnt so much about living together with another people from different countries. Especially here, in Egypt, where you faced Nigerian people, Russian, Turks, Afghanistan, Aljazair’s people and many other that we must learn the character of each individual. And this, is the hardest responsibility which must be held by the president himself. Say he is Sumatera, then he must learn how to interact with Javanese, or vice versa. The fact is, until recently, there are some districts where they consider the president’s clemency still didn’t reach them. Whether it is accidentally done but the president has some effort to do it before, or just deliberately he forgot or just disparage them. Maybe we could say, a poverty. August 17, in the independence day of our nation, the report clearly stated that the index of poverty has been decreased from 34.7% into 32.4%. Nah, we could see that is indeed, a falsification. How come the index of poverty has been decreased as there are people longing and starving for foods, down in the streets, below the river, or back there in the small huts? They’re carving for daily meals, while they‘re slowly dying. Perhaps, but this is just a speculation, a report concludes what happened in parvenues, competenet authorities, or military officers, politicians and some people only but not among all civilians. Who easily believes that report just stated the true is indeed blinded and couldn't read the facts. Otherwise, he/she’ll do his/her best to erase poverty in this nation.

These two points above are just a little bit of critique which taken from many inadequacy of how difficult becoming the president himself. As he must clearly understand what the meaning behind all those points is, he also must become the water, not a flame one. Water, which described by the writer above as the river, could fill the place where it is put, but indeed, it may change its shape but not its substance. It is flowing, low and flexible, to occupy the box or thing it is placed, cup or be a glass, pot or bottle, thin or flat, but it still stays the same, as water, nothing more. And hope may the president of PPMI could also become the water. He could flow with the idealism of what Masisir longing for and make them come true. Then in the end, the flow will shine down to Masisir and PPMI themselves as the hard effort they've ever done.

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software