.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Kupu Maya

Di mata kupu..

Belai angin di pagi, lincah tari, rindang ilalang
Semi berguguran, dingin di kabut, silam menghilang
Gerik lembut butala padi-padi tatapnya nyalang
Meriah satu kesatuan
Dipadu satu garis lintang, melodi Anon dipadu kelintang

Seekor kupu-kupu tersesat di langit biru
Kepak sayapnya terikat dawai-dawai racun
Tapi lihat! Indah gemulainya berpadu
Hidupnya terikat benang-benang lembut
Yang kasat, yang ribut, yang melawak

Si kupu bilang, cantik jiwanya tergantung
sekarang terpasung



Dini hari, 11/11/11

Lentera Taman

Lilin padam membakar hujan
Dimana gemuruh kelabu meraung
dan satu-persatu bintang menghilang
Ragaku tersesat menuju Bulan

Hilangnya gemintang dimakan Bara
selalu bergelut, merajuk, takut
Lambat laun sinarnya menyusut
Disitu kau menuntut,
"Itu salah cermin pecah!"

Fajar membuncahkan sunyi di taman
dalam onggok daun berguguran, mawar biru bermunculan
Sang Penjaga Taman menyekat kaca sepasang-sepasang

Dimana Warna bukan Suara

Mungkin bukan kata, bukan juga rindang didamba
Pelita menggelap, gemintang dimana?
Hanya angin dan gemerisik air terpercik
lalu kau panjat satu untai prahara,
candamu hapus kawula duka

Merpati hinggap di pucuk langit membisik
silap di Surya, sayapnya jingga
sini biru terus merintih, jua
putih pualam bermandikan gerhana

Sia

Akar pohon dalamnya seribu
dipetik sumbat, menyisa bisu

Sial! Disana riak menggumpal
gelombang terhentak
Pasang ombak matanya berlinang

Ah, kuncup embun ujungnya pahit di Sahara


Sebuah negara hanya dapat tersusun dari tiga unsur utama: rakyat, wilayah dan kekuasaan. Masalah wilayah jelas krusial. Meskipun Selandia hanya memiliki luas sebesar 550 m2, dunia tetap mengakuinya sebagai negara. Begitu pula jika tidak terdapat faktor kekuasaan di dalamnya, tidak mungkin Jerman dan Inggris mengakui Selandia sebagai negara, meskipun baik secara de jure, belum ada keputusan valid hingga detik ini. Dengan unsur kekuasaan pula rakyat bisa terintimidasi untuk turut tunduk dalam peraturan negara tersebut. Berapa banyak kasus dimana rakyat dipaksa tunduk pada awalnya, hanya berujung dengan kepatuhan mutlak rakyat dengan perubahan progresif kepemerintahan menuju tata puncak stabilitas yang semakin membaik, atau sebaliknya.

Faktor kekuasaan itu sendiri tidak akan berhasil tanpa adanya hukum dan legitimasi. Prosedural penyaduran hukum yang pada awalnya dapat terbentuk oleh keputusan individual atau bersama, tetap tidak terabsahkan tanpa hadirnya legitimasi. Dan jelas pula, legalitas tidaklah sama dengan legitimasi. Kualitas hukum yang berbasis pada penerimaan keputusan publik atas sejauh mana keputusan, wewenang atau kebijakan pemerintah tersebut sesuai dengan apa yang masyarakat inginkan, itulah yang disebut legitimasi.



~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~


Jarum jam antik yang tak sudi lagi berbisik
keluh dalam ragu, senyum dalam takut

Hidup bukan lagi sebuah parodi waktu

Lagi, bintang di langit berkedip genit
Aku berbalik, Aku butuh tenang
Bukan dari tangan-tangan yang lagi terkepal,
bukan dari mulut-mulut begundal
memimpin massa dengan kekang kasat mata

Hidup tak lagi sebuah komedi putar

Kemudian demi petinggi nama tanpa martabat
yang terkoyak
Bagi penjunjung nama rela dicela
dan terdesak
Harga diri, sesak,
rusak, empati,
kemudian teriak!

Aku berbisik...
Aku butuh tenang

Hidup tidak lagi tuk berkaca pada cermin retak

Pudar

Bukan kaku buat sunyi mawar berduri
tapi tilas balik pasungkan hampa
Atau kilau wajah merona di sebelah mata tak tampak
dalam setiap riak, pasang ombak

Gemuruh itu lambainya nyiur kelapa
selekas kejap, angin dimana?
Pasir merintih, tapak tilam selami raga
disana parasmu, surya dimana?

Kabut kelabu di ujung cakrawala
bekasnya menjejak, setiap butir terhisap
Bulan tersenyum, gelombang menyanyi
tapi tetap jelitamu tak tampak














(kalo bikin puisi patah hati, jadinya kayak gini :D)

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software