.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Pagi Kembali

Kala pagi tersamar kabut

Sebentar lagi,
Terik itu tersibak tanpa pesona galau
dan ketika pelik kutitip surya,
sepi seperti beralur dalam gelombang pukau
Tanpa kata-kata, mata-mata terkesima
rasanya kemilau mengelupas senja
bolehkah pekat menggumpal suka tanpa selaksa?

Ketika elegi berbisik kata pesona indah...

Jika kuning seperti angin, dan biru — butiran debu
maka aku berdiri dalam memoar segumpal pasir
Tapi bukan fantasi melankolia,
atau lembut sepoi dahlia di udara
Rasanya tetes hujan cahya di bawah dekap pelangi
dan karang menantang beribu percik ombak menerjang
Melambai terhanyut harmoni,
dekap semu sedu sedan!

Pernah aku menitip salam,
berjalan gontai dalam malam
membalas kerlip bulan yang manja tertahan,
lalu pagi kembali...

Midnight of a Clown


Clutching into the mysteries
The frown’s dropped into the dark knees
“It’s not that Faust in fault!”

Screaming to the wind, like the roaring guillotine
The blood rushed into no face, my Lord,
like he has no wrath to fold
“It won’t fall! Fear not, think you’re all…God?”


And why would the smile just be on his?
Look at him closely, it doesn’t even fit
The silent gaze upon the fading moonlight
The preaching crowd, no, a wounding bond,
brought into eye of no justice
waiting in the end of line, the lost of right!

Listen not, my Lord, those blabbering mouth
but seems like thou ears are full of frauds

His laugh bears no joys, waits unknown
He’s the most whom suits to wear a crown!
“Why the long face then, o, friend of mine?
Just do what u’re told to, then it’ll all be fine!”

Thee hold no grudge, but,
Why the smiling?
The blade just rushed then to cut nothing…but sin
A purgatory feeling, such a bitter livin’ to grin

Surat Untukmu, Ibu

Kepada Beliau yang sudah lama kami tak bersua, bagaimana kabar Ibu disana? Masih hijaukah alam yang menghiasi mahkotamu itu? Bagaimana kabar mereka yang tegak melindungimu, kepada langit selalu menantang? Haha, iya, gunung-gunung itu.

Saya masih ingat saat bersama Mahameru, saya berjanji untuk mengalahkannya, berusaha menyentuh ujung kepalanya dengan tangan saya dan setelah menahan pegal di kaki selama tiga hari dua malam, kami tertawa bersama. Puas, janji tersebut telah terbayar. Lantas bagaimana dengan angin? Masihkah dia mengembara kemana-kemana, tak peduli mana Timur dan Barat, dan selalu saja tidak menghiraukan perintahmu untuk sebentar saja menetap? Biarkan saja dia Bu, memang tabiat dia sedikit mirip serigala liar. Terkadang saya juga seperti itu, malah sering alpa jika dibuai bintang...untung kaki masih menjejak bumi, haha.

Sedari dulu lama rasa ini sudah saya pendam. Fragmen-fragmen rasa jengkel, serba salah, tak mampu berbuat... hanya berteriak, kecewa, sedih, ingin menyendiri. Tertahan, kemudian berubah menjadi ledakan ingin menjejak keras! Tangan mengepal erat! Mata menyala jalang! Ingin berubah dan merubah, tapi bagaimana? Dan juga sedari dulu pertanyaan ini selalu saya biarkan saja tergantung di pucat senja, biar merah saga dan awan mencaci semaunya.

Ini bukan masalah hidup. Waktu selalu menunggu dalam bayang untuk melucuti satu-persatu rahasianya.

Dan bukan hendak ego yang menentang rasa ini untuk kembali ke kampung halaman. Tapi enigma saat aku berkaca dan melihat sesosok pemuda tanpa wajah-lah yang membuatku ketakutan. Aku iri, Ibu. Aku malu. Aku hanya ingin menjadi, bukan di-'jadi'-kan atau sekedar 'terjadi'. Aku sederhana, Ibu. Aku ingin berubah. Dan kelak, semenjak pertama kali nanti aku telah berubah, pertama kali yang akan aku lakukan adalah...mengganti baju usangmu, membuang mahkota lamamu dan menggantinya dengan yang baru, lalu aku akan mencarikan suami baru untukmu.

Karena aku bosan melihat suamimu tak berkutik saat dikamar kau terpojok fakta sembari menangis miris! Melihat anak-anakmu yang semakin tua semakin hilang moralnya, lenyap tergelapkan dunia! Engkau juga telah melihatnya, Ibu, ke dalam dua mata yang hanya dan selalu mencari nama, tersirat disetiap gerik suamimu yang bermalamnya entah dimana! Sudah, hentikan tangismu, Ibu! Aku ingin engkau berbahagia! Tidak semua anak-anakmu merajut hampa...

Tangismu akan mereda, Ibu. Mata beningmu tak akan kering lagi. Kami berjanji akan membuatmu riang kembali, Ibu Pertiwiku! Tapi tunggu beberapa tahun lagi.

When the stream of clear river flows rapidly, even the naked eyes could see what lies on the ground beneath the river itself because of its cleanliness. There are stones, sometimes a little fishes swim across, a sands and more importantly, imagine we stand near there in the bright morning. The sun shines down its light to the flowing water and what appears then a natural reflection of spectrums glow beautifully above a little inch of the river. Like the rainbow indeed, the reflection is colorful and stunningly attractive.


Forgive the adolescence of writer that puts much metaphoric words in the paragraph above. Briefly, there are two points there. First, a constant current stream that flows in transparency, clear without any dirt or garbage, which pictured in the image of clear and clean river. The second point is a reflection of a glowing light which described more-alike, some pretty little rainbow. It’s colourful, means the rainbow is not the appearance of one single colour only, but contains many colours which all emerged in one. Now if we step ahead, the two points here are representative sample of how the good government is organized in even better policy.

First, transparency. Transparent here doesn’t mean a weakness of argument like what stated in dictionary, but moreover is the transparent of the government to put everything as the results of works, the circulation of money, plans and steps what will be taken or not, whatever and whenever the citizen is all concerned within. Take a sample of our president of Indonesia itself, SBY, whom has granted some clemency regarding a matter of one famous guilty corrupter, Syaukani HR. It’s not a personal matter anymore, because the identity and reputation of Indonesia is engraved on it. Even all the progression is right and well-placed in the corridor of laws, most of citizens couldn’t stand is also not the reason of humanism as what stated by SBY, but the freedom of those guilty persons Aulia Pohan, Maman S Soemantri, Bunbunan Hutapea, Aslim Tadjuddin (whom all these three are involved in corruption case of Indonesian Bank), Artalyts Suryani, Al Amin Nasution and many more. There are 11 names listed by the hand of senior journalist whom I deliberately don’t mention here, but total more than 22 names of corruptor got the remission they wished from the hand of president in August 17 ago, claimed Indonesia Corruption Watch (ICW) in news. What matters here is the list of corruptor’s names which not revealed to the public, but lies concealed in the hand of president himself, or moreover by Patrialis Akbar, the Ministry of Laws and Human Rights, as what comes in the report of investigation by some journalists. The conclusion is, then the government doesn’t act in transparency, because the president doesn’t reveal what is right, the reason behind releasing them all free from the prisoners to become the free men. We also may speculate that president has played a dirty hand here, also he has a brach, because he doesn’t obey the laws of “UU nomor 22 Tahun 2002” subject 3 section 3, which force us to believe, has President some profound political reason behind it?

Second comes the multiple colour as the image of Indonesian cultures. The different cultures mean a different languages, a different characters, a different attitudes and a different ideologies among the many districts. Here comes the test of how skillful the president could embrace all elements without benefiting a single-group only and risking another. Have a little peek into our motto as example. Indonesia has “Bhinneka Tunggal Ika” which means we must hold not any grudge into whom has a different character from us. Perhaps Sumatera civilians have a strong-character, as they are easily blood-boiled. Compare them to Javanese people which some are slow, nice, but some are also easily angered. Or whatsoever in Kalimantan, Papua, Sulawesi, Madura and many more, the communication and interaction are done differently toward the people regarding where from they were born or stayed long in some district. The writer said that he has learnt so much about living together with another people from different countries. Especially here, in Egypt, where you faced Nigerian people, Russian, Turks, Afghanistan, Aljazair’s people and many other that we must learn the character of each individual. And this, is the hardest responsibility which must be held by the president himself. Say he is Sumatera, then he must learn how to interact with Javanese, or vice versa. The fact is, until recently, there are some districts where they consider the president’s clemency still didn’t reach them. Whether it is accidentally done but the president has some effort to do it before, or just deliberately he forgot or just disparage them. Maybe we could say, a poverty. August 17, in the independence day of our nation, the report clearly stated that the index of poverty has been decreased from 34.7% into 32.4%. Nah, we could see that is indeed, a falsification. How come the index of poverty has been decreased as there are people longing and starving for foods, down in the streets, below the river, or back there in the small huts? They’re carving for daily meals, while they‘re slowly dying. Perhaps, but this is just a speculation, a report concludes what happened in parvenues, competenet authorities, or military officers, politicians and some people only but not among all civilians. Who easily believes that report just stated the true is indeed blinded and couldn't read the facts. Otherwise, he/she’ll do his/her best to erase poverty in this nation.

These two points above are just a little bit of critique which taken from many inadequacy of how difficult becoming the president himself. As he must clearly understand what the meaning behind all those points is, he also must become the water, not a flame one. Water, which described by the writer above as the river, could fill the place where it is put, but indeed, it may change its shape but not its substance. It is flowing, low and flexible, to occupy the box or thing it is placed, cup or be a glass, pot or bottle, thin or flat, but it still stays the same, as water, nothing more. And hope may the president of PPMI could also become the water. He could flow with the idealism of what Masisir longing for and make them come true. Then in the end, the flow will shine down to Masisir and PPMI themselves as the hard effort they've ever done.

Maiko


Tonggak hati berlari, dalam irama kecapi
Puas mata menelanjangi,
dinding membisu pilu
Keluh dan luka tersamar topeng tebal
walau gemuruh canda terus menyayat

Kasar...

Lirih, dalam geraknya dia menangis
Laba-laba memasung diri
dalam rumah bujur sangkar

Baginya, semua rasa tertumpah
satu waktu
Tidak ada ironi pahit
Jika terus menari...
dan dia selalu menari

Angin dan Api

Menebar dingin, angin menggerutu,
"Seperti gelap, dalam simfoni aku dimanja lelap
tapi pasti bukan jebak asamu"

Percik api menggelora maju,
"Lalu cekat kau perangkap anganku dalam pekap
Apa seluruh rasa dan ucap lantas
dalam satu buana terhisap?"

Begitulah mungkin takdir tersingkap
Lantunan dua nada hentak bernadi gila
Yang satu bermasif jumawa, satu nista
dalam hening, pahit memilin semua
terbuka lembaran baru, terus berpuja

Kepada angin dan api berpadu...

Ada badai di ufuk!

Sesaat tersirat,
dekat mengeras,
disentak lepas terhempas!

Memeluk Hitam

Jika ditanya warna favorit saya, mungkin saya akan menjawab hitam sebagai salah satunya. Bukan karena melankolia sebagai penyakit kambuhan yang sering bersarang dalam personalia, tapi lebih cenderung bahwa hitam itu sendiri bersifat konduktor. Bukan juga konduktor sebagai penyerap dan penyalur kalor saja, tetapi rasa, empati dan juga ketegaran. Terkadang hitam terkaprahkan sebagai simbol kejahatan, keburukan, segala hal yang berbau negatif dan macam-macam hal lain yang menempel dalam hitam. Padahal, tidak seperti warna lain yang menunjukkan sifat ‘keterbukaan’, hitam hadir dengan segala rahasia tersimpan rapat dalam kelam.


Banyak yang mengartikan hitam sebagai warna yang lantas beralih menjadi simbol. Akan tetapi, hitam itu sendiri bukanlah warna. Hitam adalah absensi dari wujudnya warna. Jadi hitam, itu berarti ketiadaan warna. Hitam menyerap seluruh aspek yang terkandung dalam putih, atau juga biasa dimetaforakan sebagai cahaya dan hitam sebagai kegelapan. Hitam, adalah makhluk Tuhan paling alami yang menunjukkan sifat kerahasian-Nya.

Andaikan kita berpikir tentang hitam – atau gelap, maka lihatlah malam. Dimana gelap mengurung semua terang dan hanya ada cahaya bulan dan bintang bertemaram. Ingatlah pula kisah Lailatul Qadr, malam agung nan penuh karamah dimana Allah SWT menurunkan al-Qur’an sebagai mukjizat utama yang dimiliki nabi SAW. Lailatul-Qadr, malam yang diberi keutamaan agung langsung dari-Nya sebagai malam yang lebih agung daripada 1000 bulan mempunyai kisah seperti yang disebutkan Imam Suyuti dalam bukunya, “Lubaabun Nuqool”. Di dalam buku tersebut Rasulullah SAW pernah bercerita kepada  kepada para sahabat bahwa ada salah seorang Bani Israel yang telah berjalan di alur jihad demi membela nama Tuhannya, tidak mengenal letih dan lapar, dan masih terus berjuang hingga sampai 1000 bulan. Para sahabat sangat terkagum dengan kisah tersebut dan berandai untuk sekiranya bisa menyerupainya dan berupaya untuk mengikuti jejaknya. Dalam hal itu, maka Allah SWT pun berfirman, “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al- Qur’an) pada malam al-Qadr. 2.Dan tahukah engkau apakah kebesaran malam Lailatul-Qadar itu? Malam al qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Lailatul Qadr disini juga dikenal sebagai Lailatul Mubarakah, seperti tersebut dalam Tafsir Ibnu Katsir. Dan disini, apakah malam tersebut lahir dengan keadaan berbeda dimana kegelapan berubah terang? Tentu tidak. Lailatul Qadr tetap sebagai malam dengan kegelapan seperti malam-malam yang lain. Hanya saja dalam beberapa hadits seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan Al-Bani, hadits riwayat Muslim dan juga Ibnu Hibban yang kesemuanya bernada sama, yaitu Lailatul Qadr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin. Cerah disini juga bukan berarti kegelapan berubah sedikit putih menerawang tapi gelap dengan pesona tentram. 

Hadits-hadits di atas bahkan disangkal pula oleh Syeikh Yusuf al Qardhawi yang mengatakan bahwa iklim dan cuaca setiap negara itu berbeda-beda. Dan mungkin saja ada suatu kawasan yang baru melaksanakan sholat istisyqo’ – mohon hujan, atau cuaca di Kutub yang hampir selalu siang dan jarang muncul malam. Bagi para muslim yang berada disana, pasti akan mengalami kesulitan mendapatkan Malam Seribu Bulan jika berpatokan pada hadits tersebut. Pastinya, malam tersebut hadir mengisi jiwa-jiwa yang tenang pada 10 malam terakhir, baik malam ganjil, malam ke-27, ataupun malam-malam biasa (bukan ganjil) pada 10 malam terakhir. Hadits-hadits tersebut dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan banyak tanda yang mengindikasikan adanya kemungkinan Lailatul Qadr dalam kurun waktu tersebut di atas.

Walaupun hitam sering dikaitkan dengan duka, kesialan, kejahatan dan sebagainya, hitam tetap hadir dengan sosoknya yang misterius. Mengapa Dr. Jigor Kano, sebagai pendiri Judo, menentukan warna hitam sebagai warna sabuk tingkatan tertinggi yang nantinya diadopsi bela diri lain seperti Kempo dan Tae Kwon Do? Karena hitam merupakan kombinasi dari seluruh elemen warna alam. Dan darinya, warna-warna lain akan mencuat dan hidup sebagai pelangi yang artistik. Sabuk Hitam sendiri berfilosofikan sebagai permulaan dari pencapaian sejati atas pemahaman, kebijaksanaan, persatuan antara tubuh dengan jiwa, hati yang murni dan peleburan diri kepada alam semesta.

Yang jelas, Tuhan telah menciptakan warna hitam sebagai warna elegan yang melekat dengan malam. Dimana saat yang lain tertidur, kita beribadah dalam kesunyian khusuk yang menusuk. Dimana malaikat-malaikat banyak berturunan untuk melihat para hamba-Nya yang rajin tahajud. Hitam merupakan simbol netral, tidak berpihak kemanapun dan siap berdiri tegas dan professional dalam menjalankan sesuatu. Dalam banyak sejarah dekade menyatakan bahwa hitam menghasilkan ketakutan bagi yang menatap dan memberi pengaruh intimidatif, tetapi bagi yang belum mengetahui, hitam juga merupakan tanda kekosongan yang siap bersatu dengan apapun. Jadilah hitam untuk mengejar cahaya dan memperoleh rahmatNya, jangan lantas menjadi cahaya yang mempunyai bayangan lebih panjang tapi tidak kelihatan!

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software