.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Pemuda-pemudi Indonesia lambat laun dalam berbudaya telah berkiblat ke budaya asing dan meninggalkan tradisi lama. Bahkan bukan lagi rasa enggan yang timbul dari hati saat ingin mengenakan pakaian adat, terkadang dalam hati beberapa individu, ada juga rasa jijik. Pakaian adat dianggap kuno, murahan dan ketinggalan zaman. Batik hanya cocok bagi mereka yang berstatus manula atau dalam acara formal semata. Upacara bendera hanya menimbulkan letih, capai, penat dan kepanasan. Dan banyak lagi fenomena memprihatinkan lain yang timbul dari generasi muda dalam krisis moralitas, terutama identitas bangsa.

Tambahkan pula kasus maraknya kriminalitas dalam tindakan asusila, umbar aurat, anarkis dan rekonstruksi ideologi sosial. Disini saya mencontohkan dengan aktualita yang terjadi dalam kabinet kepemerintahan kita. Coba sedikit meneropong balik perisitiwa pemberian grasi Syaukani dan remisi kepada beberapa terpidana koruptor dari kasus Bank Indonesia serta beberapa kasus lain yang berlokasi di Kalimantan dan Sumatera. Grasi Syaukani masih bisa ditolerir secara manusiawi, walaupun sedikit melenceng dari koridor hukum, tepatnya pelanggaran presiden UU RI tentang Grasi tahun 2002 yang dalam pasalnya menyatakan bahwa permohonan grasi dapat dilakukan kembali apabila permohonan grasi sebelumnya ditolak oleh presiden dan baru setelah melewati jangka waktu dua tahun, grasi tersebut dapat diberikan atau diajukan kembali.


~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

AARGH..!!!

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGGH...........!!!

I guess I nver really understand. dammit

Sangatlah menarik bahwa dalam pembentukan karakter seseorang dapat ditentukan sedari kecil, seperti teori psiko-analisa milik Sigmund Freud berbunyi. Dari sekian teori yang berkembang, dipahamilah dalam teori modern bahwasanya kejiwaan seseorang sangat dipengaruhi dengan tekanan batin yang ia pendam. Apa yang diterima oleh seorang anak kecil, akan berimbas disaat ia dewasa.  Kepribadian ‘topeng’ akan berkembang seiring bertambahnya umur.

Dalam psiko-analisa modern, dikenal tiga faktor yang mempengaruhi keadaan psikis, yaitu: mekanisme pertahanan, harapan dan rasa bersalah. Jika seorang anak dibina dengan kasih, tanggung jawab dan empati, maka ia akan belajar bagaimana melindungi, sense of justice yang kuat serta kontemplasi dosa. Lain kebalikannya, saat ditekan oleh perasaan serba salah, korban kekerasan fisik rumah tangga, serba dituntut oleh perfeksionisme dan segala hal yang saling berkontradiksi dengan apa yang ada di benak sang anak, maka ia akan belajar untuk ‘menyembunyikan diri’. Saat di depan umum, dia belajar bagaimana mengekspresikan diri agar semua orang senang. Semua orang kagum. Dibalik itu, hatinya menangis. Di hadapan ortu, dia bersikap perfeksionis. Selepas dari pandangan keduanya, dia berubah liar. Berlaku sesuai kehendak hati, menentang omongan atau perintah mereka yang selalu menuntut dan supresif.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Dini Hari

Terlalu banyak salah paham
Ingin lidah bersumpah serapah, tapi apa daya?
Kutarik waktu, aku ingin melesat cepat
Dan dengan kejut, teriakku
di penghujung hening
demi nama mereka yang membisu
dengan perlahan dan khidmat,
pantun bergoyang kilat sesaat
-jancuk-

Roman Picisan

Jika membahas cinta pasti tidak ada habisnya. Cinta juga subjektif, berbeda perspektif sesuai karakter orang yang menyikapi. Yang jelas, saya sempat tersentak dengan sebuah kalimat dalam film Gundam 00: Trailblazer. Ada sebuah adegan dimana Feldt mengkhawatirkan Setsuna F. Seiei dan melihatnya dari kejauhan, lantas diberi nasehat oleh Sumeragi. Si tante bilang, “Feldt, jika kamu mengkhawatirkannya, maka janganlah pernah berhenti memikirkan dia.”


Nah, ini satu kalimat unik yang menurutku cukup banyak kontradiksi. Dalam kasus dimana rupanya Setsuna tidak mengalihkan rasanya berbalik kepada Feldt, lantas apakah harus Feldt terus menyiksa batinnya dengan memikirkan Setsuna berulang-ulang? Hal ini juga berlaku pada manusa pada umumnya. Coba aku tanyakan, semisal anda menaruh rasa kepada seseorang, tetapi anda sadar bahwa rasa tersebut bertepuk sebelah kaki, apakah anda terus kerap kali memikirkannya kembali? Meskipun pada prosesnya nanti, akan ada orang lain sebagai pengganti?

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Metamorfosa

Kagum pada mentari saat hangatnya silau mataku
Panas di ujung pelipis adalah kala bahgia Sang Hati
Rindu dikecup angin tuk menghantar Damai kembali ke kalbu
dan menyongsong dayang langit, pergi segan, balik tak mau

Rindu pada gunung yang hijaunya menantang awan
Gemilau megahnya tak sudi patuh pada kerlip bintang
Dipatok tegak, langkah kaki terasah menantang
dan disiram peluh mereka yang disebut, pejuang

Kemudian rindu pada biru, saat langit dan laut berseteru
tercarut-marut burung murai yang bersiul-siul pilu
dalam arak mata memandang hanya fatamorgana
berlanjut dalam hening cipta dan memuji Sang Kelana

Kelak, dalam sanubari yang bertitah lantang
beribu sajak tak ubah pias drama picisan
Sembari ragu tuk tergerak, tetap tertawa
Beringsut, mengkerut, merapal, bersahaja
Siluet, petang, merona, senja

Dalam akhir kamus hidupku yang tak mengenal usai
akhirnya terdengar sebuah kata -
metamorfosa

Sebuah idealisme kejurnalistikan berangkat dari keseragaman pola pikir. Keseragaman pola pikir tidak sembarang tercipta, tapi hasil seleksi bermacam ideologi, kematangan sikap, timbal-balik dari pengaruh eksternal  dan kesepakatan sosial untuk bersama mengerjakan sesuatu. Jadi, keseragaman pola pikir ini bukan semata hasil tekanan seorang individu semata, tetapi mufakat antara atasan dengan petugas lapangan.

Hanya saja idealisme kejurnalistikan yang sering ditemukan di berbagai media Indonesia, kadangkali berakar tunggang, berbasis tekanan (atau modal popularitas?), dan bukan kesepakatan. Padahal, seharusnya idealisme-lah yang nantinya, disokong dengan kewenangan atau konstitusional hukum sebagai payung, berdiri tegak dengan nama kebebasan pers. Mengutip dari Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, menjelaskan bahwasanya kebebasan yang dimaksud adalah hak yang diberikan oleh konstitusional atau perlindungan hukum yang berkaitan dengan dengan media dan bahan-bahan yang dipublikasikan seperti menyebar luaskan, pencetakan dan penerbitkan surat kabar, majalah, buku atau dalam material lainnya tanpa adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari pemerintah. Apakah dalam dinamika Masisir*, hal ini sudah terjadi?
~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software