.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Surat Untukmu, Ibu

Kepada Beliau yang sudah lama kami tak bersua, bagaimana kabar Ibu disana? Masih hijaukah alam yang menghiasi mahkotamu itu? Bagaimana kabar mereka yang tegak melindungimu, kepada langit selalu menantang? Haha, iya, gunung-gunung itu.

Saya masih ingat saat bersama Mahameru, saya berjanji untuk mengalahkannya, berusaha menyentuh ujung kepalanya dengan tangan saya dan setelah menahan pegal di kaki selama tiga hari dua malam, kami tertawa bersama. Puas, janji tersebut telah terbayar. Lantas bagaimana dengan angin? Masihkah dia mengembara kemana-kemana, tak peduli mana Timur dan Barat, dan selalu saja tidak menghiraukan perintahmu untuk sebentar saja menetap? Biarkan saja dia Bu, memang tabiat dia sedikit mirip serigala liar. Terkadang saya juga seperti itu, malah sering alpa jika dibuai bintang...untung kaki masih menjejak bumi, haha.

Sedari dulu lama rasa ini sudah saya pendam. Fragmen-fragmen rasa jengkel, serba salah, tak mampu berbuat... hanya berteriak, kecewa, sedih, ingin menyendiri. Tertahan, kemudian berubah menjadi ledakan ingin menjejak keras! Tangan mengepal erat! Mata menyala jalang! Ingin berubah dan merubah, tapi bagaimana? Dan juga sedari dulu pertanyaan ini selalu saya biarkan saja tergantung di pucat senja, biar merah saga dan awan mencaci semaunya.

Ini bukan masalah hidup. Waktu selalu menunggu dalam bayang untuk melucuti satu-persatu rahasianya.

Dan bukan hendak ego yang menentang rasa ini untuk kembali ke kampung halaman. Tapi enigma saat aku berkaca dan melihat sesosok pemuda tanpa wajah-lah yang membuatku ketakutan. Aku iri, Ibu. Aku malu. Aku hanya ingin menjadi, bukan di-'jadi'-kan atau sekedar 'terjadi'. Aku sederhana, Ibu. Aku ingin berubah. Dan kelak, semenjak pertama kali nanti aku telah berubah, pertama kali yang akan aku lakukan adalah...mengganti baju usangmu, membuang mahkota lamamu dan menggantinya dengan yang baru, lalu aku akan mencarikan suami baru untukmu.

Karena aku bosan melihat suamimu tak berkutik saat dikamar kau terpojok fakta sembari menangis miris! Melihat anak-anakmu yang semakin tua semakin hilang moralnya, lenyap tergelapkan dunia! Engkau juga telah melihatnya, Ibu, ke dalam dua mata yang hanya dan selalu mencari nama, tersirat disetiap gerik suamimu yang bermalamnya entah dimana! Sudah, hentikan tangismu, Ibu! Aku ingin engkau berbahagia! Tidak semua anak-anakmu merajut hampa...

Tangismu akan mereda, Ibu. Mata beningmu tak akan kering lagi. Kami berjanji akan membuatmu riang kembali, Ibu Pertiwiku! Tapi tunggu beberapa tahun lagi.

1 comments:

Anonymous said...

Post a Comment