.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Filsafat Kartun

Sangatlah menarik bahwa dalam pembentukan karakter seseorang dapat ditentukan sedari kecil, seperti teori psiko-analisa milik Sigmund Freud berbunyi. Dari sekian teori yang berkembang, dipahamilah dalam teori modern bahwasanya kejiwaan seseorang sangat dipengaruhi dengan tekanan batin yang ia pendam. Apa yang diterima oleh seorang anak kecil, akan berimbas disaat ia dewasa.  Kepribadian ‘topeng’ akan berkembang seiring bertambahnya umur.

Dalam psiko-analisa modern, dikenal tiga faktor yang mempengaruhi keadaan psikis, yaitu: mekanisme pertahanan, harapan dan rasa bersalah. Jika seorang anak dibina dengan kasih, tanggung jawab dan empati, maka ia akan belajar bagaimana melindungi, sense of justice yang kuat serta kontemplasi dosa. Lain kebalikannya, saat ditekan oleh perasaan serba salah, korban kekerasan fisik rumah tangga, serba dituntut oleh perfeksionisme dan segala hal yang saling berkontradiksi dengan apa yang ada di benak sang anak, maka ia akan belajar untuk ‘menyembunyikan diri’. Saat di depan umum, dia belajar bagaimana mengekspresikan diri agar semua orang senang. Semua orang kagum. Dibalik itu, hatinya menangis. Di hadapan ortu, dia bersikap perfeksionis. Selepas dari pandangan keduanya, dia berubah liar. Berlaku sesuai kehendak hati, menentang omongan atau perintah mereka yang selalu menuntut dan supresif.

~{x-Penasaran? Langsung aja klik judulnya untuk artikel lebih lengkap...-x}~

Melalui analisis konflik, dapat dilihat sejauh mana daya tahan psikis seseorang dan apa yang melibatkan tranferens kedalam reaksi mereka yang menyimpang. Perlakuan psikoanalisis dapat mengklarifikasi bagaimana seseorang secara tidak sadar menjadi musuh yang paling berbahaya bagi dirinya. Menurut Freud, hal ini, yang lantas ia kaitkan sebagai penyakit kejiwaan, dapat diketahui jika orang tersebut mengerti akan kenyataan yang sesungguhnya, alasan mengapa mereka melakukan perilaku abnormal, dan menyadari bahwa perilaku tersebut tidak seharusnya mereka lakukan, lalu mereka sadar dan berhenti. Saya mendapatkan contoh-contoh kasus yang bagus di sebuah manga berjudul “Homunculus”, karya Yamamoto Hideo, seorang Freudian. Didalamnya diulas jelas bagaimana cara menyembuhkan seseorang yang keadaan  jiwanya tertekan, dalam alam bawah sadar dia memberontak, menangis, marah, sayangnya acapkali orang tersebut tidak menyadari.

Berbeda dengan psiko-analitis milik Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Meskipun konsepnya berangkat dari ideologi yang serupa, terlihat jelas bahwa Jung lebih menekankan kesadaran bawah sadar sebagai pusat spiritual penggerak jiwa. Dalam buku C.G. Jung's Psychology of Religion and Synchronicity, karya Robert Aziz, disebutkan bahwa Jung mengkritik jika manusia modern terlalu banyak mengandalkan sains dan logika, serta kurang memberikan apresiasi terhadap pengitegrasian spiritualitas dan dunia bawah sadar.

Ada sebuah game menarik,  yaitu Shin Megami Tensei: Persona, produksi Atlus. Rilis pertama kali di SNES, tahun 90-an, kemudian muncul versi remake-nya di PlayStation pada tahun 1996. Nuansa yang kelam dan gothic, plot cerita dramatis, warna musik melankolis, suguhan  dan berbagai alternatif ending, adalah beberapa dari keutamaan game ini. Tentu saja dengan tidak menafikan ciri khas game RPG fenomenal yang berulang kali mengalami remake di berbagai konsol modern, yaitu “Persona” itu sendiri dan alter-ego untuk menjadi iblis ataupun malaikat.

Dulu, saat pertama kali mengenal Persona, hanya ada satu kata yang mampir di otak saya yang masih belia: bosan. Bayangkan saja anak imut yang masih polos, disuruh untuk negosiasi dan berhadapan dengan ideologi Jung yang ditampilkan dalam identitas sebuah game. Praktisnya begini, setiap tingkah laku manusia, apa saja yang ia impikan dan bagaimana reaksinya dalam menghadapi situasi tertentu, adalah integrasi dari kekuatan alam bawah sadar dan motivasi yang terbentuk dengan sendirinya. Bagaimana seorang kurus bak papan cuci mempunyai keberanian sebesar singa. Seorang narsis yang di depan umum tampil layaknya aktris tapi saat dibalut sunyi, ia mudah menangis. Seorang tua eksentrik yang tidak mengenal kata ‘lanjut usia’. Dan masih banyak contoh lain. Lugasnya, setiap individu masing-masing memiliki ‘bayangan’ lain yang sengaja tidak ia tampilkan di depan umum. Tapi mampu muncul sewaktu-waktu, tanpa diprediksi.

Jung membagi pokok pemikirannya dalam enam poin. Poin pertama, pikiran bawah sadar. Dialah pemicu segala hal yang berelasi dengan tingkah laku manusia. Pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar merupakan pasangan yang tidak mungkin terpisahkan. Kedua,  ketidaksadaran kolektif. Meskipun watak dan karakter setiap manusia hampir dapat disebut berbeda antara satu dengan yang lain, tetap saja ada beberapa benang merah yang dapat ditarik. Yamamoto Hideo menggambarkan dalam manga-nya, bahwa ketidaksadaran kolektif ini cenderung terletak pada tangan dan lidah. Karena kedua bagian tubuh tersebut yang sering digunakan oleh manusia dalam mengkspresikan perasaannya.

Poin ketiga adalah Archetype, alias pola dasar. Setiap orang cenderung mengapresiasikan ideologi mereka dalam bentuk simbol. Bahkan, acapkali mereka menciptakan sebuah simbol unik sebagai pemicu motivasi, ketakutan maupun keberanian. Contoh yang paling dasar dari poin ini, dapat ditemukan dalam berbagai karakter di komik “Batman”. Poin keempat dan kelima adalah Persona dan –bayangan—, keduanya merupakan hasil emosi supresif yang tersimpan rapat saat berhadapan dengan kenyataan.  Yang keenam, merupakan pasangan Anima dan Animus, sedangkan poin terakhir adalah Keselarasan.

Yang saya titik beratkan disini adalah poin keempat dan kelima. Sama seperti pikiran bawah sadar dan kesadaran, menurut Jung, kedua poin ini juga tdaik dapat dipisahkan satu sama lain. Mengutip perkataan Tatsuya dalam dorama yang berjudul Galileo, “Apa ada seorang cowok mata keranjang yang bangun di pagi harinya dengan berpikiran kotor, sikat gigi dengan tampang piktor (pikiran kotor, red), ketemu orang-orang dan menyapa mereka dengan tampang piktor, melakukan pekerjaan dengan tampang piktor dan kembali tidur dengan tampang seperti itu juga?”. Twenty-four seven, tidak mungkin. Sehari-harinya, orang selalu siap dengan topeng. Saya menyebutnya, akting. Seorang hentai (mata keranjang, red) dalam kesehariannya pasti berperilaku normal. Bayangan jahatnya tersembunyi dengan aman dibalik sudut gelap sebuah hati.

Karena apa? Inner-self kita, yang bercokol dan terbentuk dari kecil dan tak pernah mengenal ujung, berputar dalam dua fase. Jung menyebut fase pertama sebagai fase destruktif. Disaat gejolak masa muda masih berkuasa, ambisius, condong menyendiri (introvert),  dan masih meraba-raba apa simbol yang pantas sebagai ikon dirinya. Di fase pertama ini, ego berkuasa. Makanya, sering didapati para remaja senang membangkang, membantah segala perintah, hidup hanya berhura-hura dan ingin bertualang dalam liku untuk mencari jati diri.

Sedangkan fase kedua, kesadaran dirinya akan bergerak menuju poros kesadaran kolektif. Manusia akan lebih berkontribusi dan terjun ke dalam masyarakat serta belajar beradaptasi dan bersosialisasi dengan cepat. Hanya saja, ‘bayangan’ manusia pasti memiliki dua sisi, yaitu destruktif dan konstruktif. Saya ambil contoh seorang hentai diatas. Dia belajar beradaptasi dan mulai bergaul, hanya agar egonya terpuaskan. Meskipun pemikirannya sudah mencapai fase kedua, tetapi ‘bayangan’-nya tetap berputar dalam roda destruktif – penghancuran moral.

Begitu juga sebaliknya, seseorang yang terbiasa dicaci atau diperlakukan dengan siksa dan hina, akan belajar untuk menutup emosi. Dalam pandangan orang, dia tersenyum. Tapi ‘bayangan’ aslinya adalah seorang manusia dengan amarah yang terpendam dan kebencian teramat sangat demi nama sebuah empati. Contoh yang satu ini, dapat anda lihat dalam karakter Soujirou Seta di serial anime Samurai X.

Karakter-karakter fiktif tersebut terproyeksikan juga dalam kehidupan nyata. Berapa banyak kasus pidana atas nama keadilan yang sudah menorehkan tinta darah dalam sejarah. Seperti Yamato Kira dalam anime Death Note. Demi idealismenya, dia menafikan pembunuhan masal yang ia lakukan atas nama keadilan. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh Jack the Ripper, seorang pembunuh berantai di London pada tahun 1888. Seluruh korbannya adalah para PSK yang dia anggap telah mencemari nama baik London. Meskipun sampai sekarang identitasnya masih menjadi misteri, laporan-laporan terkait mengindikasikan bahwa dia mempunya latar belakang seorang dokter bedah. Hal ini merupakan faktor utama yang mengindikasikan bahwa dalam kesehariaanya, Jack the Ripper mampu bergaul dengan masyarakat dengan wajah professional khas seorang dokter, dan ‘bayangan’nya sebagai alter-ego, beraksi pada malam hari setelah memendam kemarahan yang ia timbun sedari pagi.

Sun Tzu menyebutkan, “Orang yang tidak tahu akan kelemahan dirinya dan musuh yang akan ia hadapi, akan selalu kalah.” Begitu juga dalam hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sebesar-besarnya jihad adalah memerangi hawa nafsu. Kedua pernyataan tersebut sangat selaras dengan jalan pikiran Jung. Sebenarnya, siapa sih musuh kita? Orang akan dianggap musuh, karena otak berpikir bahwa dia adalah seorang musuh. Coba jika sebaliknya. Anggap dia teman. Dekati, beri pengertian, toleransi dan empati. Satu musuh sudah terlalu banyak, yaitu hawa nafsu kita sendiri. Maka dari itu, banyak anjuran dalam Islam yang bersifat melepas diri dari ‘bayangan yang buruk’ atau hawa nafsu. Jika kita sanggup mempelajari setiap watak seseorang, baik dari kehidupan nyata, bahkan dari film ataupun kartun agar kita tidak hanya menjadikannya ajang hiburan semata, maka progresivitas hidup semakin cepat berkembang.

3 comments:

"Selepas dari pandangan keduanya, dia berubah liar. Berlaku sesuai kehendak hati, menentang omongan atau perintah mereka yang selalu menuntut dan supresif."

*nohok* :P

our biggest enemy is ourselves =,=

May 11, 2011 at 8:07 AM  

always, n nvr change. one to defeat enemy is to defeat ourselves first :D

May 11, 2011 at 1:44 PM  

slain kta hadits, byk jg pra pmikir Islam yg brpendapat bgitu. yah, smg aj kt bs melawan "doppelganger" tsb :)

May 15, 2011 at 2:23 AM  

Post a Comment