Waktu itu sudah jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri. Dia berjalan dengan muka merengut, sambil wajah ditekuk-tekuk, kedua tangannya berkibas kasar dan kakinya berderap tegas, ketus, mantap. Tapi mulutnya bersungut-sungut.
Selang beberapa menit kemudian,
saya bertemu dengannya di tempat perkumpulan, sambil bertanya:
"Dari mana, bro? Tumben
telat, biasanya cepet."
"Oh, gak, tadi ada perlu
aja," dia menjawab sambil sedikit tertawa.
Padahal saya melihat dengan mata
kepala sendiri kalau tadi dia seperti anak hilang, ngedumel gak jelas sambil
lihat kiri-kanan.
Langsung saja saya buka kartu.
"Kayaknya barusan pas
motoran aku lihat kamu lagi jalan ke mana gitu…" tanyaku polos. Temanku
malah tergelak.
"Hehe, iya sih, tadi agak
kesasar sedikit. Lagian tempat kumpulnya juga gak jelas sih."
Nah, terbuka sudah topengnya.
Sewaktu di jalan tadi, jelas emosi jengkel dan rasa tak sabar yang terlihat,
refleksi dari emosi yang dia alami. Baru ketika akan memasuki tempat
perkumpulan, dengan aduhai dia berganti muka dengan topeng cerianya kembali.
Dunia ini penuh topeng. Baik itu
manusia di dalamnya, atau malah dunia itu sendiri menutupi kebusukan yang tertutupi
dengan topeng arif dan kebijakannya. Kita bisa memilih mau ikut Hobbes atau
Roeassau. Apakah kita sebenarnya iblis atau malaikat yang mengenakan topeng
manusia, atau malah sebaliknya?
Ada sebuah anime seputar dunia
politik, intrik dan diplomasi berjudul Code Geass. Di salah satu
episodenya ada kisah menarik yang menceritakan mengenai pembunuhan Tuhan. Tuhan
digambarkan sebagai sebuah sistem atau galeri raksasa yang merekap seluruh
kejadian di muka bumi ini mulai dari awal berdirinya sejarah hingga detik
terakhir yang baru saja lewat. Tuhan itu akan dibunuh oleh sistem lain juga
yang bernama Sword of Akasha. Akasha berasal dari bahasa Sansekerta yang
mempunyai nama lain ether, unsur dasar universal awal mula dari semua
yang ada.
Saya ingin mengupas satu sisi
sebagai dampak dari terbunuhnya 'Tuhan' di sini, yaitu penghapusan topeng dan
penetralan karakter.
Apa selanjutnya yang akan terjadi
jika lembaran sejarah dihapus total dan bagaikan kertas putih tanpa noda,
kembali ditulis dengan tinta emas seraya menyingkirkan tinta hitam dan merah?
Itulah sepenggal inti dari kisah di atas. Penetralan karakter, persamaan pola
pikir, dengan menghapuskan kata 'satir' dan 'sindir' dari muka bumi dan semua
yang ditulis adalah veritas – kejujuran, kejujuran, kejujuran.
Kira-kira jika anda tinggal di
dunia seperti itu, akankah hidup ini terasa lebih baik?
Mungkin ada yang mengamini, ada
yang mengingkari. Hemat saya pribadi, dunia yang seperti ini bukan saja seperti
sayur tanpa garam, burung tanpa sayap, siang tanpa malam, atau kata-kata tanpa
koma, tapi juga menciptakan manusia-manusia yang terdiri dari gumpalan daging
dan darah tanpa emosi. Manusia-manusia plastik. Robot. Tidak ada diplomasi. Semuanya
serba jujur.
Jika ada pencopetan di bus, lalu
kita berteriak, "Siapa yang barusan nyopet?" Si pelaku langsung
angkat tangan. Tidak ada lagi kriminalitas tak berbatas. Semuanya serba
terbuka, blak-blakan, dan kita tidak perlu khawatir lagi atas adanya kasus penanaman
sawit, korupsi, karhutla, pencarian ijazah, cari nama, dan lain sebagainya.
Lalu organisasi semacam BIN, KPK, dan bagian penyidik lain bakal mulai
mengambil sapu, pel dan mulai beberes mengepel lantai kantor mereka. Para
diplomat tinggal nonton TV, lengkap dengan koleksi film-film terbaru, makan,
kenyang, tidur, buang air. Begitu terus siklus berputar. Ouroboros.
Dunia boleh damai. Konflik
mungkin tidak lagi tercapai. Tapi apa hanya berhenti sampai di sana dan tidak
berpengaruh kepada kasus sosial, yang merupakan ujung pondasi kemasyarakatan
yang apik? Boleh jadi yang muncul nantinya polemik yang berkelanjutan dan gak
habis-habis.
Bayangkan saja, seorang suami
pulang larut, lalu ditanya oleh istrinya, "Habis dari mana bang?".
Kemudian sang suami dengan santainya menjawab. "Biasa, habis main serong
sama sekretaris di kantor. Tahu gak? Ternyata warna CD-nya pink juga loh, sama
persis kaya punya mama." Sang suami tidak bisa menutupi perselingkuhannya
dengan topeng 'letih-sehabis-kerja' yang biasa ia pakai, karena veritas sudah
melucuti satu persatu topeng-topeng yang ada, baik hitam atau putih, semuanya.
Lengkap, rata, tidak ada sisa.
Begitu pula dengan seorang
pekerja wanita di kawasan lokalisasi saat ditanyai oleh wartawan menyangkut
dari golongan konsumen mana yang paling sering berkunjung ke sana? Jika wanita
tersebut berkata, "Jelas, dari TNI!" maka apa yang dikatannya adalah
benar. Tidak ada lagi topeng yang menyembunyikan lidah berkelu. Kemudian jika
ditanyakan balik kepada para tentara sendiri, maka mereka akan berkata lantang,
"Ya! Kami yang paling sering ke sana! Terus kenapa?". Dan hancurlah
topeng mereka sebagai pelindung negara yang konon penuh kesopanan, selalu taat
dan patuh kepada negara, yang katanya selalu berusaha menegakkan keadilan
negara.[1]
Dan jika topeng TNI hancur,
lantas mau dikemanakan negara yang berdiri tanpa senjata dan perisai ini? Jika
saja gara-gara masalah di atas masyarakat sudah tidak lagi menaruh kepercayaan
kepada TNI gara-gara topeng keadilan dan patriotisme mereka yang telah hancur,
siapa lagi yang akan menjaga agar nama hukum tetap teguh tak tergoyahkan?
Sekarang bayangkan hal yang sama berlaku
kepada para praktisi hukum seperti advokat, jaksa, atau para hakim. Terkadang,
menantang hukum yang berwajah kaku itu perlu sedikit kreatif. Hukum telah
mendefinisikan apa itu keadilan, tetapi untuk mencapai hasil adil itu sendiri susah
untuk menjauhkan dari subjektivitas. Kesalahan logika, kurangnya barang bukti,
itu saja sudah sudah cukup untuk menjauhkan keadilan dari definisi aslinya.
Terkadang kita butuh topeng. Bukan untuk menutupi sifat kemunafikan, dusta, pura-pura atau apa. Bukan juga untuk menipu diri dan menyumbat simfoni yang mengalun dari hati nurani, nggak. Topeng yang kita perlukan adalah topeng hasil sintesa makhluk bernama manusia dengan kemampuan 'cara-membaca-sekitar,' bagaimana menyampaikan maksud hati nurani, tetapi dengan sikap layak yang tidak mengundang masalah, itu saja.
Contohnya ketika anda sedang dilanda gundah gulana, lantas apa anda ingin menunjukkan kepada dunia dan selalu bertemu dan menyapa setiap orang dengan wajah sedang berduka? Rasulullah justru mengajarkan jika sedang sedih, jangan berlarut-larut. Biarkan orang lain tidak mengetahui permasalahan anda. Banyak sekali kisah Sahabat yang sedih tetapi justru mengenakan topeng terbaik mereka karena mereka tidak mau dikasihani. Tentu sikap welas asih kepada sesama itu harus ditunjukkan, tapi secara aktif, bukan reaktif. Empati para Sahabat itu tinggi tanpa perlu melihat keluh-kesah yang terpampang bagai poster di wajah seseorang. Mereka mudah iba tetapi tidak dengan cara mengemis simpati.
Misal
lain, anda sebagai seorang sahabat. Kawan anda sedang bersedih, pun sebenarnya
begitu pula dengan anda. Apakah lantas anda menghiburnya dengan wajah penuh
tekuk sedang berduka juga? Mungkin, beberapa orang melakukannya seperti itu.
Tetapi alangkah lebih baiknya jika kala itu anda memasang topeng tegar dan baru
menghiburnya.
Sekarang, seandainya kita
berprofesi sebagai dokter atau psikiater. Seorang klien datang kepada anda,
mengadu dan menyampaikan permasalahannya. Padahal di balik rongga dada anda
sendiri ada badai yang berkecamuk hebat. Apakah saat klien anda mengadu, anda
menjawab dengan muka sendu? Dalam beberapa kasus, mungkin cara ini benar,
tetapi alangkah lebih pantasnya jika saat itu anda menggunakan topeng profesionalisme.
Mungkin agak sedikit susah didapat, karena topeng ini bukan dibayar dengan uang
tetapi dari hasil jerih payah dan konsistensi yang terus berjalan karena saat
topeng itu terlepas, anda jadi gugup atau mungkin turut bersedih dan menipislah
kepercayaan klien kepada anda. Seorang pengacara, dokter, psikiater atau apapun
itu yang membutuhkan soft-skill dan hubungan emosional dengan klien,
harus selalu tersenyum dan sabar, apapun yang terjadi. Hingga terselesaikan
problem yang saat itu dihadapi, baru topeng itu bisa dilepas.
Sungguh, saya sedikit iri setiap melihat
anak-anak kecil. Mereka bisa langsung mengetahui orang-orang yang sedang
mengenakan topeng senyum dan ingin mendekati mereka. Coba saja, anda baru
bertemu dengan seorang anak kecil yang masih asing dengan anda. Setampan atau
secantik apapun anda, dengan senyum yang anda paksakan saat ingin mendekati
atau merangkul mereka, anak kecil bakal langsung tahu. Lain jika senyum yang
muncul bukan sebuah topeng tapi asli dari hati. Si anak akan tersenyum balik
dan merangkul anda lebih hangat.[2]
Naasnya, riset dari seorang ahli
psikologi mengatakan bahwa bakat ini semakin terkikis seiring berjalannya waktu,
terlebih lansia.[3] Makanya wajar jika banyak scammers yang
menargetkan lansia. Semakin senja umur seseorang, mereka bakal ditempa banyak pengalaman
yang kemudian dideduksikan dan berkembang menjadi pola pikir atau bahkan
idealisme. Tergantung apakah mereka bakal semakin mudah mengenali senyum dan
tabiat palsu seseorang atau malah mudah semakin hanyut dengan fatamorgana yang muncul
dari kebaikan yang direkayasa.
Hanya segelintir orang yang bisa
langsung melucuti topeng-topeng ini tanpa bantuan alat maupun pendekatan
sosial. Tetapi jujur, kalau saja saya bertemu dengan orang seperti itu, saya
akan mengenakan topeng terbaik yang saya miliki dan melakukan oplas biar topeng
yang saya kenakan merekat erat dan menyatu jadi wajah. Hanya saja, persediaan
topeng terbatas. Di dunia ini apakah ada toko yang buka 24 jam dan menjual
topeng sesuai kebutuhan? Pastinya bukan Toko Madura.

