.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


This Riddle of Miracle

~Miracle to me is almost ridiculous. Why?
-x} exe {x-

To put it simply... well, hal-hal gaib tu musti dipercaya. Musti. Harus. Tapi kalo keajaiban, tu lain cerita. Menurutku, keajaiban mutlak tu persis hilarious joke bikin ngakak. Lain soal kalo si Dia sudah turun tangan. Di akhir tulisan ini, akan aku jelaskan bagaimana sesungguhnya sebuah keajaiban tu dapat tercipta.

Percaya gak kalo mo kaya, kita cuma tinggal duduk aja di rumah sampai nelor berapa bungkus, ntar tiba-tiba aja kolong rumah ambruk kejatuhan hujan uang logam? Atau, mo lulus ujian, eh malah jalan-jalan hang out ke party atau bahkan chatting di kamar sampai layarnya mengharu-biru memelas dengan amat sangat untuk dimatiin karena dah seharian hidup terus...n tau-tau sehari sebelum ujian langsung pake sistem SKSD (Sistem Kebut Semalam Doea-Tiga). Wuih!

And now, mari berfilosofis...

~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya 2 recall it back...-x}~

Seandainya ada pengemis di jalan, aku lihat-lihat dulu.  Kalo seandainya dia sudah tua, atau mungkin masih usia muda belia, baru ngeluarin duit. Bukannya pelit atau apa, ada dua alasan.

First: Seandainya masih anak-anak, biasanya karena mereka terpaksa, bukan kehendak sendiri. Atau ada beberapa yang ngamen karena kemauan sendiri, dikarenakan faktor ekonomi keluarganya yang terperosok drastis, tapi hal ini sudah jarang. Berdasarkan observasi dulu bareng temen-temen, rata-rata pengamen anak-anak mempunyai pangkalan dan lintah darat yang malakin mereka setiap harinya, baik 25% atau malah gila-gilaan..50%! Jadinya meski mereka sudah tidak ingin ngamen, tapi masih aja dipaksa oleh lintah darat. Apalagi teman-teman yang dulu pernah saya kenal di kota Metropolitan, dimana meerka hanya beratapkan dari potongan kardus dan beralaskan tikar usang, selalu mencari penghasilan hidup bukan melalui jalan ngamen, tapi mulung. Ya, mereka hanyalah para pemulung. Tetapi lihat bara api di mata mereka. Lihat gerak-gerik yang menyiratkan semangat asa untuk melangkah lebih peka. Lihatlah balutan tulang ringkih, karena segepok nasipun bagi mereka bagaikan oase di gurun Sahara. Siapa yang tidak kasihan coba, walau mereka tahu kondisi hidup mereka yang awut-awutan, tapi tetap mereka berjuang memeras keringat tanpa mengharap belas kasihan - cukup dengan modal dengkul yang mereka punya.

Begitupun juga dengan para manula. Sering dulu biasa kalo bertemu dengan pengemis di jalan, pasti aku tanya seperti ini, "Nek, kenapa sampai ngemis? Keluarga nenek dimana?", n well, kata-kata yang tercetus dari bibir keringnya menohok bagaikan lontaran peluru yang menembus hati. Gimana nggak coba, dia ngomong kalo keluarganya kaya raya, tetapi karena anak laki-lakinya risih dan malu mengakui hidupnya dulu yang bau sampah, dan juga malu kepada keluarga istrinya, dia tega membuang ibunya ke Panti Jompo. Ada juga kisah lain, karena wilayah kampung kumuh yang semula ia tinggali bersama keluarga terpaksa digusur oleh pemerintah untuk proyek barunya...maka terpaksa ia bersama keluarga mengemis kemana-mana. Tragis.

Second: Tolong bedakan antara ngemis dan ngamen. Truth be told, aku lebih salute n respect kepada orang ngamen dibandingkan orang ngemis. Orang ngamen, meski suaranya comprang-compring kaya anjing kejepit gitu, dia masih berani ngeluarin modal suara. Masih rela nenteng gitar ma kaleng kosong kemana-mana. Masih 'meras keringat', kalo boleh bilang. Nah, pertanyaannya, kalo misalkan ada pemuda yang masih punya dengkul, dua tangan lengkap, akal lancar lom tersumbat botol susu basi, n masih aja ngemis-ngemis sedangkan banyak metode lain yang bisa ia tempuh untuk dapetin duit....why so serious to act like a beggar, son

Suddenly, aku mo cuap-cuap mengenai masalah keajaiban ini. Apakah rasa dasar timbulnya seseorang akan inginnya terjadi sebuah keajaiban itu terciptakan dari rasa malas yang teramat sangat? Sloth. Atau cuma rasa melas tak berdasar atas matinya sebuah asa dari seonggok daging tanpa jiwa?. Okay, kalo misalkan ada yang bertanya: "Memangnya ukuran manusia menurutmu seperti apa?".

Aku jawab dari preface dulu, The Lord God (He, the Almighty and the most Insanity one) telah menciptakan manusia dengan cara sekeren-kerennya, melebihi dari makhluk-makhluk lain. Bahkan Dia membuat banyak kelebihan untuknya, diantaranya: seluruh makhluk, benda dan segala didalam Bumi dimana manusia berpijak, diciptakan tunduk, hanya dan hanya untuk manusia. Coba aja bayangkan ketika kita makan ayam goreng. Seandainya kita berada dalam posisi si ayam, pasti kita hanya bisa mengelus dada melihat kesadisan seekor makhluk bernama manusia. Tapi lain, kita berada di posisi sebaliknya. Kita bisa bikin ayam tersebut menjadi apa aja, mo dipanggang kek, digoreng kek, dipotong-potong bentuk dadu lalu dimasak tim dengan campuran salad kek, anything. Kalo kita pikir dalem-dalem, mungkin pernah terbersit sejenak, "Ih manusia tu sadis banget!". Padahal bukan sadis tu namanya, melainkan rahmat. Rahmat dariNya khusus untuk kita, tanpa belas apa-apa. Cukup pamrih untuk patuh kepadaNya dan menjadi seorang pemimpin tegas dengan wajah keadilan.

Lantas aku tambahkan, "Why must we afraid or being ashamed to become human?". Merely a human. But not the substance of flesh and blood only, which all the creature has the most, but in addition with one more thing gracefully created: AKAL. Sebuah entitas tanpa wadah, yang terbentuk dari segala campuran emosi semula tanpa dosa, tetapi sanggup membendung dan merefleksikan segala apa yang terdapat di dunia. Sifatnya kelabu, terkadang bijaksana, terkadang amburadul. Tetapi asas pokoknya masih tetap berdiri, yaitu asas kebijaksanaan. Homo sapiens - makhluk yang bijaksana. Ring the bell?

Nah, masih mengharapkan sebuah keajaiban tanpa berbuat apa-apa? Berarti kita mengingkari nikmatNya dan berperilaku sama seperti para Jewish saat mereka mengharapkan turunnya hujan manna and salwa dari langit. Mau enaknya saja, dan gak mau susah-susah. Manusia repot lah, istilahnya. Mau enaknya sendiri, tapi ngrepotin orang lain, nah lho?      



~To me...this miraculous thing is ridiculous, surely

because it never happens...ever..

without even putting a single effort into it.~

15 comments:

Sari said...

Sepakat denganmu !! Ga ada yang namanya keajaiban tanpa usaha. Yang namanya keajaiban -menurutku- sebenernya ujung pangkalnya ya hukum sebab-akibat. Apa yang kita lakukan tiap hari itu adalah proses menjalin benang menjadi kain. Helai per helai. Kalo yang kita lakukan itu kebaikan, keajaiban berupa balasan sesuatu yang baik pasti akan datang. Apa yang kita perbuat, hasilnya juga ga bakal jauh kok.
*weleh...aku ngomong apa yak* :P

Tulisanmu selalu bikin aku mikir *sok mikir* hahaha
Met Weekend :D

January 15, 2010 at 6:03 PM  

YEAAAAH PERTAMAX!!!!!

once again, I love your written. Yg cerita ttg ortu pemulung yg sebenarnya punya anak kaya tapi di buang ke panti jompo itu menyedihkan banget. Tapi, memamng kenyataannya banyak yg tjd kayak gt, ga cm di sinteron aja. Malah ada yg lebih sadis lagi.

di kompleks tmp mia ngekost dulu, ada bapak2 yg dah gila (tapi ga berbahaya, ga suka ngamuk2 kyk orgil gt) cuma suka bicara2 sendiri dan dekil banget. Nah dari org2 sekitar perumahan sana pernah cerita ma mia, kalo tu bapak sbnrnya punya anak laki-laki yg bisa di bilang lumayan mapan. Tapi krn bapaknya gila, dia ngebuang bapaknya sembarangan aja. kayak ngebuang hewan aja. Katanya, kadang2 anaknya datang ngasih bapaknya makan ansi bungkus kadang2 engga. jadi masyarakat sana yg suka kasih makanan ma tu bapak.

kadang suka heran mianya, jika org lain aja sedih liat kondisi dan ansib tu bapak, tapi napa anaknya sendiri tega membuang ortunya sendiri kyk membuang hewan krn ortunya gila??? soo cruel

wadow...sorry kepanjangan komentnya. *kabur sebelum di usir ma raxen*

January 16, 2010 at 10:30 AM  
Lina said...

setuju banget, keajaiban ada karena usaha dan doa. bahkan di negeri dongeng pun, keajaiban terjadi karena perbuatan baik yang dulu-dulu. :)

January 16, 2010 at 9:22 PM  
Yunna said...

keajaiban itu datang kalau kita mau berusaha...

January 17, 2010 at 2:59 AM  
pandu said...

"Tolong bedakan antara ngemis dan ngamen"
saya setuju banget tuh sama kata2 itu.
Pengamen bukan pengemis, mereka bekerja tidak hanya meminta.

January 17, 2010 at 11:00 PM  

setuju gan....

tapi memberi itu sudah lebih dari baik..

salam hangat

January 18, 2010 at 9:07 AM  
iim said...

mar, , ,fb lo ko ga da, , , , , :(( :((

January 18, 2010 at 1:39 PM  

buakkakaka
sebener na aku itu punya sifat Sloth yang susah banget diilangin


busset..
cerita nyata tuh? nenek2 dibuang sama anak na?
malin kundang jaman modern itu!!!!
mudah2an dapet azab dari ALLAH dah itu anak durhaka

dan aku setuju klo ngamen lebih baik daripada ngemis
seenggak na dia mengeluarkan usaha buat dapet duit, nggak cuma diem mionta2 ma orang
minta dikasinanin itu merendahkan harga diri sendiri
itulah kenapa hal #1 yang paling aku bendi adalah DIKASIHANI

January 18, 2010 at 7:02 PM  

anyway hal2 gaib itu harus dipercaya?
mesti?
nggak juga klo kata aku..

well, untuk beberapa hal memang aku percaya, such as, kematian....
inti na kematian itu adalah hal gaib kan?
I mean, ada alam setelah kematian, itu hal gaib yang emang WAJIB kita percaya

tapi klo hal2 gaib kaya.......
"takut ah lewat jalan itu, suka ada kuntilanak"
such a shit...
bikin ketawa ngakak klo ada orang yang ngomongin hal2 begituan xD
nggak ada yang nama na kuntilanak!
yang ada itu cuma Setan n Jin...
Setan ga mungkin ngeliatin wujud na ke kita, yang mungkin adalah Jin
jadi kuntilanak itu adalah Jin yang "iseng" yang niru2 wujud orang yang udah meninggal
and they wont'n harm us...
as long as we belive that GOD will protect us..

yah, gitu sih klo menurut praktis aku sebagai seorang muslim =D

January 18, 2010 at 7:07 PM  
Itik Bali said...

Saya selalu percaya akan keajaiban
karena percaya akan keajaiban memeberi kita harapan

January 18, 2010 at 8:51 PM  

x>Sari: wah, setuju balik! Entar kapan-kapan aku bahas mengenai hukum sebab-akibat ini deh (sekalian otak-atik fisika :P)

x>KucingTengil: Ya, sinetron...well, hate it so much. Better hanging out n see reality then watching some old-damned parody.. Trnyta ad jg yg ky gt y? Ntar kl blik k Indo mo survey lagi dh

January 19, 2010 at 11:03 PM  

x>Lina & Yunna: same words here :D

x>pandu: yups. dah pengalaman nih kayaknya? :P

x>indrahuanzumenggonggong: oh, so pasti..

January 19, 2010 at 11:12 PM  

x>iim: see ya nxt time thre :D

x>[L]ain Disconnected: Sloth? haha, same here..
well, kalo hal-hal begituanmah kayaknya cuma ad d culture asian aj deh. dsini sm sekli g ad tuh. lagian tu mah bkn hal gaib, cm rekayasa buat bkin anak2 gk keluar rumah kl malem :P

January 19, 2010 at 11:20 PM  

x>Itik Bali: well, sometimes, at the crucial times, it's just in hope we do believe..but still we must act out of it properly

January 19, 2010 at 11:43 PM  
Shin-kun said...

Keajaiban?, hmmmm, Shin-kun siy percaya hal itu, dan memang kadang lucu dan menggelikan :). Anyway, tulisanmu seperti biasanya Sob, dalem, hehehe. Otakmu memang seksi :), Shin-kun salut. Setiap hal di dunia ini memang punya konsekwensi, keajaiban pun *kadang* didapat melalui sebuah konsekwensi :D

Untuk Sari : Aku setuju sama pendapatmu, di dunia ini memang tidak ada yang gratis, semua harus disertai usaha dan doa, tapi menukar fithrah manusia untuk sebuah hal yang lebih bersifat 'duniawi' itu adalah hal yang sangat bodoh :)

January 24, 2010 at 2:44 PM  

Post a Comment