.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Paranoia


~sebuah cerpen~

Seperti malam-malam yang lain, jalanan itu sepi. Pucat si bulan seperti mau muntah, kuning galaunya tertutup awan kelabu yang cemburu pada banyaknya bintang. Lampu-lampu di pinggir jalan rusak separuh. Beberapa malah kedap-kedip seperti lampu disko. Genangan air dan kumpulan sampah berserak yang tak jelas dari apa, membuat Anna sedikit bergidik. Ia sebenarnya tidak takut gelap. Ia benci kotor. Tidak bersih. Tidak higienis. Sampah-sampah itu jelas membawa banyak penyakit. Beberapa anjing buduk saling berebut sisa makanan. Wanita bertubuh semampai itu segera menyingkir ke sisi lain jalan. Meski sinar lampu tidak terlalu terang, tapi dia masih bisa melihat ke sekitar, hanya dalam radius beberapa meter. Asal jangan dekat-dekat dengan hewan najis itu, batin Anna.

Anna mempercepat langkah. Awalnya dia tidak ingin melewati gang ini. Tapi apa boleh buat, dia sudah terlambat. Baginya pulang diatas jam 12 malam adalah hal yang tabu. Karena dia harus tidur cepat, dengan porsi yang cukup tentunya. Lalu bangun dengan sinar pagi yang membelai lembut, ditemani dengan secangkir teh dan sepotong roti beralaskan selai nanas, dan melanjutkan aktifitasnya yang padat sebagai mahasiswi di Universitas ‘Ainu Syams  dengan rutinitas yang terpogram.

Huh! Ia mengutuk dalam hati. Rencananya harus disusun lagi dari awal.

Beberapa puing terserak sisa pembangunan di gang yang sempit itu. Anna memerhatikan dengan seksama. Di depan tumpukan batu itu, sebuah rumah kecil yang seharusnya akan dijadikan sebuah losmen dengan harga murah, sudah ditelantarkan menjadi rumah hantu. Tidak ada orang yang mau menginap di tempat kumuh dalam gang menjijikkan seperti ini, pikir Anna. Hanya beberapa bulan setelah losmen itu diresmikan dan pemiliknya melarikan diri entah kemana. Losmen itu ditelantarkan begitu saja, karena itu penduduk lokal menyebutnya rumah hantu. Kosong, sepi, tanpa penghuni. Plakat kayu bertuliskan Cairo Inn yang bertengger di atas pintu losmen sudah lapuk digerogoti rayap, samar-samar menyisakan huruf ‘Ir’ dan ‘In’. Hampir beberapa minggu yang lalu polisi lokal sempat menciduk beberapa pengedar narkotika yang menjadikan losmen itu sebaga markas mereka. Kini rumah hantu itu hanya menjadi kandang bagi anjing-anjing dan hewan-hewan lain yang terlantarkan. Anna sedikit mengernyit dan mempercepat langkahnya. Bahkan dari jarak beberapa meter saja sudah tercium bau tidak sedap. Kotoran dari binatang-binatang itukah?Atau bangkai?

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Anna melihat ke sekeliling. Sepi sekali. Seharusnya masih ada beberapa gelandangan yang membakar sampah sekedar untuk menghangatkan badan. Kebanyakan mereka merupakan pengemis jalanan dari Tal’at Harb atau bahkan Downtown. Mungkin mereka termakan berita, pikirnya dalam hati. Sekitar lima hari yang lalu, Tal’at Harb dihebohkan oleh perampok yang selalu menjarah orang-orang yang melewati gang ini. Kebanyakan dari korban adalah wanita. Barang mereka dirampas, lalu kehormatannya diambil paksa dan setelah pingsan, digeletakkan begitu saja di tengah jalan. Anna bergidik. Semoga hal itu tidak menimpaku.

Tapi tunggu, jika korban adalah wanita, maka pengemis itu apa? Pelaku? Lantas mereka takut akan apa? Kenapa tidak ada seorang pun disini? Anna berpikir dalam hati. Matanya langsung mengamati sekitar, cepat. Tidak ada tanda kehadiran seseorang di sekitarnya. Dalam hati dia mendesah lega. Dan dilema itu muncul  saat di sisi lain, Anna juga sebenarnya mengharapkan adanya seseorang, agar dia tidak sendiri.

Pikiran Anna pun terlempar ke kampus. Dia tidak ingat berapa kali orang menyatakan ‘cinta’ kepadanya. Persetan dengan cinta. Hakeem, meski bertubuh atletis tapi bermulut besar. Ada Ahmed, si muka artis, hampir semua mahasiswi jatuh hati kepadanya, tapi Anna bukan tipikal cewek yang bisa diduakan. Belum lagi beberapa manusia lain dengan tampang nerd, dari senior, bahkan dosen tua-bangka mata keranjang yang masih menyempatkan diri mengincar daun muda meskipun ia sudah beristri.

Dia benci menjadi sekedar objek semata. Anna bisa melihat rasa lapar yang muncul dari mata-mata lelaki yang memandangnya seperti hewan buas mengincar mangsa. Omong kosong dengan cinta. Aku cewek yang kuat, Anna meng-oto-sugesti dirinya sendiri. Perasaan hati saja mampu aku taklukkan, masa hanya melewati gang kecil ini aku tidak berani?

Anna mempercepat langkahnya. Dari belakang tiba-tiba terdengar suara logam berdenting. Spontan dia menoleh. Hanya seekor anjing. Mungkin. Suara itu berasal dari kegelapan di belakang. Tidak ada lampu yang menerangi. Anna pikir, itu ulah anjing-anjing yang bermain di puing-puing sisa bangunan itu. Mungkin aja ada beberapa benda logam tersisa disana, dan anjing-anjing itu menjatuhkannya.

Tidak ada kemungkinan terburuk yang bisa Anna imajinasikan. Berulang kali dia mengulang dalam hati: Tidak ada siapa-siapa disini. Hanya aku. Juga binatang-binatang kusta itu. Jangan biarkan ketakutanmu menguasaimu, Anna. Dalam kecemasannya, hanya satu ide yang berhasil ia pikirkan. Suara. Suara apa saja, asal bukan imajinasi semata. Dia merogoh ponsel dari tasnya dan mulai menelpon Helwa, sahabatnya.

Geez, Helwa! Cepat angkat!”. Anna semakin gelisah. Sesaat matanya melirik ke indikator jam di ponselnya, pukul 01:18. Dia masih menunggu, tapi hanya bunyi beep…beep.. saja yang terdengar. Tidak ada suara tengil sahabatnya yang pasti akan menggodanya dengan para mahasiswa. Lidah Helwa sangat tajam dalam menyebarkan gosip. Tapi lucunya, begitu cepat gosip tersebar, seringkali dia sudah melupakannya keesokan harinya. Karena itu Anna tak mempersalahkan persahabatan mereka. Helwa adalah seorang humoris, pelupa dan orang konyol yang akan melupakan kesalahan yang orang lain lakukan kepadanya, begitu juga kesalahannya sendiri. Sangat berbeda dengan Anna yang menurut orang-orang, ketus, acuh dan dingin. Pernah suatu ketika, Anna menukasnya dengan tanggapan bahwa dia orang yang idealis dan perfeksionis. Rekan-rekannya menatap sinis.

Saat itu Anna berpikir, mungkin dia sedikit iri. Helwa memiliki apa yang tidak dimilikinya. Dia selalu saja dapat mengundang tawa orang banyak. Dimana ada pesta, pasti ada dia. Ketika dia absen kuliah, orang lain pasti akan menanyakan, “Eh, Helwa kemana ya? Kok tidak kelihatan?” atau “Dia sakit ya? Ada yang mau ikut menjenguk?” dan hampir seisi kelas pasti menyetujui. Mungkin, sekali lagi Anna merenung, seseorang yang ia anggap sahabatnya itu tidak lebih dari sekedar alasan apologetik. Mungkin dalam hati, ia mengidolakannya. Ia ingin menjadi seperti Helwa. Tidak ada keinginan lain Anna yang melebihi bahwa dia ingin dikenal. Dia ingin dicari. Dia ingin disayang banyak orang. Tapi bukan karena dia sebagai seonggok daging yang dibungkus indah, melainkan Anna sebagai manusia.

“Sial! Bagaimana bisa aku berpikir seperti ini?”

Dan lagi-lagi bunyi benda terseret itu kembali terdengar. Anna menoleh ke belakang. Wajahnya semakin memucat. Tangannya sedikit bergetar, hampir saja HP-nya terlepas. Ada sesuatu yang dari tadi mengikutiku, ia tahu itu. Tapi apa? Anjing-anjing itu kah? Anna tidak berani berpikir jika sesuatu itu diganti dengan wujud seseorang yang ia kenal. Semoga hari-hari ini dia tidak menyinggung sebuah perasaan hati. Sayangnya, wanita cantik ini juga tidak tahu berapa banyak hati lelaki yang sudah ia permainkan, andaikata pernyataan cinta dan penolakannya adalah permainan. Aku tidak egois, tapi realistis, batin Anna membela diri. Ia tidak terlalu banyak mengenal lelaki, bagaimana mereka bisa tahu andaikata Anna menerima cinta mereka, tanpa sebelumnya kurang mengenal dekat, lantas jalinan hubungan yang ada akan berjalan romantis, hangat, rekat, bukan sebagai ajang pelampiasan nafsu belaka.

Sial! Apalagi yang aku pikirkan sekarang? Anna menepis pikiran-pikiran konyol itu jauh-jauh. Bola pikir berupa asmara itu selalu muncul di saat yang tak terduga. Bagaikan anjing hitam yang selalu mengejar ekor kehidupannya tanpa henti. Atau anjing-anjing yang mungkin berada di belakangku kini. Anna menggeleng-geleng cepat. Terlalu banyak kontemplasi.

Dia melihat jalanan depan masih terbalut remang, dengan lampu-lampu jalanan yang hanya bertahan apa adanya. Kalau langkahnya tidak lebih dipercepat… tidak, jangan berpikir macam-macam. Setengah berlari, Anna mengapit tas kecilnya erat-erat. Hanya beberapa meter lagi, dan dia akan merasakan ramainya jalan raya. Dekat, sangat dekat, Anna bisa merasakannya. Perasaan gembira dimana dia akan terlepas dari kegelapan dan seluruh sensasi lembap, gatal, bau yang melekat di tubuhnya semenjak dia melewati gang kotor ini semakin membuncah. Hatinya berdegup kencang. Mungkin karena Anna tahu, setelah ini dia akan kembali ke apartemennya yang nyaman, menyalakan tub air hangat dan berendam. Tidak ada yang lebih nikmat baginya selain mandi, sembari meluluhkan seluruh pegal dan takut itu. Lalu persetan dengan malam ini.

Sayangnya jalan raya itu terlihat sepi. Sempat pengendara motor lewat dengan kencangnya. Hanya sekali, selebihnya sunyi. Cuma suara motor yang lewat tadi. Itupun semakin samar, semakin sayup, kemudian hilang. Keheningan yang aneh kembali menyelimuti  Anna. Dia menoleh ke belakang. Hanya perasaan, atau memang gang itu semakin gelap? Anna menggosok matanya, lalu kembali menoleh ke jalanan. Dia memicingkan mata, sambil mengharap cemas akan munculnya sebuah kendaraan dari ujung jalan. Apa saja. Meski bukan taksi, dia masih bisa meminta tumpangan. Orang lain pasti akan merasa iba melihat seorang wanita sendirian di jalan, begitu pikir Anna. 

Lama ia menunggu, akhirnya dua buah mata menyala berwarna kuning mulai mengintip dari ujung. Sebuah mobil sedan biasa berwarna putih. Anna mulai melambai-lambaikan tangannya. Mobil itu pun memelankan lajunya. Pengemudinya laki-laki. Setelah berhenti, dia pun langsung membukakan pintu sebelah kanan mobil untuk si wanita cantik.

“Mau ke mana, farowlah?”

Anna segera duduk tanpa menjawab. Pintu ditutup. Anna menoleh kepada si lelaki dan tersenyum. Senyuman terhangat yang bisa ia berikan saat itu.

“Lurus saja. Akan saya beritahu dimana.”

“Baiklah,” lelaki itu tersenyum. Mobil kembali melaju. Anna diam. Setidaknya dia merasa sedikit nyaman karena berada di dekat seseorang. Meskipun cuma lelaki asing. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Dalam hati ia yakin, jalanan di belakang semakin menggelap. Hitam gulita. Apalagi gang itu. Tidak terpikir, bahwa pekat itu masih menggumpal di balik hati Anna. Menggumpal, memadat, dan terus menetap.

Sedangkan bagi pengemudi, ia tidak pernah merasa seberuntung ini. Di mukanya tersungging sebuah senyum. Jalanan depan semakin terang. Sepertinya, malam ini akan mengukir cerita.






4 comments:

Anonymous said...

Olah kata, plot, alur, latar, diksi, keren semuanya...
tapi kok ceritanya berlalu begitu saja sih..

August 7, 2012 at 11:01 PM  

ah iy, makasih masukannya :) mungkin mmang itulah yg dkhendaki penulis sih, sengaja mmbiarkn pmbca trserah brimajinasi sprti ap tntang akhir keadaan si Anna dan sopir. mngkin, haha :v

August 8, 2012 at 8:00 PM  
Yunna said...

kangan baca diksinya lagi...

August 10, 2012 at 7:25 AM  

wah smoga cpat trobati :D

August 10, 2012 at 7:27 PM  

Post a Comment