.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Terminal Wajah


Alam bahkan jelas melihat dua lelaki itu sama sekali tidak mirip. Tapi seorang ibu dengan tampilan kosmetik seperti topeng pantomim sedari tadi tidak henti-hentinya mengoceh dan bersikeras betapa salah seorang penjaga yang berdiri dekat pintu masuk sangatlah mirip dengan suaminya. 

Duduknya perempuan tua itu lumayan jauh, hampir empat baris di belakang dia duduk, Alam sempat menghitung. Tetap saja suara wanita paruh baya tadi mampu mengalahkan suara-suara bising di bandara ini. Sekali lagi, Alam melihat ke belakang, memperhatikan dengan seksama antara suami wanita tadi yang kini entah dengan apa lagi bisa menyembunyikan malunya selain dengan gugup berusaha merapikan kacamatanya. Kemudian perhatiannya beralih ke si penjaga. Alam memicingkan mata. Apanya yang persis? Lelaki berbaju putih rapi itu terlihat tegap, dengan tubuh atletis dan wajah yang mungkin selalu diidamkan oleh para wanita. Matanya yang tajam, hidung mancung, rahang yang terlihat kokoh, serta perbandingan tulang pipi yang tidak terlalu tirus dan gemuk. Ah, si suami hanya memiliki persamaan dari mata dan hidung. Tubuh, tulang pipi, apalagi rahang, jelas-jelas menonjolkan kerja lelaki ini cuma di balik meja. 

Celotehan si ibu tadi menarik minat beberapa wanita sebaya. Akhirnya ada empat orang istri, ramai mengobrol dengan nyaringnya, meninggalkan empat orang lelaki dengan pikirannya masing-masing yang sibuk menjaga barang-barang mereka. Sebelum Alam kembali mengatur duduknya kembali, dia sempat menangkap lelaki berkacamata –yang kata istrinya mirip penjaga di pintu masuk tadi– menunjukkan tangannya ke arah kamar mandi umum. Istrinya tidak menggubris. Si suami tadi berjalan gontai ke sana. Alam melanjutkan bacaannya sebentar sebelum kemudian ikut menyusul ke arah yang sama.

Wajah lelaki tadi sedang menatap cermin di atas wastafel dengan muka bagai jeruk purut. Sedikit-sedikit dia melenguh. Alam pun tidak berani mengganggu. Semua toilet kosong, tetapi kakinya memilih memasuki kamar mandi paling pojok.

“Sial, sial!”

Alam mendengar dari dalam kamar mandi, sesekali si wajah jeruk purut merutuki diri. Dia mengeluhkan istrinya, yang selalu menuntut, yang selalu membanding-bandingkan, yang tidak pernah bisa membiarkan hidupnya tenang. Lama dia berceloteh tentang wanitanya, sampai terdengar sebuah balasan. Lambat laun jadi obrolan. Alam yang masih belum menuntaskan hajatnya, bingung. Bukannya tadi cuma ada dua orang di sini? Perasaan tidak ada orang lain masuk. Tidak ada suara pintu dibuka, kalau iya suara denyitnya pasti kentara.

Alam menangkap si pemilik suara kedua mirip sekali dengan suara si suami, hanya lebih ceria. Keduanya pun mengobrol santai. Dari nadanya, mereka sangat akrab. Mungkin saudara atau kerabat jauh. Alam berusaha tidak acuh karena ada urusan lain.

Selesai menamatkan hajatnya, Alam menemukan si wajah jeruk purut tadi sudah berganti jadi wajah matahari. Senyumnya benar-benar merekah. Mata Alam mengedar ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa lagi di situ. Lantas dengan siapa tadi bapak itu berbicara?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~


“Hidup itu susah ya, pak,” Alam menuang sabun cair di wastafel dan mencuci tangannya.

“Gak juga, dik. Saya sangat bahagia dengan keadaan seperti ini.” Senyum lelaki berkacamata ini memaksa dahi Alam berkerut. 

Mereka berdua keluar dari kamar mandi. Ekor mata Alam sempat menangkap lelaki tadi menghampiri istrinya dan membisikkan sesuatu. Alam mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu di sebelahnya yang telah menjagakan barang-barangnya. Menurutnya, seorang ibu dengan anak bayi, terlepas ada suami atau tidak yang menemani, pastilah dia adalah orang yang bisa dipercaya. Sang ibu hanya tersenyum ringan sambil terus menyusui anaknya. Wajahnya menyiratkan kegundahan. 
Alam melanjutkan bacaannya. Sesekali matanya kembali terlempar ke papan elektrik di depannya. Kira-kira apa yang dilakukan wanita itu sekarang ya? Masih empat hari lagi sebelum mereka berdua bertemu di Avenue de1 ‘Opera, menyaksikan sebuah opera yang sudah sebulan mereka nantikan. Itupun jika status pesawat yang ia nanti sedari tadi tidak lagi bertulis delayed

Suara ocehan ibu berkosmetik tebal tadi berhenti. Alam menoleh ke belakang. Rupanya si ibu beranjak pergi ke kamar mandi. Tiga wanita lainnya masih saja sibuk berbincang. Entah apa yang dibahas, suara mereka tidak sekeras si ibu dengan rias pantomim tadi, dan Alam bersyukur. Buku di tangan hanya ia bolak-balik, tidak ada minat untuk meneruskan membaca. Tangannya menjulur mencoba meraih novel Neil Gilman lain yang ia simpan di tas. Sengaja beberapa buku favoritnya dia masukkan ke dalam tas, menonton film dan mendengarkan lagu yang disajikan sebagai hiburan di pesawat baginya hanya membuang-buang waktu. Sejak kecil ia selalu beranggapan, buku adalah partner terbaik dalam sebuah perjalanan, dan Neil Gilman merupakan sosok penulis yang mampu menghadirkan ketegangan dalam hidupnya yang membosankan. Tapi sesosok wanita hadir di pikirannya, membuat Alam mengurungkan niat. Lelaki muda berjaket jeans coklat itu kembali melihat sampul buku di tangannya. 

Coraline. Sama seperti namamu ya?” Alam tertawa dalam hati. Nama Coraline menyentakkannya pada sebuah malam, setahun yang lalu.

Tidak ada yang membedakan malam itu dengan jutaan malam lainnya. Mata Alam masih saja terpaku di depan layar monitor. Hanya suara plop! dan jari sedang mengetik yang menjadi penghias suara di kamarnya. Alam selalu senang membayangkan suara jemarinya yang mengetik seperti sebuah tarian barynya; kasar, cepat, ritmis, teratur. Giginya tidak pernah berhenti mengunyah permen karet yang sudah kehilangan rasa manisnya beberapa menit lalu tapi masih bisa digelembungkan menjadi sebuah balon kecil.

Plop!

Ada komentar baru yang muncul di blognya. Pelaut_Bulan. Mahasiswa muda yang jarang sekali keluar rumah itu tergelak, apa-apaan nama itu? Alam membalas sekedarnya, mungkin hanya seorang blogger lain yang sedang melakukan blogwalking. Tapi baru beberama menit berselang, dan komentar itu dibalas lagi dengan nada yang genit. Alam menggelembungkan permen karet di mulutnya, acuh. Tapi tidak sampai di situ, Pelaut_Bulan, entah siapapun itu, tidak pernah sekalipun lupa memberikan komentar dari setiap tulisan di blognya yang isinya hanya hasil dialog antara dia dengan buku.

Alam semakin penasaran dengan Pelaut_Bulan.

Walhasil pada suatu kesempatan, dia memberanikan diri untuk menanyakan email. Tidak mungkin ia menanyakan hal-hal privat di ruang umum seperti blog, jadi email adalah pilihan yang tepat, begitu pikir Alam. Pelaut_Bulan pun membalasnya. Awalnya, Alam hanya bertanya terkait hal-hal sepele. Dari sebatas bertanya asal, tempat tinggal, hobi (rupanya mereka berdua memiliki kegemaran membaca) berlanjut ke pengalaman hidup masing-masing, curhatan-curhatan, dan yang paling sering adalah pertanyaan ‘Sedang apa sekarang?’ Semua itu dilakukan via email. Mereka berdua tidak suka aplikasi chatting yang sekarang menjamur, jadi email adalah sarana mereka berkomunikasi. Sesekali mereka berdua saling berkirim rekaman klip pendek tentang apa yang dilakukan, meski rekaman Alam tidak pernah jauh-jauh dari kamarnya sedangkan perempuan itu selalu mengirimkan video-video hasil perjalanannya ke situs-situs pariwisata mancanegara. 

Susah sekali mendapatkan jawaban nama asli dari pemilik akun Pelaut_Bulan ini, tapi ia semakin yakin jika lawan bicaranya adalah perempuan. Alam hanya memanggilnya dengan sebutan Bulan, karena wanita itu sama sekali tidak pernah memberitahukan nama aslinya. Hingga setelah entah berapakalinya Alam bertanya tentang nama aslinya, sebuah email menyapa, “Kamu cowok yang benar-benar keras kepala ya :D Nama asliku Karlina Setyawati. Tapi aku lebih senang dipanggil Coraline,” dan Alam mengerti mengapa dia senang dipanggil dengan nama itu. Karlina ingin seperti Coraline dalam cerita Neil Gilman, seorang anak perempuan dengan hidup biasa-biasa saja yang berharap agar hidupnya lebih menarik. Harapannya terkabul, tapi keinginannya berubah mimpi buruk. Saat Alam menanyakannya, “Apa kamu ingin mimpimu terkabul, tetapi menjelma setan-setan menakutkan seperti di buku?”

“Kamu tidak tahu apa-apa tentangku.” Sejak saat itu, Alam mulai hati-hati dalam bertanya.

Hubungan mereka berdua semakin bertambah intim. Coraline pun bercerita tentang rencananya menonton Masquerade yang akan diselenggarakan di Avenue de’1 Opera, Paris, dan mengajak Alam untuk bertemu di sana. Tentu saja Alam mengiyakan. Dia tidak kebingungan masalah dana, orang tuanya mampu mengabulkan segala. Lagian mereka tidak pernah peduli tentang apa yang dilakukan Alam selama kuliahnya lancar dan IPnya bagus, jadi tidak ada masalah. Sudah setahun lebih sejak mereka berdua berkenalan, dan baru kali ini Coraline mengajaknya untuk bertemu langsung, tentu saja dia tidak akan menyiakannya.

Alam tersadar bahwa barusan dia melamun. Ah, Coraline. Kembali dia melempar tatap kepada papan elektrik di depannya. Penerbangan menuju Perancis akan berangkat beberapa jam lagi, Alam bersyukur dalam hati. Seakan ada yang janggal, dia menoleh ke belakang. Ibu berkosmetik tebal tadi telah kembali dari kamar mandi, tapi tidak ada ocehan teramat keras yang terdengar dari mulutnya. Senyum seringai yang tertempel di wajahnya, hilang. Mungkin karena kosmetik tebal tadi telah luntur, batin Alam. Sepertinya ibu itu habis mencuci muka. Kembali tiga ibu-ibu tadi merapat ke arahnya. Mereka masih mengobrol, tetapi tidak ramai seperti biasa, malahan seperti saling berbisik. Entah apa penyebabnya, tiga wanita yang Alam taksir menginjak usia kepala tiga itu berjalan menuju kamar mandi. Sementara senyuman lebar masih saja tersungging di bibir lelaki berkacamata, suami si ibu yang sekarang tidak lagi berbedak tebal, kini khusyuk membaca sebuah majalah. Alam merasa aneh, kenapa sifat si ibu tadi berubah drastis. Dia jadi lebih tenang dan kalem. Diambilnya sebuah permen karet dari saku, dikunyahnya perlahan. Mungkin hanya perasaanku.

Avenue de’1 Opera tidak jauh dari Faubourg Mont-martre, lokasi apartemen Coraline. Dia telah sampai beberapa hari lalu. Dalam emailnya, dia berkata telah menyewa dua kamar di sana. Kamar mereka bakal terpisah, tapi masih dalam satu lorong sehingga memudahkan untuk saling berkunjung. Alam sudah melakukan riset dari Google, dari sepanjang jalan apartemen sampai gedung opera akan dipenuhi banyak toko butik yang pastinya sesuai dengan kebutuhan gaya hidup wanita seperti Coraline. Alam bergidik membayangkan dia bertemu dengan kerumunan orang-orang. Tapi jika ada Coraline, ketakutan itu pasti hilang. Tawa lepas Coraline yang Alam tangkap dari video-video yang dia kirim, gaya bicaranya yang blak-blakan dan terkadang kekanak-kanakan, sorot matanya yang menatap jenaka, pola pikirnya yang mencerminkan bahwa dia wanita mandiri yang mudah bergaul tapi juga mampu membatasi dan menjaga diri. Sifat-sifat yang tidak dimiliki Alam, tetapi entah kenapa membuat rutinitasnya yang menjemukan menjadi lebih berwarna.

Ibu-ibu tadi telah keluar dari kamar mandi dan mereka bertiga berjalan kembali ke tempat para suaminya. Dalam hati Alam berpikir, alasan ibu-ibu itu tidak lagi merumpi sepertinya karena telah kehabisan bahan bicara.

Buku di tangannya kembali ia tekuni. Alam melakukannya karena ia bosan melihat ke sekitar. Dia berusaha sedemikian keras untuk menghindari tatapan mata orang-orang yang sedang berjalan, orang-orang yang sedang menunggu sama sepertinya, atau bahkan ke ibu yang sedang menyusui anaknya yang sempat ia titipkan barang-barangnya saat tadi ke kamar mandi, dan sungguh, ia sangat bersyukur karena ibu itu tidak mengajaknya mengobrol.

Masih sembari membaca, ingatan Alam berkelana lagi. Dulu dia pernah berpikiran kenapa wanita secantik Coraline tertarik untuk bertemu dengannya. Apalagi di Paris! Alam bahagia bukan kepalang. Memang sedari dulu dia ingin mengunjungi The Hexagon, dijuluki begitu karena bentuk geometris teritorialnya, tapi tidak ada alasan kuat untuk itu. Setelah tahu bahwa Coraline bukanlah tipikal wanita yang memandang paras atau harta sebagai tolak ukur teman, pertanyaan Alam terjawab sudah. Meski jauh dari dasar lubuk hati, Alam selalu menginginkan jika Coraline menganggapnya lebih dari sekedar teman. Coraline pernah bercerita jika kemampuan berbahasa Perancisnya pas-pasan, dan Alam sudah bersiap-siap untuk mengajarinya. Sejak kecil orang tuanya selalu menuntut Alam untuk mengikuti kursus berbagai macam bahasa asing, dan bahasa Perancis adalah salah satu bahasa yang telah ia kuasai. Tidak ada masalah.

“Nak, numpang titip barang-barang ibu sebentar ya?” Si ibu yang sedang menyusui anaknya tadi, meletakkan barang-barangnya di samping Alam. Alam melihat sang anak tidak lagi menyusu dan sudah tertidur pulas di kereta dorong bayi yang berendakan kain biru dengan pola seekor robot kucing.

“Silahkan, bu.”

Wajah si ibu masih menyisakan gundah. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah berat, seolah-olah menahan beban berton-ton di pundak. Alam mengecek ponselnya yang barusan bersuara. Ada pesan baru di email, dari Coraline. Alam tersenyum kecil. Bergegas dia membacanya.

“Alam, maafkan aku, sepertinya pertemuan kita harus ditunda. Rumahku kebakaran. Ayahku meninggal. Saat ini mama dan adikku lebih membutuhkanku lebih dari siapapun. Sore ini aku kembali ke Depok. Kamu bersenang-senang dulu ya di Perancis, mungkin nanti akan aku hubungi lagi.”

Lelaki muda itu berusaha menyangkal apa yang ia baca. Barangkali dia sedang bercanda, meski dia tahu Coraline tidak mungkin bercanda seperti ini, tetap saja Alam tidak menepis pikiran itu.

“Kamu tidak sedang bercanda kan, Coraline?” Alam mengetik di ponsel seperti kesetanan.

Pesan itu langsung terbalas. “Kamu pikir aku bercanda? Dan please, jangan pernah panggil aku dengan Coraline lagi. Aku benci nama itu.”

Alam mematung, bingung mau membalas apa. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin. Keringat dingin mengalir di balik punggung. Dia ingin mengetik, ‘Hati-hati di jalan’, ditambah kalimat-kalimat lain untuk menghibur, tapi jari-jarinya memberontak. Lebih baik dia segera membatalkan perjalanannya ini. Tidak ada alasan untuk tetap pergi jika tidak ada dia. Alam juga tidak mau menjadi egois untuk tetap memaksanya menetap di Paris sementara keluarganya tertimpa musibah. Apalagi ayahnya meninggal dan betapa dia sangat mengidolakan ayahnya. Mata Alam sedikit berair, tapi rasa malu sebagai lelaki membuatnya tidak jadi menangis. Tubuhnya lemas. Alam baru pertama kali kenal wanita dengan sangat akrab, dan baru kali ini dia merasa jatuh hati, meski mereka belum pernah bertatap mata secara langsung, Tapi mengapa sekalinya dia berharap lebih, keinginan itu pupus sebelum terkabul? Alam menggenggam bukunya kuat-kuat. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat. Alam melihat ke sekeliling, dan semua orang di bandara beralih memuakkan. Menjemukan. Dia harus pulang, kembali ke kos-kosannya.

Si ibu sudah kembali dari kamar mandi sambil mendorong kereta bayi. Anaknya masih tertidur pulas. Dia memandang Alam dengan senyum yang merah merekah. Langkahnya ringan, seringan bulu. Di mukanya tergambar kepuasan. Sambil mengambil kembali barang-barangnya dari samping Alam, ibu itu membisikkan sesuatu ke telinganya,

“Mukamu pucat sekali, nak. Barangkali wajah di cermin bisa mengabulkan harapan, coba cuci muka dulu.” 
---
*bernama asli Umar Abdulloh. Seorang Jungian yang juga gamer unggul tapi tidak menggemari PES dan segala yang berkaitan dengan bola kaki. Mudah disogok dengan traktiran makanan.

0 comments:

Post a Comment