.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Mimpi yang Bisa Membunuhmu


Suatu hari aku mencoba mengunjungi seorang dokter, istriku yang mengusulkan. Gara-gara mimpi sialan yang telah menghantuiku belakangan ini.

Aku tidak tahu apakah dia memang dokter, dia tidak mengenakan jas dokter yang warna putih itu. Setelan baju yang dikenakan lebih mirip mahasiswa pengangguran. Ruangan ini juga tidak seperti ruangan dokter pada umumnya. Ruangan ini memang bersih, dindingnya juga dicat putih seperti klinik-klinik dokter pada umumnya, tetapi aku tidak menemukan alat-alat yang seharusnya dimiliki dokter. Yang ada malah lemari besar berisikan buku, sebuah ranjang dan benda-benda lain entah apa fungsinya.

Yang aku tidak suka dari orang ini, senyumnya memang ramah, tetapi aku tahu dia hanya mencoba menggoda istriku. Matanya saat memandang istriku bagai hyena lapar yang sedang memburu mangsa. Aku tahu karena aku juga lelaki. Berulang kali dia mencoba berkelakar sampai istriku terpingkal-pingkal, kemudian istriku membalas candaan si dokter dengan menceritakan beberapa kejadian konyol yang menimpaku, padahal seharusnya itu rahasia kami. Sepertinya mereka berdua tidak melihat tanganku yang terkepal kuat sekarang.

Aku menatap tajam ke arah dokter tersebut. Aku berharap tatapanku mampu menghentikan pembicaraan mereka berdua. Dokter muda itu sepertinya sadar, dia berpura-pura terbatuk sambil membalikkan badan. Istriku masih tertawa riang. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu. Sangat lama. Aku tidak mau berkata aku cemburu karena jika seseorang cemburu, dia akan merasakan sensasi dada yang terbakar, pikirannya hanya dipenuhi rasa amarah dan bahkan dengan kalap dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku tidak seperti itu. Pikiranku tetap jernih. Tanganku memang masih terkepal, tetapi aku tidak memikirkan hal-hal aneh lain. Aku tahu karakter istriku, dia hanya sedang mencoba mencairkan suasana. Tetapi aku tidak suka jika dia menjadikanku sebagai bahan lawakan.

Si dokter muda mengambil beberapa lembar kartu dan memberikannya kepadaku. Dia menjelaskan, di kartu itu tertulis urutan angka dari urutan paling besar ke paling kecil. Aku disuruh untuk membuka dari tumpukan paling atas, menghitung angka yang tertulis di kartu dalam hati, dan meletakkannya kembali ke susunan paling bawah, begitu seterusnya. Katanya, metode ini adalah salah satu dari sekian banyak metode hipnotis dan hipnotis adalah cara paling efektif untuk mengetahui arti mimpi seseorang atau menghilangkan mimpi buruk yang menggangu. Omong kosong, batinku. Dia menyuruhku untuk memulai membuka kartu dan menghitung. Aku tidak yakin apakah terapi ini akan berhasil, tapi aku tetap melakukannya.

Waktu terasa berjalan lambat sekali, dan aku mulai bosan. Istriku melihatku dengan tatapan aneh. Aku tidak pernah melihat tatapannya seperti itu kecuali dulu, saat aku membawa seorang pria ke rumah.

~{Klik judul untuk baca kelanjutannya.}~

Aku bertemu dengan pria itu di warung. Dia seorang paruh baya berpenampilan rapi dengan jaket coklat dan sebuah koper kecil di tangan. Sebagian kepalanya sudah terhiasi uban. Kulitnya sawo matang. Beberapa kali aku menangkapnya melihat jam tangan berwarna emas yang dia kenakan. Penampilannya terlalu mencolok untuk sekedar makan di sebuah warung murah pinggir jalan. Aku mengira dia adalah seorang eksekutif di salah satu perusahaan ternama yang kebetulan sedang mencari suasana lain selain makan di restoran terkenal. Seolah membaca pikiranku, dia menghampiriku seraya langsung memperkenalkan diri bahwa dia adalah seorang manajer cabang dari perusahaan asing. Dia juga menjelaskan, bisnis yang dia tangani sedang melejit di luar negeri sana, dan memang bisnis tersebut belum terlalu terkenal di kota kami.

Dia mengajakku bergabung, aku menolak. Meski gaji pas-pasan, tetapi kontrakku sebagai pegawai negeri menuntut untuk tidak bisa memiliki dua pekerjaan sekaligus. Dia tertawa ramah dan kembali menjelaskan, pekerjaan yang dia tawarkan tidak terlalu menuntut waktu dan bisa dijadikan sambilan. Sebuah booklet dan beberapa selebaran diserahkan kepadaku. Mulutku ternganga saat membaca nominal yang tertera, gajiku selama setahun saja tidak sebanyak itu. Tentu aku tidak mau percaya begitu saja, bahkan memandangnya curiga, tapi lagi-lagi seolah membaca pikiranku, dia menyuruhku untuk membuka booklet bagian belakang. Ada banyak sekali foto dan testimoni di sana, kebanyakan dari artis-artis pendatang. Tetapi yang membuatku lebih mengernyitkan dahi, aku mampu mengenali beberapa nama tetanggaku padahal aku kenal betul mereka: tipikal orang pintar, kebanyakan dari mereka adalah guru, tidak mungkin mereka melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Lelaki paruh baya itu mengajakku untuk melanjutkan diskusi kami di tempat yang lebih nyaman, aku menawarkannya mampir ke rumah.

Begitu membuka pintu, aku terkejut. Aku tidak pernah melihat tatapan yang begitu dingin, begitu tajam, sampai-sampai aku dibuat bergidik dan tatapan itu tidak lain berasal dari istriku sendiri. Aku baru saja memperkenalkan lelaki di sebelahku, sorot mata istriku kepadanya benar-benar memuakkan. Tamuku membalasnya dengan tersenyum ramah. Dia benar-benar profesional, batinku.

Sikap selanjutnya yang ditunjukkan istriku sungguh menjengkelkan bukan main. Dia hanya menawari secangkir teh panas dan setoples biskuit di meja tanpa berbicara sepatah kata pun, tersenyum saja tidak. Aku berkali-kali minta maaf atas perlakuan istriku, dan lelaki itu hanya mengibaskan tangan sambil tersenyum ramah. Aku heran bukan kepalang. Biasanya jika ada tamu, istriku pasti akan menyambut hangat dan duduk menemaniku sampai tamu itu pulang, tapi malam ini tidak. Aku mencoba memahami kalau mungkin hari-harinya sedang buruk, atau barangkali dia sedang datang bulan.

Kami melanjutkan perbincangan sampai larut, dan sebelum lelaki paruh baya itu pulang, aku telah menandatangani surat kontrak yang ia bawa. Sepanjang pembicaraan kami, istriku sama sekali tidak pernah menampakkan diri ke ruang tamu.

Rupanya kartu di tanganku sudah sampai angka satu. Aku baru tersadar saat si dokter muda menjentikkan jarinya tepat di depan muka. Dalam hati aku mengutuk kesal, mengapa aku tiba-tiba teringat dengan kejadian awal pertemuanku dengan si lelaki paruh baya. Aku mengusap mata beberapa kali dan melirik ke arah istriku. Dia tersenyum manis. Apakah tatapan aneh yang aku lihat saat memulai menghitung kartu tadi cuma imajinasi? Si dokter menjelaskan, semoga saja mimpi-mimpi yang selama ini menghantuiku tidak akan muncul kembali. Berhasil tidaknya terapi barusan, hanya bisa diketahui nanti di rumah. Jika aku masih memimpikan hal yang sama, mau tidak mau minggu depan kami harus ke sini lagi.

Kami berpamitan, si dokter muda mengingatkan istriku untuk tidak melupakan kata kunci yang dia berikan. Istriku mengangguk dan melangkah keluar pintu duluan. Aku bertanya kepadanya, apa yang dimaksud oleh si dokter. Istriku tidak menjawab. Sebelum aku menutup pintu, aku melihat si dokter muda melemparkan senyum. Entah kenapa aku jadi teringat senyum milik si lelaki paruh baya berjaket coklat.

Sesampainya di rumah, istriku langsung menyelonong masuk kamar. Dia sama sekali tidak membuatkanku makanan atau membikinkan teh hangat padahal di luar sedang dingin-dinginnya. Aku menghela nafas panjang. Sudah lama, aku lupa tepatnya berapa bulan tidak ada aroma masakan dari dapur atau di meja makan, jadinya aku juga sudah terbiasa untuk makan di luar.

Aku melangkah menuju kamar yang terletak di sebelah kamar kami. Kamar itu dicat biru dengan pola polkadot memenuhi dinding. Istriku yang mengusulkan, warna biru adalah kesukaannya. Dia pernah membaca buku jika ruangan yang dipenuhi pola titik-titik besar semacam itu akan mampu memengaruhi perkembangan seorang anak. Istriku selalu menginginkan jika anak kami tumbuh dewasa, maka dia harus bisa menjadi orang yang lebih baik dariku. Tentu saja aku mengamini, seorang anak harus bisa melampaui orang tuanya.

Di tengah-tengah kamar ada sebuah kipas besar. Kipas itu sudah tua, agar tidak jatuh, dulu baut-bautnya aku kencangkan dan bahkan pinggir-pinggirnya aku paku. Aku mendekati ranjang kecil yang terletak di pojok kamar. Bantal dan selimut masih terususun rapi di atasnya. Beberapa boneka berbagai ukuran digeletakkan begitu saja di sana. Ada satu lemari pakaian berwarna krem dan sebuah kursi tua meringkuk di pojokan lain.

Tanganku meraih selimut di atas ranjang dan kucium, lantas mengusap-usap pinggiran ranjang yang terbuat dari kayu itu dengan perlahan. Sudah berdebu. Seharusnya ranjang ini tidak berada di sini. Hanya lemari dan beberapa mainan yang kebesaran saja yang ada di kamar ini, tetapi ranjang kecil ini seharusnya berada di samping ranjang kami. Aku terpaksa memindahkannya gara-gara dulu saat kami pulang, istriku yang melihat ranjang ini tiba-tiba berteriak histeris. Tangannya mulai mencakar-cakar dinding, menjambaki rambut tebalnya, kemudian mencakari wajahnya, dan aku harus benar-benar menahan tangannya agar wajahnya yang cantik tidak terluka. Dia meronta-ronta, aku hanya bisa memeluknya dengan kuat. Hanya sekali, tapi kejadian itu cukup memaksaku untuk memindah ranjang ke kamar dan ini dan menguncinya rapat-rapat. Tidak pernah aku biarkan kunci tersebut lepas dari jangkauan, meski ke kamar mandi sekali pun.

Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya. Pertanyaan yang masih sama dari setahun lalu, siapa yang bersalah? Bukan aku, tentu.

Pada hari itu aku sedang merekrut anggota baru untuk pekerjaan yang ditawarkan oleh si lelaki berjaket coklat. Dia telah menjanjikanku uang yang mengalir deras ke rekening jika aku berhasil merekrut karyawan baru sesuai jumlah yang diinginkan.

Dan memang benar, ketika malamnya kami bertemu, dia memuji-mujiku. Katanya, potensiku terlalu besar untuk sekedar diperbudak sebagai petugas swasta. Lebih baik aku menjadi karyawan tetap di perusahannya. Lagi-lagi aku tolak, meski sepertinya dia tahu jika aku hanya basa-basi. Sebenarnya aku ingin sekali melepas pekerjaanku yang lama dan membosankan. Merekrut orang dan menikmati uang yang didapat setelah hanya menyetor beberapa juta, tetapi keuntungan yang didapat berkali-kali lipat, itu pekerjaan yang mudah. Aku bisa melakukannya dengan mata tertutup. Aku melihat ke para kolegaku yang lain, mereka sangat senang dengan keberhasilanku. Si lelaki berjaket coklat, ah maaf, maksudku si manajer, memberiku hadiah. Meski dia mengaku posisi kami sama, aku memanggilnya manajer karena dia telah memberiku jam tangan emasnya yang berkilauan. Sungguh bangga aku dibuatnya. Dia tersenyum kepadaku. Senyum yang sama saat pertama kali kami bertemu.

Padahal sejak aku membawa lelaki berjaket coklat itu ke rumah, istriku selalu melarangku untuk menemuinya lagi. Makanya aku tetap melakukan pekerjaan yang diberikan manajer, tetapi sengaja merahasiakannya dari istriku. Aku tidak paham apa alasannya melarangku dan tertawa ketika mendengarnya bilang instingnya berkata lelaki itu tidak bisa dipercaya. Aku menegur istriku dengan halus, jika instingnya benar, tidak mungkin tetangga-tetangga kami yang pintar itu juga ikut bekerja dengan si lelaki paruh baya, Jika insting istriku memang benar, maka setiap kali aku, si manajer dan para kolegaku yang lain bertemu, seharusnya mereka tidak akan saling membanggakan mobil atau rumah baru.

Kesalahanku mungkin cuma satu. Hapeku mati. Hape selalu kumatikan setiap berkumpul dengan manajer agar tidak terganggu. Pada malam itu aku baru menyadari seusai kumpul, ada belasan panggilan yang tak terjawab. Aku segera menelpon balik, tidak diangkat. Istriku tidak pernah mengangkat telponku sebelumnya. Karena panik, tidak peduli ada lampu merah, aku terus memacu mobil agar cepat sampai rumah.

Kakiku bergetar begitu melihat istriku tergeletak di atas lantai. Genangan darah di bawah tubuhnya merembes sampai pintu masuk. Sepertinya dia pingsan sebelum berhasil membuka pintu. Aku segera menghampirinya. Dia masih bernapas. Darah di sekujur tubuhnya berasal dari perutnya yang sudah membesar. Istriku terjatuh dengan posisi perut di bawah. Mukaku semakin pucat. Hape istriku berbunyi, ayahnya yang menelpon. Tidak aku angkat, dia tidak mungkin bisa membantu. Aku segera menggotong istriku ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit.

Setelah beberapa minggu dirawat di rumah sakit, kami pulang. Istriku langsung menjerit histeris begitu melihat ranjang kecil di kamar kami. Dia juga sering meraung-raung sendiri tiap malam. Aku berusaha menenangkan dengan memeluknya, atau menciumnya ringan, tetapi percuma. Setelah berkunjung ke beberapa dokter, istriku tidak menampakkan gejala sembuh. Dia baru berhenti meraung-raung setelah mengunjungi salah seorang dokter yang disarankan ayahnya. Aku tidak tahu dokter mana karena aku tidak mengantarnya. Ayahnya menolakku untuk ikut serta. Tidak apa-apa, yang jelas aku senang ketika beberapa hari kemudian dia pulang dan tidak pernah lagi menjerit histeris malam-malam, tetapi aku sedih karena wajah cantiknya berubah semakin tirus. Perutnya yang sempat membesar sudah mengecil sekarang. Saking kurusnya, aku bahkan bisa melihat tulang tubuhnya mencuat dari balik kulit. Dia jarang makan. Mungkin sesekali aku mendapatinya minum air putih, itu saja. Berkali-kali aku memaksanya untuk menelan roti atau buah yang kubeli, tapi dia selalu memuntahkannya.

Illustration taken from boredpanda.com
Kemudian beberapa bulan setelahnya, istriku melamar untuk menjadi guru sekolah dan diterima. Aku selalu yakin, jika tekadnya sudah bulat, dia bisa melakukan apa saja. Tetapi dengan tubuhnya yang semakin ringkih, aku heran dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk pergi mengajar. Istriku selalu menolak untuk diantar, dan pergi ke luar hanya dengan menggunakan transportasi umum. Aku tidak tahu apakah dia sempat makan di sekolah, karena aku jarang melihatnya makan di rumah. Sampai suatu hari aku menyempatkan diri ke sekolahannya sepulang kerja. Aku berdiri di luar kelas, sebisa mungkin berdiri di tempat yang tidak bisa dilihat istriku dari dalam. Aku heran bukan main melihat senyum yang mengembang di wajahnya ketika mengajar. Di rumah, jangankan tersenyum, berkata pun tidak. Setiap kali aku bertanya atau mencoba memulai pembicaraan, pasti tidak digubris. Sempat aku menegurnya kenapa tidak pernah ada masakan di dapur, dia pasti segera masuk ke kamar dan menutupi dirinya dengan selimut. Pernah kami berbicara, tetapi selalu dia yang memulai, dan dia selalu memulainya dengan pertanyaan yang aku jawab sekenanya.

Dan ketika aku melihatnya mengajar dengan ceria, aku merasa, aku semakin memahami istriku. Rasa penasaranku hilang sudah. Aku sempat mengira, selepas pulang dari rumah sakit dan dengan keadaannya yang seperti itu, tidak heran jika akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidup. Meski tentu, aku akan mencegahnya sekuat tenaga. Tetapi sepertinya aku terlalu berprasangka. Istriku adalah orang yang kuat. Mungkin dengan pergi mengajar itulah satu-satunya cara untuk menghilangkan kesedihannya.

Istriku juga tetap tenang meski akhirnya dia mengetahui bahwa meski dia larang, aku tetap bertemu dengan si manajer dan bahkan bekerja untuknya. Istriku tidak pernah protes meski aku menjuali beberapa peralatan rumah, bahkan ketika mobilku terpaksa aku jual dan menukarnya dengan sebuah motor otomatis. Aku butuh uang untuk disetor kepada manajer. Dia berjanji semakin besar uang yang aku investasikan kepadanya, semakin besar pula keuntungan yang akan aku peroleh. Para karyawan, termasuk aku, akan menerima uang yang telah mereka investasikan sebesar tiga kali lipat di setiap akhir tahun. Itu kata manajer. Istriku tidak tahu-menahu tentang investasi yang aku buat. Mobil ditukar motor hanya agar lebih praktis di jalan, itu saja yang aku bilang. Bahkan ketika pada akhirnya istriku tahu bahwa pada malam dia jatuh pingsan aku baru saja pulang rapat bersama lelaki yang dia benci, dia sama sekali tidak menampakkan ekspresi apa-apa. Istriku benar-benar orang yang sabar.

Aku menarik napas panjang. Kenangan-kenangan barusan benar-benar melelahkan. Entah kenapa hari ini aku jadi semakin sering bernostalgia. Aku melihat ke sebuah pigura yang terpajang di dinding kamar. Kami tampak bahagia sekali di foto. Dia duduk di kursi, sedangkan aku berjongkok sambil memeluk perut istriku yang sudah membuncit. Aku sangat menantikan masa-masa ketika kami bisa tersenyum dan tertawa kembali. Tapi sudah setahun lamanya, tidak pernah ada lagi tawa canda yang menghiasi rumah ini. Aku melihat foto itu kembali, dan bertanya-tanya, apa arti dari mimpi yang selama ini menghantuiku?

Mimpi-mimpi itu selalu membuatku terbangun tengah malam. Aku sedang melarikan diri dari sesuatu, atau seseorang, aku tidak tahu. Setiap kali aku menolehkan wajah untuk melihat siapa atau apa sosok itu, pasti leherku kaku. Aku terus berlari sampai kemudian terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Lubang itu sangat gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa. Tanganku berusaha menggapai-sesuatu ke sana kemari tetapi tidak ada yang bisa dipegang. Kakiku menendang ke atas, ke bawah, tanganku juga memukul ke mana-mana, tapi sepertinya lubang itu memang tak memiliki tepi, atau dasar. Tahu-tahu aku terbangun dengan keringat dingin. Aku heran kenapa aku bisa bermimpi seperti itu. Semoga saja malam ini tidak terulang.

Aku hampir meletakkan kembali selimut yang aku pegang ke atas ranjang, saat aku menyadari rupanya istriku sedang berdiri di dekat pintu. Celaka, bisa-bisa dia histeris lagi! Aku bergegas mendekatinya.

Kamu tidak apa-apa?”

Dia menatapku dingin.

Aku membencimu sejak kamu membawa lelaki itu ke rumah.”

Aku menatapnya heran.

“Kalau saja pada malam itu kamu tidak berkumpul dengan para keparat itu!” istrku mulai terisak, “kalau saja kamu tahu, lelaki itu dan semua tetangga yang pernah kamu banggakan, mereka semua penipu! Aku tahu itu semua dari guru-guru lain di sekolah. Kamu telah membiarkan lelaki itu merusak keluarga kita dan kamu tidak menyadarinya. Apakah kamu menyesali perbuatanmu? Tidak. Kamu malah semakin sering membuang-buang waktumu dengan mereka!””

Apa maksudnya? Aku heran kenapa tiba-tiba masalah ini diungkit padahal sebelumnya dia tidak pernah mempermasalahkannya. Aku juga bingung kenapa dia menyebut kawan-kawanku sebagai penipu. Aku sedikit mengangkat tangan untuk menyela, tetapi kuurungkan niat, lebih baik aku biarkan dia selesai bicara.

Kamu sudah menjuali barang-barang rumah kita, bahkan kamu telah menjual mobil yang sudah kita dapatkan dengan susah-payah. Apa kamu kira semakin banyak uang yang kamu setor kepada para penipu itu, semakin banyak uang yang akan kamu dapat? Aku semakin membencimu karena kedunguanmu. Aku sangat membencimu karena gara-gara kamu dan lelaki itu...” istriku sesenggukan dan terdiam sebentar. Sepertinya dia ingin menyebutkan sesuatu tetapi tidak bisa. Telunjuknya yang basah karena tangis menuding-nudingku.

Aku ingin membuatmu menyesali perbuatanmu, tapi tidak mungkin. Kamu terlalu sombong untuk mengakui kesalahan-kesalahanmu, dan aku bertanya-tanya… apa cara paling mudah untuk membuatmu menyesal dan merasakan penderitaan yang selama ini aku alami?”

Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari mulut istriku sendiri. Aku tidak tahu selama ini dia menyimpan kebencian yang begitu hebat terhadapku. Aku kira dia wanita yang sabar dan pemaaf.

Istriku masih berceracau. “Kamu ingat, dulu ayahku pernah membawaku ke seorang ahli. Setelah aku diterapi, dia berhasil menghipnotisku untuk melupakan kejadian pada malam itu. Aku pernah menghubunginya suatu kali dan bertanya, apakah dia bisa menghipnotis seseorang untuk melakukan sesuatu? Dia bilang, bisa. Dengan satu kata kunci tertentu, seseorang dalam pengaruh hipnotis akan melakukan sesuatu yang telah ditanamkan ke alam bawah sadarnya.”

Dulu saat pertama kali pulang dari rumah sakit dan melihat ranjang anak kita, aku seperti melihat sesosok bayi yang berlumuran darah. Aku menangis dan menjerit sekuat tenaga. Aku tidak lagi melihat sosok itu, tetapi kamu pasti tidak tahu. Mungkin dengan mengulangi kejadian yang sama, aku bisa berpura-pura menjerit histeris dan akhirnya bisa mengajakmu ke tempat dokter itu. Tapi percuma, kamar ini selalu kamu kunci. Aku mencari-cari ke mana kuncinya, sepertinya terus kamu bawa. Aku jadi kehabisan akal bagaimana cara untuk mengajakmu ke sana sampai beberapa hari yang lalu kamu mengeluh, setiap kamu tidur, kamu pasti dihantui mimpi-mimpi buruk. Aku bersyukur kepada Tuhan, akhirnya aku menemukan satu alasan yang tepat untuk bisa membawamu ke sana.”

Aku langsung menyusun rencana. Aku menjelaskan keinginanku kepada si dokter dan memintanya berpura-pura mengobatimu dengan hipnotis. Sebenarnya dia tidak mengobatimu, tetapi menghipnotismu agar kamu terus mengingat-ingat kesalahanmu dan dengan kata kunci yang telah dia berikan, begitu mendengarnya kamu akan mengalami penyesalan yang sangat dalam. Semakin banyak kamu menyadari kesalahanmu, semakin besar penyesalan yang muncul. Aku kira hipnotis tadi sudah menunjukkan hasil. Kamu pasti mulai terbayang kenangan-kenangan yang menjadi bukti kesalahanmu. Hentikan memandangku seperti itu! Aku tahu kamu sedang berpikir, aku melantur. Aku tidak tahu apakah kamu menyadarinya, tetapi kamu sudah membuka kamar ini setelah sekian lama terkunci. Apa kamu ingat, jika anak kita lahir, akan kita beri nama apa? Iya, benar, Anita. Itu kata kuncinya.”

Tubuhku mati rasa mendengarnya.

Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelah kamu menyesali perbuatan-perbuatanmu, aku hanya bisa menuntunmu. Aku akan mengurus yang lainnya nanti. Bagus, tatapanmu kosong sekarang. Sekarang di tanganmu ada selimut yang seharusnya menjadi milik anak kita,” istriku menuding ke arah kursi tua di pojok kamar dan kemudian telunjuknya beralih ke arah kipas di atap, “kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan jika kamu telah menyesali perbuatanmu?”

0 comments:

Post a Comment

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software