.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Pareidolia



 Dia tahu bahwa dalam profesinya, sabar adalah kunci segalanya. Maka ia menahan diri untuk memaksa. Bak seorang profesional, posisi duduknya kembali ia atur, lalu masih dengan pena di tangan kanan, ia kembali bertanya.


“Mari saya ulangi lagi ya, pak Malik. Dari tadi percakapan kita masih berputar-putar. Saya mohon partisipasi anda dengan teramat sangat,” kata demi kata ia atur dengan sehalus dan serapi mungkin agar tidak timbul perasaan melawan dari klien yang dihadapi. Sebenarnya dia ingin mengatakan, Yang bermasalah itu anda! Tapi buru-buru dia kubur dalam hati.

“Fokus ya pak. Tadi pak Malik sudah menjelaskan mimpi yang kerap menghantui bapak. Sekarang, saya ingin tahu apa yang bapak lihat dari gambar ini.” Nada tiap kata masih sopan. Masih halus dan tertata. Lantas dia mengeluarkan sepotong kertas bercorak hitam seperti gambar tinta tumpah dari balik meja.

Yang ditanya justru tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali saat pertama kali dia memasuki ruangan ini, kesan minimalis benar-benar sangat terasa. Kecuali satu pelapis dinding bergambar sebuah  ular besar berwarna putih dengan latar belakang hitam gelap yang terpampang dengan jelas di hadapannya sekarang. Ular tersebut membentuk sebuah lingkaran dengan ujung kepala hampir bertemu dengan ujung ekornya, seakan-akan ingin menggigit ekornya sendiri. Aneh, gumam Malik.

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Kini matanya berputar, mengamati sekitar lebih seksama. Di dekat jendela terpasang foto seseorang. Hitam putih. Ada tanda tangan di pojok kanan bawah. Mata Malik menangkap tulisan C.G. Jung samar-samar. Tapi bukan ini yang dia cari. Di mana jam? Pukul berapa sekarang? Sialnya dia malah menemukan foto SBY di pojok lain. Sedang seorang lelaki yang ia yakin umurnya tidak lebih tua darinya, duduk di depannya, terpisah meja kerja dan masih menatapnya lekat, menunggu jawaban. Papan nama bertuliskan ‘Prof. dr. Indra Susilo, SpKJ’ menempel di kemejanya. Nama yang sama seperti yang tertulis di plakat depan pintu.  Lagi-lagi sensasi aneh menyergap Malik. Dia membayangkan ular putih yang ia lihat tadi di balik punggung orang tersebut sedang mengintip ke arahnya.

Malik melipat tangannya di depan dada. “Saya tidak ingin waktu konsultasi ini bertambah panjang.  Saudara yang nantinya untung, tapi saya yang buang uang.  Jadi barusan ini permintaan terakhir saya, bisa dipahami kan, dokter?” Malik balas bertanya. Yang dipanggilnya ‘dokter’ hanya tersenyum simpul. Sebenarnya Malik tahu dokter bukanlah julukan yang tepat, melainkan psikolog. Tapi di mata Malik, mereka semua adalah dokter. Bukankah mereka wajib menyembuhkan penyakit orang-orang yang datang kepada mereka? Paling tidak mereka mampu memberikan jawaban.

Malik melihat ke arah kertas yang disodorkan si ‘dokter’. Alis matanya terangkat sebelah.

“Ini… peta kota Malang,” sesaat Malik meragu. “Ya kan?”

“Kota Malang?”

“Iya! Lihat, cekungan seperti teluk di sebelah kiri, dan..”

Indra sedikit terhenyak. Dia bingung antara lumrah atau justru Malik-lah yang terlalu overreaktif. Memang Malik adalah seorang bupati Malang, tetapi sampai impresi denah kota Malang begitu melekat di pikirannya, Indra geleng-geleng. Mungkin hipotesaku benar. Sementara Malik masih berbicara panjang lebar. Indra sudah menulis beberapa catatan.

“Terima kasih penjelasannya pak. Sekarang saya minta bapak untuk menulis,” ucapnya sambil mengambil kertas tinta tumpah dan menyodorkan selembar kertas kosong. “Coba bapak tulis dua puluh kalimat pernyataan dimulai dengan kata ‘Aku’.”

“Dua puluh?”

“Iya.”

Malik berpikir sejenak, ragu. “Apa saja?”

“Terserah anda,” Indra tersenyum. Malik mengambil sebatang pena yang sudah tersedia di meja, diam sebentar, lalu mulai menulis.

“Baik, ini.” Malik menghembuskan nafas agak panjang sambil menyerahkan tulisan yang menurutnya tak berguna itu. Indra menerima kertas tersebut dengan heran. Seharusnya, tes ini dijalankan dengan batas waktu, maksimal lima menit. Tetapi Malik menyelesaikannya dalam kurun waktu di bawah itu, meski saya sendiri sengaja tidak memberi batasan. Hmm, bisa terbaca. Sepertinya sekali lagi, saya benar, gumam Indra dalam hati.

Sejenak Indra menyusun semua informasi yang ia baca dari kertas itu, membandingkannya dengan data yang sudah tersimpan di otak, lalu kembali berkata:

“Terima kasih untuk kesediaan pak Malik…”

“Sebenarnya anda bisa membantu saya nggak?” potong Malik. Ekspresinya sedikit garang. “Dari tadi saya ke sini, saya cuma dikasih tes ini, diberi pertanyaan ini, disuruh nulis itu! Saya ke sini minta solusi, bung! Kok malah diberi pertanyaan?”

Indra menahan nafsunya untuk membalas sindiran Malik dengan sarkasme. “Maaf pak Malik, sama sekali saya tidak bermaksud menyusahkan bapak. Ini hanya prosedur biasa agar saya bisa mengetahui segala hal yang berkaitan dengan bapak, karena nantinya akan memudahkan saya dalam memberikan solusi yang terbaik untuk bapak.” Lagi-lagi Indra tersenyum. Dia sudah mengerti bagaimana memalsukan perasaan, jadi ia mengerti bagaimana tersenyum tanpa bermaksud mengintimasi lawan bicara. Ia tersenyum, senyuman palsu yang sangat tulus sehingga begitu melihatnya, emosi Malik sedikit mereda.

“Terserah lah! Saya cuman ingin cepat selesai. Saya orang sibuk, bung.”

Indra tergelak. “Iya pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin,” dia melihat posisi duduk pak
Malik kembali rileks. Saat yang bagus untuk kembali bertanya.

“Sekilas dari apa yang saya baca di kertas tadi, bapak tidak percaya kepada siapapun kecuali diri bapak. Benar begitu?”

Malik terbahak. “Saya tidak butuh pegawai yang tidak becus untuk menangani urusan yang bisa saya tangani sendiri. Andai memungkinkan, saya lebih memilih untuk meng-kloning diri saya dan menjadikannya sebaga pegawai. Untuk sekretaris juga.”

“Bagaimana keadaan rumah tangga bapak? Ehm, maksud saya, dengan istri dan dua anak bapak yang tidak lagi…”

Lagi-lagi Malik menyela. “Ah, mereka. Bikin pusing saja. Mereka tidak bisa mengerti, jadi bupati itu susah! Tapi mereka selalu mengganggu. Kedua anak saya selalu merengek ditemani bermain. Terus untuk apa saya menyewa pembantu? Si Imah juga selalu mengomel, berkata apakah saya sudah tidak mencintainya? Saya benar-benar terbahak. Apa cinta harus selalu berkata ‘sayang’ setiap waktu, dok?”

“Tidak,” Indra merespon sesuai jawaban yang diharapkan Malik.

“Iya, tapi dia tidak juga mengerti. Bodoh! Ah, sudahlah. Saya sendiri terlalu pusing mengurus kota ini. Apalagi dengan keputusan menteri yang baru,” Malik masih tetap merutuk. Sebelah bibir Indra tersungging sedikit.

“Empat juta untuk setiap keluarga itu, ya pak?”

“Benar bung! Jika anda tidak arif akan kabar di luar kantor sempit ini, lebih baik jualan rujak saja di Gajahyana,” Malik terkekeh. Indra ikut tertawa, meski dia tahan sedikit.

“Empat juta itu uang yang tidak banyak. Apa mungkin setiap keluarga sanggup menerima dana 4 juta setiap bulan dan mampu menggunakannya dengan baik?” Malik menatap si ‘dokter’. Indra langsung tanggap.

“Mengapa anda berpikiran jika mereka tidak mampu mengelola dana itu?”

“Banyak hal, bung. Warga Malang itu materialis dan ambisius. Warisan Ken Arok mungkin. Jangan kira titisan Ken Arok cuma tersebar di wilayah Singosari saja, tidak! Semua orang Malang itu keturunannya Ken Arok. Makanya, anda berambisi untuk menyembuhkan penyakit saya, meskipun saya tidak bisa melihat anda berusaha. Saya ingin Malang ini lebih baik, lebih besar, lebih maju SDM-nya daripada orang-orang Jakarta, itu ambisi. Rektor Universitas Brawijaya ingin menjadikan kampusnya jauh unggul di atas kampus rata—rata seperti Unisma atau Unmer. Itu juga ambisi! Saudara mengerti, kan?” 

Profesi psikolog menuntut Indra agar ia sanggup memaksa klien untuk selalu berbicara, karena dari tiap kata yang keluar dari mulut klien, akan muncul pola yang semakin gamblang, semakin jelas, semakin terang terlihat jalan pikiran klien dan masalah yang ia hadapi. Tetapi tidak berarti seorang psikolog harus selalu mengiyakan pernyataan klien.

“Orang besar seperti bapak rata-rata terpenjara dalam pikirannya sendiri. Semakin besar status seseorang, biasanya semakin sakit jatuhnya,” Indra memperhatikan perubahan raut wajah Malik.
“Ambisi ada dalam diri setiap manusia, pak. Tapi apakah ambisi tersebut bisa dikuasai dengan baik, hanya sedikit yang bisa.”

“Maksud saudara?” Malik menatap sengit.

“Tidak ada maksud serius, saya hanya membantu menemukan solusi untuk masalah  pak Malik.” Indra memaksakan senyum palsunya lagi.

Malik mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dengan membantah perkataan saya? Dengar bung, kalau pegawai saya seperti saudara, sudah lama saya pecat! Dana empat juta tadi bung, saya takut disalahgunakan oleh orang-orang awam. Yang mereka tahu cuma bagaimana melengkapi kekurangan hidup keluarga, itu saja. Tahu apa mereka tentang infrastruktur? Tahu apa mereka tentang Taman Kota dan Masjid Agung yang sudah saya renovasi agar lebih indah. Biar bagus. Biar turis-turis itu datang ke Malang dan berkata, ‘Malang lebih cantik daripada Bali.’ Tahu apa mereka tentang gelar Kota Pendidikan yang susah payah saya perjuangkan? Tidak ada!”

Indra melihat reaksi Malik yang cukup berbahaya untuk diteruskan. Dia segera memutar otak. Solusi untuk masalah yang dihadapi Malik sebenarnya mudah, tetapi ia harus mengakuinya sendiri. Kalau tidak, percuma. Dan salah satu caranya, klien harus dalam keadaan rileks, tenang.

“Saya yakin semua warga tidak terlalu skeptis seperti yang pak Malik pikir. Bapak sendiri bilang, orang Malang ambisius. Tapi dibalik ambisi tersebut, ada kekuatan berpikir yang mendukung. Tentunya bapak tidak bisa menjadi bupati jika warga Malang tidak setuju, ya kan?”

Sepertinya ucapan Indra mengena. Malik kembali duduk bersandar.

“Saudara benar-benar pintar bermain kata. Sudahlah, yang jelas dana empat juta untuk tiap kepala keluarga akan saya pegang dan saya pergunakan sendiri. Saya mengerti Malang ini bisa dan harus dibawa kemana. Dengan semua dana total yang tersimpan, saya bisa membangun Malang yang lebih baik! Saudara harus tahu itu. Kalau saya berkehendak, tidak ada yang bisa melawan,” ucapnya terkekeh.

Waktu sudah berjalan terlalu lama. Indra segela mengeluarkan kartu As yang ia simpan. Kartu yang sedari tadi ia tahan dengan sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkannya di saat-saat awal. Kartu yang sekaligus bisa merubah nasib Malik.

“Tenang pak, saya sepenuhnya setuju dengan ide bapak. Tapi bisa kita bahas kembali nanti, sekarang saya ingin menjelaskan alasan utama pak Malik datang ke sini. Tentang mimpi bapak.” 
Malik mengeryitkan dahi.

“Hmm, ya. Maksudnya apa?”

“Bapak bermimpi mengenai ular hitam yang menelan sebuah batu hitam, dan spontan ular itu terbakar. Dari apa yang bapak kemukakan sejak awal, ditambah dengan hasil obrolan kita, saya bisa menyimpulkan. Sepertinya, mimpi itu isyarat. Pertanda.”

“Maaf bung Indra, tolong jangan muluk-muluk. Saya benci berputar-putar.”

“Menurut saya, pak, ular hitam itu anda. Batu hitam adalah kota yang bapak pimpin sekarang ini. Pak Malik adalah orang yang obsesif dan ambisius dan bapak tidak bisa sepenuhnya mempercayai orang. Dari kasus yang sering saya tangani, bisa jadi tidak lama lagi bapak akan tergeser dari kursi bupati. Pegawai-pegawai yang bekerja dengan bapak sekarang ini tunduk dan patuh bukan karena hormat, tapi takut. Di hadapan mereka, anda bak seorang ular yang siap menerkam kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, sekecil apapun kesalahan itu. Jadinya, mereka selalu bekerja karena tuntutan.” Indra menarik nafas.

“Saya akui, pak Malik adalah orang yang hebat. Tapi krisis kepercayaan yang bapak miliki, bisa jadi menyebabkan kolega kerja sekitar anda saat ini sedang menyimpan hasrat dan menunggu momen yang tepat untuk menggulingkan bapak. Bapak harus berhati-hati, bisa jadi bapak sendiri sudah menyadari hal ini. Dan alam bawah sadar pak Malik memprosesnya menjadi sebuah imej hingga terlahir menjadi mimpi yang kerap menghantui bapak.”

Malik terpekur. Yang diucapkan ‘dokter’ Indra mengena. Tapi dia juga sadar, jika dia masih bersikeras untuk tidak bisa mempercayai orang lain, pastinya yang semula dikatakan ‘dokter’ bisa menjadi kenyataan. Akhirnya setelah basa-basi sebentar, Malik pamit unjuk diri. Indra terus memasang senyumnya hingga akhir, dan Malik berpikir dalam hati, jika ia merubah pemikiran kolotnya, maka ‘dokter’ muda inilah yang akan menjadi orang pertama yang ia percayai sepenuhnya. Malik pun keluar dari pintu, perasaannya lega. Meski bayangan ular putih yang ia lihat di ruangan si ‘dokter’ terus terbayang.

Tinggallah Indra sendiri di kantornya. Sambil membereskan beberapa catatan, ia meraih ponsel dan menekan beberapa tombol.

“Bapak Abraham Somad? Benar kecurigaan bapak. Rupanya pak Malik masih menyimpan dana yang dianggarkan Menteri Keuangan itu. Dan ia ingin menggunakannya untuk proyek pribadi. Iya, saya mengerti. Baik, nanti akan saya urus laporan tertulisnya. Terima kasih atas kepercayaan bapak kepada saya.” Indra menutup ponselnya. Rupanya ada satu yang tidak diberitahu Indra kepada pak Malik. Ular putih merupakan musuh alamiah ular hitam.

0 comments:

Post a Comment