.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.



Sepi mengantar kamboja turun ke kawan
hingga berhantu dikoyak malam-malam purnama
Mendengar sebentuk senyap dilantun gitar
mampir dan tersesat, dari sebongkah hati lenyap 

Kalong-kalong dungu bilang itu orang -
gila, baik nasibnya
Tak khawatir separuh wajah dibentuk
atau sepasang mata yang sama lain tak melihat

Bukan sayap ia kepak
tapi sepasang bara yang sempat ia tahan

Ditangkapnya seorang gadis berkejaran dengan bayang
Takut serupa karma menjadi langkah beban 
Ramai di belakangnya puluhan setan menjelma merah
dan kelelawar yang begitu saja tertawa


Mau mati rasanya pekak membingar
Ditutup tawa dan kabut tebal
dikiranya kelimut, membentuk selimut
musuh dibalik itu tak tampak

Mati saja dihadang pasukan hujan
melati melentik putihnya menghitam
Dikira angin membuat lega
Ah, perih menusuk di bawah sana!

Mau mati melihat cahaya itu kembali
Yang datang, mereka sumringah
Siapa teriak?
Surti menangis di bawah pohon Jati

Puisi bukan semena-mena untaian kata-kata yang indah yang diracik sedemikian rupa, dengan maksud tertentu, lantas disuguhkan begitu saja seperti melepas burung dari kurungan menuju alam bebas. Kemudian pujian demi pujian bertubi-tubi datang. Ada yang memuji diksi, ada yang memuji metafora, ada yang mengkritik sudut pandang.

Puisi bukan sekedar karya yang tertuang untuk menuai sanjung. Juga jangan disempitmaknakan sebagai ‘puisi kamar’. Sekedar sebuah karya hasil curhatan yang meletup sesat, tidak ada simbiosis dari fenomena sekitar atau tidak mampu menenggelamkan pembaca dalam melankoli penyair. Walhasil, cuma kata-kata serapah yang dibalut madu jadinya. Atau katakan, ungkapan-ungkapan rindu dibalut kemelut yang menebar simpati. Bakal hangus oleh waktu jika ‘perenungannya’ kurang.

Jika diibaratkan puisi sebagai fondasi, maka pantun sebagai bagian kesusasteraan Indonesia adalah tonggak sejarah peradaban Indonesia. Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen.), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.

Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa, memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.
Maka, sebenarnya apa itu puisi?

~{x-Klik judul untuk baca kelanjutannya.-x}~

Kami Pemuda Utopia...

Ideal pemuda menjadi kunci masa depan bukanlah utopia. Menyorot kasus anarkis yang dilakukan para senior sampai menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa ITN Malang, sebenarnya bukan berita baru. Tetapi peristiwa lama yang sering berulang, jika dibiarkan, akan menjadi hal yang lumrah. Bahkan bisa berakar menjadi kebiasaan jika tidak ada langkah preventif yang diterapkan sebagai solusi. Belum lagi berkembangnya tradisi pop yang menyeleweng, maraknya generasi konsumtif serba instan dan condong hedonis  yang semakin menjangkiti generasi muda sekarang dan banyak hal lain yang semakin mengaburkan harapan akan menjadi generasi pemuda sekarang.

Permasalahannya, dalam kasus ini, siapakah yang bersalah? Apakah patut kita menyalahkan generasi muda saja? Ataukah lembaga dan institusi pendidikan? Bisa jadi orang tua dan lingkungan sekitar-lah tempat kita menuding sebagai pucuk penyebab degenerasi moral para pemuda?
Beragam faktor dan variabel yang muncul ketika membahas kemerosotan moralitas suatu generasi menjadikan kasus ini tergolong unik. Maka dalam memecahkan persoalan tersebut, tidak bisa sekedar melalui satu perspektif, harus diurai satu-persatu pelbagai fakotr yang terkait, baru bisa dipreteli satu persatu.

Dalam Psikologi Pendidikan, sebenarnya sudah diperkenalkan tiga faktor utama pembentuk dan pemengaruh karakter seseorang, yaitu: rumah, sekolah dan lingkungan. Keluarga, kerabat dan segala media edutainment yang terdapat di rumah, baik visual, cetak maupun audio, semuanya merupakan sarana pembentukan karakter dan paradigma. Jelas faktor utama adalah yang pertama. Interaksi yang lahir antara sang anak dengan pelbagai perkakas kehidupan di sekitar ia berdiam, kemudian segala informasi yang ia tangkap dan ia proses tatkala berumur 1 – 6 tahun, akan menjadi patokan akan menjadi seperti apa dia akan berkembang. C.G. Jung menyatakan bahwa memori seorang anak pada umur belia masih belum sanggup memilah informasi yang ia terima. Apapun akan ia lahap. Hal ini sepertinya diikuti oleh Dorothy Law Nolte, seorang penulis asal Amerika yang terkenal akan puisinya, “Children Learn What They Live:

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


Dorothy Law Norte
Sedikit terjemahan bebas dari puisi tercipta pada tahun 1972 tersebut, Dorothy mengatakan bahwa seorang anak akan belajar memaki jika ia dibesarkan dengan celaan, ia akan selalu menyesali diri jika selalu dihina, ia akan belajar percaya diri jika selalu dimotivasi, dan seorang anak akan belajar menemukan cinta jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan. Tetapi tentu saja, pernyataan tersebut tidaklah akurat. Dalam faktualnya, akan banyak faktor yang mempengaruhi diri seorang anak dalam perkembangannya dan membentuk suatu pola teratur dalam setiap orang. Jung menyebutnya sebagai arketipe.

Peristiwa yang  menimbulkan jejak kuat pada memori seorang anak, boleh jadi akan menjadi pemicu baginya dalam pelbagai tindakan yang akan ia lakukan saat besarnya nanti. Kasih sayang yang diterima seorang anak sejak dini, tetapi terputus total karena perlakuan dari si orang tua pada umur 10 – 15 tahun misalkan, akan menyebabkan sang anak lari mencari rasa nyaman dan apresiasi dari teman sebayanya. Akibatnya, rumah baginya tidak lagi sebagai tempat anak berpulang, melainkan hanya sebuah media ‘kosong’ yang malah semakin menambah beban mental. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pelepasan segala penat yang ia dapatkan di luar rumah, berubah menjadi alat lain penambah masalah. Kasus ini selalu terjadi jika rumah kehilangan fungsinya, yang bisa disimpulkan jika hal ini terjadi: orang tua yang acuh.

Seringkali kasus bermula ketika orang tua tidak lagi peduli pada perkembangan jiwa anak melainkan hanya melihat elevasi unsur ekstrinsik saja, seperti prestasi, akademik, uang jajan dan sebagainya. Lantas orang tua terlalu memaksakan ideal mereka kepada sang anak, hingga akhirnya ideologi anak pun terkurung atas nama ‘penghormatan.’ Hal ini berlaku jika tidak adanya keterlibatan untuk saling memahami, antara si anak dengan orang tuanya. Jika kasus ini terjadi, akan lahir pola ‘pemberontakan’ pada diri sang anak yang menyebabkan dia selalu menentang sistem dan peraturan. Lagi, akibatnya akan muncul sebuah tendensi untuk selalu bersikap keras kepala, condong adu otot dan selalu ingin menang, dihormati dan dihargai.

Seharusnya, orang tua perlu menyadari akan perubahan sikap yang terjadi pada anaknya. Sayang, acapkali para wali lebih menyalahkan sekolah dan menuduh para guru bahwa mereka ‘tidak berhasil mendidik anak.’ Begitu juga dengan pemaksaan harapan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh sang anak. Memang, orang tua lebih banyak memakan asam garam kehidupan dan lebih mengerti beribu palang yang bakal merintangi kehidupan anaknya, sesuai dengan apa yang mereka pernah alami dulu. Tetapi zaman juga terus berubah, itu kenyataan. Kita tidak bisa hidup di masa lalu, karena itu seyogyanya orang tua dan anak saling bekerjasama, saling berkomunikasi aktif dan sama-sama mencapai satu kesepakatan dan kepemahaman untuk saling menghidupi. Andaikata hal ini tercapai, maka generasi muda mampu mengeluarkan potensi-potensi paling cemerlang yang mereka miliki.


Saat mengajar kuliah, Jung sempat menekankan pentingnya keterlibatan emosional dalam membentuk dan mendidik seseorang, karena signifikansi pendidikan dan pembentukan karakter anak akan sangat menentukan manusia seperti apa ia menjadi. Sejalan dengan konsep ta'dib Naguib al-Attas, pendidikan dan pengajaran moral itu berjalan sebaris, satu tujuan. Berhubung pelbagai inovasi dan kontribusi lebih sering muncul dan lebih dapat tersalurkan ketika muda. maka seyogyanya yang tua membantu yang muda dalam pembenahan dan penanaman kembali bibit-bibit luar biasa kepada yang muda. Tapi perlu dicatat, mereka juga harus melihat faktual dan bekerjasama dengan yang muda untuk saling bersinergi menghasilkan yang terbaik bagi kesemuanya. Jika hal ini tercapai dan diterapkan dalam ranah nasionalisme dan atas nama agama, misalkan. Maka tidak ada istilah pemuda yang bereuforia dengan kegalauan dan hedonisme mereka. Pemuda utopia jadi paradoks.

-------------------------------------
Pernah diterbitkan dalam majalah La Tansa dengan versi yang lebih singkat pada edisi Oktober.

"What Teachers Make"



Inside the dining room owned by a lawyer, there sat a several guests from different jobs whom he had invited. One of them is a banker, one is a doctor, one is a teacher, and others were from various jobs. The dinner was simply begun with the host’s speech. The lawyer questioned the problem with the teacher, “What is a kid going to learn from someone who decided his best option life was to become a teacher? The guests all laughed, but one.

The lawyer continued, “You know,” he glanced to everyone. “People studied, and those who excelled in what they learnt, they chase after their dreams. Just like us, sitting here. But those who were unlucky, teach.” Again, everyone burst out their laugh. Their laughter brought them to tears, anyone but Taylor Mali. He decided to bite his tongue instead of following along his colleagues, and resisted the temptation to remind the dinner guests that it is also true what people said about lawyers. But he held his tongue. After all, this is a polite conversation held in a dinner reserved by a lawyer himself.

“Well, I mean, you’re a teacher, Taylor. Be honest, what do you make?” suddenly the host addressed the question into Taylor.

“You really want to know?” Taylor angered. He let out the urge which he had long kept. “You want to know what I make? I make kids work harder than they ever thought they could. I can make a C+ feel like a congressional medal of honor for those who are not the brightest, and an A- feel like a slap in the face for the brightest ones. I have kids sit through forty minutes of study hall in absolute silence at exams. I didn’t let them to go to the bathroom? Because why? They are bored, that’s why. I could distinguish those who really were going to the lavatory and those who pretended.”

“And do you what else I make? I make parents terrible in fear when I call home. I make parents see their children for who they are and what they can be. I make them question. I make them criticize. I make them apologize and mean it. I make them write. I make them read, read and read. I make them spell, over and over and over again until they will never misspell either one of those words again. I make them show all their work in math and hide it on their final drafts in English. I make them understand that if you’ve got brain and follow the heart.”

Gritting his teeth, Taylor walked into the lawyer’s seat, clenching his hand. “You want to know what I make? I make kids wonder. I make them recognize the world. Here, let me break it down for you, so you know what I say is true. Teachers make a lot difference. Now, what about you?” He walked out the room, leaving the lawyer and the guests swallow their silence.

This dialogue actually happened, experienced and expressed in a famous American slam poem (free verses) which has won four winning teams at the National Poetry Slam competition. The poem’s title was ‘What Teacher Make’ by Taylor Mali.

Taylor was a teacher. He worked as an English, History and Math teacher for 9 years and continues to be an advocate for teachers all over the world. This poem would make very good follow-up to the Erica Goldson graduation speech. While the education system nowadays might not be perfect, teachers are the unsung heroes of the education system and there is nothing for them but praise and respect for the profession. Teachers can make all the difference – having a mediocre one can really damage a student’s potential, but the right one can inspire a child to greatness.

‘What the teachers make’ is all what Taylor insisted. The students are not to do only what they were told. They should ask questions. They must not mindlessly memorize then regurgitate facts and figures. They must not write out an entire essay for homework, memorize it, only to promptly forget it and move on to the next assignment. Well this could be good in some way. Those who followed along the system most prominently are near the top of the class. But on hindsight, did they learn much? While the pattern still continued as they went on to college, and yes, the piece of paper the students received at the end of university did help them to land a job. But did they finish their purpose in a proper way?

While basically managing the student’s activities in school and offering them the basic knowledge, the teacher’s duty is to bring out the potential in every student, maximize it, teach them the right manner and guide them in the proper way. Before doing so, teachers must come in term with their selves, do they love their jobs or not? If someone teaches hatefully, they will not do as well as those who love it. Rather than just having an effect on the teacher himself though, it trickles down into children. How well the students learn the subject, their interest in that subject, their desire to be at school sometimes, will be determined by how well the teachers could appoint it to them, how great the life at school is ever be.


After all, the good education system will never allow the students to be a robot wandering the streets mindlessly without having a single clue about what he wants to do in his life. Becoming a teacher is not only to make students excel in every subject. They must able to be acquainted with them professionally (as the teacher and student relationship) and emotionally (as befriending them, becoming the guidance whom replaces parents at school). Teaching is not a simple profession. While maintaining the proper acquaintance, they must able to guide the students to utilize what they learn in the best of what should they become. So, we ordinary people still, what do we make?

---------------------
Once published in La Tansa magazine, December edition.

Permainan Jiwa

Di antara sekian banyak buku psikologi yang berjejer di etalase utama Gramedia untuk buku-buku terbaru, cuma yang putih, tebalnya tidak seberapa, tapi dihiasi dengan warna-warna dasar mencolok mata, serta beberapa aksara kanji Jepang yang waktu itu satu-satunya buku yang meningkatkan rasa penasaran saya. Judulnya Kokology. Tujuh tahun silam, umur peristiwa itu. Kejadian yang memaksa saya untuk selalu memandang seseorang bukan dari sekedar kulit.

Selang beberapa bulan setelahnya, di tempat yang sama, edisi kedua muncul. Kali ini warnanya kuning. Sedikit lebih tebal dari edisi sebelumnya, tanpa ragu saya langsung merogoh dompet. Beruntung masih ada sisa beberapa lembar rupiah bergambar pemetik teh. Sampai di rumah, buku tersebut saya cerna dan menikmatinya perlahan.

Kokology, percampuran dari bahasa Jepang dan Latin. Kokoro, yang berarti jiwa atau semangat, dengan logos alias penelitian atau ilmu. Kedua pengarangnya, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito, masing-masing adalah professor dan ahli jiwa tersohor di Universitas Rissho dan Waseda, Jepang, banyak mengambil analisa serta teori dari para bapak psikologi modern, Freud dan Jung. Terutama karena teori alam bawah sadar mereka.

Kasus-kasus yang diangkat dalam kedua buku itu masih sama. Bagaimana mengetahui pola dasar pemikiran atau reaksi manusia terhadap segala sesuatu, yang sekiranya remeh sekalipun. Hubungan lawan jenis, masalah relasi, pekerjaan, corak kecerdasan, kecenderungan justifikasi, dan banyak lainnya. Buku tersebut tidak bercerita, tetapi kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang ditulis halus untuk mengajak alam bawah sadar para pembaca mencuat ke permukaan. Dari awal pembukaannya saja, editor sudah mengingatkan, “Lebih seru kalo buku ini dibaca berbarengan. Dua orang, bahkan lebih!”. Tetapi yang lebih berkesan adalah pesan dari si pengarang sendiri, “Jawablah dengan jujur dan apa yang pertama kali muncul di benak anda.” 

Soalnya mudah saja. Semisal, bayangkan anda mengendarai bus atau kereta bawah tanah, lantas mendapati sebuah kursi kosong. Anda pun bergegas untuk duduk di sana. Pada saat itu juga, seorang pemuda/pemudi lain (sesuai dengan gender anda) juga berjalan ke sana dengan niat yang sama. Mana yang akan anda lakukan di antara tiga opsi ini: dengan tidak segan segera duduk di kursi tersebut, segera mempersilahkannya, atau melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan? Silahkan jawab dalam hati.

Sekilas, soal tersebut hanya memperlihatkan sejauh mana tingkat toleransi kita. Padahal, Isamu Saito sengaja tidak menghadirkan pengendara lain sebagai manula misalkan, atau seorang ibu hamil, karena dalam hal ini, penulis dan saya sendiri juga lebih setuju pada pendapat Rousseau bahwa aslinya manusia itu welas asih. Dengan menyajikan manula atau bumil, jawaban pertama pembaca pasti: langsung mempersilahkan duduk. Tapi dengan kata ‘pemuda/pemudi’ yang bermakna sebaya, perlahan tapi pasti, pembaca digiring untuk bagaimana dia bereaksi dalam relasi antar sekitarnya dan konsekuensi yang diambil.

Langsung duduk tanpa segan, misalkan. Orang yang menjawab ini, mengerti apa yang dia mau dan apa yang bukan. Pengalaman bejibun telah mengajarkan, sangatlah tidak masuk akal untuk menderita demi orang lain, jika akibatnya ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dalam meniti hidup, tidaklah salah untuk menyakiti hati beberapa orang. Pertimbangannya ambisi dan ego.

Langsung mempersilahkan yang lain untuk duduk. Tidak lain karena dia terlalu cemas akan pendapat orang lain terhadapnya. Dia selalu menginginkan orang lain menganggap dirinya baik, indah, bagus, sehingga dia pun berlaku demikian. Orang-orang di sekitar pun menyebutnya easy going. Padahal aslinya, dia kurang memiliki pendirian. Hampir tiap kali dalam sebuah kesempatan kompetitif, dia rela menjadi tumbal agar yang lain semakin maju.

Yang terakhir, melihat-lihat dulu ke sekitar sebelum mengambil keputusan. Pada titik ini, anda pasti sudah bisa menebak, apa maksud jawaban ketiga ini dalam perspektif Kokologi. Ya, mereka yang menjawab ini, selalu melihat sesuatu dengan garis besar. Yang memilih jawaban ketiga selalu mempertimbangkan perasaan atau pemikiran orang lain sebelum mengambil konklusi. Tentu, karena dunia tidak berputar di dirinya saja. Meskipun, kerugian yang ditanggung adalah keputusannya sendiri.

Banyak juga soal-soal lain yang ditujukan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ketika anda mendapat kesempatan untuk mendesain mug biru polos dengan empat pilihan motif, misalkan, maka mana yang anda sukai? Antara garis-garis lurus (horisontal atau vertikal, terserah), polkadot, garis-garis lengkung serupa ombak, atau motif kotak-kotak? Jawaban yang dipilih menegaskan bagaimana metode kita dalam mendekati masalah atau memberi solusi. 

Dalam menjalani hidup, manusia selalu penuh dengan pertimbangan. Atas konsekuensi yang akan dihadapi. Perhitungan untung-rugi. Keseimbangan. Dan pertimbangan tersebut tidak melulu terbatas pada objek materiil, tapi begitu juga dalam humanisme (sudut psikologi). Aksi dan reaksi, dan sikap yang kita berikan kepada lawan bicara, sejenis atau lawan jenis. Semuanya berdasarkan alam bawah sadar. Di mana alam bawah sadar merupakan proyeksi pengalaman seseorang yang sangat berkesan dalam, dan selanjutnya mempengaruhi pola dan tindak pikir.

Seseorang yang berkemampuan untuk menganalisa gaya berpikir dan sifat seseorang, lantas mendeduksi respon terbaik dalam berbicara atau bersikap kepada mereka, rentan memiliki daya manipulatif terhadap sesama. Dengan mudahnya dia dapat mengendalikan tendensi yang paling cocok dalam segala sesuatu. Jung menyebutnya sebagai Persona. Meski hampir semua orang memiliki Persona majemuk, bukan sekedar tunggal. Entah dia cakap menilai orang atau tidak. Tentu karena manusia cenderung memilih jalan pendekatan yang mereka nilai ‘baik’ dalam mengambil atau menyatakan sesuatu. Cuma ‘mereka yang dilabeli maksum olehNya’ dan orang-orang bijak saja memiliki kapabilitas untuk mampu mengukuhkan ideologi selaras dengan idealisme dan realisasi, tidak goyah dalam tindakan, dan benar-benar pantas menanggung amanah sebagai sosok pemimpin yang ideal.

Ah, andaikata banyak orang seperti itu, dan mereka benar-benar berani untuk mengenal dan dikenal, pastinya masyarakat di sekitarnya bakal berubah. Masisir, contoh kecilnya. Saya acapkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan Kokologi kepada beberapa orang, untuk mengenal kepribadiannya lebih dalam. Seperti soal di mana pada suatu pesta atau perkumpulan, anda diwajibkan untuk duduk di antara tiga kursi: kiri, tengah, atau kanan. Mana di antara kursi tersebut yang anda rasa paling nyaman untuk diduduki, dan kira-kira apa warna tersebut? Mereka yang memilih tengah, didominasi dengan tipikal sosialis yang enggan bekerja sendiri. Sedangkan warna yang dipilih adalah bakal penentu hasrat bawah sadarnya untuk menjadi apa dalam perkumpulan tersebut. Merah bermakna pecinta kerjasama, harmonisasi dan konsolidasi. Pink memiliki rasa solider dan kesetiaan yang kuat, dan banyak makna dari warna lainnya. Dalam dunia yang penuh permainan jiwa ini, kita memilih mau jadi apa, bagaimana dan untuk apa? Pemain, atau yang dipermainkan? Jangan biarkan pertanyaan konyol ini terbuang bersama gugur dedaunan.

Pemuja Lilin


Muka bertemu, lidahku batu
Padahal mentari sudah menyelip di balik ufuk
belai hangat hati santun
Padahal murai berkicau asyik di beringin
menyapa kilau ratusan embun

Pasti hatiku kejut kala kau
dan tawa manis serenyah gemercik hujan di kolam
dan pesona kemayu bak ratu nirwana turun dari kahyangan
atau manis tutur kata, jelmaan Emily untuk Gilbert
atau hidung yang penjarakan Sinta di kalbu Rahwana

Tapi pusat segala semesta letaknya di hati
Lilin-lilin di sana bersemayam
pijar cantik di tengah kelam

Lilin-lilin bertukar arif,
ada yang temaram, sekedar tenggelam
juga meruak, lantas butakan
Semana pantas?
Yang hapuskan dingin di sebuah gelap
Yang berbasuh tabir, tidak mencelakan

Bagi sang pria, lilin-lilin itu disimpan
ditunggunya hati-hati, biar tabah tegak menjulang
Lautan cahaya, sempurna mencerahkan
Tapi nanti semua padam
Cuma satu lilin untuk pelita hati
Kamu tahu?

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software