.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


3 Ways of Life You MUST avoid !


"Barangsiapa yang hanya berpegang teguh pada akalnya, niscaya ia akan sesat jalan hidupnya. Barangsiapa mengandalkan hartanya, berarti dia orang yang miskin, karena betapa banyak harta yang ia miliki, ia tidak akan puas. Barangsiapa menggantungkan kemuliaanya kepada makhluk, berarti dia belum percaya terhadap dirinya sendiri."
~a Wiseman~

 My comment:
a 
Ok, karena kebetulan lagi musuhan berat sama yang namanya UANG, maka akan aku bahas duluan, kay?



Paling 'alergi' banget sama yang namanya UANG. Entah kenapa, gak pernah ada peruntungan kalo berurusan benda alias DUIT ini. Mulai dari sering bokek, sering kehilangan duit, sering dipinjemin duit tapi gak balik-balik (*sigh...*), sering bayar sesuatu yang terpaksa harus bayar (dan tidak jelas untuk apa, gaah!) dan banyak lagi. Makanya, males banget kalo nyimpen duit banyak-banyak, mending simpan untuk sesuatu yang diperlukan aj, sisanya bisa diberikan ke orang lain, baik pengemis kek, fakir miskin kek, sumbangan dana untuk para korban bencana alam, bencana perang...atau pengembangan teknologi senjata mutakhir dalam misi perdamaian dunia (alias GENOCIDE, haha *love it*).


Teringat sebuah sirah, bahwasanya Rasulullah SAW dalam bersedekah bagaikan angin yang berhembus. Bagaimana sih kalo ada angin lewat itu? Sejuk kan? Dingin-dingin empuk gimana gitu, dan tentu seluruh bagian tubuh kita terasa apabila kita berada di tepi jalan, kemudian ada angin kencang. Begitulah seharusnya prinsip bersedekah. Tidak usah pandang ragu dalam mengeluarkan duit, biasanya kalo mo ngasih duit aj harus cari recehan dulu, kalo gak ada ya gak ngasih. Mungkin kita bisa tanyakan kembali, apakah syarat utama dalam bersedekah? Ikhlas. Nah, kalo kita harus cari recehan dulu, apakah kita masih bisa mempertanggungjawabkan entitas ikhlas dalam sedekah kalo kita cuma ngasih recehan? Berapapun duit yang terambil dari kantong, langsung kasih, walaupun itu 50.000-an (Peace, buat yg lagi bokek :D).


Itu tadi masalah duit.

~{x-Penasaran? Langsung aja "click" judulnya untuk artikel lebih lengkap!-x}~






Here comes masalah akal. Sekarang sudah banyak bermunculan manusia-manusia superior (lagaknya doang!) di muka bumi ini. Mereka berjalan dengan dagu tinggi menatap langit, seakan-akan orang lain cuma disuruh melihat "dagu"nya doang. Mereka berbicara berbusa-busa, seakan-akan ilmu adalah miliknya, lupa kalo dia punya ilmu sekarang aj gara-gara 'diberi' oleh Yang Di Atas. Mereka beretorika. Mereka pengemuka teori, pengkritik sosial dan penghukum yurisdiksi alam. Dalam berdebat, mereka bisa gantung diri kalo menambahkan kata "kalah" dalam kamus hidupnya. Tidak ada toleransi menurut mereka, dan empati pada argumentasi orang lain layaknya pandangan seekor ular terhadap landak (mana tahaaan..??!).



"Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan mereka yang tidak berilmu?" Sure not! Dalam realitas, jelas orang-orang yang berilmu derajatnya jauh melompat-lompat di atas mereka yang "kurang belajar". Tapi, bagaimana jika kendali dunia berada dalam manusia berotak super-duper-jenius dengan hati tyranny sekeras titan, setajam berlian? Bagaimana jika mereka yang berilmu banyak tapi santun, ramah tapi bergaya, sopan tapi berkelas... tergulingkan dengan mereka yang sangat jenius melebihi kapasitas rata-rata tapi congkak, berkelas tapi anti-empati dan mempunyai wibawa besar dengan kuasa licik seorang tiran? Sudah terprediksi dalam banyak aktualitas sekitar kita, tinggal menunggu waktu...


So, bagi kita yang merasa sudah "berilmu", janganlah sombong. Masih ada langit di atas langit, dan di atasnya lagi masih ada Sang Pencipta langit :D.

 Terus apa sih maksudnya menggantungkan kemuliaan terhadap makhluk? Bisa kita sebut sebagai krisis self-esteem. Dimana di lain faktor, self-esteem merupakan gejala optimistis yang sudah parah banget, seperti:

x> Ngepost tulisan hanya untuk dikomentari sendiri
x> Cinta pada cermin setelah pandangan pertama
x> Hias diri berjam-jam (berlaku baik untuk girls maupun guys)
x> dan banyak lagi...


Tetapi, inti dari kalimat tersebut yaitu dalam melakukan perbuatan, kita selalu pamrih dan mengharap pujian orang lain. Jika kita telah menghasilkan sesuatu, lantas tidak ada pujian atau komentar yang datang dari orang lain (ini juga tips buat para blogger lain, keep spirit pals!), langsung aja down dan tidak bersemangat kembali. Sama halnya bagi mereka yang hanya bekerja untuk meraih prestise, hanya untuk sekedar pajang nama, kejar posisi, unjuk gigi, pasang muka. Percuma. Kenapa? Itu sama saja mereka menjual diri, gak beda jauh dengan orang-orang yang memasarkan dirinya di jalan-jalan. Mereka jual diri mereka dengan harga murah, karena mereka tidak sanggup menahan beban jika menggunakan nama mereka sendiri. Mereka butuh orang lain untuk memuji hasil mereka, mengagung-agungkan mereka, membuat mereka serasa terbang ke langit ketujuh (dan gak balik lagi, haha!).


Intinya, percayalah pada kemampuan diri sendiri. Bagaimanapun hasilnya nanti, tapi ingatlah selalu, bahwa Dia menilai seseorang berdasarkan proses--effort, cara kerja, usaha...dan 'hasil' hanyalah nomor dua; prioritas setelah kerja nyata, dan sebuah output dari kerja yang profesional.


Ok pals. The World ends with You...



Increase web site traffic

5 comments:

qw ska karya mu sip lanjutkan

October 13, 2009 at 3:26 PM  

thx a lot. still in progress, just keep in touch :-P

October 15, 2009 at 4:02 AM  
NURA said...

saam sobat
setuju dengan sobat,,orang berilmu janganlah sombong,,,tetapi berbagi ilmu dengan yang kurang ,bahkan yang tak berilmu,,
siip deh,,percaya dengan kemampuan sendiri.

October 16, 2009 at 6:48 AM  

soal uang nyoooo... mau kasih advise dikit hehehehe... selain belanjakan hanya untuk keperluan (control yg diluar keperluan) dan bersedekah, satu lagi perlu diingat, SAVING. Its very really important. Bayangin duitnya hanya di pake buat dua keperluan tadi (memenuhi kebutuhan dan sedekah) tanpa saving. Dunia ini smakin lama smakin materialis, ga ada yg gratis. Bagaimana jika kita tiba2 sakit keras atau ortu yg sakit. Tentu berobat memerlukan biaya yg cukup mahal. Jika kita ga ada saving, pasti jatoh bangun nyari duit buat pengobatan.

Atau setidaknya, saving buat biaya pendidikan anak kelak (walau blm nikah, mulailah menabung buat pendidikan anak. Soalnya biaya pendidikan sekarang aja makin lama makin muahal. apalagi biaya kuliah dimasa depannya) That is my father taught to me. Dia mulai menabung buat anak-anaknya (which is not yet born in this world) sejak umur 20 tahun. Sedangkan beliau baru menikah pada umur 27 tahun, dan kami lahir waktu beliau umur 29 tahun. He so prepare huh^^

nabungnya dikit aja tapi konstan tiap hari. spt 5000/hari. And never take it this money no matter what except for the emergency things. Menabung itu seperti kata pepatah, sediakan payung sebelum hujan :D

October 17, 2009 at 10:39 PM  
neilhoja said...

mangstabh gan.... lanjut.

October 19, 2009 at 10:33 AM  

Post a Comment