.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


That was Awesome!

Fellas! So long since this humble moron (as me in myself, lol) share a little laughable things to enjoy. And do you know what a funniest moments in the world could ever be?

It's our life.

Well, heck with that. Permasalahan yang sering dipermasalahkan dalam dunia intrapersonal adalah berhadapan dengan seseorang bukan dengan bagaimana kita memandang diri, tapi lebih mengedepankan kira-kira apa yang terbaik. Kita gunakan topeng untuk menutupi jiwa.

Jika ingin mengkritik seseorang, alangkah lebih baik untuk bercermin terlebih dahulu kepada diri sendiri. Memang tidak ada manusia sempurna, semua pasti banyak silap, khilaf. Tapi kita ambil sisi positifnya. Semisal, jika kita mengkritik teman satu kost untuk melakukan suatu hal, di mana dia memandang bahwa kita yang memberi saran juga sama tidak melakukan hal tersebut, maka lumrahnya, reaksi apa yang bakal kita dapat kecuali pandangan sinis dan senyum mencibir?

Bukan menyindir. Tapi reaksi itulah yang paling sering kita dapatkan jika mengkritik (atau memberi saran) kepada teman, kawan, keluarga atau siapa lah yang sudah mengenal kita lumayan lama untuk telah mengetahui bagaimana keseharian kita. Mengingikan yang terbaik? Beri impresi yang baik! Ushii nafsii wa iyyakum. Saya menasehati diri sendiri dan kita semua.

Oke, puas sudah cuap-cuap di sini. Intinya memang pandanglah orang lain bagaikan cermin untuk hati. Kalau tidak bisa berlaku seperti itu, percuma. Mata pribadi dalam memandang hidup dan sosialita nantinya hanya terbatas pada apa yang tampak, tidak sanggup melongok sedikit untuk melihat faktor-faktor di balik itu semua.

Intinya, well, to @#$% with you. Saya sudah pernah mengatakan secara langsung kepada pada anda secara pribadi hanya untuk berteriak kepada gema, mungkin inilah saatnya untuk berbagi kepada dunia. Memang setiap orang selalu memiliki satu cara atau yang lain dalam berinteraksi dan kita tidak bisa menghendaki semuanya sesuai dengan keinginan diri. But everyone's critic anyway.

Well, sedikit penutup dari kekaguman yang sangat meluap-luap dari dasar hati ini, ada satu gambar dari salah satu karakter Marvel favorit, Deadpool, yang sengaja saya suguhkan kepada para objek di sana:














Yeah, you are awesome. I'm clapping my hand right now too.

Diam

Pucat kemilu yang dulu kau singkap
dibentang hunus, tantang gerhana
Lantas di batin kau diam gertak

Sudah!

Malam terpasung tanpa jala
Di pucuk hitam, guruh bergelayut
Menghujat kiri, sanubari
Membunuh rindu, kau takut

Coba ingat kembali periode awal SBY menjabat sebagai penguasa Indonesia, banyak hal-hal positif yang tertuai. Dia sudah dipercaya rakyat untuk menahkodai Nusantara dengan gemilang. Tapi selang beberapa bulan dari 20 Oktober tiga tahun silam, banyak kecam dan sindiran dari pelbagai pihak dan semua tertuju kepada pria kelahiran Pacitan ini. Memang benar ucapan salah seorang Kompasianer atas perlunya penyegeraan amandemen UU bahwa presiden cukup menjabat satu periode saja, tidak lebih. Karena realitanya, aksi dan tindakan presiden saat awal dilantik, benar bertujuan untuk menggubah negara agar apa yang pernah ia janjikan saat kampanye bukanlah sekedar obral kata. Memasuki periode kedua, posisinya aman, hidupnya sudah tentram. Fasilitas yang diperoleh selama empat tahun masih kurang. Walhasil, lupa, terlena, kritik rakyat diacuhkan, tambah maju pantat-perut, kena kecam.

Masisir juga punya republik. Bak negara mungil, ada sistem, ada trias politika. Mengaca pada Indonesia, masyarakat Masisir juga tidak buta. Mereka paham dinamika, paham sosialita dan bosan digombali. Jadi pemimpin yang terpilih adalah hasil kesadaran komunal yang terbangun atas kepercayaan kolektif, bukan rekayasa prajurit kampanye. Berangkat dari asas ini, bisa disimpulkan bahwa suara mayoritas menentukan. Lantas timbul pertanyaan, jika pemimpin mendzalimi rakyat, itu salah pemimpin atau yang dipimpin? Kan rakyat sendiri yang memilih pemimpin? Mereka yang terpilih untuk memimpin juga tidak mungkin menjadi pemimpin jika bukan karena suara rakyat, bukan?

Konteks yang perlu dicermati di sini, terutama tatanan kepemerintahan. Untuk melumpuhkan kawanan musuh misalkan, bidik sang jenderal, prajuritnya pasti berhamburan. Tata negara pun begitu, jika kepemerintahannya sudah benar, pastinya jejeran di bawahnya turut mengekor. Meski tidak menafikan ada pengecualian dalam beberapa kasus. Tatanan sebuah kepemerintahan dan pemerintah itu sendiri dikatakan baik dan sukses, jika melalui proses yang benar-benar matang. Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu dibahas, disadur dari beberapa ulama klasik, dimana antara konsep satu dengan yang lain terdapat pola yang mirip dan saling melengkapi.

Pertama, terpilihnya seorang pemerintah (selanjutnya, kata pemimpin akan selalu merujuk ke pemerintah). Mawardi dalam buku al-Ahkam al-Sulthaniyyah-nya menyatakan bahwa terpilihnya seorang pemimpin merupakan hasil kesepakatan antara Ahl al-Hilli wa al-‘Aqdi atau Ahl al-Ikhtiar dengan calon pemimpin terpilih, berasaskan sebuah kontrak sukarela yang melahirkan kewajiban dan hak bagi kedua belah pihak. Tentunya kontrak ini juga berdasarkan asas timbal-balik. Jadi, pemimpin berhak untuk ditaati oleh rakyat dan menuntut loyalitas penuh dari mereka, tetapi pemimpin juga berkewajiban untuk melindungi dan mengelola kepentingan rakyat dengan baik dan bertanggung jawab. Sedikit berbeda dengan teori kontrak sosial milik Hobbes, Locke maupun Rosseau. Tapi satu hal yang perlu dicatat, Mawardi lebih dulu mengungkapkan teori ini pada abad XI, sedangkan yang berkembang di Eropa baru muncul pada abad XVI.

Di karya fenomenal Two Treaties of Government, Locke juga menyatakan hal senada. Ada konsekuensi yang tercipta dari kontrak rakyat dengan pemerintah, bahwa pemerintahan adalah suatu trust (amanah), sedangkan rakyat berfungsi sebagai pemberi amanah sekaligus beneficiary (yang diamanahkan) dan pemerintah di sini adalah trustee (penerima amanat). Jadi, pemerintahan adalah amanah yang diberikan oleh rakyat kepada pemimpin terpilih yang mengindikasikan bahwa rakyat ikhlas terpimpin dan mengakui kredibilitas ‘yang terpilih’ sebagai pemerintah mereka. Di sini, Locke lebih menekankan bahwa kewajiban yang ditampuk pemerintah lebih krusial dibandingkan hak yang diperoleh. Rakyat pun berhak untuk menarik amanah yang telah mereka berikan kepada pihak penerima amanah, jika dia mengabaikan kewajiban-kewajibannya. Maka, pemimpin tidak boleh semena-mena menjalankan tugas. Kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan secara penuh, karena apa yang ia pegang tidaklah kekal, sekedar semu dan bisa dilepas kapan saja.

Di sini ada benang merah yang bisa ditarik. Mandat, tanggung jawab, atau amanah (trust), begitu Ibnu Taimiyah menyebutnya dalam buku Siyasah Syar’iyyah fii Islahi al-Ro’i wa al-Ro’iyyah, meminjam istilah dari surat an-Nisa ayat 58. Amanah ini adalah hasil dari kontrak antara pemimpin dengan rakyat, dan amanah ini langsung diprakarsai dan dijaga oleh Empunya Segala. Jadi, menurut Ibnu Taimiyah, terpilihnya seorang pemimpin tidak lain karena kehendak Allah SWT dan pemimpin adalah wali-Nya. Dia juga mengatakan bahwa pemimpin negara wajib menyampaikan amanah kepada pihak yang berhak dan berlaku adil.

Oleh karena itu, hal kedua yang perlu diperhatikan untuk seorang pemimpin adalah penyampaian amanah dan berlaku adil. Ibnu Taimiyah menjelaskan konsep tersebut dengan realita yang ia alami, dimana dia hidup pada masa dunia Islam sedang dalam puncak disintegrasi politik, dislokasi sosial, dan dekadensi moral. Bagi Ibnu Taimiyah, amanah yang terkandung dalam surat al-Nisaa: 58 mempunyai dua arti.

Satu, amanah merupakan segala kepentingan rakyat yang wajib dikelola oleh pemerintah. Pengelolaan tersebut hanya berjalan baik dan sempurna jika pemerintah terpilih benar-benar cakap dan mampu. Sedikit berbeda dengan pengertian Mawardi, dimana amanah adalah produk dari kontrak sosial antara kedua pihak. Arti kedua, yaitu amanah tersebut adalah kewenangan memerintah yang dimiliki oleh pemimpin dan jika dalam pelaksanakannya membutuhkan bantuan wakil seperti menteri, dll, maka dalam pengangkatannya tidak boleh ada unsur subjektifitas dan nepotisme. Tapi jika memang tidak ditemui seseorang yang bukan ahlinya, maka boleh mengangkat siapa saja yang dianggap pantas dengan memperhatikan dua faktor: kekuatan karakter yang sesuai dengan bidang tempat ia bekerja nanti, serta integritas yang dinilai dari ketakwaannya kepada Allah secara utuh dan kesetiaan kepada hukum Islam dengan mendalam.

Maka, terpilihnya pemimpin adalah tanggung jawab rakyat, karena secara tak langsung, rakyat-lah yang memilih pemimpin mereka. Dalam prosesnya, tercipta sebuah perjanjian kasat mata antara pemimpin dan rakyatnya. Rakyat rela dipimpin, siap dikomandoi, siap loyal, tapi pemimpin juga harus siap bertanggung jawab, siap berlaku adil dan siap mengelola urusan rakyat. Keterpahaman ini terbentuk secara otomatis. Jadi, ketika pemimpin sudah tidak lagi mengindahkan urusan kepemimpinannya, tidak ada salah bagi rakyat untuk memintanya mundur. Teorinya simpel, meski aplikasinya sulit. Kepatuhan mutlak pada pemimpin hanya terjadi ketika pemimpin dan rakyat sama-sama melaksanakan amanah masing-masing. Dan kasus yang acapkali terjadi, kesalahan terletak pada pemimpin yang terlena janji, terbuai fasilitas dan tidak mendengar keluhan rakyat. Jika sudah seperti ini, pemimpin-lah yang salah karena melanggar amanah yang sudah disepakati. Maka jika pemimpin lalim berkuasa dan sistem yang berlaku telah termonopoli, meski tidak harus, kudeta selalu bisa menjadi opsi.



Hollow

Just like a plain shell. Empty. With no regards. With no sorority. With no authority.

Your face is always be here. But my heart is hollow.

Could I break that chain of fate?!

Bulir Patah milik Langsa

Dambanya melati dibentuk baris, lekat-rapat
jadi permadani
dalam hangat tatap Murai kecil
terguyur hujan mutiara pagi

Terhampar kaki-kaki menjejak letih,
bersisa decak dibalik puji
yang menyela manis berkernyit dahi
berpura rindu, ah, alunan klasik

'Tuk berkata satu, pikirannya seribu
dihampirinya permadani kembali
ditemuinya wangi kesturi

*teruntuk Putri di Tanah

Pareidolia



 Dia tahu bahwa dalam profesinya, sabar adalah kunci segalanya. Maka ia menahan diri untuk memaksa. Bak seorang profesional, posisi duduknya kembali ia atur, lalu masih dengan pena di tangan kanan, ia kembali bertanya.


“Mari saya ulangi lagi ya, pak Malik. Dari tadi percakapan kita masih berputar-putar. Saya mohon partisipasi anda dengan teramat sangat,” kata demi kata ia atur dengan sehalus dan serapi mungkin agar tidak timbul perasaan melawan dari klien yang dihadapi. Sebenarnya dia ingin mengatakan, Yang bermasalah itu anda! Tapi buru-buru dia kubur dalam hati.

“Fokus ya pak. Tadi pak Malik sudah menjelaskan mimpi yang kerap menghantui bapak. Sekarang, saya ingin tahu apa yang bapak lihat dari gambar ini.” Nada tiap kata masih sopan. Masih halus dan tertata. Lantas dia mengeluarkan sepotong kertas bercorak hitam seperti gambar tinta tumpah dari balik meja.

Yang ditanya justru tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali saat pertama kali dia memasuki ruangan ini, kesan minimalis benar-benar sangat terasa. Kecuali satu pelapis dinding bergambar sebuah  ular besar berwarna putih dengan latar belakang hitam gelap yang terpampang dengan jelas di hadapannya sekarang. Ular tersebut membentuk sebuah lingkaran dengan ujung kepala hampir bertemu dengan ujung ekornya, seakan-akan ingin menggigit ekornya sendiri. Aneh, gumam Malik.

~{x-Penasaran? Langsung klik judulnya untuk baca kelanjutannya. Psyche!-x}~

Saya sangat menikmati sekali. Malam, dimana yang lain khusyuk beribadah kepada-Nya dan kita termasuk di dalam kerumunan tersebut, kemudian pada penghujungnya, menyusul ikrar "Merdeka!" seperti yang dikumandangkan pada 67 tahun silam dari sekelompok manusia yang berdiri rapat bersama. Mereka terhormat. Mereka siap. Mereka kunci masa depan. Mereka penggoyang, ah maaf, penggoncang dunia!

Itu kemarin. Hanya beberapa saat sebelum jarum jam berdentang dua belas kali dan pekik takbir berdendang memekakkan seisi aula. Aula yang pada sejatinya mungkin sanggup membendung hingga dua ratus kepala manusia, tetapi pada idealisme dan semangat terbakar yang saya lihat mencuat hingga keluar dari jendela dan tumpah ke jalanan Su'q Sayyarot, saya skeptis. "Kok bisa pesimis gitu?" Atapnya bakal roboh, saya jawab. Bagaimana tidak? Jika sedari awal riuh segunung ide saling tumpang tindih, berputar-putar, meliuk-liuk, lalu bak angin topan yang kasat mata, mendobrak hati per orang dan menyadarkan mereka akan kehampaan. Mungkin bukan atap saja yang roboh. Tapi kebodohan yang mengakar di kelam hati muslim Indonesia, bisa tercabut, terbang, hilang! lantang hati saya berteriak waktu itu, disambut mulut-mulut yang menganga.

Ah, maafkan bahasa saya yang berapi-api. Tapi memang tidak bisa menafikan analogi, tatkala sebuah ide sudah bertengger di kepala, akan sulit terlepas kecuali oleh kehendak empunya sangkar. Pada malam itu, di Aula Griya KSW, Rumah Budaya AKAR menampilkan sebuah acara. Saya tidak mau bermulut manis hanya sekedar memuji kehebatan dan kesuksesan acara tersebut. Tapi dibalik sesuatu yang besar, pasti ada penyangga ide yang jauh lebih besar. Di sini, saya berusaha mengupas konsep tersebut satu persatu.

Tema yang diangkat adalah "Merdeka atau Kaya Raya." Ah, semoga pisau yang saya gunakan untuk mengupas ini benar tajam adanya. Jadi begini, acara dibuka dengan rentetan formalitas biasa. Kemudian sebuah lagu. Lantas seorang Tabrani Basya maju ke depan dan memaksa hadirin untuk berdiskusi dengan hati masing-masing. Apakah benar kita sudah merdeka? Nah, merdeka dari siapa? Merdeka dari apa? Mari melatih diri melawan hipokrit.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa hak seseorang terbatasi oleh hak orang lain. Kewajiban seseorang juga pastinya tergeneralisirkan dengan paradigma sosial, dimana kewajiban dalam konteks ini merupakan kewajiban seorang manusia antar sesama. Pertanyaan menarik yang muncul adalah kewajiban sosial sebagai penghidupan. Dalam garis bawah, penghidupan yang menghidupi, bukan hanya menghidupi satu indivdu tapi juga lingkungan dan sekitarnya. Tapi semisal ada antitesis, "Ya suka-suka dong, maunya seseorang itu seperti apa. Mau kaya sendiri kek, mau senang sendiri kek, mau galau sendiri kek. Bukannya itu hak? Kalau anda menyalahkan saya, justru HAM yang sedang anda tentang."

Sebenarnya tidak sepicik itu, kawan. Hak seseorang memang tidak terbatasi kafan sekalipun, tapi terbentur dengan hak-hak lain yang masing-masing berteriak, "Sama penting." Tiap pribadi pasti punya kepentingan masing-masing. Masalahnya, jika setiap pribadi hanya terus mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan-kepentingan lain di sekitarnya, akan lahir di masa mendatang, calon generasi apatis nan egois yang bakal mengejar kepuasan hedonisme semata. Mereka beranak-pinak, memiliki cucu, mati meninggalkan idealisme korup, dan terus begitu jika tidak terjadi pembenahan di tengah-tengah. Dan jika keadaan ini berlanjut, akan jadi siklus. Lantas Indonesia mati. Rakyat menjerit. Pribadi-pribadi korup bermental materialis bermulut manis semakin jelalatan kemana-mana. Umbar janji, cekik leher, batin puas, kemudian meludah.

Jikalau hal itu terjadi, tolong cepat bangunkan saya dari mimpi buruk paling horor yang pernah saya alami. Pasalnya, jika kasus tersebut terjadi hanya dalam skala kecil, maka boleh manusia bersombong, "Ah, paling cuma tetangga yang itu-itu aja nantinya bakal protes." Tapi jika sudah terjadi pada skala nasional, imbasnya juga pada infrastruktur tatanan negara tersebut. Dalam hal ini, Indonesia. Taruhlah orang-orang yang berpikir sekedar untuk mengisi rekening mereka dalam wadah rakyat jelata yang hanya sekedar mengiba. Rakyat cuma bisa mengharap dan meminta. Para materialis itu malah semakin mendongakkan kepala. Kan, egois.

Padahal dalam Islam sendiri sudah gamblang tersampaikan bahwa salah satu tujuan risalah Nabi SAW adalah sebagai rahmat bagi sekalian alam, baik umat pemeluk Islam maupun non-muslim, bahkan mencakup hewan dan benda-benda tak bernyawa. Dalam tataran sosial, Allah SWT mewajibkan kaum berada untuk turut membantu golongan papa. Bahkan Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada orang kaya jika ada tetangganya yang mati karena tak mampu mengisi perutnya. Oleh karena itu, tataran individual dalam Islam sengaja saya kaitkan di sini,mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dan ketersangkutpautan dengan 'kekayaan' sebagai momok bukan tujuan. Atau boleh sebagai tujuan, tapi hanya dalam garis bawah, mensejahterakan sesama, bukan cuma perutnya dan semata keluarga atau kolega. Sosial itu seluruh, bukan segolongan-segolongan. Masak Indonesia mau kita segiempatkan. Kita masih satu bangsa kan?

Saya teringat, Yusuf al-Qaradhawi, salah satu pemuka agama di Mesir, pernah menyatakan pada tahun 1415 H, “Salah satu keistimewaan sistem Islam adalah tidak terpisahnya politik, ekonomi dan akhlak, seperti halnya tidak rusaknya perpaduan sinergis antara ilmu dan akhlak.” Saya mohon maaf jika terlalu mengintegralkan masyarakat Indonesia hanya kepada penduduk Muslim saja, padahal harusnya majemuk dan tidak me-nyegiempat-kan seperti perkataan saya di atas. Tapi saya meminta izin untuk mengutip perkataan ulama tersohor ini, karena memang betul begitu. Tiga faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya tingkat moralitas suatu bangsa ya bisa dilihat dari tatanan politik, sistem ekonomi yang dilakui, serta akhlak tiap individu. Jika politik sekedar menjadi ajang cari pamor, timbun harta, rebut kuasa, disambut gayung dengan sistem ekonomi yang konon 'campuran' tapi kental dengan nuansa kapitalis. Hancur bangsa. Yang lahir bukannya generasi cemerlang tapi malah generasi apatis. Generasi ular. Generasi egois. Ah, semoga saya tidak sedang menggunjing generasi tua sekarang ataupun yang muda.

Jujur, saya takut. Jika para 'kita' sekedar melaksanakan upacara bendera untuk ritualitas, itu juga yang mau saja. Lomba 17 Agustus-an juga ritualitas. Belum lagi pada tahun ini,  peringatan kemerdekaan yang begitu sakral jatuh di bulan yang lebih sakral lagi, Ramadhan. Puasa sekedar rutinitas, tuan puan semua? Atau mungkin ritualitas? Pada awal jatuh bulan, semua berbondong-bondong ke masjid. Saling berlomba mengisi shof terdepan. Seiring beralih waktu, yang ada semakin hilang. Yang semula giat, kemudian lenyap. Oh, ternyata maksud awal sering Tarawih cuma pengen tampil kece. Cari gebetan baru, tuan puan? Atau malah setelah sholat langsung hang out? Berduaan lagi? Berpegangan tangan lagi? Ini yang muda-mudi. Meski beberapa lain ada juga yang menghabiskan waktu sekedar nongkrong di tepi jalan sambil merokok dan banyak lagi yang tidak berjam'ah bukan karena ada udzur, tapi menyengajakan. Lebih parah. Di rumah, mata tertatap pada monitor, tidak bisa terlepas. Fenomena yang saya sendiri pernah menjalani dan mengakui, karenanya saya mencibir diri sendiri dan kita semua.

Pada intinya, semua kembali ke niat masing-masing. Makna kemerdekaan hanya berbuah semu jika tidak diiringi dengan perilaku dan perlakuan untuk bersama memajukan bangsa, bukan hanya perut dan pantat saja. Makna Ramadhan bukan sekedar menjadi suci hanya dalam satu bulan, kemudian lepas, lalu liar, kembali binar, banal. Bukan. Ramadhan dan revolusi, keduanya adalah wajan proses. Manusia dimasukkan ke sana, api jiwa dibakar, entah nanti jadinya setengah matang, enak, atau malah gosong, bukan tergantung lamanya memasak tapi kualitas hati dan kekentalan tekad yang jadi penentu. Cara menilainya juga bukan sehari atau dua hari setelah dimasak, alias hari H, melainkan seminggu, dua bulan, sampai dua belas bulan ke depan dimana kita kembali menjadi bahan yang akan dimasak di wajan yang sama.

Jadi pertanyaan terakhir, dan inilah kulit yang belum bisa saya kupas: "Sudahkah kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan, negara dan agama?" Kali ini saya menolak untuk membenturkan tanya ke dinding dan sengaja melepasnya ke angkasa luas.


Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software