.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Well, bagi kamu-kamu sudah membaca judulnya, musti harus baca artikel ini! Terutama for guys and gals..!!!

Seorang Tehmina Durrani dalam autobiografinya menulis, seumur hidup ia merasa sebagai "itik buruk rupa" walaupun ia telah menjadi istri seorang Musthafa Khar, orang kedua dan tangan kanan PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto (kalo gak tahu, yah sekedar bilang...dia orang yang kaya n ganteng. Enough) Hanya karena sedari kecil ia dikucilkan oleh ibunya karena ia tidak berkulit putih. mati2an neneknya melumuri tubuh dan wajhnya dengan segala macam ramuan supaya ia bisa menjadi putih dan tidak dikucilkan oleh ibunya lagi. Sayangnya, usaha si nenek gagal (ya jelas..) dan ia tetap tidak disukai oleh ibunya karena berkulit hitam.





~{x-For the complete text, please "click" the title above-x}~



Mitos Cantik (chapter 1)



Di zamam kolonial, di kalangan etnik Maori, cantik adalah besar dan gemuk. Perempuan Jawa dikagumi lantaran bagian (ups, sorry) belakang-bawahnya yang besar dan bulat, menandakan mudah melahirkan dan banyak anak. Di Lembah Baliem, p*y*d*r* (ups, once more time sorry...) yang turun jadi idaman perempuan dan impian pria.
Tahun 50an, kecantikan perempuan dirujuk pada bentuk gitar Spanyol: p*y*d*r* padat berisi, pinggang sekecil mungkin dan membesar lagi di bagian pinggul. Era 60an muncul kualitas canti ala twigy yagn super ramping dari atas ke bawah.
Kini kecantikan perempuan terutama di Asia, khusunya Indonesia- selalu diidentikkan dengan kulit putih, rambut lurus hitam legam, hidung mancung dan berbadan langsing.
Label "jelek" secara semena-mena diberikan pada perempuan yang secara kebetulan pula tidak mememnuhi kriteria di atas. Demikian tulis Kathy Saelan bernada protes, sosok jurnalis yang memang tidak dianugehrahi fisik seperti itu, dalam artikelnya CANTIK.
"Nggak ada perempuan yang mau mendapat predikat "jelek" atau "kurang manis", atau "biasa-biasa aja " Predikat "jelek" bisa membuat seorang perempuan merasa rendah diri, tidak berharga, malu akan diri-nya sendiri, dan na'udzubillah bahkan bisa membuat seorang perempuan bunuh diri saking sedihnya," lanjut Saelan.
Psikolog Jacinta F Rini daal artikel Mencemaskan Penampilan menulis, masyarakat dan media berperan dalam mendorong seseorang untuk begitu peduli pada penampilan dan image tubuhnya. Media telah melumatkan kepribadian dan jati diri kaum perempuan maupun laki-laki. Tidak ada lain, seolah-olah harus menelan mentah-mentah definisi jati diri dan citra diri ala media massa. jika tidak, silakan minder!
Melalui media, produsen kosmetik menggembar-gemborkan image kulit putih lebih cantik daripada kulit gelap, rambut panjang lurus lebih cantik daripada keriting, badan langsing dijamin lebih disukai pria.
Media, tidak bisa dipungkiri, semakin mendorong pribadi-pribadi untuk meletakkan standard ideal dirinya -- seperti yagn dikehendaki oleh masyarakat.
Kecantiakn dan kesempurnaan fisik, menjadi ukuran ideal sehingga banyak yang berusaha mengejar kecantikdan dan kesempurnaan, dengan bantuan kosmetik, gymnastic, ataupun fashion yang up-to-date. Ke salon unutk menata rambut paling mutakhir (terkadang..paling jelek dan gimbal sepanjang yg gW thu..-_- ' ), sampai melakukan koreksi wajah dan tubuh disana-sini.
Padahal, kecantikan bukanlah segalnya. Dan tentu saja, tidak cantik bukanlah kiamat. Tidak ganteng bukannnya tanda dunia akan berputar lebih cepat 2x. Tapi bagaimana cara menyadarkan kita-kita unutk mensyukuri apa pun yang ia miliki, entah itu rambut, warna kulit de el el?


Dysmorphobia (chapter 2)



Lebih dari 100 tahun lalu, 1891, seorang psychopatologist dari Italia, Enrique Morselli, memunculkan istilah dysmorphobia untuk menerangkan kondisi patologis seseorang, karena terus menerus memikirka kecacatan (entah ada maupun tidak), atau merasa buruk rupa.
Istilah Body Dismorphic Disorder (BDD), secara formal juga tercantum dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorderr, untuk menerangkan kondisi seseorang yang terus menerus memikirkan kekurangan fisik minor. Akibtanya, individu itu merasa tertekan, bahkan kondisi tersebut melemahkan taraf berfungsinya individu dalam kehidupan sosial , pekerjaan, atau bidang kehidupan lainnya (e.g. : kehidupan keluarga dan perkawinan).
Pada umumnya, penderita BDD, tidaklah buruk rupa seperti apa yang mereka pikirkan dan nilai. Bahkna mereka tampak seperti orang kebanyakan. Namun, penderita BDD biasanya menunjukkan sikap pemalu, sulit menjalin kontak mata, komunikasi dan self esteem yang rendah. Mereka seringkali bertingkah ekstrim untuk menyembunyikan atau menutupi apa yang mereka anggap kekurangan yang memalukan. Misalnya, berulang kali bercermin, berdandan takes so looong, penampilan harus perfect, no scratch, no itch, etc. Mereka pikir dengan berdandan dan mematut diri akan mengurangi kecemasan. Padahal, justru semakin lama, akan semakin membangkitkan kecemasan karena mereka semakin memperhatikan "kekurangan".

Terjebak-Tertipu (chapter 3)



Penderita BDD, biasanya memiliki harga diri yang rendah dan konsep diri yang negatif. Perasaan takut unutk dilecehkan, diabaikan, disingkirkan dan dijauhi - membuat mereka sering merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah komunitas. Mereka merasa tidak berguna, serta sangat sensitif.
Mereka seringkali menghindari situasi sosial, karena merasa takut orang lain akan memperhatikan dan mengetahui kekurangan mereka. Akbitnya, beberapa orang sampai tidak masuk sekolah, tidak masuk kerja, bahkan tidak mau bertemu siapa-siapa. Mereka pun mengalami kesulitan dalam membina hubungan dengan teman-teman, keluarga, dan bahkan pasangan. Menurut hasil penelitina, penderita BDD mengalami penurunan dalam prestasi , baik di sekolah maupun di tempat kerja - atau dalam bidang kehidupan lainnya. Penyebabnya, pikiran mereka dipenuhi obsesi terhadap kecacatan sehingga sulit memfokuskan perhatian pada hal lain.
Psikiater Gary K Arthur MD menemukan besarnya resiko b unuh diri pada penderita BDD.
Di AS 1 dari 100 orang warga menderita sindrom ini. Kabar baiknya, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang terbebas dari kemungkinan penderita.
BDD bermuara pada citra diri yang salah. Citra diri berkaitan erat dengan cara kita memandang diri sendiri dan bagaimana kita berpikir tentang penilaian orang lain terhadap diri kita. Kadang kita terlalu terpaku pada pendapat umum. Misalnya pendapat bahwa orang lain akan menghargai kita jika kita cantik/tampan, pintar, kaya, menarik, langsing, atau tinggi. Orang yang mempunyai bentuk badan yang tidak ideal, bentuk muka yang kurang siip, tidak perlu dihargai.
Jika kita terlalu mengikuti rumus Harga Diri = Prestasi + Pendapat Orang Lain , maka kita akan terjebak dan tertipu mengenai citra diri kita sendiri. Penilaian yang salah tersebut membuat kita menjadi takut gagal, takut tertolak, takut dihukum, sehingga mengasingkan diri [alias: introvert dan skeptis].
"Jika terjadi terus-menerus, bisa jadi Anda menjadi orang yang paling tidak bahagia karena tidak mempunyai harappan, tidak mempunyai tujuan, dan merasa hidup ini sia-sia," kata Valentine Hadiwibowo dalam tulisannya Gambar Diri.

Jati Diri (chapter 4)



Ahli kedokteran mengembangkan penanganan dengan menggunakan obat-obatan, yang tergolong antidepresan, yaitu SSRI (Selective Serotonin-Reuptake Inhibitors) unutk menangani depresi dan obsessive-compulsive disorder yagn biasanya tedapat di dalam penderita BDD.
Namun yagn perlu dipoerhatikan, penggunan obat, akan ada efek samping, apalagi jika obat-obatan tersebut dikonsumsi dalam jangka waktu lama.
Psikoterapi adalah sebuah strategi efektif untuk membantu mengendalikan dan mengatasi BDD-nya. para ahli mengatakan BDD-nya. Para ahli mengatakan bahwa cognitive-behavioral therapy dan cognitive-rational therapy, sangat tepat membantu penderita.
Penderita juga dilatih untuk membangun altetrnatif strategi dan jalan keluar, dalam mengatasi pikiran obsesif yang mengganggu konsentrasi, dan meningkatkan pengendalian diri terhadap tindakan kompulsif (well, the easy one to say is...kamu sering ngelihat cermin, nah that's th problem).
Yang tidak kalah penting, adalah dukungan keluarga. Menurut psikolog medis Jacinta F Rinin, sebaiknya anggota keluarga membantu penderita membicarakan emosi-emosi yang dirasakan (e.g. : stress, depresi, ketakutan, kekhawatiran). Dengan terbukanya pintu hati, diharapkan mereka akan lebih terbuka terhadap penawaran treatment yang bisa membantu keluar dari masalah.
Sebenarnya tak ada terapi terbaik menyehatkan kembali citra diri, selain kembali pada ajaran Islam. Rangkaian ibadah, seperti puasa Ramadhan dan 'Idul Fitri, adalah terapi penyadaran guna menyingkirkan nafsu yang over dosis menghargai jasad yang fana, unutk lebih mempedulikan jiwa yang fitri.
Jiwa yang suci, hati yang bersih, adalah buah dari takwa. Allah SWT tidak pernah mengukur dan menghargai hambaNya dari keelokan wajah, keindahan fisik atau kemewahan busana, rumah, dan kendaraan. "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS.Al-Hujurat : 13).
Tampil menarik bukan saja perlu, tapi juga sunnah Nabi SAW. Naumu, jangan sampai ktia menjadikan penampilan fisik segala-galanya, seolah penampilan itulah yang menentukan derajat kita, sehingga kita akan melakukan apa saja untuk mencapainya. Apa pun yang melekat pada diri kita, harus disyukuri sebagai anugerahNya ("Bukankah kami telah menciptakan manusia dalam sebagus-bagusnya penciptaan?" QS. At-Tiin : 4).
Kesadaran terhadap jati diri seperti ini, akan mengantarkan seseorang terbebas dari BDD. "Kesadaran pada hakikat jati diri akan menimbulkan hal2 positif seperti dapat menerima kenyataan dan menempatkan diri sebagai manusia yang bernilai dan dibutuhkan orang lain. Mampu menikmati sukses serta kelebihan dan kekurangan dirinya, dengan rasa syukur kepada Allah SWT," kata psikolog Kartini Krtono.
Maka, perang melawan godaan produk materialistik-hedonistik yang kini mengepung dunia kita, adalah jihad untuk megemabilkan kita kepada jati diri insan yang fitri. Well said, semoga artikel ini bermanfaat.

Oh ya, ni ada sedikit petikan dari artikel lain yang sudah diterjemahkan:

CIRI SINDROM (MERASA) BURUK RUPA



Pengidap sindrom ini merasa takut jika orang lain memperhatikan kekurangan dan "cacat" yang dibesarkan-besarkan sendiri, sehingga mereka melakukan ritual-ritual unutk menutupi :kekurangan" tersebut, seperti:

  • Menghabiskan waktu lama untuk berkali-kali bercermin, memeriksa penampilan diri, atau bahkan tidak pernah mau berkaca - menghindari cermin.
  • Sering melirik diri, berkaca di benda-benda yang bisa memantulkan rupanya
  • Selalu memfokuskan kekurangan diri unutk dibandingkan dengan orang lain
  • Selalu minta konfirmasi dari orang lain, bahwa kekurangan it tidaklah seberapa - atau dia tidaklah terasa buruk
  • girls only Berdandan secara berlebihan, unutk menutupi "kekurangan", misalnya dengan terus menerus menyisir dan menata rambut, menggunakan make up berulang kali (dihapus dan dipoles kembali), menggunakan sarung tangan, menggunakan topi, kaca mata gelap, baju atau aksesoris lain yang dapat menutupi kekurangan yang ia rasa, sampai sengaja menggunakan pakaian/kostum tertentu (yang kurang proporsional) unutk menyembunyiikan kekurangan.
  • Sering sekali berkonsultasi dan meminta treatment dari dermatologist, ahli kosmetik, atau pun berkali-kali operasi plastik.
  • Berlatih amat keras atau pun diet super ketat unutk membentuk tubuh guna mencapai bentuk ideal yang didambakan
  • Sering sekali dan beulang-ulang menyentuh bagian yang dinilai sebagai kekurangan
  • .
  • Selalu mencari referensi bacaan yang membicarakan masalah bagian tubuh yang dirasa kurang
  • .
  • Menjauh (nah ini kalo udah parah) dari interaksi sosial yang memungkinkan kekurangan atau cacatnya terlihat orang lain
  • .
  • Tidak nyaman bertemu orang lain
  • . Nah, apabila salah satu ciri tersebut melekat dalam diri anda, segera berkaca kemudian katakan "Allahumma kama hasanta kholqi fahassin khuluqi" yg artinya: "Ya Allah, thank you so much karena Engkau telah memberiku tubuh yang rupawan ini, maka sekarang aku memintaMu untuk memperbaiki akhlahQ.." dan kemudian cermati baik2 surat At-Tiin ayat 4, cermati kemudian renungkan. Afalaa tubshiruun?

0 comments:

Post a Comment