.avatar-image-container img { background: url(http://l.yimg.com/static.widgets.yahoo.com/153/images/icons/help.png) no-repeat; width: 35px; height: 35px; }

"Memento Mori"

What is the PRECIOUS thing you TREASURE most in your LIFE?

"Memento Mori" means:

Remember you are mortal...

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur,

Ad mortem festinamus peccare desistamus.


Verse 1:

Lagu ini cuma tumpukan sampah untuk para sampah
Dipandang tak enak, dibaui tak sedap, indah diinjak-injak
cukup saja kecap gerombolan lalat, bagimu basi
Kalau tak acuh cukuplah buang muka!
Tak usah hirau, bagimu aku sampah
...

Terserah jika mau dikata apa. Telingaku buntu
mampet dengan racun dari lidah ular-ular itu
Sang induk, yang berekor paling tambun, sering berkata:
"Tampukkan saja kepadaku dunia. Aku punya.
Lemparkan saja ke aku bebannya. Bisa —
kulahap dengan gampang, badanku ada, dia mangsa."
Mungkin lalu ditimpali dengan si kepala runcing:
"Kamu bisa? Jalan saja beralur kelok patah
melihat dirimu muak sudah, pada penat aku pasrah.
Kalau boleh, sudah lepas! Padaku mereka rebah, bukan ke kamu."
Dan yang terakhir, paling bungsu, paling kecil:
"Lekas! Bergegas! Waktu tidak berhenti diam;
dia berlari menggeragas atau kamu yang menindas!".


Verse 2:

(Haha! Tawa lepas membahana)
Lagu ini kau ambil saat menginjak tumpukan daun berguguran
atau sendiri di taman dengan para penjahat mata berkeliaran
Mungkin kamu bosan, mata sayumu terlihat sepi
entah di balik hati kobaran api menggelegar
atau Everest abadi, puncaknya beku tak karuan?
...

Patung. Topeng. Manekuin. Salam.
Lalu longsor dari langit, hujan diatas para hati hitam
Aku meludah. Cuih! Matamu belok serupa tanya,
"Merah...? Darah? Saos tomat? Sirup?"
"..."
"Lidahmu berbelah dua atau apa berupa? Dimana kata?"
"..."
"Hei! Kutampar akal tiranimu dengan pongah, bisu tua!"
Tatapanku tidak bergeming. Matanya juga masih sangat—ke aku lekat.
Dalam cahaya, gelap menyergap. Harap kubicara, apa jua?
Kering...Dahaga...
Lidahku terikat oleh aksi tak tampak


Chorus:
Mari mengenang selembar kertas, sobat!
Tanpa kata, tanpa fatamorgana
Yang tampil adalah bekas raut wajah yang sudah tua
Letih dengan apa itu dusta, lemah dengan puja!

Bridge:
Langkah setiap cahaya diiring bayangan
Mungkin kepadanya lagi aku kembali berteman
Tanpa tuan, tidak, ah sudahlah
Kembali dalam simfoni...aku berkawan malam


(ditujukan untuk direnungi, untuk dihayati, dan sebagai peneman kopi setelah bangun menjelang pagi.)

0 comments:

Post a Comment